Pagi yang cukup sial bagi Aksara, usai melakukan kegiatan harian. Danang, ayah mertua memaksanya ikut ke coffe shop, bukan untuk belajar bisnis, melainkan atap di sana bocor. Mertua tak berperasaan itu ingin tenaga gratis dari menantunya.
“Di sana Aksa, kamu perbaiki. Bocor terus, lama-lama bisa habis terkikis air kalau begini.” Tunjuk Danang, dengan gaya seorang bos besar yang sangat angkuh.
“Kenapa Bapak tidak panggil tukang? Saya tidak bisa Pak.” Tolak Aksa, dari rumah pun ia sudah mengatakan bahwa pekerjaan itu tidak bisa dilakukannya. Seumur-umur Aksa tidak pernah membenahi atap.
“Heh, bisanya apa kamu? Cari uang saja tidak becus, kekurangan terus. Jadi menantu harus berguna, bukan malas-malasan di rumah. Cepat Aksa, sebentar lagi coffe shop buka, jangan sampai pengunjung mendengar suara berisik kamu.” Perintah Danang tidak ingin mendengar apapun alasan Aksa.
Danang bukan tidak mampu membayar tukang, tapi dia ingin menggunakan tenaga yang ada, sekaligus merusak hari libur Aksa. “Mau enaknya tinggal di rumah mertua tapi malas-malasan, dasar mantu tidak tahu diri.” Cibir Danang dalam hati, padahal Aksa mengambil libur hanya satu kali dalam seminggu.
“Panggil tukang saja Pak, saya bukan ahlinya, takut nanti malah tambah rusak.” Aksa menolak berkali-kali. Namun tanggapan lain keluar dari mulut Danang, kata-kata yang tidak seharusnya terlontar.
“Kamu sayang Ajeng? Kamu mau Ajeng tidak bisa jalan? Hidupnya menderita karena kamu Aksa ingat itu, seandainya dia menikah dengan tuan tanah atau pemilik peternakan, pasti hari-harinya tenang, saya juga pasti punya cucu sekarang. Percuma muka bagus tapi minim keahlian, seharusnya kamu malu.” Tapi Danang tetap memaksa dan mengancam akan melukai Ajeng
Sebenarnya Aksara bisa menolak, tapi Danang tidak memiliki belas kasih pada putri bungsunya. Ajeng dianggap gagal karena hanya bisa meraih gelar sebagai perawat bukannya dokter seperti Rayana.
Aksa ingat sekali ketika baru menikah tepat di hari pertama setelah mengucapkan ikrar suci, melihat ayah mertuanya menyeret Ajeng ke belakang rumah. Wanita cantik terbalut kebaya sederhana hanya bisa menangis, terseok-seok mengikuti langkah kaki, tidak lama jerit kesakitan seorang Rahajeng sampai ke telinga Aksa.
Sontak pria yang masih mengenakan kemeja lusuh dengan kalung melati, berlari ke area belakang rumah. Betapa terkejutnya menyaksikan Danang memukul kaki Ajeng dengan rotan, sebab menikahi pria gembel seperti Aksa. Rekaman itu tidak pernah bisa dilupakan sedikitpun, dan hari ini Aksara tidak ingin istrinya kembali merasakan sakitnya rotan milik ayah mertua.
“Iya Pak, saya coba perbaiki. Di mana peralatannya?” tanya Aksa menahan kesal terhadap orangtua yang selalu membencinya ini.
“Ya kamu cari sendiri Aksa, jangan malas. Kamu itu pemalas, sudah sana! Saya mau buka coffe shop.” Danang pergi ke depan, membuka beberapa tirai dan pintu kaca.
Tanpa pikir panjang Aksa setuju dan naik ke atap, seorang barista muda memberi satu kotak peralatan.
“Sabar ya, Pak Bos belakangan ini marah-marah terus.” Ucapnya, membantu Aksa mengambil tangga di bagian sisi, kemudian memegangi tangga dari bawah.
Aksa mulai memeriksa satu persatu atap yang tersusun rapi dari matanya, tidak ada retak atau bergeser sedikitpun.
“Coba Aksa, kamu lihat, mungkin ada daun atau plastik tersangkut di atas, itu juga jadi penyebab bocor.” Teriak Barista, masih terus menahan tangga agar tidak goyang dan jatuh.
Tubuh dan langkah kaki Aksa semakin jauh ke atas, memastikan kondisi atap. Ternyata benar banyak dedaunan kering menyumbat lubang pembuangan, hingga air menggenang dan rembes. Dia berusaha membersihkan semua kotoran yang tersangkut, berpegangan pada ranting pohon.
Naasnya sesuatu menggantung di ranting tanpa sepengetahuan siapapun, karena Aksa kesulitan bergerak hanya satu tangan, hingga membuat tangan lainnya berpegangan lebih erat. Tanpa sengaja lengannya menyentuh sarang lebah hitam.
“Argh, lebah.” Pekik Aksa, rasa tertusuk melebihi jarum begitu kuat menjalar sampai ke otak. Aksa mengibaskan tangan, dia panik.
Seketika melompat turun dan meringis kesakitan, lengannya masih panas dan peradangan akibat terkena racun mulai terlihat.
BRUK
Bagian sisi atap runtuh karena tersangkut kaki Aksa.
“Apa yang kamu lakukan Aksa? Aduh, tambah biaya lagi. Rugi saya pagi-pagi.” Marah Danang, tatapannya berkilat seperti ingin menelan mangsa bulat-bulat. Danang bukan merasa kasihan atau menolong malah sibuk memperhatikan atap coffe shop dan mencaci maki.
“Memang dasar sampah tidak berguna kamu Aksa, apapun tidak bisa. Mau kamu ganti pakai apa ini? Minta sama Ajeng? Gaji kamu dua bulan saja belum cukup.” Danang memunguti partikel yang pecah dan hancur, padahal bahan bangunan ini sulit diperoleh, harus memesan jauh hari, belum tentu barang tersedia. Selain itu pemasangannya pun sulit, tidak bisa dilakukan sembarang orang.
“Saya tidak sengaja Pak, ada lebah di atas sana.” Aksa berdiri dibantu barista yang langsung mengambil sekantung es batu.
“Alasan kamu, sama lebah saja takut.” Danang tidak peduli kondisi Aksa, bukan masalah penting baginya. “Apa-apaan itu, jangan ambil es sembarangan, mengurangi persediaan, simpan ke dalam.” Danang merebut kantung es dari tangan pegawai, berjalan masuk membuang es ke tempat sampah.
Danang tidak tahu bahwa satu orang pria bertubuh tinggi mengawasi gerak geriknya sejak awal.
“Kurang ajar, berani sekali Pak Tua itu. Awas kalian semua, akan menyesal.” Geram pria tampan berkacamata. Dia meremukkan gelas, sampai kopi yang masih panas meluap keluar membasahi meja kayu.
Pertolongan datang dari seorang pria misterius memakai kacamata hitam.
“Mari saya bantu.” Pria dengan setelan jas mewah ini sigap berlari ke belakang. Dia langsung membawa Aksa ke klinik terdekat.
“Terima kasih atas bantuannya.” Ucap Aksa terus mengamati mobil mewah yang ditumpangi, suasana ini kental seperti seseorang yang ia kenal.
“Apa orang itu selalu bersikap sewenang-wenang?” tanyanya penasaran, sembari mencengkram erat setir mobil.
Aksa enggan menjawab, untuk apa meluapkan pada orang asing. Secara tidak langsung dia akan membuka aib keluarganya sendiri, sangat tidak bijak. Tapi tunggu orang asing? Bukan, jelas pria ini bukanlah orang asing.
Sejenak Aksara memperhatikan, samar-samar mengingat garis wajah rupawan pria yang menolongnya. Tapi dia lupa siapa itu.
“Siapa dia? Wajahnya mirip dengan … apa mungkin dia? Tapi lucu sekali bisa sampai sejauh ini. Kalau itu benar aku akui kemampuan kalian sangat hebat.” Gumam Aksa sambil tersenyum simpul.
Sementara Aksa mendapat pertolongan pertama dalam ruang tindakan. Pria rupawan menuju bagian administrasi.
“Berapa biaya pengobatannya? Tolong berikan juga obat yang terbaik, jangan sampai pasien merasa sakit apapun.” Tegasnya, sedikit meringis mengingat kejadian di coffe shop tak beretika itu.
“100 ribu rupiah tuan.” Jawab petugas administrasi begitu terpesona akan penampilan pria tampan di depannya.
“Ini, katakan semua sudah di bayar lunas.”
Sosok itu pergi tanpa pamit, hanya meninggalkan uang untuk biaya pengobatan Aksara.
TBC
***
Pengalaman author di sengat lebah dua minggu yang lalu, luar biasa sakitnya
jangan lupa dukungannya, sekaligus memberi vitamin dalam kebaikan jempol 🙏
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 86 Episodes
Comments
Sulis Tiyono
munki agak tegas dikit x kasih pelajaran mertua buru2 pindah rumah biar tenang kan punya urusan masing2
2023-08-14
0
Ymmers
waah.. punya pengalaman di gigit lebah juga ya thor 🤭😊
2023-05-31
1
Defi
kalau ga mau makin rugi panggil ahlinya untuk perbaiki 😬
2023-04-02
2