Tiga bulan ini Aksa disibukkan dengan beragam pelatihan dan peningkatan kemampuan diri sebagai pewaris Cwell Group.
Perhatian Aksa habis, seluruhnya tercurah pada segudang materi dan kunjungan ke setiap anak perusahaan, mengenal lini bisnis bukanlah hal mudah. Perlu waktu bertahun-tahun sedangkan Aksa dituntut kurang dari satu tahun untuk menguasai perusahaan induk, dan anak.
Aksa selalu didampingi oleh Elang dan beberapa orang terpercaya, serta banyaknya pengawal yang melindungi, bahkan penempatan sniper di sekitar gedung untuk mengantisipasi adanya kegiatan mencurigakan.
Malam hari di mansion pun bukan melepas lelah melainkan mendiskusikan segala sesuatu yang dipelajari, dilihat, dinilainya kurang tepat. Ayah Elang menjadi partner Aksa bertukar pikiran.
“Bagaimana menurut Paman? Sepertinya ada oknum yang sengaja menukar mesin dan bahan bakunya. Aku sudah melihat catatan tapi tidak ada satupun menunjukan perubahan atau pergantian.” Aksa berpikir keras memecahkan masalah yang ada dalam perusahaan miliknya.
“Paman juga baru tahu Aksa, orang ini sangat licik, dia terampil menyembunyikan semuanya.” Sahut asisten setia keluarga.
“Paman bersedia membantu? Aku tidak akan tinggal diam.” Rahang tegas Aksa berkedut, dagunya terangkat, manik abu-abu berkilat marah pada sesuatu yang menggerogoti nyawa perusahaanya dari dalam.
“Tentu saja, itu memang tugasku membantu Tuan Muda Caldwell.” Balas asisten pribadi yang begitu setia.
Selama ini juga Aksa tidak pernah lagi murung merindukan Ajeng, semua terhempas. Aksa yakin istrinya mampu bertahan bersama keluarga, dia juga berharap Ajeng tidak menggugat cerai dan memilih menunggunya entah sampai kapan.
**
Di Benua lain
Pagi ini wanita cantik yang selalu murung sejak tiga bulan lalu, menyambangi ATM di salah satu minimarket.
Ajeng menunduk lesu, seolah fokus memandangi keramik putih pijakan kedua kakinya. Dia merindukan sosok suami tercinta yang selama satu tahun belakangan disia-siakan. Menyesal tidak menahan Aksara pergi, seharusnya dia mendengar lebih dulu penjelasan Aksa, dan sekarang pria itu pergi tanpa kabar.
Ajeng khawatir Aksa diculik, disiksa lalu menjadi budak dari organisasi tertentu. Setiap malam tidak luput dari air mata, menangisi kepergian Aksara. Nomor ponselnya saja tidak aktif, selalu di luar jangkauan.
Upaya Ajeng berkeliling dari desa satu ke lainnya, bahkan mencari di dalam kota belum membuahkan hasil. Dia mencetak banyak kertas berisi wajah suaminya, lalu memposting gambar Aksa di sosial media, semua demi menemukan keberadaan Aksa.
“Aksa” lirihnya dalam hati bersamaan dengan kristal bening menetes jatuh ke lantai.
Aku … Aku kangen. Kamu di mana Aksa, aku harap kamu sehat, baik-baik saja, hidupmu tidak tersiksa lagi. Seandainya kita keluar lebih cepat dari rumah ibu, pasti tidak akan seperti ini. Maaf Aksa.” Ajeng menangis sesenggukan, banjir sudah pipi mulusnya, sampai beberapa pengunjung menenangkan wanita ini.
‘Nak, yang sabar. Ibu tidak tahu kamu ada masalah apa, semoga lekas selesai’
‘Semangat ya, perempuan itu harus kuat jangan lemah’
‘Apa ini masalah pacar? Biar saja dek mumpung masih pacaran, jangan diambil pusing. Hidup masih panjang’
Suara para wanita memberi dukungan pada Ajeng, dan istri Aksara ini kembali berpikir kenapa orang lain sampai peduli. Sedangkan kedua orangtuanya bahagia di atas kepergian Aksa.
Bahkan masih bersikukuh menjodohkan Ajeng dengan pemuda ompong, Aji menawarkan satu rumah dan kendaraan roda empat untuk meminang istri orang. Kalau bukan dengan Aji, Maya memiliki kandidat tertentu yang lebih kaya dan tentunya tuan tanah, namun tua bangka beruban dan memiliki cucu.
“Terima kasih Bu, Mbak.” Rahajeng Prameswari melengkungkan senyum tipis di bibir merah mudanya, menyusut air mata yang tak tahu malu keluar di mana saja.
Tidak ada lagi orang mengantre di depannya, gegas mengeluarkan ponsel untuk tarik tunai tanpa kartu, Ajeng mengambil uang gajinya sebagai perawat untuk membiayai diri sendiri. Kemudian sisanya ia sisihkan ke akun bank lain.
Iseng Ajeng memeriksa akun lainya, ia jarang sekali membuka tutup aplikasi mobile banking ini, takut tergoda melihat nominal saldo, niatnya memang menabung untuk membeli sesuatu atau masa depannya kelak setelah memiliki anak.
Ajeng masih santai menggulir layar delapan inchi di tangannya, sembari duduk menyesap susu kemasan kaleng. Ia menekan ikon cek saldo, dan betapa terkejutnya wanita cantik ini, bahkan berulang kali mengerjapkan kedua mata cantiknya. Mungkin salah lihat, atau aplikasi sedang gangguan, pikir Ajeng.
Setelah mencoba masuk kembali, dia benar-benar melotot, tidak berkedip beberapa saat, total saldo 1,5 milyar lebih ada di dalam rekeningnya. Padahal empat bulan lalu hanya tersisa tidak lebih dari lima juta rupiah.
Siang nanti pun Ajeng putuskan datang langsung ke bank, ia khawatir ada orang salah transfer atau tindak kejahatan lain. Seingatnya tidak mengikuti undian berhadiah uang tunai, kenapa tiba-tiba saldonya meningkat drastis.
“Jangan Ajeng, itu milik orang lain, jangan kamu pakai.” Gumamnya pelan, kemudian menyebrang jalan, karena shift kerja sebagai perawat sebentar lagi dimulai.
Usai mengganti dengan seragam perawat, Ajeng menyimpan tas dan peralatan lain dalam loker. Bisik-bisik, kaum menggunjing sangat jelas ditangkap telinga.
Kabar menghilangnya Aksara diketahui oleh seluruh rekan kerja Ajeng, semua perawat baik itu senior atau junior yang baru masuk. Dokter pun tahu termasuk Dokter Rizwan yang menaruh hati pada Ajeng. Tapi sekali lagi, Ajeng tak pernah membenarkan berita itu, baginya Aksa tetap ada. Ya tidak kemana-mana, mereka semua hanya iri padanya, karena Aksa sosok suami perhatian.
´Janda yah? Tragis banget nasibnya. Masih muda loh’
‘Itulah akibat tidak nurut suami, jadi perempuan jangan sombong punya muka cantik’
‘Cantik itu pasaran di toko barang bekas banyak, tapi hati baik itu mahal’
Hampir 90% rekan satu profesinya tidak pernah diam ketika berpapasan dengan Ajeng, ada saja bahan bibir jahat mereka.
Ajeng akui dia memang salah, tapi demi cintanya pada Aksa, statusnya sampai saat ini masih istri sah dari Aksara. Bahkan suaminya itu tidak pernah menceraikan secara lisan atau sampai di pengadilan.
Berita memalukan ini tentu saja tersebar dari Rayana, dia sengaja melakukannya dengan harapan Ajeng tidak kuat lagi menanggung beban penghinaan di tempat kerja. Kemudian mengundurkan diri, tanpa memiliki penghasilan, maka secara sukarela mengajukan gugatan cerai kepada Aksa.
Setelah itu menerima pinangan Aji atau pria lain yang telah disiapkan oleh Maya.
Tahu kan alasan Rayana melakukan ini karena apa? Dia ingin segera menyandang gelar sebagai dokter spesialis seperti yang Danang janjikan.
Namun ada hal yang janggal dan Ajeng enggan memikirkannya, setiap satu kepala yang menghina bahkan mencibir dirinya, maka esok hari menghilang dengan alasan pindah tugas, baik itu ke rumah sakit lain, klinik di pinggiran kota atau mengundurkan diri dengan pesangon kecil.
Awalnya Ajeng merasa seperti ada seseorang yang melindungi dari jauh, tapi lama kelamaan tidak terlalu percaya diri, mungkin mereka lebih memilih jalan hidup lain.
TBC
**
boleh ya berbagi kebaikan jempol, subscribe, like dan komen😁🙏 terima kasih
untuk gift dan vote boleh sekali 😁🙏
untuk 5 orang teraktif sampai akhir ada bagi-bagi sesuatu dari aku ya
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 86 Episodes
Comments
Sulis Tiyono
semangat non sabar setia bahagia menunggumu
2023-08-14
1
Min Yoon-gi💜💜ᴅ͜͡ ๓
gemes ma authornya, mbok ya 15 milyar dibagi2 ke reader wkwkwk
2023-04-11
2
Defi
Idih, aku gemas sekali dengan Rayana ini. kenapa dia ga ikut2an dipindahkan ke pulau terpencil biar fikirannya bisa tenang dan ga buruk hati ke Ajeng 😬😬..
Ajeng, jangan khawatir itu Aksa pasti jagain kamu dari jauh makanya yang bully kamu kena sanksi 🤭😁
2023-04-07
1