Di Coffe Shop
BRAK
“Selamat datang.” Sapa seorang pegawai wanita, sedikit tersentak sebab pintu dibuka sangat keras.
“Di mana bos kalian? Danang. Di mana? Suruh dia keluar, katakan Aji mencarinya.” Ucap Aji. Membusungkan dada, kemudian duduk di salah satu kursi, diangkatnya kaki ke atas meja.
Selepas Aksa pergi, Danang kedatangan tamu, salah satu pemuda yang tersohor di desa. Lelaki ini seakan tidak pernah jera mencari masalah, bahkan gigi bagian depannya lepas pun tetap percaya diri berhadapan dengan Aksara.
“Wah Aji suatu kehormatan kamu datang ke sini. Ayo pesan saja, gratis.” Kata Danang, begitu bangga dengan hadirnya kandidat calon menantu idaman. Dia harus menahan rasa kesal, karena Aji begitu arogan, lihat meja kayu yang Danang pesan dari pengrajin khusus, harus kotor terkena tanah dari sepatu Aji.
Aji, pemuda yang menjadi impian gadis satu komplek perumahan datang bersama dua temannya, membawa sesuatu dalam tas berwarna merah. Sembari menikmati permen karet, pemuda ini menjentikkan jari. Dua asistennya mengerti, segera menyimpan tas di atas pangkuan Danang.
“Buka Pak Danang!” perintah Aji tersenyum licik dan menunggu tanggapan Danang.
Perlahan Danang mulai membuka resleting tas, sontak kedua bola mata hitamnya berubah hijau. Dalam tas ini terdapat dua puluh gepok uang berwarna merah, dengan satu gepok bernilai sepuluh juta rupiah.
“Ini uang?” Danang bahagia, tapi beberapa detik kemudian berubah serius, menjaga wibawa.
“Iya uang, mata Bapak masih bagus kan?” tanya Aji mendengus kesal. Menawarkan imbalan 200 juta rupiah kepada Danang, jika berhasil membuat Aksa dan Ajeng cerai.
“Saya mau Ajeng dan laki-laki miskin itu bercerai, bila perlu hari ini langsung ke pengadilan.” Perintah Aji secara paksa, dirinya begitu menggebu ingin memiliki Rahajeng Prameswari, rasa balas dendam kepada Aksa sangat kuat karena merebut Ajeng dari incarannya.
“Tidak bisa begitu, Nak. Cerai itu tidak mudah, ada beberapa proses yang harus dilalui. Apalagi jalur pengadilan. Wah, saya juga perlu tambahan uang untuk bayar pengacara. 200 juta kurang Nak Aji. Bagaimana kalau ditambah biaya pengacara, administrasi dan biaya tidak terduga lainnya?” Danang tidak tahu diri, mengajukan negosiasi kepada pemuda berwatak keras seperti Aji.
“Berapa? Katakan saja Pak, yang pasti saya mau nikah dengan Ajeng!” geram Aji, mengingat ketika Ajeng dan Aksa berboncengan, panas sekali dada Aji, seharusnya dia yang menjadi suami kembang desa itu bukan Aksa.
Danang tersenyum, kalau putrinya menikah dengan Aji maka hidupnya bahagia, bisa meraup keuntungan besar, apalagi warisan tanah keluarga Aji di sebrang coffe shop ini sudah pasti jadi milik Ajeng suatu saat nanti.
“500 juta, sanggup kamu? Bapak pastikan Ajeng jadi istri Nak Aji.” Sungguh penjilat sekali seorang Danang, menukar putrinya dengan uang.
“Ok, setuju. Tapi uang saya berikan saat proses penceraian, bukan sekarang.” Aji pergi membawa tas berisi uang 200 juta. Lelaki ini juga tak mau rugi, bukankah bisnis harus menguntungkan?
.
.
Malam hari di rumah, Danang dan Maya berdebat di pekarangan, tepatnya ruang cuci dan jemur. Aksa tanpa sengaja menguping pembicaraan kedua mertua, dia pun terpaksa menunda untuk menjemput istrinya pulang. Mendengar sampai tuntas topik yang disampaikan sebab nama Ajeng sangat jelas disebut.
“Bantu Bapak bu, kita bisa buka cabang coffe shop lagi, toko ibu di pasar juga bapak bantu kembangkan setelah menerima uang itu.” Danang melihat ada keraguan dalam diri Maya.
“Tapi Pak, tahu sendiri Ajeng susah kita kasih tahu. Apa juga yang dilihat dari gembel itu? Modal cinta saja tidak cukup, ibu bingung Pak.” Ucap Maya, otak jahatnya mulai berpikir menjalar kemana-mana.
“Minta tambahan saja Pak, kalau satu milyar bagaimana? Mungkin ibu lebih cepat memisahkan Ajeng dan Aksa. Duh … ibu tidak sabar bisa membeli banyak barang, jangan sia-siakan kesempatan ini Pak. Mereka harus bercerai. Ibu lelah hidup dengan menantu miskin, pasti Aji menjadi pohon uang kita.” Tukas Maya, wajahnya begitu bercahaya memikirkan uang dan uang.
Sepasang suami istri itu tidak peduli Aksa mendengar semuanya, tidak memikirkan bagaimana perasaan seorang Aksa.
Sesuatu dalam diri bergejolak, betapa meradang Aksa mengetahui hal ini, tidak terima Ajeng diperlakukan seperti barang, kedua mertuanya memang keterlaluan. Bahkan Maya meminta imbalan lebih yaitu satu milyar, lalu Danang akan menemui Aji esok hari.
“Tidak bisa dibiarkan, Ajeng itu milikku.” Geram Aksa merasa harga diri tercoreng. Dia mengepalkan tinju, tangannya begitu lapar ingin menjatuhkan lawan dan membuatnya kesakitan.
Suami mana yang tidak sakit hati jika istrinya harus menikahi pria lain? Apalagi dengan imbalan uang dalam jumlah besar. Sangat menjijikan sekali, kehidupan rumah tangganya harus berakhir karena oknum haus materi. Aksa segera menemui Aji di tempat biasa pemuda berkumpul.
Roda dua yang setia menemani Aksa sengaja di simpan tepat di depan kumpulan pemuda.
Dengan kaos putih, jaket hitam, celana denim dan sepatu kets, Aksa berjalan mantap menghampiri Aji. Kedua tangannya siap melayangkan jab ke rahang lelaki yang saat ini tertawa bersama beberapa orang lain, dalam pembahasan mereka menyebut nama Ajeng.
“Ajeng tunggu tanggal mainnya, aku pastikan kamu bertekuk lutut dan memohon hanya kepada Aji.” Tawa Aji dan sahutan tidak senonoh dari pemuda lain.
“Jangan mimpi kamu Aji.” Berang Aksa, berdiri tepat di belakang Aji.
“Whoa … pria sampah datang, beri sambutan. Ada apa? Mau menyerahkan Ajeng secara sukarela? Boleh, uangnya jadi milik kamu Aksa.” Sinis Aji mengeluarkan cek kosong dari sakunya. Menyerahkan ke dada Aksa untuk diisi sendiri.
“Uang? Uang siapa yang kamu maksud? Orangtua kan?” balas Aksa, kedua manik abu-abu berkilat amarah, rahangnya berkedut tegas, serta darah dalam tubuh mendidih.
“Masih mending uang orangtua, daripada laki-laki miskin, modal tampang, hidup jadi benalu di rumah mertua. Apa yang bisa kamu kasih untuk Ajeng? Cinta? Kasihan Ajeng makan cinta.” Aji pun menghina Aksa dan berkata hal yang tidak seharusnya.
“Jangan-jangan kamu tidak bisa memuaskan Ajeng? Ok kalau tidak mau bercerai, kamu hanya perlu melihat aku menjajal istrimu di atas ranjang, kapan? Aku ingin tahu seperti apa rasa mantan kembang desa itu.” Pungkas Aji membayangkan sesuatu terjadi padanya dan Ajeng.
Hahaha
Tawa pemuda pecah dalam sunyi malam.
BUGH
Tanpa basa basi Aksa melayangkan pukulan kanan dan kiri, straight keras meluncur tepat ke wajah Aji, sudut bibirnya pecah dan mengeluarkan darah.
“Kurang ajar kamu Aksa, miskin, tidak tahu diri.” Maki Aji mendapati dirinya tidak berdaya melawan kekuatan Aksara.
“Rasakan ini.” Aji mencoba memukul tapi kedua tangannya berhasil dikunci, tidak bisa bergerak sedikitpun. “Jual saja Ajeng, kamu akan mendapat uang banyak.” Kata Aji dengan suara tertahan di tenggorokan
“Aku pastikan kamu menyesal. Jangan pernah menyentuh Ajeng seujung helai rambut pun.” Telak Aksa. Tidak ada kata ampun baginya, dia langsung mengakhirinya dengan pukulan dari bawah memotong ke atas, gigi pun terlempar dari dalam mulut kurang ajar Aji, pemuda itu terkapar tidak berdaya.
TBC
...**...
...ditunggu dukungannya...
...terima kasih sudah meluangkan waktu membaca novel author 🙏...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 86 Episodes
Comments
Istri Bei Ming Ye
lanjut tor
2023-04-08
1
Min Yoon-gi💜💜ᴅ͜͡ ๓
penasaran wajahnya aji kyk apa belagu giginya jelek wkkwkw
2023-04-05
1
Min Yoon-gi💜💜ᴅ͜͡ ๓
kurang pak harusnya 20milyar
2023-04-05
1