Tubuh yang remuk redam, akibat tidur di atas dinginnya lantai semalaman tidak membuat Aksa bermalas-malasan. Sebagai seorang suami harus semangat, walaupun gajinya tidak seberapa Aksa memaksakan diri berangkat bekerja. Tentu bangun lebih awal sebelum para penghuni rumah membuka mata.
Usai melakukan rutinitas melelahkan pagi hari, Aksa mengintip dalam kamar. Memastikan Ajeng baik-baik saja, mana tega dia bersikap acuh.
Ditatapnya wajah sayu dan kedua mata sembab Ajeng, pastilah wanita itu menangis. Lagi-lagi masalah uang, apa sepenting itu uang? Jawabannya iya.
Hati Aksa tercubit karena tidak bisa memberi kebahagiaan untuk istri tercinta, merasa gagal sebagai pria memberi yang terbaik.
“Maaf sayang.” Lirih Aksa, menarik napas dalam dan menghembusnya perlahan.
Padahal dia menikahi Rahajeng Prameswari bukan untuk hidup susah, melainkan mengarungi bahtera rumah tangga bersama penuh cinta dan tawa.
Tapi satu tahun belakangan sikap Ajeng berubah, tidak lagi seperti dulu sering membelanya. Mungkinkah istri cantik dan baik hatinya itu lelah? Tentu hanya Ajeng yang tahu.
Aksa berjalan sendiri, tertatih menghadapi rumah bak neraka ini.
“Sayang jangan lupa sarapan! Aku berangkat kerja dulu.” Bisik Aksara tepat pada daun telinga Ajeng. Mengecup pelipis yang tertutupi beberapa helai rambut.
Pagi ini Aksa putuskan tidak sarapan bersama, lebih baik menunggu sampai restoran buka.
Berteman motor berusia lima belas tahun, Aksara pergi dari rumah megah mertua, menjemput rezeki untuk menghidupi rumah tangganya.
Tidak membutuhkan waktu lama Aksara tiba di pelataran restoran, pagar masih terkunci, lalu lintas kendaraan pun senggang. Udara dingin pagi menusuk siapapun, termasuk Aksa hanya menggunakan jaket tipis yang dibelinya dua tahun lalu.
“Aksara?” panggil pria dengan usia lebih tua. Dia adalah teman setia Aksa, memiliki nasib miris.
Bedanya uang gaji Rudi kerap habis digunakan untuk berjudi, bukan diberikan kepada istri dan anak-anaknya. Tapi di restoran ini hanya Rudi dan scurity yang bersedia menemani bertukar pikiran.
“Wah Rud, kamu datang pagi juga?” tanya Aksa melirik penampilan berantakan temannya.
“Iya, biasa. Masih pagi ada masalah sama istri, susu anak habis, popok habis, belum lagi uang gaji kemarin habis aku pakai. Boleh pinjam Aksa? Anakku kasihan.” Rudi mengiba dan sedikit memaksa.
“Maaf Rudi, aku juga habis untuk bayar hutang. Minta tolong sama manager saja.” Tukas Aksa, daripada anak rekannya ini kelaparan.
“Memang ya semua ini lucu, kenapa hidup kita tidak bisa berubah, kerja siang malam sampai begadang tetap belum maju. Tapi harus tetap semangat Aksa, jangan mudah menyerah, sebagai pria harus bisa membuktikan kalau kita juga bertanggung jawab, bukan diam berpangku tangan, benar kan?” tawa Rudi menular kepada Aksa.
Pagar besi berwarna hitam ini terbuka, scurity meminta bantuan dari Aksa dan Rudi.
“Bantu jangan diam saja, nanti ada kopi gratis untuk kalian berdua.” Pungkas pria bertubuh besar.
.
.
Siang ini Aksara terpaksa mengantar makanan ke rumah sakit tempat Rayana dan Ajeng bekerja. Kakak iparnya itu memesan makanan, ya seperti biasa ingin Aksa yang mengantarnya langsung ke ruang praktik Dokter Rayana.
Tiba di dalam ruangan kakak iparnya, Aksa menarik napas, ketika lagi-lagi Rayana merendahkannya di depan rekan kerja Ajeng.
“Pelayan datang juga, lain waktu harus lebih cepat ya. Karena kamu terlambat jadi menghambat pekerjaan kami.” Tegas Rayana, sengaja membuat adik iparnya dinilai buruk.
Padahal dalam catatan dikatakan, makanan diantar ke ruang tamu, tapi berubah terus sampai Aksa kelelahan berkeliling rumah sakit.
“Bisa Bu Dokter membayar jasa untuk ongkosnya sekarang?” suara dingin Aksa, enggan menanggapi kegilaan Rayana.
“Ok, ini ambil.” Rayana menjatuhkan uang ke lantai sebesar dua puluh ribu rupiah tepat di depan sepatunya. “Ayo ambil Aksa, kamu membutuhkan itu untuk beli bensin.” Suara angkuh wanita yang sangat ingin Aksa lempar keluar gedung.
“Ambil saja, cepat keluar dari sini.” Ucap rekan kerja Rayana yang lain.
Terpaksa Aksa memungutnya dan berjongkok di depan Rayana. Lebih parahnya lagi Rayana sengaja menumpahkan makanan tepat ke punggung Aksa.
“Oops. Tutupnya rusak, jadi tumpah. Kasihan sekali restoran itu memiliki oknum pelayan yang buruk, keluarlah! Merusak pemandangan.” Kejamnya Rayana tanpa sedikit belas kasih.
“Lebih kasihan lagi rumah sakit ini memiliki dokter dengan kepribadian yang buruk.” Gumam Aksa sembari berlalu dari dalam ruangan.
Sebelum kembali ke restoran, Aksa masuk ke toilet untuk membersihkan pakaiannya dari makanan.
“Lengket.” Keluh Aksa, melepas kemeja dan membilas sampai kotoran terlepas semua.
"Rayana semakin hari sikapnya tidak bisa ditoleransi." Geram Aksa terus membersihkan noda makanan.
Terdengar pintu terbuka, dan Aksa pastikan beberapa orang ada di depan wastafel. Mereka membicarakan sesuatu yang mengundang rasa ingin tahu Aksara.
“Hari ini Ajeng tidak masuk ya? Wah aku kangen, ruang IGD jadi sepi dan membosankan. Sayangnya dia sudah menikah.” Kata seorang pria dengan suara lesu dan kecewa.
Dalam bilik, Aksa ingin sekali keluar dan memberitahu bahwa Ajeng hanya miliknya. Tapi tanggapan lain sukses membuat Aksa mengurungkan niat.
“Jangan mimpi kamu. Kemarin Ajeng muntah dan pusing, pasti dia hamil. Makanya izin pulang cepat.”
“Hamil? Tidak mungkin.” Sanggah pengagum Ajeng.
“Iya hamil, salahnya apa? Ajeng sudah menikah dan pasti melakukan hubungan suami istri bukan hal aneh. Jangan mengharapkan istri orang, nanti kamu sakit hati.” Telak satu pria yang membuat hati Aksa di dalam sana senang bukan main.
Tak ingin membuang waktu, Aksa memacu motor bututnya untuk kembali ke restoran. Hari ini harus meyelesaikan pekerjaan tepat waktu, demi mendengar kabar baik dari bibir Ajeng.
Sampai di restoran, Aksa yang diliputi rasa bahagia meminjam uang kepada Manager. Beruntungnya ia mendapat pinjaman sebesar 300 ribu rupiah.
Sepulang kerja Aksa mampir ke apotek membeli susu ibu hamil dan vitamin, perasaanya sebagai calon ayah ingin memberi yang terbaik. Akhirnya setelah menanti dua tahun, dia bisa memiliki anak dari istrinya. Aksa janji akan membuat Ajeng dan anaknya bahagia.
“Terima kasih Ajeng, sayang.” Ucap Aksa selama berkendara.
Jalanan hari ini tidak macet dan Aksa lebih cepat tiba di rumah, dia langsung berlari menuju lantai dua, membuka pintu kamar tidak sabaran.
“Sayang, aku pulang.” Aksa memeluk Ajeng erat bahkan menciumi istrinya tanpa menutup pintu dengan rapat.
“Ada apa? Kamu senang sekali Aksa?” selidik Ajeng dari atas ke bawah, memindai seluruh tubuh suaminya.
“Ini untuk kamu dan anak kita sayang. Kamu hamil kan Ajeng?” Aksa memberi susu ibu hamil dan vitamin.
“Aku tidak hamil, aku masuk angin.” Ajeng menolak susu dan vitamin itu sebab dia merasa tidak hamil.
“Tapi kamu pusing dan mual, itu salah satu tanda hamil kan? Kita rutin melakukannya dan pasti kamu hamil sayang.” Pungkas Aksa begitu menggebu.
“Iya tapi … tapi pusing dan mual bukan tanda mutlak seseorang dinyatakan hamil.” Jawab Ajeng ragu-ragu. Sebenarnya dia juga ingin memiliki buah hati, namun ada alasan lain yang menghalangi.
BRAK
Pintu kayu jati terbuka lebar, tiba-tiba Maya muncul dan terkejut mendengar semua percakapan menantu dan putri bungsunya.
“Keluar kamu Aksa, saya bilang keluar sekarang!” Maya mendorong Aksa keluar kamar dan menutup rapat pintu, lalu menguncinya.
PLAK
PLAK
Maya menampar pipi putrinya, tidak sudi kalau memiliki cucu dari menantu miskin seperti Aksa.
“Rahajeng Prameswari, otak kamu di mana hah? Bisa-bisanya hamil. Aduh Ajeng kamu memalukan ibu dan bapak.” Maya membentak Ajeng karena berani melanggar peraturan.
“Aku masuk angin bu, Aksa salah paham bu. Ibu dengar dulu penjelasan Ajeng.” Tangis Ajeng menahan panas di pipi kanan dan kirinya.
TBC
***
...ditunggu dukungannya kakak semua🙏terima kasih banyak sudah meluangkan waktu baca karya author ini 🙏...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 86 Episodes
Comments
Sulis Tiyono
biang keladinya klu di pikir ortu anaknya geblek ortu kaya stres. ktnya orang kaya tp miskin akhlak kasihan YaAlloh
2023-08-13
2
Jallu
belum sampai ke dasar jurang hinaannya...
teruuus lanjut..
2023-08-08
1
Hattadyj
hadiah 1 gelas kopi meluncur
2023-05-15
1