Ajeng terbakar oleh suasana yang diciptakan keluarganya. Maya, Danang dan Rayana benar-benar menjalani peran dengan baik. Tapi tidak layak membintangi layar lebar. Mereka terlalu picik hanya karena materi semata.
Ya, Aji menjanjikan uang tunai senilai satu milyar, maka dari itu Maya berani merogoh dalam tabungannya, untuk membayar seorang teman sebagai pemeran pembantu.
Di atas dipan pekarangan rumah, seorang wanita duduk memeluk kedua lutut, masih bercucuran air mata. Dia menyesal mempertahankan suami yang selama ini dicintainya, pikiran Ajeng terkunci pada satu titik, yaitu Aksa tega mengkhianati dan melakukan hal bodoh sampai dirinya dipecat.
“Ajeng kamu bisa diam? Kakak pusing dengar suara tangisan kamu. Pria macam Aksa layak dibuang, dilupakan. Kamu tahu? Tadi sebelum kakak pulang, Dokter Rizwan tanya status pernikahan kalian, lepas dari Aksa kamu bisa pilih lelaki manapun, Aji juga siap menikahi kamu .” Rayana malah menambah beban pada adiknya, dia bukan kakak yang baik.
Hanya bisa menyesatkan jalan dan mendorong Ajeng pada lubang kebencian.
“Tidak semudah itu kak, aku … khawatir Aksa tidur di mana? Dia …” Ajeng menoleh, mendongak pada Rayana, kemudian beralih menatap langit senja yang mulai gelap.
Gelap karena matahari hampir terbenam dan pertanda akan turunnya hujan.
“Dia bisa tidur di emperan toko, atau yayasan sosial.” Tawa Rayana dalam hati membayangkan kehidupan adik iparnya yang benar-benar menjadi seorang sampah.
“Kak?” tekan Ajeng, tanpa bisa membalas perkataan Rayana.
Rayana pun masuk ke dalam, meninggalkan Ajeng. Lebih baik dia merayakan kepergian Aksa dengan kedua orangtuanya.
Danang dan Maya semakin kagum kepada putri sulungnya, menutup adegan sangat sempurna, melebihi prediksi Danang.
“Kamu memang anak bapak, Ayana. Setelah Aji memberi uang, kamu bisa sekolah spesialis, bapak janji.” Imbuh Danang mengelus punggung anak emasnya.
**
Di tempat lain
Aksa berjalan tanpa tujuan dan arah, ia bingung tidak tahu harus kemana. Dalam saku celana hanya tersisa uang dua puluh ribu rupiah.
“Heh dua puluh ribu, cukup untuk apa ya?” monolog Aksa, helaan napasnya cukup panjang dan berat, dia terus melangkah menjauhi rumah mertuanya.
Jangankan untuk menyewa rumah, membayar ongkos angkutan umum sekali naik pun habis.
Hari gini mana ada yang murah, iya kan?
Sampai hujan turun pun, Aksa setia jalan kaki, tidak merasa lelah, setidaknya ada satu orang di dekat sini yang bisa membantu. Ya Rudi, siapa lagi, tapi belakangan ini tidak pernah ada kabar dari rekannya itu. Lenyap ditelan bumi.
Aksa menepi untuk menghubungi temannya itu, sekali lagi sial, ponselnya yang sudah layak pensiun kehabisan daya. Tapi dia tidak kehilangan akal, minta tolong pada seseorang yang juga berteduh di depan toko busana.
Dan
Hanya penolakan yang diterima, mungkin takut kalau Aksara adalah penjahat yang berdalih meminjam ponsel untuk menghubungi keluarga. Setelah itu membawa kabur, berlari secepat mungkin, tidak salah memang. Mereka waspada dan itu naluri setiap manusia.
Aksa putuskan terus melangkah lebar, menambah kecepatan sebelum hari benar-benar berubah gelap. Dia butuh tumpangan untuk satu malam saja.
Harum aroma masakan dari pedagang kaki lima menyeruak masuk ke dalam hidung, perutnya keroncongan. Baru ingat hanya makan selembar roti pagi ini, melewatkan makan siang dan ya makan malam.
Akhirnya demi bertahan hidup, pria ini mencari warung nasi di pinggir jalan dengan harga miring. Aksa berlari cepat menuju penjual makanan yang diidolakan hampir seluruh buruh di seluruh tanah air.
Dia menyebrang jalan, melihat incarannya. Tidak peduli banyak pasang mata memperhatikannya, bukan tatapan kebencian melainkan iba.
Sebelum masuk warung makan, Aksa diam di tempat merasakan sesuatu. Pening pada kepala, tapi masih bisa berdiri tegak dan berjalan pelan. Akibat perut kosong dan tubuh basah kuyup, Aksa menggigil, dia juga tidak menggunakan baju hangat apapun.
Aksa nyaris jatuh pingsan, tubuhnya demam, wajahnya juga pucat pasi, namun orang baik membawanya ke rumah sakit.
‘Ayo bantu, kasihan dia’
‘Antar saja ke rumah sakit’
‘Pakai mobil saya saja’
Kenapa orang-orang di luar sini sangat baik, padahal tidak mengenal ataupun bertemu sebelumnya.
Tiba di rumah sakit, Aksa langsung mendapat penanganan medis. Tapi dia bingung bagaimana membayar biaya perawatan. Sampai semalaman ia terus berpikir, sebab wanita setengah baya yang menolongnya, tergesa-gesa pergi.
“Dari mana dapat uang untuk bayar semua ini?” bukannya sembuh, kepala Aksa semakin sakit karena memikirkan susahnya mencari uang untuk biaya pengobatan. Apa harus menjual ponsel? Bisa jadi, dan Aksa berpikir orang seperti dirinya memang tidak boleh sakit karena menyusahkan.
.
.
Pagi ini tiga mobil memasuki pelataran rumah sakit, satu super car berwarna merah dengan plat nomor AK 54 R4, dua lainnya SUV hitam metalik.
Sosok tinggi, gagah dan rupawan bak consigliere turun dari kendaraan merah yang mencolok setiap mata. Pemandangan ini tidak lazim, petugas keamanan tergopoh-gopoh menghampiri, pasti mereka semua bukan orang sembarangan.
Diikuti beberapa pria berpakaian hitam turun dari SUV, berjalan menuju bagian infomasi. Para pria ini mencari bangsal seseorang di dalam sana.
Sosok rupawan itu syok mendapat kabar tentang Aksa. Tanpa buang waktu dia segera mengunjungi kota kecil ini. Ditambah perintah seorang paruh baya yang mengancamnya untuk membawa Aksara, kalau gagal, maka dirinya siap dikirim ke Antartika dan hidup menua di sana.
Didampingi dua orang, dia masuk menuju brankar Aksara. Sorot mata tajamnya memudar melihat kondisi Aksara, bahkan menangis.
Bodo amat dengan penilaian orang yang bilang lemah, begitulah isi kepalanya.
“Kalian ke bagian administrasi, bayar biaya rumah sakit. Ah jangan lupa bawa penerjemah bahasa kita.” Sosok pria sangar tapi berhati selembut kapas itu melunasi semua administrasi Aksa.
“Siap Tuan”
Masih terus memindai tubuh kurus Aksara, dia membangunkan pelan, menyentuh perlahan bagian bahu.
“Hey bangun. Tidak boleh tidur terlalu lama.”
“Hem” sahut Aksa masih menutup kedua mata, tanpa melihat pun tahu siapa orang yang berdiri di samping ranjang pasien ini.
“Aku bosan membujukmu, kepala batu. Ayah mengancam mengirim-ku ke benua es tanpa bekal apapun. Ya kasihanilah aku Aksa, tega sekali.” Menghela napas tidak mendengar jawaban pasti.
Aksara Kaisar membuka dua matanya, iris abu-abu itu menatap langit-langit ruangan. Rahangnya mengeras, bisa-bisanya mereka melakukan penjebakan, kejadian kemarin mungkinkah membawa kembali pada status aslinya?
Aksa Melirik ke samping, tersenyum kecut akan perjalanan hidupnya, apalagi istri tercinta sama sekali tidak membela atau mendengar penjelasan satu kalimat pun dari bibir Aksa.
“Kau itu bawel sekali Elang. Tidak tahu kalau kepalaku sakit.” Balas Aksa, merubah posisi tubuhnya, duduk bersandar memijat pangkal hidung.
“Tuan Muda Caldwell sudah waktunya anda kembali ke rumah.” Ucap Elang asisten pribadi Keluarga Caldwell.
TBC
**
ditunggu dukungannya kakak semua 🙏 terima kasih waktunya untuk author receh 😁
***
sesuai janjiku padamu😅😅😅 satu orang beruntung dapet pulsa 20k
untuk kakak dengan user name dibawah ini silahkan chat ya kirim nomor teleponnya.
Pria misterius itu asisten pribadi Aksa Namanya Elang.
bagi yang lainnya jangan kendor kasih dukungan.
semoga di akhir novel I'm A Billionaire aku bisa berbagi untuk siapa saja yang aktif 😁😁
terima kasih
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 86 Episodes
Comments
Sulis Tiyono
lanjut moga sukses thor
2023-08-14
0
Jallu
dah cukup jadi alas kaki.
giliran terbang tinggiiiiiii👍🏾
2023-08-08
1
Aceng Lee
lanjutkan lagi malam ini
kayak nya makin seru nich
2023-04-07
1