Ajeng membuktikan bahwa ucapannya bukan sekedar kata-kata, saat itu juga transfer nominal belasan juta berhasil terkirim ke Rayana.
Ada rasa bersalah dalam dada Aksa, selama berumah tangga selalu istrinya ini yang berkorban, belum pernah sekalipun Aksa memberikan hadiah atau kejutan istimewa untuk Ajeng.
Rayana menatap tajam adik kandungnya, sejujurnya tidak senang atas bantuan Ajeng terhadap Aksa. Bukan itu yang diinginkan, melainkan Aksa harus mengganti rugi dengan uangnya sendiri.
“Rayana, apa kamu tidak malu? Ini semua kesalahanmu.” Hardik Aksa, dua kakak beradik memiliki kepribadian yang sangat jauh berbeda.
“Sudah ya ka, aku tidak tahu beli tasnya di mana, jadi maaf hanya bisa transfer uangnya.” Ajeng merintih dalam hati, tabungan selama enam bulan melayang sudah. Sepatu bahkan jam tangan impiannya lenyap. Dua bola mata jernihnya berkilauan dengan kesedihan yang menggenang.
“Ajeng?” suara Aksa tertahan di tenggorokan, istrinya ini benar-benar keras kepala.
“Kamu dapat uang dari mana Ajeng? Ini punya kamu semua? Kenapa kamu … kamu, ah sudahlah kalian itu pasangan menyebalkan.” Rayana menjauh dari Ajeng dan Aksa, memilih mengisi perut daripada bersama ipar memalukan seperti itu.
“Ajeng … maaf ini semua bukan sengaja.” Tukas Aksa meraih kedua tangan istrinya, dia tidak peduli menjadi tontonan orang banyak.
“Iya aku tahu, kakak sengaja. Aku masuk dulu.” Ajeng menghela napas, melepaskan jemarinya dari tangan suami.
“Ajeng. Suatu saat aku janji membayar semua penghinaan ini.” Gumam Aksa dalam hati, dia akan memastikan menata hidup lebih baik.
.
.
Tepat pukul tiga sore Aksa dan tim kembali pulang ke restoran setelah selesai merapikan peralatan. Dalam mobil khusus karyawan, semua mata memandang pada Aksa, melirik satu sama lain memberi bahasa isyarat.
Jalanan hari ini sedikit padat, membutuhkan waktu setidaknya satu jam untuk mencapai tujuan. Aksa memeriksa beberapa pesan masuk, satu diantaranya berisi perintah manager agar Aksa langsung masuk ke ruang kerjanya.
Aksa mencurigai ada sesuatu yang salah, mungkin terkait masalah siang ini, apa manager akan memangkas gajinya karena memecahkan piring dan mangkuk? Belum lagi sikap Rudi berbeda, ekor matanya selalu melirik tajam pada Aksa. Apa keduanya saling berkaitan?
Tiba di restoran, Aksa bergegas menemui manager di lantai dua, semua pegawai menatap benci pada Aksa. Yakin ada sesuatu yang salah hari ini.
Tok … tok
“Permisi Pak, ini Aksa.”
“Ya masuk, dan tutup rapat pintunya. Saya tidak mau pembicaraan kita terdengar keluar.” Nada memerintah sangat kental dari suara manager.
“Duduk Aksa. Saya tidak akan basa basi, langsung pada intinya.” Suasana menegangkan tercipta dari ruangan dingin dengan dekorasi abu-abu, ditambah pengharum ruangan yang tidak ramah menusuk indra penciuman Aksara.
“Ya Pak? Ada yang bisa saya bantu?” Aksa tetap tenang menghadapi semua, walaupun dia tahu akan terjadi sesuatu yang mengubah hidupnya.
Ehem
“Begini Aksa, sebenarnya saya tidak mudah percaya, selain itu kamu juga salah satu andalan restoran ini. Tapi saya lebih tidak menyangka kamu berani memanipulasi data pelanggan delivery order, jangan dikira ini semua tidak ketahuan Aksa. Selama ini kamu yang memegang data pelanggan kita, saya lihat jumlah pendapatan dengan biaya yang keluar tidak sesuai, lebih besar beban daripada laporan penjualan yang kamu serahkan ke bagian akunting.”
Manager membuka laptop dan menjelaskan pada Aksa satu persatu. Selain menjadi daya tarik bagi pelanggan dan mendatangkan peningkatan penjualan, pria ini mengetahui kemampuan Aksa membaca jurnal dan laporan keuangan, maka dari itu mati-matian mempertahankan Aksa dan membelanya di depan pemilik restoran.
Berniat mempromosikan Aksa sebagai staf akunting, sebab dalam beberapa bulan lagi salah satu staf itu pensiun.
Setelah Aksa tilik, memang benar ada yang janggal. Semua tidak sesuai dengan ingatannya, dia selalu menyerahkan uang cash dan laporan secara berkala pada departemen penjualan.
Tidak hanya itu usai dilakukan stok opname pagi tadi, ternyata sejumlah uang tunai hilang dari brankas. Manager pun panik, detik itu juga melakukan rekonsiliasi dan benar jumlah saldo di bank, buku kas serta fisik uang di brankas berbeda.
Semua berawal dari laporan penjualan yang Aksa berikan pada departemen penjualan, mereka pun menyebut Aksa selalu terlambat memberi bukti transaksi.
“Ini pesangon untuk kamu Aksa, saya minta maaf tidak bisa lagi membantu.” Desah napas berat terdengar disertai rasa kecewa yang teramat besar.
“Tapi Pak, ini semua bukan salah saya atau kelalaian saya.” Aksa tidak terima di PHK, terlebih ini semua bukan ulahnya.
Tapi sebagai salah satu buruh restoran yang hanya dianggap rendah, dia bisa apa selain patuh?
“Saya paham Aksa, departemen akunting mengancam akan melaporkan kamu kalau saya tetap mempertahankan kamu di sini. HRD juga memberikan laporan absensi kamu, seharusnya saya sudah memecat sejak satu tahun yang lalu. Mereka semua merasa tidak adil. Jadi terimalah ini Aksa. Cukup untuk kamu bertahan sampai dua bulan ke depan.” Manager menyerahkan amplop ke tangan Aksa.
Dengan berat hati Aksara Kaisar pergi dari tempatnya mencari sumber penghidupan selama tiga tahun. Tidak ada satupun yang mengucapkan perpisahan termasuk Rudi.
Aksa pulang lebih cepat, membawa uang dalam tas kumal. Semesta pun seakan mendukung, motor tua miliknya kembali mogok di tengah jalan. Masih cukup jauh untuk sampai bengkel apalagi rumah. Aksa terpaksa mendorong sejauh dua kilometer.
Dia bingung bagaimana menyampaikan berita buruk ini kepada Ajeng. Benar-benar hari yang buruk bagi Aksara, sudah jatuh tertimpa tangga semakin berat hidupnya, tapi dia masih memiliki peluang dengan menggunakan sedikit uang pesangon.
Di rumah, Aksa langsung masuk kamar. Mengabaikan segala perintah dari ibu dan ayah mertua. Kebetulan istrinya itu sudah pulang.
“Tumben, kamu pulang lebih awal. Tidak ambil dua shift?” selidik Ajeng, wajah suaminya ini tampak kusut tapi tak mengurangi kadar ketampanan seorang Aksa.
“Ajeng sayang. Ada sesuatu yang harus kamu tahu.” Aksa mengatur napas, khawatir akan respon sang istri.
“Apa Aksa?” mata indah Ajeng menatap penasaran.
Aksa memeluk erat istrinya, sejenak melepas segala lelah dan beban. Merangkum wajah manis Ajeng, melabuhkan ciuman singkat.
“Ajeng, aku di pecat. Ada masalah yang cukup sulit dijelaskan. Aku harap kamu …” Belum selesai Aksa bicara, istrinya sudah memotong dan tanggapan luar biasa diterima Aksa.
“Ya aku paham Aksa, aku harap setelah ini kamu tetap mencari pekerjaan. Jangan sampai ibu dan bapak tahu hal ini.” Suara lembut dan merdu Rahajeng Prameswari mendamaikan Aksa.
“Terima kasih sayang, kamu mau mengerti.”
.
.
Seluruh uang pesangon Aksa berikan kepada Ajeng, biar istrinya yang mengelola semua. Aksa murni tergantung pada Ajeng.
Setiap hari ia keluar rumah untuk mencari pekerjaan, dan baru pulang menjelang matahari terbenam. Semua Aksa lakukan agar mertuanya tidak curiga. Bahkan sembari terus mencari, dia melakukan pekerjaan kasar di komplek perumahan elit. Sungkan meminta uang hanya untuk membeli pulsa dan bensin.
Tanpa sepengetahuan Aksa, Ajeng memutuskan mulai mengikuti bisnis kecil salah seorang temanya, tapi rencana ini diketahui oleh Maya serta Danang. Keduanya yang memang menginginkan Aksa pergi dari rumah, selalu menggagalkan upaya Ajeng.
Sampai uang pesangon tersisa beberapa ratus ribu. Aksa terkejut mengetahui bekal uangnya berkurang drastis.
Hubungan Aksa dan Ajeng mulai meregang setelah satu bulan menganggur. Maya semakin gencar menghasut putri bungsunya untuk bercerai, belum lagi Rayana memperkenalkan calon suami yang dinilai jauh lebih baik dari Aksara.
Suasana kamar yang sebelumnya mulai menghangat, sekarang tidak lagi. Pertengkaran pagi dan malam menjadi rutinitas, sering kali Ajeng naik pitam, tidak lain faktor ekonomi.
“Sampai kapan Aksa? Satu bulan bahkan lebih, kita hidup seperti ini. Kamu belum dapat pekerjaan, aku lelah Aksa, usia pernikahan kita sebentar lagi masuk tahun ketiga, tapi belum ada perubahan apapun. Aku iri, semua teman-temanku hidup enak dan nyaman.” Suara Ajeng begitu keras, mungkin saja di luar sana Danang dan Maya tertawa.
“Ajeng, aku juga tetap berusaha. Bukan berpangku tangan. Satu bulan ini juga bukan tidak ada penghasilan sama sekali.” Aksa masih sabar menghadapi jalan yang berliku.
“Tapi kurang, aku mau kita cerai Aksa. Kita jalan masing-masing saja.” Tegas Ajeng begitu lantang tanpa keraguan. Wanita itu segera keluar kamar, menyendiri.
Sementara Aksa akan mempertahankan Ajeng sampai kapanpun, pernikahan bukanlah mainan, yang bisa diputuskan hanya karena suatu masalah tanpa diskusi dan menemukan jalan keluar.
TBC
**
ditunggu dukungannya kaka
terima kasih 🙏
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 86 Episodes
Comments
Edy Sulaiman
tuh kan aksa kalau yu lemah terus istri mu aja mintak cerai, .....
2024-05-15
0
Sulis Tiyono
oh nasib semangat brow bisa istri klu masih serumah ortu selalu di intimidasi bukan memberi semangat malah mematahkan nya
2023-08-14
0
Akmal
wkwkwk kasihan Aksa
2023-06-18
1