BAB 3
Aksa menghela napas, melihat ponselnya terus berdering tanpa henti. Tahu siapa? Dia kakak iparnya, Rayana selalu minta Aksa mengirim makan siang ke rumah sakit tempatnya bekerja.
Bukan hanya itu, tapi Rayana seolah sengaja menunjukkan pada rekan kerja Ajeng, bahwa Aksa hanyalah seorang pelayan rendahan di restoran. Tidak jarang Ajeng pulang dalam keadaan menangis sebab mendapat hinaan dari temannya.
“Aku minta Rudi saja yang mengantarnya nanti. Pasti dia mau mempermalukan aku lagi, dasar kakak ipar tidak berpendidikan.” Aksa menolak panggilan telepon, ia segera melaju ke restoran dengan motornya.
Sepanjang perjalanan menuju restoran, Aksa terus menarik napas. Otaknya berusaha berpikir mencari alasan datang terlambat, pasalnya ia sering masuk kesiangan.
“Semoga manager hari ini ada kunjungan ke tempat lain.” Aksa berharap dalam hati. Dia terlambat bukan karena bangun siang tapi ada saja perkara di rumah yang membuat Aksa kehilangan waktunya. Seperti pagi ini Danang dan Maya terus membuat ulah, tidak pernah mengizinkan Aksa hidup tenang menjalani rumah tangganya.
Tiba di restoran, harum bumbu, masakan lezat menyeruak memenuhi indra penciuman. Detik itu juga perut kosong Aksa memberontak ingin segera diisi, ia pun masuk ke ruang khusus istirahat karyawan, jatah makan siangnya diambil sebelum waktunya. Chef utama pun tahu pasti Aksa tidak sarapan di rumah.
Namun baru juga menikmati dua sendok makanan, suara bariton dari luar mengusik ketenangan Aksa. Terpaksa ia menunda sarapan yang kesiangan dan menemui manager restoran.
Aksara bekerja di restoran ini sudah tiga tahun, sebelumnya dia hanya kerja serabutan untuk menyambung hidup agar tidak mati sia-sia tanpa makanan. Semua dilakukan dengan terpaksa sebab Aksa pergi jauh dari negara asalnya karena kakek yang ia sayangi meninggal dunia, usia muda membuatnya terlarut sangat dalam pada kesedihan.
“Aksara kamu dengar apa yang saya sampaikan tadi? Jawab Aksara!” suara manager bertegangan tinggi adalah hal biasa bagi Aksa.
Ia yang tengah melamun pun tersadar mendengar namanya dipanggil. Aksa langsung mengangguk pelan sebagai jawaban.
“Ini surat peringatan kedua untuk kamu, sekali lagi masuk kesiangan, tidak ada toleransi lagi Aksa. Saya sudah cukup berbaik hati menyembunyikan kesalahan kamu ke pemilik restoran. Ini tempat kerja bukan untuk bermain, jadi serius lah kalau memang kamu membutuhkan uang. Lihat teman kamu yang lain bisa masuk lebih awal, karena mereka memerlukan uang. Ingat itu Aksa.” Kata Manager restoran dengan gaya arogannya.
Teman kerja Aksa banyak yang tidak menyukainya, sebab perlakuan berbeda diberikan kepada Aksa yang jelas-jelas sering masuk terlambat.
Selesai mendengar semuanya, Aksa segera bekerja. Tugas utamanya menunggu tamu di bagian depan, mempunyai paras tampan membuat Aksa memiliki posisi tertentu di restoran ini, sebagai pelayan yang menyambut tamu. Tapi sering kali berakhir dengan caci maki wanita, mereka sakit hati karena Aksa menolak pernyataan cintanya.
Setiap pekerjaan ia lakoni dengan baik tanpa lelah hilir mudik dari depan, ke belakang lalu membantu menurunkan persediaan makanan. Sampai tidak terasa waktu telah menunjukkan pukul enam sore. Artinya ia bisa pulang ke rumah berduri yang menjadi tempatnya bernaung.
Sebelum pulang, para karyawan berjejer rapi menunggu gaji mereka, termasuk Aksa. Semua pegawai shift satu telah pulang tersisa dirinya yang menanti dengan harap cemas. Senyum manis Ajeng memenuhi kepala Aksa, ia rindu akan sikap lembut dan manja istrinya. Aksa akan memberi semua gajinya untuk sang istri.
“Aksa, ini gaji kamu. Hanya sebagian ya, sesuai peraturan kalau datang terlambat maka gaji dipotong.” Manager menyerahkan amplop berisi uang satu juta rupiah.
“Terima kasih Pak.” Aksara menerima amplop itu, dan ini semua hak untuk Ajeng. Ia pulang dengan hati senang sekaligus was-was membawa pulang uang.
Sebelum masuk komplek perumahan, Aksa menggunakan sisa uang di dompet untuk membeli buah tangan kesukaan Ajeng, martabak telur spesial.
Baginya, Ajeng adalah bidadari cantik yang mampu mengalihkan perhatian dan menyentuh sisi hati dingin seorang Aksara, hingga luka di dalam dada pria ini menghilang.
Aksa menunggu sepuluh menit, dan martabak untuk istri tercinta siap diberikan. Sebelum pulang ia lebih dulu memeriksa status sosial media istrinya dan benar saja Ajeng tidak lembur, karena tidak enak badan.
Sampai di depan rumah, senyum lebar mengembang di bibir Aksa, melihat siluet istrinya di lantai dua. Perlahan ia membuka pintu pagar, masuk tanpa suara sebab mengkhawatirkan sesuatu.
Belum kakinya melangkah, mertua Aksa sudah menengadah tangan meminta uang listrik, air dan biaya keamanan.
“Pulang juga kamu. Hari ini gajian kan? Mana untuk bayar listrik? Kamu tega kalau Ajeng harus bayar listrik sendiri? Ingat Aksa, saya sudah baik hati mengizinkan kamu tinggal di rumah ini. Balas budi kamu ini tidak seberapa dengan hidup di rumah mewah.” Sarkas Maya, masih terus membuka tangan tanpa tahu malu.
“Bu, ini hak Ajeng. Bulan lalu semua saya berikan. Apa itu kurang hanya untuk bayar listrik, air dan keamanan? Saya hitung, cukup untuk tiga bulan ke depan.” Balas Aksa geram akan ibu mertua yang selalu kelewatan.
“Dengar ya Aksa, kalau bukan karena Ajeng, Saya pastikan kamu keluar dan bercerai, susah payah anak itu dibesarkan tapi mencintai pria benalu seperti kamu. 600 ribu untuk listrik, bayar sekarang juga” Ucap Maya, tanpa pikir panjang.
Enggan tertahan diluar rumah, Aksa memberi ibu mertuanya uang sesuai permintaan, dan parahnya lagi Maya menyambar martabak telur di tangan Aksa.
“Bu jangan itu untuk Ajeng.” Teriak Aksa, tapi percuma karena Maya melenggang masuk sembari menggigit martabak telur.
Akhirnya uang gaji tersisa beberapa ratus ribu yang akan Aksa bayar untuk pinjamannya ke Ajeng. Pria ini masuk kamar, mendapati istrinya selesai mandi dan bersin-bersin.
“Ajeng kamu sakit? Sudah berobat?” Aksa begitu khawatir akan kesehatan sang istri.
“Sudah, kamu lupa? Aku kan kerja di rumah sakit pasti berobat lah. Oh iya mana janji kamu, bukannya mau bayar hutang?” Ajeng memutar rekam suara suaminya sebagai bukti janji Aksa pagi ini.
“Ini sayang, terima kasih ya.” Aksa tersenyum sembari menyerahkan uang ke tangan istrinya. Sungguh manis wajah Ajeng malam ini. Membuat dada Aksara berdebar tidak menentu, tapi tidak berakhir begitu saja sebab Ajeng meminta uang jatahnya.
“Hutang kamu lunas ya Aksa. Terus uang untukku mana? Bulan kemarin alasan kamu semua untuk bayar keperluan rumah tangga, artinya sekarang ada jatah bulanan untukku, benar kan? Aku mau beli jam tangan baru seperti temanku. Dia dapat hadiah dari suaminya, sedangkan aku harus menambah kekurangannya dari gajiku sendiri.”ucap Ajeng berubah lemas tak bersemangat.
Ehem
“Maaf sayang, uangnya diambil ibu untuk bayar listrik dan biaya lainnya. Jadi aku hanya bisa bayar hutang ke kamu.” Tukas Aksara, merasa bersalah lagi-lagi Ajeng menjadi korbannya.
“APA? Kamu kasih ke ibu? Bulan lalu kan sudah. Atau jangan-jangan kamu punya wanita lain ya? Aku tidak mau Aksa, tabunganku menipis hanya untuk memenuhi kebutuhan harian kita. Kamu keterlaluan Aksa.” Ajeng menghentak kaki dan keluar dari kamar, dia tidak mau lagi harus menutupi semua kebutuhan hidup menggunakan gajinya sebagai perawat.
Namun Aksa lebih dulu menahannya. Tidak ingin masalah seperti ini sampai menjadi konsumsi satu penghuni rumah.
“Ajeng tidak ada wanita lain hanya kamu yang aku cinta ….” Jawab Aksa belum selesai dan istrinya kembali memotong pembicaraan.
“Cinta? Hidup kita tidak makan cinta Aksa, memang rumah dan semua yang kita pakai dibeli dengan cinta? Uang Aksa, uang. Malam ini kamu tidur di luar!” Ajeng mendorong tubuh kekar Aksa keluar kamar.
TBC
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 86 Episodes
Comments
Rizky Rizkun Karim Rizky
othor nya emang suka yang lebay2
2024-02-21
1
Sulis Tiyono
apa gak berlebihan ni cerita aku laki2 2th lebih hidup di aniaya udah ku sinkirkan sabar ada batasannya manusia normal akan berpikir harga diri brow dunia ni tak seluas daun kelor tu kata orang lu laki jgn takut gk laku wajah ok kenapa bloon
2023-08-13
2
EL Shawieto
Kena stroke kamu Jeng!!
2023-05-15
1