Setibanya di rumah, Aksa mendengar ayah dan ibu mertua menghasut istrinya untuk bercerai, kemudian menikah dengan Aji.
“Ajeng. Bapak minta buku nikah kamu. Bapak siap bayar pengacara untuk proses perceraian kamu dan Aksa. Tidak perlu takut hidup jadi janda, toh Aji janji menikahi kamu.” Danang bicara depan putrinya, menunjuk-nunjuk Ajeng yang duduk di sofa bersama Maya. Tangan Danang begitu ingin meraup untung sebanyak-banyaknya.
“Tapi Pak, Bu …” Ajeng mencoba menjawab, Namun Maya lebih dulu memotong , tidak ingin mendengar penolakan apapun dari putri bungsunya.
“Bayangkan Ajeng, kalau kamu menikah dengan Aji. Kamu tidak perlu lagi bekerja. Cukup di rumah nikmati uang suami, mau beli apapun mudah, selama ini kamu mengeluh tidak bisa beli sepatu, tas, jam tangan seperti teman-teman kamu. Pikirkan lagi Ajeng!” kata-kata Maya kali ini lebih lembut, dia ingin Ajeng terhasut dan mengikuti perintah kedua orangtua.
Maya akan melakukan apapun demi uang satu milyar di tangan, benar-benar membutuhkan dana segar untuk toko pakaian di pasar yang hampir gulung tikar.
“Tidak bisa Pak, Bu, Ajeng … Ajeng tidak akan meninggalkan Aksa. Menikah itu perlu cinta Bu, lagipula Aksa masih lebih baik dibanding Aji, dia pengangguran. Tidak lebih dari pengemis kepada kedua orangtuanya. Kalau Bapak dan Ibu memerlukan menantu seperti Aji, kenapa tidak menikahkan Kakak dengannya?” tapi Ajeng menolak mentah-mentah, dia akui meskipun awalnya menikah karena terpaksa, lambat laun mulai jatuh hati.
Sikap lemah lembut suami meluluhkan, berbeda dari kebanyakan pria, Aksa selalu berusaha memenuhi keperluan rumah tangga, walau belakangan ini pertengkaran sering mewarnai kehidupan keduanya.
“Rayana tidak boleh menikah dengan Aji, kakakmu itu harus memiliki suami lebih dari Aji.” Balas Maya mulai sengit, tidak tahan mendengar penolakan putri bungsunya. Bisa-bisanya menolak pemuda tersohor di daerah ini.
“Kamu seharusnya berpikir Ajeng, kapan lagi bisa menyenangkan Bapak dan Ibu? Kamu itu sudah gagal memberi kebanggaan untuk orangtua, memangnya profesi sekarang bisa dikatakan berhasil? Salah, lihat Rayana tidak pernah mengecewakan Bapak dan Ibu. Kakakmu itu dokter, semua orang menghormati dan kagum, tapi kamu apa?” Danang memarahi putri bungsunya yang dianggap gagal memberi kepuasan kepada orangtua, karena Ajeng tidak sesukses Rayana.
Ayah dan anak itu beradu pandang, mempertahankan pendapat masing-masing. Pertama kalinya bagi Ajeng tegas menolak perintah Danang. Ada setitik rasa takut dalam diri karena melawan kepada orangtua, apalagi terlihat riak wajah ayahnya begitu murka.
“Anak tidak tahu diri kamu Ajeng, lebih mengais kotoran di tempat sampah.” Pungkas Danang, tangan kanan terangkat ke udara, memberi pelajaran berupa kekerasan adalah jalan terakhir.
Aksa semakin geram, mendengar kata-kata jahat ayah mertuanya. Dia bergegas melindungi istri dari pukulan tangan Danang.
Menahan dan menatap keji pria yang berani melukai wanita. Aksa tidak bisa menahan gemuruh dalam dirinya. Mendorong Danang hanya dengan sedikit tenaga, sampai terjerembab keras terduduk di atas lantai.
“Saya harap ini terakhir kali Bapak bersikap kasar.” Netra abu-abu Aksa begitu tajam seolah menguliti pria paruh baya yang kini kesakitan.
Tanpa banyak kata Aksara merangkul Ajeng membawanya ke kamar mereka. Ajeng masih syok tidak merespon apapun pertanyaan suaminya, masih terus terkurung dalam pemikiran bahwa ia tidak bisa membahagiakan kedua orangtua.
.
.
Pagi ini Aksa berusaha menghibur Ajeng, istrinya enggan sarapan bersama keluarga, bahkan makanan yang sengaja Aksa siapkan dalam kamar tak disentuh sedikitpun.
“Kamu mau ke mana? Setidaknya makan sedikit.” Tutur Aksa, kesabarannya masih seluas samudra, ditambah pembelaan semalam membuatnya semakin yakin membawa Ajeng keluar dari rumah ini.
“Aku berangkat Aksa, Marina menunggu di luar pagar. Sebaiknya kamu yang makan, aku perhatikan belakangan ini sedikit kurus.” Dengan mata bengkak Ajeng memperhatikan tubuh suaminya yang berubah. Tidak ada lagi beberapa otot yang menonjol, mungkin karena Aksa jarang makan, pikirnya.
“Kita berangkat bareng. Tunggu, aku mandi sebentar. Jangan kemana-mana!” baru Aksa membuka pintu kamar mandi, Ajeng melenggang meninggalkan kamar luas ini. Memilih berangkat kerja dengan rekan sesama perawat. Padahal Aksa sengaja bangun lebih awal supaya bisa mengantar istrinya ke rumah sakit.
Aksa tidak ambil pusing, wanita memang seperti itu lebih nyaman bersama teman dari pada sosok pria yang selalu ada setiap hari.
Usai merapikan penampilan, Aksa keluar membawa tas ransel kecilnya. Sebelum turun ke garasi berpapasan dengan kakak ipar.
“Nasib ya Aksa, coba kamu punya mobil pasti Ajeng mau diantar ke rumah sakit. Aku bosan melihat motor jelek kamu, tolong ya jangan parkir di samping mobilku.” Rayana memojokkan Aksa, wanita itu juga menendang motor hingga terjatuh menimpa beberapa kadus kosong.
“Minggir, adik ipar. Eh calon mantan adik ipar.” Tawa Rayana pecah, puas mencemooh adik iparnya pagi-pagi.
“Ini keuntungan coffe shop dua minggu lalu, semua untuk Ibu.” Suara pria paruh baya yang sangat Aksa benci, ditambah sengaja memberi gepokan uang kepada Maya di depan Aksa. “Rayana, cari suami seperti Bapak, bisa membahagiakan istri bukan menyusahkan.” Lanjut Danang bermaksud membuat Aksa iri hati.
Aksa memilih pergi daripada menyaksikan drama menjijikan di rumah mertua, kalau saja ia tidak menyayangi istrinya, pasti Aksa sudah pergi menghilang tanpa jejak.
“Apa ini saatnya?” dia pun memikirkan sesuatu yang seharusnya ada dalam genggaman.
Ditengah perjalanan, mobil mewah milik pria misterius yang menolongnya terparkir di pinggir jalan. Tidak tanggung, sengaja menghentikan laju kendaraan roda dua Aksa.
“Ada apa? Mau minta ganti biaya klinik?” tanya Aksa sembari berusaha mengingat siapa sosok di depannya ini.
“Bukan begitu, silahkan masuk lebih dulu.” Pria itu menghela napas, dia sengaja menunggu, mengajak Aksa masuk mobil.
Membuka kacamata dan tersenyum lebar menampakkan gigi putihnya. “Ingat aku kan?” tanyanya dengan semangat tinggi, sempat kecewa Aksa sama sekali tidak mengenal identitasnya.
“Kamu?” Aksa menunjuk hidung pria itu, dan beberapa kenangan berputar dalam kepala. “Kamu sudah besar? Penampilanmu juga berubah drastis. Siapa yang memberi perintah?” sudut bibir Aksa berkedut tipis mengetahui tujuan lelaki di sampingnya.
“Tentu saja usiaku lebih tua darimu. Kamu tidak tahu bagaimana mereka benar-benar mendidik ku sampai menderita, enam tahun Aksa, bayangkan saja. Pasti aku berubah ya seperti ini.” Terangnya memberi penjelasan singkat, Aksa mengerti apa yang dijalani pria ini.
“Ayah. Kami mencarimu selama lima tahun, aku terkejut mengetahui kamu menikah dan mendapat perlakuan buruk. Ah lupakan, ada hal yang lebih genting Aksa, kami membutuhkanmu.” Tukasnya memberi beberapa laporan dalam layar datar berukuran dua belas inchi.
“Jadi begitu, bukankah masih ada orang itu? Apa dia tidak sanggup mengendalikannya?” tanya Aksa sedikit menahan emosi
“Dia? Sampai matipun tidak akan bisa, dia memerlukan kamu. Oh iya ambil ini Aksa, milikmu, kenapa benda penting kamu tinggalkan?” menyerahkan beberapa debit dan credit card, bahkan kunci mobil.
“Kalau aku bawa, pasti dia mudah melacak keberadaanku. Aku tidak membutuhkannya, untukmu saja. Kejadian malam itu tidak mudah dilupakan.” Aksa belum menerima apa yang menjadi haknya, sebab bayang-bayang sakitnya kehilangan orang yang paling disayangi melekat erat dalam kepala.
TBC
**
Siapakah pria misterius itu? jawab di kolom komentar ya, ada pulsa 20k untuk satu orang yang beruntung.
ditunggu dukungannya dan terima kasih atas kebaikan kakak semua 🙏
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 86 Episodes
Comments
Edy Sulaiman
mc bodoh nolak rezeki...
2024-05-15
0
Diah Susanti
anak dari orang kepercayaan keluarga aksara
2023-08-29
1
Min Yoon-gi💜💜ᴅ͜͡ ๓
ada kata2 kamu sudah besar, bisa jadi adeknya Aksa mgkn
2023-04-05
2