Aksa meninggalkan mobil mewah, dia masih berusaha melupakan kejadian penuh darah malam itu. Usia muda membuatnya tidak bisa berpikir jernih ditambah nyawa menjadi taruhan. Secepat kilat pergi menjauh, bersembunyi di desa dan mencari pekerjaan untuk bertahan hidup.
“Aksa, hey Aksara. Kamu bengong, antar makanan itu ke salah satu pelanggan kita.” Rudi menggelengkan kepala, sejak pagi Aksa terlihat melamun.
“Oh iya, terima kasih Rud. Tagihannya di mana?” Aksa mencuci muka, baru menghadap bagian delivery order. Dia tidak bisa terus memikirkan masa lalu, sekarang adalah hidupnya yang harus di jalani penuh kerja keras.
” Di depanlah, cepat Aksa, nanti manager marah-marah.” Tukas Rudi sembari memeriksa daftar menu pelanggan yang masih dalam antrian.
“Dasar kamu Aksa, makanya punya muka jangan kelewat ganteng, jadi incaran terus. Semua pelanggan maunya sama kamu.” Rudi menggerutu dengan wajah sedikit menekuk.
Aksa mengantar makanan pesanan salah satu pelanggan restoran, komplek perumahan mewah tepat di seberang kediaman mertua. Sejenak Aksa menatap pintu pagar rumah yang tampak sepi, sebelum akhirnya masuk ke jalan luas dan lebar.
Tapi Aji dan kelompoknya menghadang jalan Aksa. Sebanyak sepuluh sepeda motor memblokade, belasan pemuda menatap marah karena ketua kelompok mereka babak belur.
“Minggir kalian, tidak baik menghalangi orang lain.” Pungkas Aksa masih duduk di atas roda duanya.
Tidak lama deru mesin mobil terdengar, decitan ban bergesekan dengan aspal menimbulkan suara dan debu mengepul di sekitar mobil. Pria angkuh keluar dari sunroof, Aji membawa anggota lainnya untuk menyerang Aksa.
Aji semakin kehilangan akal sebab mengetahui penolakan Ajeng, Danang mengarang cerita tentang semua hal kepada calon menantu idamannya itu. Termasuk Aksa yang akan mencelakai Danang dan Maya jika membantu Aji.
“Tidak semudah itu Aksa, langkahi dulu mereka semua! Berani sekali manusia rendahan seperti mu menggagalkan rencanaku.” Aji berambisi bisa membuat tulang Aksa patah, berakhir di rumah sakit atau paling buruk meninggalkan Ajeng dengan status cerai mati.
“Kalian masih sangat muda sebaiknya lakukan hal positif!” Aksa memandang satu per satu lelaki dengan usia muda, mungkin beberapa diantaranya baru lulus sekolah atau masuk perguruan tinggi.
“Jangan memberi perintah apapun, dasar gembel.” Teriak belasan pemuda menatap penuh kebencian tanpa sebab.
Malas meladeni, Aksa memilih maju dengan sepeda motor bututnya, ponsel terus bergetar sudah pasti dari restoran.
“Heh mau ke mana kamu? Malah kabur. Nyalimu kecil Aksa.” Aji tak henti menggali kuburan untuk dirisendiri.
Aksa tidak bisa lagi tinggal diam, ketika dua orang anak buah Aji berniat menjatuhkan makanan dalam box.
Berbekal kemampuan bela diri yang tidak bisa ditandingi, dia memukul beberapa pemuda. Bahkan lima orang diantaranya membawa balok kayu dan pisau, dengan tangan kosong Aksara mampu membuat mereka semua meringis kesakitan di pinggir jalan.
“Dengar Aksa! Aku akan membuat hidupmu tidak aman, aku pastikan kamu menyerah dan memohon ampun.” Aji tidak terima kekalahan untuk kesekian kalinya. Apalagi melihat musuh tanpa goresan luka sedikitpun, sikapnya sangat tenang tidak gentar mendengar ancaman.
Memastikan tidak ada lagi yang menghalangi, Aksa melempar balok kayu tepat mengenai kepala Aji di atas sunroof, hingga pria bermulut besar itu pingsan, menyisakan satu orang di sisinya yang berteriak ketakutan.
‘Ampun Aksa … saya hanya mengikuti perintah Bos Aji.’
“Sebaiknya kalian jangan mencari masalah.” Tegas Aksa, sembari menyalakan mesin motor dan berlalu dari tempat.
Tanpa disadari ada seorang wanita yang bersembunyi di balik kemudi mobil, merekam semua kejadian. Videonya berdurasi kurang dari tiga puluh detik, beredar luas di desa dan sampai pada pihak keamanan.
Aksa masih santai menjalankan tugasnya mengantar makanan, namun selesai dengan semua pekerjaan beberapa petugas membawa Aksa ke kantor polisi untuk dimintai keterangan.
“Atas nama Aksara? Anda terlibat penyerangan terhadap saudara Aji, silahkan ikut kami ke kantor.” Tiga orang pria bertubuh besar, dua berseragam dan satu diantaranya menggunakan pakaian preman. Aksa merasa tidak salah pun ikut dengan tenang.
Sampai di salah satu kantor polisi, di sana kedua orangtua Aji duduk menunggu kehadiran tersangka penyerangan. Tuan tanah tersohor di satu kota menghampiri, menarik kerah baju Aksa.
“Kurang ajar kamu, beraninya menyakiti putraku. Aji masuk rumah sakit, karena ulahmu. Pria ini tidak boleh bebas dengan mudah.” Suaranya menggema dalam ruang laporan. Orangtua Aji tidak terima, putranya masuk rumah sakit penuh luka.
PMenuntut hukuman pada Aksara, selain itu dengan bukti video memperlihatkan bagaimana Aksa tanpa ampun menyerang Aji.
Rekaman yang berhasil dimodifikasi sangat cepat, semua orang mempercayai isinya tanpa berusaha mencari tahu.
“Silahkan percaya pada semua barang bukti , tapi anda akan lihat siapa yang salah.” Tegas Aksa masih sempat menyunggingkan senyum kepada dua orang yang menatap keji. Dia digiring masuk ke dalam, agar tidak terjadi keributan dengan orangtua korban.
Di dalam sini Aksa menuturkan semua kejadian mulai dari awal penyerangan, segala pertanyaan dijawab tenang dan santai. Namun polisi tidak bisa membebaskan Aksa begitu saja, bukti-bukti mengarah padanya.
‘Aksa silahkan menunggu proses penyelidikan selesai, kalau kamu tidak bersalah pasti bebas. Apa ada seseorang yang bisa dihubungi?’ Imbuh seorang petugas yang mendampingi Aksa sejak penangkapan.
Aksara mengangguk, dia mencoba menelepon istrinya. Rasa bahagia langsung membuncah dalam dada, tepat pada dering pertama Ajeng langung menerima.
“Ajeng, sayang. Aku ada di kantor polisi. Kamu bisa datang ke sini, bantu aku memberi penjelasan tentang rencana Aji dan Bapak?”
“Halo Ajeng? Tunggu, jangan ditutup, video itu tidak benar.”
Sambungan telepon tidak berlangsung lama, kurang dari lima menit. Aksa kecewa pada Ajeng, sebab istrinya enggan membantu.
“Kenapa dia sama sekali tidak mempercayai suaminya?” Aksa menghela napas, menyandarkan kepala pada dinding. Dia tidak bisa terus tertahan di tempat ini, otaknya berpikir apa yang harus dilakukan untuk keluar dari kantor polisi secepatnya.
Sampai siang Aksa hanya duduk diam, mendadak seorang pria paruh baya datang. Tergopoh-gopoh memegangi punggungnya yang sakit.
‘Pak polisi, saya punya rekaman video asli.’
Memberi bukti lain berupa rekaman Aksa yang tengah berjalan tiba-tiba dihadang oleh sekelompok orang. Petugas pun mencocokan bukti serta penjelasan Aksa, ditambah seseorang dengan nama berpengaruh dan memiliki kekuasaan berani menjamin, maka siang ini juga Aksa bisa pulang.
‘Aksa kamu bisa bebas, ada orang yang menjamin, ternyata kamu bukan sembarang orang sampai mengenal Tuan itu.’ Petugas mengantar Aksa sampai pintu keluar.
“Terima kasih Pak.” Aksa berpikir siapa pria tua tadi dan sosok yang berani memberi jaminan. Dia yakin orang itu sangat mengenalnya. Kalau tidak,mana mungkin berani menandatangani pernyataan khusus.
Sebelum keluar area parkir, Aksa melihat mobil merah yang baru saja melewati pelataran kantor polisi, bola matanya menangkap plat nomor kendaraan, dirasa tidak asing bagi Aksa.
TBC
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 86 Episodes
Comments
Min Yoon-gi💜💜ᴅ͜͡ ๓
jangan2 org tua itu bapaknya Aksa?
2023-04-05
1
Defi
Aji ga ada kapok2nya, itu pasti ulah Rayana yg rekam dan nyebarin.. Fix Aji cocoknya sama Rayana sama2 licik 🤣🤣
2023-04-04
1