Aksa menguping di balik pintu, betapa marahnya dia mengetahui istrinya dipukul oleh ibu mertua. Samar-samar percakapan dua orang dalam kamar terdengar.
“Awas kamu kalau sampai hamil. Ibu tidak mau ya Ajeng punya cucu dari suami kamu yang tidak jelas asal usulnya. Kamu itu menyusahkan Ajeng, ibu dan bapak usaha dari pagi sampai malam, demi kamu dan Rayana. Tapi … aduh, malah pilih suami sampah begitu.” Maya berkacak pinggang sembari menunjuk-nunjuk anak bungsunya.
“Iya bu, iya. Ajeng selalu nurut sama ibu dan bapak.” Tangis Ajeng sesenggukan, ia tidak menyangka Maya akan bersikap seperti ini.
“Masih suntik atau minum pil? Jangan kamu lepas itu kontrasepsi, ingat Ajeng!” hardik Maya, meluapkan amarahnya.
DEG
Dada Aksa semakin sakit mengetahui bahwa selama ini Ibu Mertua memaksa Ajeng menggunakan alat kontrasepsi. Pantas saja selama dua tahun istrinya itu tidak kunjung hamil, rupanya memang kehadiran bayi tidak diinginkan di rumah Danang dan Maya.
“Ibu dan bapak, benar-benar keterlaluan.” Geram Aksa menahan kepalan kedua tangannya.
KLEK
Maya keluar dari kamar, menatap menantu tidak berguna dengan pandangan merendahkan. Menyisir penampilan Aksa dari ujung kepala ke ujung kaki.
“Minggir, saya mau lewat. Jangan lupa masak makan malam Aksa. Seenaknya saja mau gratisan.” Cibir ibu mertua sembari melebarkan kedua matanya.
Aksa tidak menggeser tubuh, menantang wanita yang telah melahirkan sang istri. Aksa berdiri tegak di depan Maya, beradu pandang, iris abu-abunya menatap tajam.
“Apa? Berani kamu? Sadar diri Aksa, rumah saja masih numpang, mau punya anak. Mimpi kamu.” Sinis Maya teramat angkuh merendahkan menantunya.
“Ibu berhak marah ke saya tapi jangan pernah sekalipun menyakiti Ajeng. Dia itu istriku, putri kandung ibu, seharusnya ibu lebih sayang kepada Ajeng. Memiliki anak bukan mimpi, tapi anugerah bu.” Tegas Aksa, kalau saja di hadapannya bukan ibu mertua pasti sudah Aksa banting jatuh ke lantai.
“Miskin saja sombong kamu, apalagi kaya raya.” Maya sengaja menabrak menantunya kemudian pergi, tidak betah terlalu lama bersama seorang yang tidak jelas bibit, bebet dan bobotnya.
Aksa melihat istrinya duduk menekuk lutut di atas lantai, pipi Ajeng merah. Suara tamparan Maya begitu nyaring dan menempel di ingatan, istrinya ini menahan sakit seorang diri.
Diambilnya handuk dan es batu untuk mengurangi lebam, dia juga mencari salep di dalam laci.
“Ajeng … sayang.” Aksa berusaha mengobati luka di pipi tapi Ajeng malah menepis tangan suaminya, karena menganggap ini semua salah Aksa. Seandainya tidak membeli susu hamil dan vitamin, pasti Maya tidak marah.
“Kamu baca Aksa itu hasil pemeriksaan aku.” Suara Ajeng bergetar, isak tangisnya begitu pilu sampai ke gendang telinga. Ajeng menunjukkan hasil pemeriksaan bahwa ia hanya sakit flu dan perut kembung bukan hamil.
“Maaf Ajeng. Aku …” lirih Aksa, lalu memeluk Ajeng yang terlihat kacau. “Aku obati pipi kamu ya.” bujuk Aksa, melekatkan kain handuk ke pipi mulus yang kini merah dan basah dialiri air mata.
“Semua ini karena kamu Aksa, kamu pikir hamil itu mudah. Siapa nanti yang merawat anak kamu? Aku? Apa iya aku harus berhenti kerja? Mau dikasih makan apa anak kamu?” teriak Ajeng terus memukuli dada bidang suaminya, begitu kalap, melampiaskan semua isi hati.
“Anak kamu?” gumam Aksa tersenyum kecut, serendah itukah dirinya di mata penghuni rumah ini?
“Kebutuhan harian kita masih kekurangan, terus dari gaji aku lagi? Biaya periksa bulanan, melahirkan, pakaian bayi dan semuanya dari aku? Ck, peran kamu sebagai suami apa? Atau kamu berhenti kerja? Hidup tidak semudah isi kepala kamu Aksa.” Suara Ajeng semakin keras mencaci maki suaminya.
Sementara Aksa bergeming memeluk erat Ajeng, perih sekali hati Aksa mendengar semua kalimat yang keluar dari bibir istrinya. Semua selalu salah, di mata orang-orang sosok Aksara begitu hina.
“Seharusnya kita tidak menikah Aksa, kamu ingat kan kita menikah karena apa? Itu juga salah kamu.” Ajeng mengingat hari sial kala itu, semua memang salahnya berteduh di depan rumah tua dan kosong, seharusnya langsung pulang bukan berdiam diri bersama pria asing.
“Cukup Ajeng, ingat semiskin apapun. Takdir kamu menjadi istriku, Aku Aksara suami kamu, jaga lisan dengan baik.” Tegas Aksa, ingin mengakhiri hari ini, tanpa perdebatan lagi yang berujung pada statusnya sebagai suami tak berguna.
Daripada terus mendengar kata-kata menusuk hati, dia memilih keluar kamar melakukan tugasnya sebagai menantu, masak makan malam.
Aksa yang sebelumnya senang bukan main, sekarang terperosok sangat dalam ke lubang kekecewaan. Dia merutuki kebodohannya, kenapa percaya pada kabar yang belum jelas kebenarannya.
.
.
Satu minggu setelah rasa kecewa, Aksa yang sakit hati mengambil kerja dua shift di restoran, pagi dan siang. Dia memiliki rencana untuk membawa istrinya keluar dari rumah mertua, setidaknya cukup untuk mengontrak rumah yang layak huni.
“Wah Aksa, semangat. Kalau begitu aku juga mau ambil shift siang, lumayan untuk beli bedak istri.” Gurau Rudi, merapikan piring di rak.
“Iya. Ada informasi kontrakan rumah murah tapi nyaman Rud? Ya budget 800 ribu mungkin. Tapi dekat rumah sakit. Supaya istri bisa lebih dekat berangkat dan pulang kerja.” Tanya Akasa sebab rumah orangtua temannya ini di sekitar rumah sakit.
“Mungkin ada, tapi belum termasuk listrik. Jalannya kecil, bisa dilewati motor. Kalau mau lebih bagus lagi sedia dana satu juta lebih.” Rudi mengingat beberapa rumah yang ia lalui setiap harinya.
“Jalan Motor juga cukup Rud, kamu pikir aku punya mobil? Masih jauh Rud. Aku ingin hidup berdua, tentram bersama Ajeng. Sudah cukup dua tahun ini menumpang di mertua.” Angan-angan Aksa dalam waktu dekat yang harus terwujud.
Dia membayangkan memiliki keluarga kecil yang harmonis dengan hadirnya buah hati, pasti anak-anak menjadi obat lelah dan bagi Aksa kesulitan ini hanya sementara.
“Hey pemimpi, aku pulang dulu ya, istri telepon terus katanya anak demam.” Pamit Rudi menepuk bahu rekan seperjuangannya.
Aksa yang telah selesai bergegas merapikan barang-barang dan keluar area parkir dengan motornya. Dalam perjalanan, dia selalu merasa ada seseorang yang membuntuti sejak keluar dari restoran.
Satu unit mobil yang hanya dimiliki oleh orang-orang tertentu dan tentu harganya sangat mahal, setia mengekor sampai Aksa masuk gerbang komplek perumahan, tapi sudah satu minggu ini tidak ada kejadian janggal yang menimpa.
Siapa juga yang tidak khawatir diawasi orang asing, apalagi marak pemberitaan kriminal, tapi apa yang diincar dari seorang Aksa? Tidak ada.
Aksa juga bersyukur satu minggu ini restoran semakin ramai dengan pesanan catering dan tamu selalu datang silih berganti.
Sementara di dalam mobil, seorang pria terus mengawasi Aksa dan menghubungi seseorang. Dia mangut-mangut mendengar instruksi yang diberikan.
TBC
***
ditunggu dukungannya teman-teman
like, komentar, gift dan vote dapat menambah stamina author 🤭🙏
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 86 Episodes
Comments
Edy Sulaiman
sory ya thor ku gk komen, baca aja smg smpai tamat..
2024-05-14
0
IR WANTO
tolol udah di hina ma istri masih di belain tinggalin istri kyak gitu mah..
2023-10-25
0
Sulis Tiyono
ya tu baru hebat selama masih JD 1 Ama mertua gak bakal tentram hidup rumah tangga klu saling cinta bagus tu ngotrak lebih terhormat akan ada rasa rindu dan sayang klu berjauhan
2023-08-14
1