Curang.

...•...

...•...

...•...

...•...

...•...

Keesokan harinya.

Gia berangkat menuju sekolahnya dengan jalan kaki sedikit menuju jalan raya. Setelah sampai, ia menunggu taksi di pinggir jalan, lalu ia melihat suatu Cafe yang berada tepat di depannya. Kemudian matanya tertuju pada seorang pria tua yang sedang keluar dari mobilnya.

"Itu kan pak Sudarni." Ucap Gia syok, karna ia sangat mengenali wajah pria tua itu yang merupakan pak Sudarni, orang yang pernah mengencaninya dan menipunya waktu itu.

"Ngapain kakek-kakek itu di sini?" Gumam Gia bertanya-tanya.

Kemudian pak Sudarni membukakan pintu untuk seseorang. Dan keluar lah seorang wanita yang berpakaian seksi keluar dari mobil setelah di bukakan pak Sudarni.

"Siapa lagi wanita yang dia kencani?" Gia terus bergumam.

Kemudian wanita itu menatap mesra pak Sudarni dan merangkulnya masuk ke dalam Cafe.

"Dasar kakek-kakek buaya! Gak tau diri! Gak berubah sifatnya, meskipun sudah ketahuan selingkuh. Istri lagi nyariin, dia malah asik selingkuh sama cewek lain. Dasar tua-tua keladi Harus di kasih pelajaran!"

Gia langsung menyebrang, ia berlari kecil ke arah mobil pak Sudarni. Setelah itu ia berhenti tepat di samping mobilnya sambil celingak-celinguk melihat ke kanan-kiri untuk memastikan tak ada orang yang memperhatikannya.

Setelah di rasa cukup aman, dengan cepat. Gia menjatuhkan buku yang ia genggam dan ia berjongkok, kemudian ia mengeluarkan pinset dari sakunya, lalu dengan cepat, ia melepas ****** ban mobil menggunakan pinset agar ban mobilnya bocor sebelah.

Gia punya berbagai teknik untuk menjahili mobil orang dengan cepat tanpa berlama-lama, ia sudah mempelajari berbagai teknik dalam menjahili orang tanpa di ketahui sejak ia masih duduk di bangku SMP.

Setelah berhasil melepaskan ****** ban mobil, kemudian ia membuangnya ke tempat sampah lalu ia pergi dengan hati yang puas.

*****

Di Sekolah.

Kini Gia punya cara baru untuk mendapat nilai bagus yaitu dengan menukar jawaban miliknya dengan milik Adi.

Sambil menunggu jam masuk, ia duduk sambil senyum-senyum sendiri, kemudian ia melihat ke belakang untuk memastikan apakah CCTV yang baru untuk mengintai para siswa sudah di pasang kembali di pojokan atau belum?

Setelah di lihat ternyata belum, Gia langsung tersenyum puas dan berharap CCTV kelas tak usah di perbaiki.

Lalu ia membayangkan nilai bagus yang sebentar lagi akan terwujud di depan mata dan hadiah dari ayahnya berupa mobil keluaran terbaru dari Eropa yang akan segera ia miliki setelah mendapat nilai yang bagus. Gia tak sabar menantikan semua itu, ia harus tetap melancarkan aksi curangnya agar semua impiannya terwujud.

"Kenapa Gue gak melakukannya dari dulu ya?" Gumamnya.

Sambil melamun dan cengar-cengir sendiri. Bel masuk kelas tiba-tiba berbunyi, mengganggunya yang sedang asik melamun.

"Ngagetin saja tuh Bel!" Umpat Gia.

Kemudian ia menyiapkan diri, ia mengeluarkan cepuk ( Kotak pensil ) dan papan dada.

Setelah mengeluarkan benda yang di butuhkan untuk ujian, sesuai peraturan yang sudah di terapkan sejak dulu ketika ujian, tas harus selalu di simpan di laci besar yang berada di depan sebelum melaksanakan ujian.

Gia langsung membawa tasnya ke depan dan menyimpannya di laci yang sudah tertera di dekat papan tulis. Kemudian ia kembali ke bangkunya dan berharap.

"Semoga pengawasnya yang kemarin lagi. Biar aku gampang melakukannya."

Itulah harapannya yang ia katakan dalam batin.

"Si Adi mana nih kok belum datang? Gue harus tuker jawaban ke siapa? Kalau dia gak datang." Gerutu Gia sembari mendengus kesal.

Hanna yang melihat Gia terus menggerutu merasa aneh. Tapi, untungnya Hanna tak mendengar ucapan Gia. Kalau ia mendengar, ia akan mencurigainya.

"Lo kenapa?" Tanya Hanna.

"Gapapa! Gue cuman kesel saja." Jawabnya.

"Kesel kenapa?" Tanya Hanna penasaran.

"Kenapa sih CCTV di kelas kita masih belum di perbaiki? Ini kan ujian, gimana kalau ada yang menyontek? Gimana kalau ada yang melihat hp? Gimana kalau ada yang menukar jawaban?" Ucap Gia beralasan.

"Bukannya Lo harusnya seneng ya? Sudah gak ada lagi CCTV lagi. Lo bisa aman menyontek ke orang." Ucap Hanna sedikit menyindir.

"Eh Lo menghina Gue ya! Gue selama ini gak pernah menyontek! Gue selalu mikir sendiri. Kalau Gue menyontek, mana mungkin waktu itu Gue dapat nilai 30." Ucapnya mengingatkan kembali kejadian yang waktu itu.

"Hah! Serius? Bukannya nilai Lo yang waktu itu, semua jawabannya dari Adi juga ya." Ucap Hanna. Gia langsung skakmat, ia tak dapat lagi menjawab perkataan Hanna.

Hanna langsung tertawa puas.

"Haha, ya sudah! Mumpung pengawasnya belum datang, Gue mau ke kantin dulu ya. Lo mau ikut gak?" Tawar Hanna.

"Gak ah. Sesat Lo! Bel sudah bunyi, malah ngajak ke kantin! Ingat kita sedang ujian! Gue mau mencoba menjadi siswa yang lebih baik dan mematuhi peraturan. Jadi Lo jangan coba-coba menghasut Gue atau mengajari Gue masuk ke jalan sesat." Ucapnya dengan kata-kata so-bijaknya.

"Haha, Lo sendiri kan duluan yang sesat ngajarin Gue buat menjadi siswa yang pembangkang terhadap aturan. Kenapa sekarang Lo jadi sebaliknya malah insyaf?" Ledek Hanna. Gia hanya terdiam sembari melotot mendengar ledekan Hanna.

Setelah itu Hanna berjalan pergi menuju kantin, sebelum keluar kelas ia berpapasan terlebih dahulu dengan Adi yang baru saja datang.

"Hai!" Sapa Hanna.

"Hai, mau kemana?" Sapa Adi sembari bertanya.

"Gue mau ke kantin dulu sebentar, mumpung pengawasnya belum masuk." Jawab Hanna yang di balas anggukan dan jawaban 'Oh' dari Adi.

Gia langsung menatap senang Adi.

"Keberuntungan Gue akhirnya datang juga." Batin Gia.

Adi berjalan menuju bangkunya yang berada di depan Gia, sembari bersiul dan memainkan pulpen milik Gia yang belum sempat ia kembalikan kemarin.

"Ini pulpen Lo!" Ucap Adi sembari mengembalikan pulpen Gia.

"Kok di kembaliin? Terus Lo nulis pakai apa?" Tanya Gia kaget. Adi langsung berdenyit heran kemudian menertawakan pertanyaannya.

"Tumben Lo perhatian? Haha, gak usah perhatiin Gue! Gue sudah membeli pulpen yang baru. Lo ambil saja pulpen Lo." Ucapnya sembari menunjukkan pulpen yang baru saja ia beli.

Gia langsung menunjukkan raut wajah yang kesal.

"Kenapa harus beli pulpen yang baru? Pakai lagi saja pulpen gue!"

"Hah! Tumben Lo baik? Kemarin Gue lihat, muka Lo kayak yang gak ikhlas pinjemin Gue pulpen." ucap Adi berdenyit heran. Gia langsung murung tak berbalas perkataannya lagi.

Tak lama, Bu Ratna yang merupakan wali kelas di kelas Gia, masuk ke dalam dan memanggil Adi untuk ikut dengannya ke ruang guru. Adi langsung keluar kelas. Tapi sebelumnya entah di sengaja atau lupa memasukkan pulpen barunya ke dalam tas nya? Ia malah meninggalkan pulpen barunya begitu saja di meja.

Setelah keluar kelas, Gia menatap lama pulpen yang baru saja Adi beli. Dan tak lama, muncullah ide gila dalam benaknya.

Seperti biasa, ia celingak-celinguk terlebih dahulu, memastikan tak ada yang memperhatikan aksinya. Lalu dengan cepat ia mengambil pulpen barunya Adi dan memasukannya ke dalam tasnya. Setelah itu ia kembali duduk tegap seolah tak berbuat apa-apa.

Tak lama, muncullah Egi yang baru saja tiba. Gia langsung terpesona menatap Egi yang semakin hari semakin tampan. Ia terus menatapnya hingga lupa mengedip. Lalu di susul dua orang pengawas yang berjalan di belakang Egi. Dan di susul lagi Adi dan Hanna yang berjalan bersamaan di belakang pengawas.

Dan ternyata benar harapan Gia tadi, orang yang mengawasi kelas Gia, masih orang yang sama. Namun satunya lagi di ganti oleh yang lain. Gia merasa lega sekaligus aneh.

"Kenapa harus di ganti? Bukannya orang yang kemarin lagi saja" Gumam Gia sembari mendengus kesal.

Adi kembali ke bangkunya dan kaget melihat pulpennya sudah tak ada di meja, kemudian ia mulai mencari-cari pulpennya.

"Lo lihat gak pulpen Gue di sini?" Tanya Adi pada Gia.

"Enggak! Gue gak tau." Jawabnya dengan wajah cengok.

"Pulpen Gue kemana ya?" Gumam Adi sembari mencari pulpennya di setiap kolong bangku.

"Ini pakai pulpen Gue saja." Ucap Hanna sembari menyodorkan pulpennya.

Gia langsung terkejut, tindakan Hanna menggagalkan rencananya. Dengan cepat, Gia mendahuluinya dengan mendekatkan pulpennya pada tangan Adi.

"Ini pakai pulpen Gue saja! Pulpen Hanna gak enak di pakai. Dan cepat habis juga." Ucap Gia sembari tersenyum sumringah.

Adi bingung, ada dua orang baik yang bersedia meminjamkannya pulpen. Adi bingung memilih pinjam pulpen yang mana?

Kemudian tangan Adi bergerak mencoba meraih pulpen Hanna. Namun lagi-lagi dengan liciknya, Gia menarik tangan Adi dan menaruh pulpennya secara paksa di telapak tangannya dan menyuruh Adi untuk menggenggam pulpennya.

"Ini pakai pulpen Gue saja! Mumpung Gue baik! Lo harusnya bersyukur di pinjemin pulpen sama orang yang pelit." Ucap Gia dengan songongnya. Adi lagi-lagi berdenyit heran.

"Lo kok maksa banget pengen pinjemin Gue pulpen? Aneh banget." Ucap Adi sambil nyenyir. Kemudian ia kembali duduk tegap tanpa menaruh rasa curiga pada Gia.

Gia langsung tersenyum senang. Sementara Hanna langsung menatap sinis Gia.

Waktu ujian pun di mulai.

Gia mulai beraksi, ia menjawab soalnya dengan asal-asalan lalu menulis nama Adi. Setelah selesai, Gia menunggu Adi mengumpulkan jawabannya ke depan. Sambil menunggu, ia melihat Egi yang selalu jadi yang pertama yang mengumpulkan jawaban. Gia sangat kagum dengan kepintaran Egi yang begitu mudahnya dalam mengerjakan soal.

Saat Adi sudah selesai. Adi langsung mengumpulkan kertas jawabannya. Setelah itu ia keluar kelas. Setelah Adi keluar kelas Gia mulai melancarkan aksinya dengan berjalan ke depan pura-pura mengumpulkan jawaban.

Setelah sampai, dengan hati-hati Gia menarik jawaban milik Adi pelan-pelan ketika seorang pengawas sedang asik memainkan ponselnya. Tiba-tiba pengawas yang satunya lagi langsung melirik Gia yang sedang menarik kertas jawaban milik Adi. Gia langsung panik. Kini Gia dan pengawas saling bertatapan.

...----------------...

...Bersambung....

Episodes
1 GIA.
2 Kecewa.
3 Cowok Ganteng.
4 Adi.
5 Tak tahu diri.
6 Murid baru.
7 Kagum.
8 Tertipu.
9 Aku bukan pelakor.
10 Perhatian Egi.
11 Baper.
12 Kenyataan yang tak di ketahui.
13 Ayah Gia dan Rencana.
14 Sisi baik Adi.
15 Kencan Kedua membawa fakta.
16 Kejadian tak terduga.
17 Pulpen ajaib.
18 Asmara Hanna dan Adi.
19 Curang.
20 Sial.
21 Egi yang malang.
22 IQ minus.
23 Mencurigakan.
24 Ketahuan.
25 Tertipu 2.
26 Kencan yang Menyebalkan.
27 Kencan yang Menyebalkan part II.
28 Nasib yang berbeda.
29 Duka Adi dan Egi.
30 Kecurigaan Adi.
31 Gia si pembohong handal.
32 Pertanyaan jebakan.
33 Kebenaran.
34 Pertikaian.
35 Keberuntungan masih berpihak.
36 Pengawasan ketat.
37 Nekat.
38 Menari di atas penderitaan orang.
39 Kabar mengejutkan.
40 Kebusukan Gia.
41 Emosi Egi.
42 Takut.
43 Hari pertama bekerja.
44 Bekerja lagi.
45 Senyuman palsu.
46 Benalu.
47 Kerja seharian.
48 Berulah.
49 Berulang kali.
50 Petaka.
51 Merawat Egi.
52 Perhatian Gia.
53 Kepergok.
54 Hanya Gia.
55 Baper 2.
56 Belajar bersama.
57 Oh, ternyata?
58 Reaksi obat.
59 Reaksi obat 2.
60 Saling menyalahkan.
61 Ketahuan
62 Sebagian bukti
63 Bukti baru
64 Ketinggalan
65 Flashdisk
66 Cemas dek?
67 Permainan
68 21+ Gombalan panas
69 Cara terbaik
70 Terbongkar
Episodes

Updated 70 Episodes

1
GIA.
2
Kecewa.
3
Cowok Ganteng.
4
Adi.
5
Tak tahu diri.
6
Murid baru.
7
Kagum.
8
Tertipu.
9
Aku bukan pelakor.
10
Perhatian Egi.
11
Baper.
12
Kenyataan yang tak di ketahui.
13
Ayah Gia dan Rencana.
14
Sisi baik Adi.
15
Kencan Kedua membawa fakta.
16
Kejadian tak terduga.
17
Pulpen ajaib.
18
Asmara Hanna dan Adi.
19
Curang.
20
Sial.
21
Egi yang malang.
22
IQ minus.
23
Mencurigakan.
24
Ketahuan.
25
Tertipu 2.
26
Kencan yang Menyebalkan.
27
Kencan yang Menyebalkan part II.
28
Nasib yang berbeda.
29
Duka Adi dan Egi.
30
Kecurigaan Adi.
31
Gia si pembohong handal.
32
Pertanyaan jebakan.
33
Kebenaran.
34
Pertikaian.
35
Keberuntungan masih berpihak.
36
Pengawasan ketat.
37
Nekat.
38
Menari di atas penderitaan orang.
39
Kabar mengejutkan.
40
Kebusukan Gia.
41
Emosi Egi.
42
Takut.
43
Hari pertama bekerja.
44
Bekerja lagi.
45
Senyuman palsu.
46
Benalu.
47
Kerja seharian.
48
Berulah.
49
Berulang kali.
50
Petaka.
51
Merawat Egi.
52
Perhatian Gia.
53
Kepergok.
54
Hanya Gia.
55
Baper 2.
56
Belajar bersama.
57
Oh, ternyata?
58
Reaksi obat.
59
Reaksi obat 2.
60
Saling menyalahkan.
61
Ketahuan
62
Sebagian bukti
63
Bukti baru
64
Ketinggalan
65
Flashdisk
66
Cemas dek?
67
Permainan
68
21+ Gombalan panas
69
Cara terbaik
70
Terbongkar

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!