...•...
...•...
...•...
...•...
...•...
"Mas! Apa-apaan ini!" Teriak Bu Melly.
"Ka-kamu ada di sini?" Pak Sudarni langsung kaget begitupun juga Gia.
"Jadi ini selingkuhan kamu? kurang ajar ya kamu!"
"Enggak sayang aku gak selingkuh!" Pak Sudarni mulai membantah tuduhan istrinya.
Kemudian Bu Melly melihat ke arah Gia lalu menarik Gia untuk berdiri sambil melepas paksa cincin yang sudah di pasangkan ditangan Gia.
Setelah itu tanpa aba-aba Bu Melly langsung menamparnya.
PLAAAKKKKK...
Gia langsung syok setelah dirinya di tampar, baru kali ini ada seseorang yang berani menamparnya, padahal ibunya sendiri belum pernah menamparnya sekalipun.
"Kamu dasar perempuan genit! Gak tau diri! Berani sekali kamu menjadi pelakor dalam kehidupan rumah tangga saya!"
"Bukan Bu, saya bukan pelakor! Saya di sini gak tau apa-apa! Bapak ini yang menipu saya, dia bilang dia masih lajang dan belum menikah." Ucap Gia panik.
Kemudian Bu Melly menamparnya lagi.
"Sudah tua gini kamu bilang masih lajang?? Kecil-kecil sudah belajar bohong ya kamu! Emang ya dari wajahnya saja keliatan banget punya niat jahat mau goda suami orang!" Tuduh Bu Melly.
"Enggak Bu!" Bantah Gia sambil menangis.
Kemudian Bu Melly menyiram kepala Gia dengan segelas jus.
"Nih rasain ya kamu dasar pelakor!"
"Hajar terus jeng! Jangan di biarkan! Kasih pelajaran buat pelakor kayak gini!"
Temannya Bu Melly bersorak mengomporinya dan salah satu di antara mereka berhasil mendorong Gia hingga jatuh tersungkur ke lantai.
Kemudian Gia di pukuli dan di injak-injak oleh Bu Melly dan teman-temannya hingga babak belur. Sementara pak Sudarni hanya menatap diam tak menolong.
Gia berusaha kabur dengan merangkak lalu berlari kencang.
"Kejar dia jeng! Kejar!"
Mereka mengejarnya.
"Heh!! Mau Kemana kamu pelakor??" Teriak Bu Melly.
"Kejar jeng! Jangan sampai dia kabur!" Timpal kedua temannya.
"Tolong! Tolong! Tolong!"
Gia terus berlari ketakutan sambil berteriak-teriak meminta tolong. Semua orang di sekitar banyak yang memperhatikan.
Gia terus berlari terbirit-birit sampai ia menabrak seseorang hingga terjatuh.
Gia langsung melihat pemuda itu yang wajahnya tak lain tak bukan ialah Egi.
"Egi!" Ucap Gia sambil menangis
"Gia!" Egi berdenyit kaget.
Kemudian Ia melihat segerombolan ibu-ibu mengejar Gia sambil meneriaki pelakor.
"Heh! Mau kemana kamu pelakor??"
Dengan cepat Egi langsung menarik tangan Gia lalu mereka berlari bersama. Sambil berlari, Gia melirik sekilas Egi yang menggiringnya berlari sambil menuntunnya.
"Ayo cepaattt!!!" Ucap Egi dengan nada panik.
Setelah berlama-lama berlari, Egi membawa Gia bersembunyi di balik patung boneka besar.
"Dimana perempuan itu?"
Bu Melly dan teman-temannya mulai berhenti tepat di tempat Gia dan Egi bersembunyi. Mereka mulai mencari-cari Gia.
"Sepertinya dia sudah berlari keluar bersama laki-laki yang tadi menolongnya."
"Ayo kita cari dia keluar! Jangan sampai dia lolos!"
Setelah Bu Melly dan teman-temannya berlalu pergi. Egi melihat wajah dan tangan Gia yang penuh dengan lebam. Kemudian Egi mengajak Gia ke sebuah toko sepatu yang berada di ujung Mall dan mengobatinya di sana.
"Aww... Sakitt!!" Gia merintih kesakitan.
"Tahan sedikit!" Ucap Egi sambil mengolesinya dengan salep.
Kemudian Gia melihat sekeliling toko.
"Kamu bekerja di toko ini?" Tanya Gia.
"Bukan! Toko ini milik nenekku. Aku disini hanya mengelolanya saja" Jawab Egi.
"Apa? Toko ini milik nenek kamu?" Gia langsung tercengang.
"Iya, tapi bukan cuman di sini saja. Sebenarnya ada beberapa cabang dimana-mana. Setelah kesini, aku akan pergi ke toko yang lainnya untuk mengelola semuanya."
"Wahh.. Ternyata kamu ini berasal dari keluarga kaya ya. Aku pikir kamu ini orang biasa saja yang berasal dari sekolah kecil. Tapi ternyata kamu berasal dari keluarga yang kaya yang punya toko dimana-mana." Ucap Gia berdecak kagum.
"Tapi, kenapa dulu kamu bersekolah di sekolah yang kecil?" Lanjutnya bertanya.
"Sebenarnya sekolahku yang dulu milik mendiang ayahku. Aku sangat menghargai usaha ayahku dalam membangun sekolah untuk anak-anak yang kurang mampu. Itu sebabnya aku bersekolah di sana karna aku menghargai usaha ayahku. Ya walaupun sekolah itu masih terbilang baru dan belum punya nama besar di kota. Yang penting sekolah itu bisa memberikan pendidikan dan motivasi yang terbaik untuk anak-anak."
Gia langsung terharu sekaligus kagum dengan kata-kata Egi.
Tak lama kemudian... Hanna menelponnya.
"Halo Gia, Lo dimana? Tadi Gue balik lagi ke Restoran, Lo sudah gak ada di sana dan di tempat Lo duduk tadi rame banget banyak orang yang berkerumun disana. Ada apa yah Gi? Kayak ada kerusuhan gitu. Ricuh banget pokoknya!"
"Han! Gue ada di toko sepatu yang ada di pojok mall di lantai satu. Lo datang ya kesini?" Jawab Gia sambil meneteskan air matanya.
"Lo ngapain disitu? Lo lagi belanja sepatu sama pak Sudarni?"
"Enggak Han. Lo cepetan kesini! Nanti Gue ceritain semuanya." Gia langsung menutup teleponnya.
Hanna langsung menyusul Gia kesana.
Sesampainya di sana Hanna kaget melihat Egi ada disana sedang mengobati Gia.
Gia melihat Hanna yang sudah datang langsung menangis terharu.
Hanna langsung menghampirinya dan memeluk Gia.
"Hannnaaaa..."
"Gi, Lo kenapa? Kok muka Lo babak belur gini? Sebenarnya ada kejadian apa sih? Coba Lo ceritain ke Gue!"
"Han, ternyata pak Sudarni itu sudah beristri. Tadi istrinya lihat Gue berduaan sama pak Sudarni terus istrinya sama teman-temannya menghajar Gue sampai babak belur gini." Curhat Gia sambil menangis.
"Apa serius Lo?" Tanya Hanna kaget. Gia hanya bisa mengangguk sambil mengusap air matanya.
"Sudah Gue bilang! Dia itu sudah punya istri! Kenapa Lo pacaran sama cowok tua yang sudah beristri? Sama saja Lo mau jadi pelakor di antara mereka! Jadi gitu kan akibatnya. Puas Lo!" Cibir Hanna dengan nada kesal.
"Mana Gue tau kalo dia sudah beristri. Gue pikir dia itu lajang karna dia bilangnya dia belum punya istri dan belum pernah kawin juga." Ungkap Gia.
"Lo ini polos banget sih! Percaya gitu saja. Yang namanya sudah tua berarti itu sudah beristri! Sudah gak perjaka lagi! Punya anak dan cucu juga! Walaupun ada yang masih perjaka, kenapa sih Lo mau saja pacaran sama yang tua-tua begitu? Demi apa? Demi harta?" Ucap Hanna penuh emosi.
"Kenapa Lo jadi ngomong gitu sih? Kenapa Lo salahkan Gue! Harusnya Lo belain Gue kek! Kasihanilah Gue kek! Yang sudah babak belur begini gara-gara di hajar nenek-nenek kamprett itu." Ucap Gia kesal sambil sesenggukan.
"Mana ada seorang istri yang mau menerima suaminya selingkuh sama orang lain. Pastinya gak akan ada yang mau Gi! Kalo Gue ada di posisi itu. Gue juga pasti bakal lakuin hal yang sama."
"Bukan salah Gue juga Han! Ini semua salah aki-aki itu! Dia juga bohong sama Gue kalau umurnya 40 tahun, padahal sebenarnya dia itu sudah berumur 60 tahun. Kalau sebelumnya Gue tau ini, mana mungkin Gue mau pacaran dan samperin aki-aki bau tanah itu."
"Kurang ajar ya pak Sudarni! Sudah tua gitu masih saja banyak tingkah! Sudah punya istri masih saja cari daun muda. Lo juga salah! Dimana-mana yang namanya cowok sudah tua berarti dia sudah beristri. Lo harus tau itu!" Tegas Hanna.
"Tau ah Han. Gue jadi trauma sama yang namanya pacaran. Selalu Gue yang selalu disalahkan!" Ucap Gia sambil menyeka air matanya.
"Iya memang kalau sudah mengalami kejadian seperti ini pasti akan sulit melupakannya." Timpal Egi.
"Lalu gimana cara Gue melupakan semua ini? Kasih tau Gue solusinya. Han? Gi?" Rengek Gia sambil menangis menatap kedua temannya.
"Salah satu cara agar bisa melupakannya yaitu kamu harus fokus sekolah saja. Jangan dulu pacaran! Fokus dulu sekolah dan belajar. Itu tips dari aku, supaya semakin banyak fokus dalam belajar, semakin lama semuanya pasti akan segera berlalu dengan seiringnya waktu. Kamu pasti bakal lupa sama kejadian yang telah kamu alami." Saran Egi.
"Iya Gi, bener yang dibilang Egi. Lebih baik Lo fokus sekolah dulu. Jangan mikirin pacaran Mulu. Terkadang kalau mikirin pacaran Mulu suka stres. Mending Lo fokus sekolah saja!" Timpal Hanna.
"Tapi Gue gak mau jomblo terus Han. Gue pengen punya pacar yang bisa ngasih semangat buat Gue dan kasih uang jajan.. Eh maksudnya yang bisa kasih support buat hidup Gue." Ucap Gia sambil keceplosan.
"Ya kalau Lo pengen pacaran. Jangan pilih kakek-kakek! Kek gak ada anak muda saja sampai pilih Aki-aki kek gitu. Kalau Gue sih ogah banget pilih Aki-aki kek gitu meskipun banyak hartanya." Cibir Hanna.
"Iya lainkali Gue pilih saja cowok yang seumuran sama Gue saja!" Ucap Gia sambil sesenggukan.
*****
Setelah beberapa jam kemudian...
Hanna dan Egi mengantar Gia pulang dengan mobilnya Egi. Setelah mengantarkan Gia pulang, Egi dan Hanna langsung pergi.
Setelah masuk ke dalam Rumah.
Gia dikejutkan oleh ibunya yang sudah berdiri di depannya.
"Gia, kamu baru pulang?"
"Mama!" Gumam Gia sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Sayang, kenapa muka kamu lebam-lebam gitu? Kayak abis ditonjok." Ibunya mulai panik.
"Gak ada apa-apa mah!" Gia menolak berbicara sejujurnya dan memilih berjalan ke kamarnya. Tapi ibunya mencegat Gia lalu menariknya duduk.
"Sayang, anak mama yang cantik! Ada apa nak? Kenapa muka kamu Jadi kayak gini? Siapa yang pukuli kamu nak? Ayo bilang sama mama! Siapa yang berani pukuli kamu!" Tanya ibunya sedih sambil membelai rambut putri tercintanya.
"Mamaa!!!" Gia langsung menangis sembari bersandar di kaki ibunya.
Ibunya terus mencoba menenangkan Gia yang menangis terus.
"Ayo nak, bilang siapa yang sudah memukul kamu? Apa pacar baru kamu? Kurang ajar dia! Berani sekali dia memukul anak mama yang cantik ini. Gara-gara dia muka kamu yang cantik ini jadi ilang. Padahal mama sudah capek-capek mendandani kamu sampai cantik gini sekarang ilang akibat dipukuli orang. Mama gak ikhlas. Ayo cepat bilang sama mama! Apa pacar baru kamu yang memukuli kamu?"
"Iya mah! Pak Sudarni dan istrinya." Jawab Gia sembari sesenggukan.
"Apa? Dia sudah punya istri?"
"Iya mah, istrinya pak Sudarni yang mukulin Gia sampe babak belur gini. Dia menuduh Gia sebagai pelakor mah." Ungkap Gia
"Jadi pacar kamu itu sudah beristri?" Pekik ibunya.
"Iya mah!" Ucap Gia sambil menangis.
Kemudian ibunya yang tadi mengasihani Gia dengan membelai rambut dan pipi Gia dengan penuh kasih sayang kini jadi menjewer telinga putrinya.
"Aduh mah, sakit! Kenapa mama jewer Gia? Lepasin mah!" Pekik Gia kesakitan.
"Dasarr ya kamu ini! Bisa-bisanya pacaran sama orang yang sudah beristri!" Bentak ibunya.
"Mana Gia tau mah! Gia ditipu. Orang itu ngakunya lajang belum nikah. Gia taunya waktu pas Gia sudah ketemu, terus istrinya tiba-tiba datang melabrak Gia. Terus menuduh Gia sebagai pelakor mah." Ungkap Gia
Ibunya langsung melepaskan jewerannya. Dan langsung menangis histeris.
"Kamu ini, tadinya mama sudah senang bakal dapat mantu bos berlian. Tapi kenyataannya kamu malah kena tipu dan dihajar juga sama istrinya. Hati ibu mana yang gak sakit melihat anaknya sudah di tipu terus di pukuli sama orang."
"Orang itu juga nipu Gia mah, dia ngaku-ngaku umurnya 40 tahun, tapi sebenarnya dia sudah 60 tahun!" Ungkap Gia lagi.
"60 tahun? Berarti masih muda papa kamu. Kurang ajar banget dia! Berani sekali dia menipu anak mama yang cantik ini. Mama gak terima! Semoga orang itu cepat dapat karma! Cepat dapat azab. Mama akan berdoa pada Tuhan agar kakek-kakek itu segera mendapat azab dan di sempitkan kuburannya!" Ucap ibunya sambil sumpah serapah.
Gia hanya terdiam sambil sesenggukan mendengar ibunya terus sumpah serapah.
*****
Keesokan harinya.
Di lingkungan Sekolah.
Hanna dan Gia sedang berjalan menuju ke kelas sambil mengobrol.
"Gi? Gue gak nyangka kirain si Egi itu dari keluarga miskin. Ternyata dia dari keluarga yang kaya raya. Woww.. Hebat banget dia!" Ucap Hanna berdecak kagum.
"Hmm.. Tumben banget Lo sekarang muji si Egi? Kemarin-kemarin Lo ngerendahin dia." Ledek Gia.
"Ih apaan sih Lo! Lupakan saja yang sudah-sudah. Gue kan waktu itu gak tau. Kemaren juga Gue di anterin pulang juga sama si Egi sehabis nganterin Lo pulang. Baru kali ini deh ada yang anterin Gue sampai rumah. Biasanya ya Gue ikut nebeng ke orang lain di turuninnya di tengah jalan. Tapi si Egi ini baik banget Lo, dia nganterin Gue sampai depan rumah bangett. Gue salut sama dia... "
Hanna terus memuji Egi sepanjang jalan. Gia hanya diam mendengarkan sembari tersenyum.
...----------------...
...Bersambung....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 70 Episodes
Comments