Tertipu.

...•...

...•...

...•...

...•...

...•...

Setelah berlama-lama mencari Egi sampai penjuru sekitaran sekolah. Akhirnya Gia menemukan Egi di halte bus yang seperti biasanya ia selalu menunggu bus di sana.

"Oh, ternyata dia ada di sana! Kok Gue baru inget ya? Padahal tiap pulang sekolah sudah jelas dia pasti bakal nunggu bus di sana. Jadi, tadi ngapain ya Gue nyari-nyari dia jauh-jauh sampai ke toilet cowok, kalau ujung-ujungnya dia ada di situ." Gumam Gia dengan kesal, lalu ia menghampiri Egi.

"Hai Egi!" Sapa Gia sembari tersenyum lebar memperlihatkan gigi kelincinya.

"Hai Gia!" Balas Egi sembari tersenyum kecil.

"Kamu sedang menunggu bus?" Gia mulai basa-basi lagi.

"Iya seperti biasa!" Jawab Egi.

"Oohhh.. ohiya, tadi kamu hebat banget jawab soal matematika. Kok kamu bisa sepintar itu ngerjainnya? Gimana caranya?" Tanya Gia sambil memuji membuat Egi tertawa cengengesan.

"Banyak belajar!" Jawabnya.

"Oohhh.. Berarti sama kayak aku dong, aku juga banyak belajar, tapi kenapa ya aku gak bisa sepintar kamu?" Ucap Gia sebaliknya. Padahal sebenarnya ia tak pernah belajar maupun menghafal.

"Mungkin kamu sering menunda-nunda waktu belajar, itu sebabnya." Tebak Egi.

"Iya kayaknya.. hehehe!!" Gia langsung malu.

..."Duh, gimana nih? Harusnya Gue gak ngomong kayak gitu, jadi ketahuan kan bodohnya" Batin Gia....

"Tapi, nilai aku lumayan bagus loh! Walaupun aku gak jago banget matematika. Aku selalu dapat nilai bagus di atas rata-rata." Lanjutnya sambil berbohong lagi.

"Oh ya? Bagus dong! Tingkatkan lagi." Puji Egi.

"Hahaha... Iyaa!!" Ucap Gia cengengesan.

"Egi?" Lanjut Gia bertanya.

"Iya?"

"Sekarang kita kan sudah berteman! Emm... Kamu mau gak ajarin aku matematika? Aku pengen pintar matematika juga sama kayak kamu. Kamu mau gak ajarin aku setiap pulang sekolah?" Pinta Gia sambil tetap menahan senyumnya.

"Ajarin matematika? Tapi kamu kan sudah pintar. Tinggal tingkatkan lagi saja dalam belajar." Tutur Egi.

"Ah iya aku tau, tapi aku masih butuh bimbingan biar nilai ujian aku nanti semakin bagus. Aku mohon!! Kamu mau yaa!!" Pinta Gia.

"Maaf ya Gia, aku gak bisa, aku gak punya waktu. Lebih baik ke yang lain saja yang sama-sama pintar." Tolak Egi secara halus.

"Ah, aku mohon Egi!! Aku gak minta ini secara gratis kok. Aku pasti bakal bayar! Berapapun yang kamu minta pasti aku bayar. Kalau kamu gak punya waktu sepulang sekolah, kamu bisa ajarin aku sebelum masuk kelas." Pinta Gia lagi sembari merengek dengan wajah memelas. Egi langsung menghela nafas panjang.

"Sudah kubilang Gi, tetap saja aku gak bisa! Aku gak punya banyak waktu. Maaf ya Gia!" Tolak Egi secara halus sambil menatap Gia.

"Ya sudah kalau begitu, aku boleh gak minta nomor hp kamu?" Lanjut Gia kembali meminta nomor telepon.

"Maaf ya Gia, nomor teleponku privasi!" Tegasnya menolak.

Gia hanya bisa terdiam kaku menatap Egi tanpa kembali berkutik.

Tak lama kemudian bus datang.

"Bus sudah datang, aku pulang duluan ya!" Pamit Egi langsung naik bus. Gia langsung terdiam lesu sambil memandangi Egi yang sudah pergi naik bus.

Bus sudah pergi berlalu, Gia langsung berjalan pulang dengan lesu sambil melamun memikirkan perkataan Egi yang menolak mengajarinya matematika.

"Dasar bodoh! Bukannya senang nanti dapat duit. Malah di tolak gitu saja. Sialan! Yang di katakan Hanna benar juga. Egi pasti nolak! Kirain dengan iming-iming uang pasti dia bakal mau. Ternyata enggak. Hah! Kesel banget!!" Gia terus mengumpat.

*****

Singkat cerita.

Malam hari.

Gia sedang gosok gigi. Tiba-tiba Hanna menelpon.

"Hmm?" Gia memulai percakapannya dengan deheman karna mulutnya sedang di penuhi pasta gigi yang membudah.

^^^"Gimana Gi? Si Egi mau gak ngajarin Lo matematika?"^^^

Pertanyaan Hanna langsung membuat Gia naik pitam. Lalu menyudahi ritual gosok giginya dengan berkumur, setelah itu ia mulai bicara.

"Enggak Han, puas Lo!" Gia menjawab perkataan Hanna dengan penuh keemosian.

^^^"Hahahah... Sudah Gue bilang apa? Si Egi pasti bakal nolak Lo, tebakan Gue benar kan? Hahaha... Oh iya, sesuai janji ya kalau tebakan Gue benar Lo harus traktir Gue sejuta."^^^

"Iya iya, besok Gue pinjem ATM bokap Gue dulu buat traktir Lo."

^^^"Asiiikkkk... Okey, besok Gue tunggu! Hahahah..."^^^

Gia langsung menutup teleponnya sepihak. Karna Hanna terus meledeknya sembari menertawakannya.

Setelah selesai gosok gigi, Gia langsung duduk di kasurnya sambil memainkan ponsel dan berbalas pesan dengan teman kencannya.

Teman kencannya mengajak Gia untuk bertemu dan membuat janji untuk bertemu di restoran yang berada di dalam Mall besok siang. Gia menyetujuinya dan akan menemuinya setelah pulang sekolah.

*****

Keesokan harinya.

Siang hari.

Pukul 14.00.

Setelah pulang sekolah, Gia berdandan cantik di bantu oleh ibunya yang meriasnya karna ia sudah membuat janji untuk bertemu teman kencannya di mall. Dan ibunya selalu mendukung keputusan Gia untuk berpacaran dengan siapapun yang penting menguntungkan dan bisa memberi rezeki untuk Gia.

"Gimana mah? Gia cantik kan pakai baju ini?" Tanya Gia sembari berputar memperlihatkan dress dengan panjang di atas lutut berwarna merah muda dengan rambut yang di cepol.

"Kamu kelihatan cantik sayang sama seperti mama." Puji ibunya bangga.

"Tapi mah, apa ini makeup nya gak terlalu dewasa ya mah? Ini menor banget. Kayak ibu-ibu yang sudah nikah 10 tahun."

"Biarin! Kamu harus kelihatan dewasa di depan dia. Apalagi dia umurnya sudah kepala empat, kalo kamu berdandan biasa saja, kurang menarik dan bakal kelihatan kalau kamu ini masih SMA. Pasti cowok itu gak akan mungkin mau sama kamu."

"Iya juga ya mah!"

"Sudah kamu pergi sana! Perlihatkan sifat dewasa kamu, jangan kekanak-kanakan di depan dia! Kamu ini tinggi, manfaatkan tubuh tinggi kamu biar kelihatan dewasa, rayu dia sampai dia jatuh cinta sama kamu dan mau mentransfer kamu uang setiap bulan! Lumayan kan walaupun perjaka tua yang penting dia kepala perusahaan yang tajir melintir banyak duitnya" Tegas ibunya memberi nasihat sambil membicarakan tentang uang membuat Gia langsung tergiur dan membayangkan akan indahnya uang dan belanja.

"Iya mah!" Ucap Gia cengengesan.

"Semangat! Fighting!" Ibunya menyemangatinya.

"Fighting!" Sorak Gia.

Gia langsung pergi ke Mall naik taksi karna mobilnya sedang diperbaiki di bengkel, jadi Gia terpaksa pergi naik taksi.

*****

Sesampainya di Mall.

Gia menunggu dulu Hanna di luar karna ia juga sudah janji untuk mentraktirnya karena tebakannya sudah benar.

"Si Hanna mana sih? Lama banget." Gerutu Gia.

Tak lama kemudian.

"Giaaaa!!" Teriak Hanna memanggilnya sambil berlari menenteng tas kecilnya.

"Kok Lo lama banget?" Tanya Gia setelah Hanna tiba di depan mata sambil ngos-ngosan.

"Iya tadi di jalan macet banget. Gue males nunggu."

Kemudian Hanna memperhatikan Gia dari bawah sampai ke atas.

"Woww... Seksi! Lo mau traktir Gue sampai dandan seseksi itu, kayak cewek liar." Celetuk Hanna.

"Iya. Gue mau traktir Lo sambil mau ketemu seseorang."

"Siapa?" Tanya Hanna penasaran.

"Pacar Gue!"

"Si Ben? Bukannya Lo bilang Lo udah putus ya?"

"Bukan! Ada lagi yang baru." Bantah Gia.

"Ohh... Cepet juga Lo dapetnya, kirain Lo masih belum move on sama si Ben."

"Gue sudah move on kok!! Si Ben gak ada apa-apanya di bandingin pacar Gue yang sekarang, yang tajir melintir."

"Woww... Serius? Btw dia kerja apa?"

"Hmm... Lo pasti bakal iri deh kalau Gue kasih tau." Ucap Gia sembari menunjukkan senyuman meledek.

"Kasih tau lah! Gue kan penasaran." Ucap Hanna kepo sambil berjingkrak-jingkrak.

"Pacar Gue itu adalah seorang pemilik perusahaan berlian, dia jadi bos di sana."

"Apa? serius Lo?" Hanna langsung membulatkan matanya.

"Iyaa!! Apalagi dia punya cabang dimana-mana."

"Wahh.. Gilaaaa! Beruntung banget Lo. Pasti pacar baru Lo umurnya sudah dewasa banget bukan anak kuliahan lagi. Btw, Lo dapat dari mana? Gue juga mau dong punya cowok yang tajir gitu."

"Nanti Gue ceritain. Sudah ayo masuk! Pacar Gue sudah nunggu nih." Ajak Gia sambil merangkul bahu Hanna.

"Jadi gak sabar deh pengen lihat pacar Lo yang kaya." Celetuk lagi Hanna.

Gia dan Hanna langsung masuk ke dalam Mall. Sesuai janjiannya, Gia berjalan menuju restoran yang berada di dalam Mall.

Sesampainya di Restoran.

Gia mulai mencari-cari kekasihnya.

"Dimana pacar Lo?" Tanya Hanna.

"Bentar" Gia langsung bertanya pada salah satu pelayan laki-laki yang sedang berjalan sambil membawa nampan.

"Permisi mas. Kursi dengan nomor A13 di mana ya mas?"

"Di sebelah sana mba, yang berada di tengah dekat pohon natal."

"Oh baik mas, terima kasih!"

kemudian Gia melihat di kursi itu, ada seorang pria berjas hitam sedang duduk di sana.

Gia hanya bisa melihatnya dari belakang.

"Itu pasti dia. Ayo!" Ajak Gia pada Hanna.

Setelah sampai di kursi.

"Permisi mas, ini dengan mas Sudarni Surendra?" Tanya Gia sambil menepuk bahunya.

Kemudian pria itu menoleh ke arah Gia. Hanna langsung syok setelah melihat wajah lelaki yang di kencani Gia adalah seorang kakek-kakek dengan senyumannya yang memperlihatkan giginya yang tinggal menyisakan satu.

"Iya. Ini Gia kan?"

"Ah, iya pak!"

Gia langsung berdenyit kaget. Hanna menoleh dengan raut wajah yang syok ke arah Gia.

"Syukurlah.. Saya sudah menunggu kamu lama sekali. Ayo silahkan duduk!"

"Baik pak!"

Sebelum duduk Gia menarik tangan Hanna untuk ikut duduk juga bersamanya.

"Jadi pacar baru Lo itu kakek-kakek?" Cibir Hanna sambil berbisik

"Syuttttt... Diaamm!!!" Ucap Gia berbisik sambil mencubit paha Hanna.

"Gila Lo ya! Nekat banget lebih milih pacaran sama aki-aki modelan begini. Gak ada laki laki yang lain apa? Masih mending gantengan pelayan tadi dari pada kakek-kakek ini. Lo harus waspada, nanti kalau ketahuan istrinya gimana? Lo mau jadi pelakor?" Bisik lagi Hanna.

"Syuutttt... Berisikk!!" Gia kembali mencubit paha Hanna dengan keras.

"Ini teman kamu?" Tanya pak Sudarni.

"Iya pak!" Jawab Gia sambil tersenyum.

Sementara Hanna hanya bersikap datar.

"Jangan panggil saya bapak dong! Panggil saya mas saja. Saya kan pacar kamu bukan bapak kamu!" Tegas pak Sudarni dengan nada lembut.

Gia langsung tertawa geli sementara Hanna hanya nyengir.

"Wahh... Saya kira hari ini saya akan mengencani satu wanita saja. Ternyata di hadapan saya ada dua wanita cantik. Sepertinya hari ini, hari keberuntungan saya dapat mengencani dua wanita sekaligus. Hahaha!!" Pak Sudarni langsung tertawa.

Sementara Gia dan Hanna hanya cengengesan sambil menatap satu sama lain.

"Maaf pak, saya di sini hanya menemani Gia bukan mau ikut berkencan. Gia sudah berjanji pada saya akan mentraktir saya belanja. Jadi maaf ya pak saya tidak bisa ikut bergabung." Ucap Hanna sopan.

"Gia, mana uangnya? Gue mau belanja." Lanjut Hanna berbisik meminta uang pada Gia.

"Ih Lo ini bisa gak nanti saja setelah selesai?? Malu-maluin saja!" Bentak Gia dengan nada pelan.

"Sekarang saja Gi! Lebih penting belanja daripada ikut-ikutan ngurusin Kencan Lo sama Aki-aki ini. Ih kalau Gue ogah banget! Cepetan manaa!!" Hanna terus memaksa sambil tak lupa mencibirnya.

Gia langsung memberikan uangnya sembari mendengus kesal karna Hanna terus saja memaksa.

"Kenapa buru-buru sekali? Apa gak bisa duduk dulu, kita ngobrol-ngobrol sebentar. Kamu kan baru datang, setidaknya minum dan makan dulu sebentar." Pinta pak Sudarni pada Hanna.

"Maaf ya pak, tapi belanja saya lebih penting. Kapan lagi saya bisa belanja gratis pakai uang Gia. Apalagi di kasih sejuta. Ini hari keberuntungan saya pak. Saya mau belanja dulu ya pak! Bapak nikmati saja kencan bapak dengan Gia. Semoga sukses!" Ucap Hanna sambil beranjak pergi.

"Gia. Gue pergi dulu ya!" Pamit Hanna sambil menadahkan tangannya lalu berjalan pergi.

"Jangan lama-lama ya!" Pinta Gia tanpa di jawab Hanna sedikitpun yang sudah pergi jauh.

Setelah Hanna berlalu, kini tinggal menyisakan hanya dua orang saja di dalam restoran, Gia dan Pak Sudarni. Kebetulan restoran agak sepi.

"Saya kira kamu gak akan datang setelah melihat wajah saya dari kejauhan." Ucap pak Sudarni memecahkan keheningan yang ada.

"Saya pasti akan datang kok pak sesuai janji." Ucap Gia.

"Jangan panggil saya bapak dong! Panggil saya mas! Saya ini kan pacar kamu!" Ucap pak Sudarni kekeh menolak dipanggil bapak.

"Oh iya maaf pak, maksudnya emm-maass!!" Ucap Gia gugup, pak Sudarni langsung tertawa kecil, Gia juga ikut-ikutan tertawa.

"Mas saya mau bertanya sesuatu boleh?" Lanjutnya bertanya.

"Silahkan!"

"Mas kok di foto beda ya sama yang aslinya? Di foto mas kelihatan lebih muda. Tapi, setelah bertemu Mas langsung, kok mas tua ya?" Tanya Gia dengan polosnya.

"Oh itu saya pakai filter supaya saya kelihatan lebih muda. Karna semakin hari keriput saya semakin kelihatan, pasti tidak ada wanita yang mau memilih saya kalau saya keriputan. Wajarlah di usia saya yang sudah menginjak kepala enam gini, pasti sudah kelihatan tanda-tanda tuanya. Tapi berkat kecanggihan teknologi sekarang, saya jadi bisa merubah wajah saya yang tua jadi kelihatan muda kembali. Ya meskipun itu hanya lewat foto saja bukan aslinya."

"Apa? Kepala enam?"

Jleeebbb!!

Gia langsung tercengang dengan pernyataan Pak Sudarni, pak Sudarni hanya bisa mengangguk sembari menjawab.

"Iyaa! Kepala enam."

"Tapi di profil bapak di situnya umur bapak 40 tahun."

Gia mulai mempertanyakan dengan nada agak kesal, karna ia merasa tertipu.

"Bukan, sebenarnya saya berumur 60 tahun. Saya sengaja memasang umur 40 tahun, supaya saya kelihatan 20 tahun lebih muda. Tapi saya merasa memasang umur 40 tahun itu salah, karna umur segitu sudah termasuk tua juga. Harusnya saya memasang umur 20 tahun agar para wanita muda semakin banyak yang mau memilih saya." Jelas pak Sudarni.

"Oohhh!!" Singkat Gia sambil tertawa kecil dan memelas sedih.

"Ternyata Gue tertipu!" Batinnya.

"Oh iya pak..." Belum selesai Gia bicara, pak Sudarni menyelanya.

"Mass!"

"Oh maaf, iya emmm-maaasss" Ucap Gia gugup dan malas karna keberatan.

"Mas kenapa di umur yang sudah tua begini, mas masih belum menikah? Apa tidak ada satupun wanita yang mau menikah sama mas?" Tanya Gia penasaran.

Pak Sudarni yang sedang menyeruput kopi langsung tersedak mendengar pertanyaan Gia, kemudian ia tertawa lagi. Gia pun ikut tertawa juga.

"Bukan! Sebenarnya harta saya ini banyak, banyak bangett!! Saya tidak mau membagi harta saya pada pasangan yang tidak tepat. Karna saya ini pilihan! Saya tidak ingin memilih istri yang tidak sesuai dengan kriteria yang saya inginkan." Ucap pak Sudarni.

"Oh, kalau begitu apa saya termasuk kriteria bapak atau bukan? Ehh... Maksudnya emmm-maaasss!!" Tanya Gia sekali lagi dengan sebutan kata 'mas' yang gelagapan.

"Kamu termasuk kriteria saya! Kamu cantik dan mulus. Kamu lolos jadi calon istri saya. Itu sebabnya saya memilih kamu dan mengajak kamu bertemu di sini." Jawab pak Sudarni.

Gia langsung senang dan dalam batinnya.

"Horeee!! sebentar lagi jadi orang kaya. Hihihi..."

Walaupun Gia sudah terbilang sudah kaya raya. Tapi, Gia masih mengharapkan uang pemberian dari orang lain. Ia masih tak merasa dirinya sudah kaya, ia masih merasa dirinya masih sama seperti dulu, hidup susah dan serba kekurangan yang tinggalnya di sebuah gubuk kecil dan masih membutuhkan asupan uang dari orang lain. Meskipun kini ia dan orang tuanya sudah menjadi kaya raya dan punya rumah mewah dari hasil pemberian majikan ibunya yang di wariskan pada orang tua Gia karena majikannya dulu tak memiliki keturunan. Tapi tetap saja ia masih tak percaya kalau ia sudah menjadi kaya di situasi yang menurutnya mendadak. Dan menganggap ini semua semata hanyalah khayalan atau sebuah mimpi yang harus ia jalani dengan penuh gaya.

"Mas, sebenarnya saya belum siap untuk menikah! karna saya masih kuliah, pengeluaran saya banyak. Tapi, saya sudah membuka hati saya untuk mas dan mau serius sama mas. Kalau bisa kita pacaran dulu saja gimana? Sampai saya lulus wisuda." Ucap Gia penuh kebohongan. Padahal sebenarnya ia ingin memanfaatkan orang ini untuk memeras uangnya saja.

"Oh baiklah.. Saya tunggu."

"Tapi mas. Biar hubungan kita semakin erat. Mas mau gak mentransfer uang ke rekening saya setiap bulan? Untuk membiayai kuliah saya dan kebutuhan saya. Soalnya pengeluaran saya setiap bulan banyak" Gia mulai modus.

Ia mulai mencoba menipu agar bisa memanfaatkan pacarnya ini agar mau mentransfernya uang setiap bulan. Ini sudah rencana Gia dari awal untuk memanfaatkannya agar dapat uang setiap kali berpacaran dengan pria dewasa yang sudah bekerja. Entah siapa yang mengajarinya?

"Oh siap, berapapun yang kamu minta saya akan kasih. Saya tidak keberatan!" Ucap pak Sudarni menjanjikan.

Gia langsung tambah senang dengan perkataan pak Sudarni.

"Tapi izinkan saya untuk mengikat kamu terlebih dahulu, agar hubungan kita semakin erat dan pasti." Ucap pak Sudarni sambil mengeluarkan cincin berlian dari sakunya. Gia langsung tergiur dengan cincin berlian yang dikeluarkan pak Sudarni.

"Bolehkah saya memasang cincin ini di jari kamu?"

Dengan percaya diri dan rasa senangnya. Gia langsung memberikan tangan kirinya. Pak Sudarni langsung memasangkan cincinnya perlahan-lahan di jari tengahnya.

Tiba-tiba ada tiga ibu-ibu yang sedang berbelanja, satu diantara mereka sedang memilih-milih pakaian dan dua temannya lagi melihat Gia dan pak Sudarni dari kejauhan tapi masih tampak terlihat wajahnya.

"Eh, jeng itu kan pak Sudarni suaminya jeng Melly kan? Sama siapa dia?"

"Hooh benar! Kayaknya itu selingkuhannya deh."

kemudian kedua temannya memanggil temannya yang bernama Melly yang sedang melihat-lihat pakaian.

"Jeng Melly, coba lihat itu suami kamu kan? Lihat dia lagi masangin cincin ke perempuan itu, kayaknya itu selingkuhannya!"

Bu Melly langsung berbalik dan memperhatikan suaminya dan Gia dari jarak yang tak terlalu jauh dari tempat.

"Apa? Kurang ajar diaaa!!!" Bu Melly langsung geram dan menghampiri mereka.

Setelah memasangkan cincinnya, pak Sudarni menggenggam erat tangan Gia dan akan mencium punggung tangannya. Tapi tiba-tiba...

"Maaaassss..."

Suara teriakan yang penuh keemosian datang dari istrinya pak Sudarni hingga membuat Gia mendongak kaget.

...----------------...

...Bersambung....

Episodes
1 GIA.
2 Kecewa.
3 Cowok Ganteng.
4 Adi.
5 Tak tahu diri.
6 Murid baru.
7 Kagum.
8 Tertipu.
9 Aku bukan pelakor.
10 Perhatian Egi.
11 Baper.
12 Kenyataan yang tak di ketahui.
13 Ayah Gia dan Rencana.
14 Sisi baik Adi.
15 Kencan Kedua membawa fakta.
16 Kejadian tak terduga.
17 Pulpen ajaib.
18 Asmara Hanna dan Adi.
19 Curang.
20 Sial.
21 Egi yang malang.
22 IQ minus.
23 Mencurigakan.
24 Ketahuan.
25 Tertipu 2.
26 Kencan yang Menyebalkan.
27 Kencan yang Menyebalkan part II.
28 Nasib yang berbeda.
29 Duka Adi dan Egi.
30 Kecurigaan Adi.
31 Gia si pembohong handal.
32 Pertanyaan jebakan.
33 Kebenaran.
34 Pertikaian.
35 Keberuntungan masih berpihak.
36 Pengawasan ketat.
37 Nekat.
38 Menari di atas penderitaan orang.
39 Kabar mengejutkan.
40 Kebusukan Gia.
41 Emosi Egi.
42 Takut.
43 Hari pertama bekerja.
44 Bekerja lagi.
45 Senyuman palsu.
46 Benalu.
47 Kerja seharian.
48 Berulah.
49 Berulang kali.
50 Petaka.
51 Merawat Egi.
52 Perhatian Gia.
53 Kepergok.
54 Hanya Gia.
55 Baper 2.
56 Belajar bersama.
57 Oh, ternyata?
58 Reaksi obat.
59 Reaksi obat 2.
60 Saling menyalahkan.
61 Ketahuan
62 Sebagian bukti
63 Bukti baru
64 Ketinggalan
65 Flashdisk
66 Cemas dek?
67 Permainan
68 21+ Gombalan panas
69 Cara terbaik
70 Terbongkar
Episodes

Updated 70 Episodes

1
GIA.
2
Kecewa.
3
Cowok Ganteng.
4
Adi.
5
Tak tahu diri.
6
Murid baru.
7
Kagum.
8
Tertipu.
9
Aku bukan pelakor.
10
Perhatian Egi.
11
Baper.
12
Kenyataan yang tak di ketahui.
13
Ayah Gia dan Rencana.
14
Sisi baik Adi.
15
Kencan Kedua membawa fakta.
16
Kejadian tak terduga.
17
Pulpen ajaib.
18
Asmara Hanna dan Adi.
19
Curang.
20
Sial.
21
Egi yang malang.
22
IQ minus.
23
Mencurigakan.
24
Ketahuan.
25
Tertipu 2.
26
Kencan yang Menyebalkan.
27
Kencan yang Menyebalkan part II.
28
Nasib yang berbeda.
29
Duka Adi dan Egi.
30
Kecurigaan Adi.
31
Gia si pembohong handal.
32
Pertanyaan jebakan.
33
Kebenaran.
34
Pertikaian.
35
Keberuntungan masih berpihak.
36
Pengawasan ketat.
37
Nekat.
38
Menari di atas penderitaan orang.
39
Kabar mengejutkan.
40
Kebusukan Gia.
41
Emosi Egi.
42
Takut.
43
Hari pertama bekerja.
44
Bekerja lagi.
45
Senyuman palsu.
46
Benalu.
47
Kerja seharian.
48
Berulah.
49
Berulang kali.
50
Petaka.
51
Merawat Egi.
52
Perhatian Gia.
53
Kepergok.
54
Hanya Gia.
55
Baper 2.
56
Belajar bersama.
57
Oh, ternyata?
58
Reaksi obat.
59
Reaksi obat 2.
60
Saling menyalahkan.
61
Ketahuan
62
Sebagian bukti
63
Bukti baru
64
Ketinggalan
65
Flashdisk
66
Cemas dek?
67
Permainan
68
21+ Gombalan panas
69
Cara terbaik
70
Terbongkar

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!