Murid baru.

Keesokan harinya.

Di Kelas.

Seorang guru datang, dan bersiap mengumumkan kalau hari ini, kelas ini kedatangan seorang murid baru.

"Anak-anak hari ini kita kedatangan murid baru! Kalian pasti sudah tau kan siapa murid barunya?" Goda Bu Ratna selaku wali kelas pada semua muridnya sampai para murid pun bersorak histeris.

"Egi, ayo silahkan masuk!" Ibu guru mempersilahkan.

Anak baru yang bernama Egi itu langsung masuk. Selangkah demi selangkah, Egi pun berjalan masuk.

...•...

...•...

...•...

...•...

...•...

Semua siswa memperhatikannya sampai ternganga melihat ketampanan Egi, bahkan ada siswa yang tak sadar air liurnya keluar karna mangapnya terlalu besar saking kagumnya dengan sosok Egi ini yang berkulit putih, hidung mancung, di tambah lagi saat berjalan sambil sedikit tersenyum manis.

Bukan hanya tampan saja tapi ia juga sangat tinggi. Egi merupakan kesempurnaan dan tipe pacar idaman untuk para gadis.

"Silahkan perkenalkan diri kamu pada teman-teman!"

"Halo semuanya. Perkenalkan nama saya Egi Andhiraka Rahardja. Saya berasal dari Bali. Saya pindahan dari SMA xxx dan saya....."

Egi mengenalkan dirinya dengan suara lembut dan halus sehingga para siswa perempuan sampai tergila-gila padanya. Termasuk Gia yang tak melepas pandangannya dari tadi, tanpa sadar ia terus memiringkan kepalanya hingga terjatuh dari bangkunya karna saking terpesonanya dengan kegantengan Egi.

"Gia kamu kenapa?" Tanya Bu Ratna khawatir.

"Akhh... Saya gapapa bu!" Jawab Gia sambil cengengesan lalu kembali duduk di bangkunya seperti semula sambil tak melepas pandangan dari Egi.

"Kayak pernah deh ketemu sama orang ini. Tapi, dimana?" Gumam Gia.

"Baik Egi, silahkan duduk! Ada banyak bangku kosong disini, sepertinya sebagian murid ada yang tidak masuk. Kamu bisa pilih mau duduk di bangku yang mana."

"Baik Bu." Ucap Egi sambil mengangguk sopan. Kemudian Egi mulai memilih bangkunya.

Semua siswa perempuan mulai berisik.

"Egi duduk di sini saja sama aku..."

"Egi duduk di samping aku!"

"Egi duduk di sini..."

"Egi duduk di sini..."

"Egi duduk di sini..."

Kemudian Egi melihat tempat duduk yang ditempati Gia dan Hanna yang berada di paling belakang.

Gia mulai berspekulasi biasanya kalau murid baru akan memilih duduk di bangku paling belakang. Kemudian ia menyuruh teman sebangkunya Hanna untuk pindah tempat duduk.

"Hanna Lo sana pindah ke depan! Biar Egi yang duduk di sini sama Gue."

"Ogah! Lo saja sana yang pindah! Biar Egi yang duduk sama Gue!" Tolak Hanna.

"Ehm... Saya mau duduk di depan saja." Ucap Egi setelah berpikir lama-lama.

"Oh boleh. Silahkan! Kebetulan bangku itu belum ada yang nempatin" Ucap ibu guru. Egi langsung duduk.

Dengan cepat Hanna langsung pindah ke depan sembari membawa tasnya dan duduk di samping Egi.

"Hannaaa!!!" Gereget Gia. Hanna langsung menjulurkan lidahnya.

"Pindah sini! Jangan duduk di situ!" Teriak Gia dengan nada berbisik.

"Katanya suruh pindah. Ya sudah pindah saja. Bleee!!" Jawab Hanna sambil meledek Gia sambil tertawa puas.

Setelah itu ia melihat ke arah Egi sambil tersenyum kemudian di balas senyumannya oleh Egi. Seketika Hanna langsung klepek-klepek.

"Duhh... Gue duduk di belakang sama siapa nih?" Gumam Gia.

*****

Pulang sekolah.

Gia sedang mencari-cari Egi yang tadi keluar duluan dari kelas. Gia belum sempat berkenalan dengan Egi, karna tadi pas jam istirahat Egi tiba-tiba hilang begitu saja entah kemana dan muncul-muncul pas jam istirahat sudah selesai.

"Dimana cowok ganteng itu ya?" Gumam Gia mencari-cari.

Kemudian Gia keluar dari gerbang sekolah dan mulai mencari-cari Egi di sekitar tempat. Saat melihat sekeliling, Gia akhirnya menemukan Egi yang sedang berdiri di halte bus yang tak jauh dari sekolah.

"Egi! Akhirnya ketemu juga." Gumam Gia senang.

Kemudian ia berniat menghampirinya, namun sebelum pergi, Gia menyemprotkan dulu parfum sebanyak mungkin ke seragamnya, leher, dan kaos kakinya. Setelah selesai, ia berlari menghampiri Egi.

"Halo Egi!" Sapa Gia setelah sampai di depannya.

"Halo!" Sapa balik Egi.

Gia langsung membalikan badannya ke belakang.

"Akhhh... Kalau di lihat dari dekat ganteng banget! Senangnya bisa di sapa balik." Batin Gia.

Kemudian ia membalikan lagi badannya menghadap Egi.

"Kamu lagi nunggu bus?" Tanya Gia basa-basi.

"Iya!" Jawab Egi singkat.

"Oh, rumah kamu dimana?" Tanya Gia.

"Rumahku ada di 'Jln Selalu Rindu 02'." Jawab Egi.

"Oh oke-oke!" Ucap Gia sambil senyum-senyum.

"Kamu siapa?" Tanya Egi.

"Akh, aku temen sekelas sama kamu." Jawab Gia.

"Oh, namanya siapa?" Tanya lagi Egi.

"Ehm!"

Gia berpikir sejenak.

"Perkenalkan nama aku Gabriella." Ucap Gia bohong mengenalkan namanya sembari mengulurkan tangannya dengan gayanya yang angkuh.

Ia mengaku-ngaku namanya Gabriella padahal nama aslinya Gia. Egi langsung percaya dan menerima uluran tangan Gia.

"Gabriella, nama kamu bagus sekali, senang bisa berkenalan dengan kamu." Ucap Egi sambil tersenyum.

"Sama aku juga, senang bisa berkenalan juga sama kamu." Ucap Gia sambil tersenyum lebar memperlihatkan gigi kelincinya.

Kemudian Egi melepas tangannya sambil tetap tersenyum pada Gia.

Gia semakin dibuat klepek-klepek dan terus senyum-senyum sendiri seperti orang aneh.

"Sepertinya kita pernah bertemu." Ucap Egi setelah memperhatikan senyuman Gia.

"Benarkah? Dimana?" Tanya Gia penasaran.

"Aku gatau, tapi aku yakin sebelumnya kita pernah bertemu. Aku akan coba ingat-ingat." Ucap Egi mencoba mengingat.

Lalu, dia mencium aroma parfum yang berasal dari tubuh Gia.

"Wangi ini?" Ucap Egi sembari mendengus. Gia langsung di buat heran.

"Iya sekarang aku ingat! Kamu gadis berbaju pink itu kan? Yang waktu itu nunggu bus sama aku di sini." Tebak Egi.

"Apa? Maksud kamu apa?" Gia semakin dibuat penasaran.

"Kamu gak ingat? Waktu itu kita pernah bertemu di sini. Di siang hari, ketika sedang hujan. Saat itu kita sama-sama sedang menunggu bus. Waktu itu kamu pakai gaun berwarna pink dan waktu itu aku pakai seragam SMA. Aku sangat ingat betul ketika wajahku kotor kemudian kamu meminjamkan aku sapu tangan." Ucap Egi mengingatkan Gia.

Gia mulai mengingat-ingat.

"Tunggu sebentar!" Ucap Gia mencoba mengingat.

"Oh iya, aku ingat! Jadi kamu cowok yang waktu itu kan?" Lanjutnya sambil tersenyum kaget.

"Iyaaa!!"

"Wah gak nyangka! Senangnya bisa bertemu kamu lagi. Dan gak nyangka juga akhirnya kita bisa menjadi teman sekelas." Ucap Gia senang.

"Ah iya!" Ucap Egi turut senang.

"Tapi kenapa aku baru ingat sekarang yaa? Untung kamu mengingatkan aku. Bagaimana caranya kamu bisa mengingat aku? Perempuan cantik yang waktu itu kamu lihat di siang hari." Tanya Gia sambil memuji dirinya sendiri.

"Dari wangi parfum kamu." Jawab Egi.

"Parfum aku?" Gia langsung mengernyitkan dahinya.

"Ah iya, waktu itu aku lupa gak mengembalikan sapu tangan kamu. Aku simpan sapu tangan itu dan aku sering membawa sapu tangan kamu setiap pergi kemana-mana. Buat jaga-jaga siapa tau nanti kalo aku ketemu kamu lagi, aku bisa mengembalikannya. Aku tau kamu, karna sapu tangan kamu sama wanginya seperti parfum yang kamu pakai sekarang, itu sebabnya aku mengenalnya dan langsung mengingat kamu."

"Oh luar biasa!" Ucap Gia berdecak kagum.

"Terima kasih sudah menyimpan sapu tanganku. Aku kira kamu akan membuangnya." Lanjutnya sambil terkekeh.

"Enggak mana mungkin!" Tutur Egi.

"Kalau begitu mana sapu tangannya?" Pinta Gia sambil menadahkan tangannya layaknya anak kecil yang sedang minta uang jajan pada ibunya.

"Kebetulan sekali! Sapu tangannya, lupa aku masukkan ke dalam tas, aku lupa membawanya. Soalnya tadi aku terburu-buru." Ucap Egi sambil masih menahan senyumannya.

"Ahahaha.. Iya gak apa-apa!" Gia tertawa kecil.

"Maaf ya!" Ucap Egi sambil terkekeh.

"Gapapa kok. Santai saja! Kembalikan saja di lain waktu."

Perbincangan Gia dan Egi di barengi dengan kekehan masing-masing. Namun, tiba-tiba Hanna datang menghampiri Gia dan Egi.

"Halo Egi!" Sapa Hanna membuat Gia mendongak kaget.

"Halo!" Sapa balik Egi.

Gia langsung risih melihat Hanna sudah berada di sampingnya sambil menyapa Egi.

"Kenalin nama aku Hanna, teman sekelas kamu yang tadi duduk sama kamu!" Celetuk Hanna mengenalkan diri sambil mengulurkan tangannya.

Saat Egi akan menerima tangan Hanna. Dengan cepat Gia menepis keras tangan Hanna.

"AWWW!!" Pekik Hanna kesakitan sambil memegangi tangannya. Hingga Egi tak jadi menyalaminya.

"Aduhh sakit! Lo ini apa-apaan sih?" Bentak Hanna pada Gia.

"Gak baik bersentuhan tangan langsung sama cowok yang bukan muhrimnya!" Ketus Gia dengan gaya angkuhnya.

"Kalau gitu, kita pulang dulu ya Egi!" Pamit Gia mendadak pada Egi.

"Ah iya, hati-hati ya!" Ucap Egi.

"Ayok pulang!" Ucap Gia sambil menarik lengan Hanna.

"Apaan sih Gi, buru-buru amat! Gue kan baru saja datang! Sudah mulai ngajak pulang saja." Cibir Hanna dengan tatapan kesal.

"Ayo cepat pulang! Ini sudah sore!" Paksa Gia.

"Sore dari mana? Ini masih siang!" Ucap Hanna dengan emosi. Kemudian Gia melihat Egi yang memperhatikan perdebatannya dengan Hanna.

"Maaf ya Gi! Di maklum saja yaa... Hanna memang seperti itu orangnya." Ucap Gia mulai menjelekkan sifat Hanna.

"Egi, yang aku bilang benar kan ini masih jam 2 siang, belum sore." Ucap Hanna pada Egi.

"Iya!" Sahut Egi.

"Tapi Egi, kamu juga mau pulang kan? Kalau kita disini terus nanti kamu gak bisa pulang." Ucap Gia.

"Padahal gapapa, santai saja! Mumpung aku masih menunggu bus." Ujar Egi.

"Tuh kan yang dibilang Egi juga apa? Santai saja gak usah buru-buru!" Timpal Hanna.

Tapi Gia tak ingin melihat Hanna banyak bicara dan melakukan kontak mata dengan Egi, ia tak suka melihat Egi berdekatan dengan perempuan lain termasuk sahabatnya sendiri. Makanya ia terpaksa mengajak Hanna pulang.

"Ayo cepetan pulang!! Egi juga mau pulang, kasihan dia kalau disini terus. Besok juga ketemu lagi!" Gia kembali menarik-narik tangan Hanna dan mulai beranjak pergi.

"Hati-hati ya Gabriella, Hanna!" Ucap Egi.

"Hah! Gabriella?" Hanna langsung kaget sambil melepas genggaman Gia.

"Maksud kamu, Gabriella siapa? Yang mana?" Lanjutnya bertanya.

"Gabriella yang ini!" Jawab Egi heran sambil menunjuk Gia. Hanna langsung mengernyitkan alisnya

"Gabriella?"

"Ckk"

"HAHAHA... Gabriella!!"

Hanna langsung tertawa ngakak. Egi langsung menatap heran. Sementara Gia langsung tegang sambil menelan ludah.

"Egi, dia namanya bukan Gabriella. Tapi Gia. Panggil saja Gia kamprett!!" Ungkap Hanna sambil sedikit meledeknya. Gia langsung menabok pipi Hanna.

"Ikh, apaan sih Lo! Bisa gak sih kalau ngomongin tentang Gue gak pakai ledekan di ujungnya!" Tanpa sadar Gia mulai menampakkan sikap emosi di depan Egi.

Egi langsung menatap Gia kaget dan heran. Karna baru kenal saja, Gia sudah berani membohonginya tentang namanya sendiri. Gia langsung panik dan merasa malu di depan Egi, karna kebohongannya sendiri sudah ketahuan kemudian ia menarik Hanna pergi.

"Ayo pergi!"

...----------------...

...Bersambung....

Episodes
1 GIA.
2 Kecewa.
3 Cowok Ganteng.
4 Adi.
5 Tak tahu diri.
6 Murid baru.
7 Kagum.
8 Tertipu.
9 Aku bukan pelakor.
10 Perhatian Egi.
11 Baper.
12 Kenyataan yang tak di ketahui.
13 Ayah Gia dan Rencana.
14 Sisi baik Adi.
15 Kencan Kedua membawa fakta.
16 Kejadian tak terduga.
17 Pulpen ajaib.
18 Asmara Hanna dan Adi.
19 Curang.
20 Sial.
21 Egi yang malang.
22 IQ minus.
23 Mencurigakan.
24 Ketahuan.
25 Tertipu 2.
26 Kencan yang Menyebalkan.
27 Kencan yang Menyebalkan part II.
28 Nasib yang berbeda.
29 Duka Adi dan Egi.
30 Kecurigaan Adi.
31 Gia si pembohong handal.
32 Pertanyaan jebakan.
33 Kebenaran.
34 Pertikaian.
35 Keberuntungan masih berpihak.
36 Pengawasan ketat.
37 Nekat.
38 Menari di atas penderitaan orang.
39 Kabar mengejutkan.
40 Kebusukan Gia.
41 Emosi Egi.
42 Takut.
43 Hari pertama bekerja.
44 Bekerja lagi.
45 Senyuman palsu.
46 Benalu.
47 Kerja seharian.
48 Berulah.
49 Berulang kali.
50 Petaka.
51 Merawat Egi.
52 Perhatian Gia.
53 Kepergok.
54 Hanya Gia.
55 Baper 2.
56 Belajar bersama.
57 Oh, ternyata?
58 Reaksi obat.
59 Reaksi obat 2.
60 Saling menyalahkan.
61 Ketahuan
62 Sebagian bukti
63 Bukti baru
64 Ketinggalan
65 Flashdisk
66 Cemas dek?
67 Permainan
68 21+ Gombalan panas
69 Cara terbaik
70 Terbongkar
Episodes

Updated 70 Episodes

1
GIA.
2
Kecewa.
3
Cowok Ganteng.
4
Adi.
5
Tak tahu diri.
6
Murid baru.
7
Kagum.
8
Tertipu.
9
Aku bukan pelakor.
10
Perhatian Egi.
11
Baper.
12
Kenyataan yang tak di ketahui.
13
Ayah Gia dan Rencana.
14
Sisi baik Adi.
15
Kencan Kedua membawa fakta.
16
Kejadian tak terduga.
17
Pulpen ajaib.
18
Asmara Hanna dan Adi.
19
Curang.
20
Sial.
21
Egi yang malang.
22
IQ minus.
23
Mencurigakan.
24
Ketahuan.
25
Tertipu 2.
26
Kencan yang Menyebalkan.
27
Kencan yang Menyebalkan part II.
28
Nasib yang berbeda.
29
Duka Adi dan Egi.
30
Kecurigaan Adi.
31
Gia si pembohong handal.
32
Pertanyaan jebakan.
33
Kebenaran.
34
Pertikaian.
35
Keberuntungan masih berpihak.
36
Pengawasan ketat.
37
Nekat.
38
Menari di atas penderitaan orang.
39
Kabar mengejutkan.
40
Kebusukan Gia.
41
Emosi Egi.
42
Takut.
43
Hari pertama bekerja.
44
Bekerja lagi.
45
Senyuman palsu.
46
Benalu.
47
Kerja seharian.
48
Berulah.
49
Berulang kali.
50
Petaka.
51
Merawat Egi.
52
Perhatian Gia.
53
Kepergok.
54
Hanya Gia.
55
Baper 2.
56
Belajar bersama.
57
Oh, ternyata?
58
Reaksi obat.
59
Reaksi obat 2.
60
Saling menyalahkan.
61
Ketahuan
62
Sebagian bukti
63
Bukti baru
64
Ketinggalan
65
Flashdisk
66
Cemas dek?
67
Permainan
68
21+ Gombalan panas
69
Cara terbaik
70
Terbongkar

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!