Adi.

...•...

...•...

...•...

...•...

...•...

Gia di buat kaget dengan teriakan ibunya yang sepertinya sedang emosi.

"Ada apa mah?"

"Ini! Ini apa?" Tanya ibunya emosi sambil menggenggam kertas ujian matematika milik Gia yang nilainya tiga puluh.

Gia langsung kaget setelah melihat ibunya berhasil menemukan kertas ujian yang selama ini ia sembunyikan baik-baik di bawah kasur.

"Apa ini? Ini kertas ujian milik kamu kan yang nilainya tiga puluh?" Tanya ibunya emosi.

"Bukan mah! Itu punya temen Gia, yang gak sengaja Gia bawa." Ucap Gia bohong tanpa berani menatap ibunya yang sedang emosi.

Tapi tetap saja kebohongan pasti ujungnya akan ketahuan ibarat bangkai yang disembunyikan pasti ujungnya bakal ketahuan juga.

"Punya temen kamu? Tapi jelas-jelas disini namanya tertera nama kamu!" Bentak ibunya sambil melotot.

"Gia gatau mah! Mungkin ke ubah sendiri." Gia mulai ngeles.

"Gimana bisa ke ubah sendiri?"

"Mungkin kertasnya ajaib mah."

Ibunya semakin emosi.

"Bohong!!! Sudah beberapa kali ya kamu bohong sama mama! Sekarang mama tanya, kenapa kamu bisa dapat nilai tiga puluh?"

Gia hanya terdiam kaku tak menjawab pertanyaan ibunya.

"Kenapa diam? Ayo jawab! Kenapa kamu bisa dapat nilai tiga puluh? Apa waktu itu kamu gak belajar?"

"Belajar kok mah!"

"Kalau belajar gak mungkin sampai dapat nilai tiga puluh!"

Gia mulai teringat saat sebelum ujian, ibunya menyuruh Gia belajar. Tapi Gia malah memilih bermain game, sementara bukunya di biarkan begitu saja di atas meja. Saat ibunya masuk ke dalam kamarnya, Gia langsung mengambil cepat bukunya dan pura-pura menghafal seolah-olah dari tadi ia sedang belajar padahal tidak. Lamunan Gia langsung di sadarkan dengan tepukan keras tangan ibunya.

"Heh! Kenapa melamun?"

"Maafkan Gia mah. Itu kan cuman pelajaran matematika saja yang dapat nilai tiga puluh. kalau pelajaran yang lainnya gak dapat nilai segitu, malahan lebih tinggi." Ucap Gia sambil menunduk malu.

"Lebih tinggi katamu? Nilai 40,56,60 kamu anggap nilai segitu tinggi???? Mama saja dulu malu kalau dapat nilai segitu."

"Segitu Gia masih mending dapat nilai tiga puluh. Dari pada mama sendirinya dulu pernah dapat nilai nol!" Cibir Gia.

"Jangan memotong pembicaraan mama ya! Makin kesini bukannya makin pintar malah makin bodoh! Di sekolah kamu ngapain saja hah! Belajar atau main hp terus?"

"Main hp mah,, ehh maksudnya... Gia belajar mah." Jawab Gia cengengesan.

"Mama gak mau tau! Ujian tengah semester nanti kamu harus dapat nilai yang bagus harus di atas KKM! Untung kemarin kamu naik kelas. Kalau enggak, mau taruh di mana muka mama!"

"Iya mah!"

"Kalau kamu gak dapat nilai bagus! Mama bakal kurangi uang jajan kamu!" Ancam ibunya.

"Jangan dong mah!" Rengek Gia.

"Makanya kamu harus dapat nilai yang bagus!"

Setelah selesai di marahi ibunya. Gia langsung pergi ke sekolah.

*****

Diperjalanan.

Gia terus memikirkan perkataan ibunya, ia takut kalau nilai ujiannya nanti akan jelek lagi. Selama ini Gia belum belajar sama sekali karna ia selalu sibuk memikirkan pacarnya yang selama ini tidak pernah memikirkannya.

Kemudian Gia teringat pada teman sekelasnya bernama Adi, salah satu siswa paling pintar di kelas. Gia langsung kesal dan marah padanya. Karna Adi, Gia jadi mendapat nilai yang jelek karnanya.

Flashback.

Saat Ujian Akhir Semester. Gia kebingungan bagaimana cara mengerjakan ujiannya. Apalagi ini sedang ujian matematika.

"Duh gimana nih? Baru soal nomor satu saja sudah susah begini. Gimana cara ngerjainnya?" Gumam Gia sambil menggigit kuku jarinya.

Gia langsung melirik kertas jawaban milik teman sebangkunya sekaligus sahabatnya yang bernama Hanna yang baru saja mengerjakan 5 soal. Hanna langsung menyadari kalau Gia berusaha menyonteknya. Dengan cepat, ia langsung menutup jawabannya menggunakan tangannya sambil melototi Gia.

Gia langsung cengengesan lalu kembali menatap lembar soal miliknya yang belum ia kerjakan sama sekali. Walaupun Hanna sudah memelototinya, tapi Gia tak ada rasa malu, ia berusaha menyontek salah satu jawaban milik temannya.

Tak lama muncullah siswa laki-laki bernama Adi yang masuk kelas, sepertinya ia terlambat.

"Maafkan saya Bu! Saya telat. Tadi di jalan macet." Ucap Adi minta maaf pada pengawas.

Pengawas langsung memakluminya sambil memberikan soal lalu mempersilahkannya duduk.

Adi langsung duduk di depan Gia.

Gia langsung senang karna Adi sudah datang dan duduk di depannya. Adi termasuk siswa paling pintar di kelas. Gia sudah mengenal Adi sejak dari SMP. Ia selalu mendapat nilai yang bagus di setiap mata pelajaran dan ia juga pernah juara olimpiade matematika saat SMP dulu. Gia langsung mencolek leher Adi dengan pulpennya. Adi langsung berbalik ke belakang.

"Adi, nomor satu apa?" Bisik Gia.

"Belum di kerjain! Gue baru datang." Jawab Adi berbisik juga.

"Ya sudah kalau begitu kerjakan dulu. Kalau sudah selesai, nanti Gue lihat yaa!" Ucap Gia masih berbisik.

"Hmm... Lo pikir saja sendiri!" Tolak Adi. Gia langsung di buat kesal.

30 menit kemudian...

Semua murid masih mengerjakan soal. Sebagian ada yang sudah selesai dan keluar kelas. Gia baru mengerjakan lima soal dari sekian banyaknya tiga puluh soal, tapi baru ia kerjakan hanya lima itupun hasil contekannya tanpa berpikir.

Untung saja soal ujiannya berisi pilihan ganda semua. Jadi ia tak perlu susah payah mencari jawaban menggunakan rumus. Tinggal pilih saja jawaban antara A, B, C, D atau E dengan ngasal atau menggunakan sebuah penghapus putih yang sudah ia tulis huruf A, B, C, D, dan E lalu menentukan jawaban dengan mengocoknya seperti dadu.

"Bu, saya izin ke toilet sebentar!" Izin Adi. Pengawas mengijinkannya. Adi langsung keluar kelas.

Gia langsung senang, ini kesempatan yang bagus bagi Gia untuk menyontek. Dengan cepat ia menyontek jawaban milik Adi, ia berusaha mengerjakannya secara cepat keburu Adi kembali.

Tak lama kemudian...

Adi kembali masuk kelas. Jarak kelas dengan toilet sangat dekat jadi tak perlu waktu lama untuk berjalan ke toilet. Gia kembali mengerjakan soalnya saat Adi kembali duduk, ia pura-pura berpikir sambil menggaruk-garuk kepalanya menggunakan pulpen seolah-olah ia sedang berpikir keras.

Adi mulai melanjutkan mengerjakan soalnya. Gia terus menunggunya. Tapi, tiba-tiba saja Adi malah diam tak mengerjakan soal dan malah memperhatikan jawabannya.

Namun tak butuh waktu lama, ia langsung menyobek jawaban hasilnya sendiri dan melemparnya ke tong sampah yang berada di belakang Gia.

Gia langsung kaget melihat Adi membuang kertas jawabannya sendiri, sepertinya jawaban yang tadi Adi kerjakan salah semua.

Setelah itu Adi kembali mengerjakan soal di kertas kosong yang baru. Gia langsung sedikit kesal dengan Adi. Gia pun ikut-ikutan menyobek kertas jawabannya dan membuangnya ke tong sampah.

15 menit kemudian...

Gia kembali melihat lembar jawabannya yang baru saja ia isi lima belas soal. Tinggal lima belas soal lagi yang harus ia kerjakan.

Gia berusaha menyontek Adi lagi, ia terus menunggu Adi lengah. Apalagi waktunya tersisa lima belas menit lagi.

"Adi!" Panggil Gia berbisik. Adi langsung berbalik ke belakang menatap Gia sambil menadahkan kepalanya.

"Lo gak ke toilet lagi?" Tanya Gia.

"Ngapain?" Tanya Adi balik.

"Ya siapa tau, Lo mau pipis lagi."

"Enggak! Gue sudah ke toilet tadi." Jawab Adi sedikit risih.

"Tapi, kelihatannya muka Lo kayak lagi nahan pipis gitu. Kalau Lo sudah gak kuat, sana ke toilet lagi!" Ucap Gia menyuruh Adi pergi ke toilet lagi agar ia bisa kembali menyontek.

"Apaan sih Lo!" Adi langsung kesal dengan ucapan Gia. Kemudian ia kembali mengerjakan soalnya.

"Adi!" Panggil Gia. Tapi Adi tidak menghiraukannya. Gia langsung kesal.

Kemudian Gia melihat lima lembar uang yang tergulung di saku belakang celana Adi. Tanpa disadari Adi, Gia langsung menarik uang Adi hingga berjatuhan di lantai.

"Adi!"

"Apaaaa?" Jawab Adi dengan nada kesal.

"Itu uang Lo jatuh!"

"Mana?" Adi langsung melihat ke bawah. Dan benar saja uangnya sudah berceceran di lantai.

Adi langsung mengecek saku celananya memastikan apakah benar itu uangnya yang jatuh atau bukan? Dan ternyata benar. Adi langsung berjongkok memunguti uangnya.

Adi yang masih asik memunguti uangnya yang berjatuhan menjadi peluang besar bagi Gia untuk menyontek. Dengan santainya Gia langsung berdiri sedikit membungkuk lalu menyontek jawaban Adi.

Setelah selesai memasukan kembali uang ke dalam sakunya, Adi melihat Gia sedang menyontek jawaban miliknya. Adi langsung marah sambil memelototinya.

Gia langsung cengar-cengir tak tau malu setelah ketahuan menyontek.

"Jangan menyontek! Pikir sendiri!!" Bentak Adi.

Adi pun kembali duduk sambil menahan emosinya dan kembali mengerjakan soal sambil mewaspadai gerak-gerik Gia.

"Adi! Gue lihat dong sedikit tinggal lima belas soal lagi. Nanti Gue traktir ayam kalau Lo kasih lihat Gue jawaban!" Rayu Gia, tapi Adi tidak menghiraukannya.

Adi terus fokus mengerjakan soal. Sementara Gia terus memperhatikannya.

Tak lama, Adi berhenti menulis dan melihat lagi jawaban yang ia jawab sepertinya tidak sesuai.

Adi langsung menghapus sebagian jawabannya setelah itu ia kembali mengerjakan soal secara cepat. Hal itu diketahui oleh Gia yang terus memperhatikan gerak-geriknya.

Dengan cepat, Gia langsung ikut-ikutan menghapus semua jawaban hasil usahanya dalam menyontek.

Beberapa menit kemudian...

Setelah selesai mengerjakan. Dengan cepat Adi mengumpulkan soal beserta jawabannya ke meja guru. Sementara Gia belum sempat menyontek lagi pada Adi karna ia harus menunggu Tipe-X nya kering dulu agar ia bisa kembali menulis, karna ia menulis menggunakan pulpen tak seperti Adi yang menulis menggunakan pensil.

"5 menit lagi!" Tukas Bu Guru. Gia langsung panik.

"Apa dikelas ini, hanya Gue saja siswa yang paling bodoh disini!" gerutu Gia kesal sampai terdengar Adi yang sedang memasukan papan dadanya ke dalam tas. Adi langsung berbalik ke belakang.

"Sudah?" Tanya Adi sambil menatap Gia yang masih kesal.

"Belum!" Jawab Gia dengan wajah memelas.

Adi langsung memberikan selembar kertas yang berisi jawaban.

"Ini lihat saja kesini!" Ucap Adi lalu pergi. Gia langsung senang kemudian menyalin jawaban pemberian Adi.

1 Minggu kemudian...

Ini saatnya pembagian nilai ujian. Gia tak sabar ingin melihat hasil ujiannya. Ia yakin akan mendapatkan nilai yang bagus karena ia mendapatkan jawaban dari Adi si murid paling pintar di kelas. Jadi mana mungkin ia mendapatkan nilai yang jelek.

Namun harapannya sirna setelah mendapatkan hasil dari ujiannya.

Gia langsung sedih melihat nilai ujiannya yang tak sesuai harapan. Nilai ujiannya masih sama jeleknya seperti dulu. Bahkan kini nilai ujian matematikanya jauh lebih kecil dari yang lain. Gia bingung, karna ia mengisi soal matematika menggunakan jawaban dari Adi. seharusnya ia mendapat nilai 100/100 atau 95/100 bukan 30/100.

Gia langsung melihat Adi yang tersenyum lebar setelah mendapati nilai ujiannya.

Saking penasarannya, ia langsung menghampiri Adi dan melihat nilai ujian Adi yang nilainya 95/100.

"Adi!" Panggil Gia.

"Hmm!" Jawab Adi tanpa menoleh ke arahnya.

"Kok nilai Lo 95? Sedangkan nilai Gue 30?" Tanya Gia kaget.

"Hah! Memangnya kenapa? Apa Lo mau nilai Gue sama jeleknya kayak punya Lo?"

"Bukan gitu, waktu itu Gue mengerjakan soal sama kayak jawaban yang waktu itu Lo kasih ke Gue. Harusnya Gue dapat nilai yang bagus juga dong sama kayak Lo!"

Adi langsung tertawa ngakak mendengar ucapan Gia.

"Jadi waktu itu Lo ngikutin jawaban dari Gue?" Tanya Adi sambil masih tertawa terbahak-bahak.

"Iyaa!" Tegas Gia.

"Sebenarnya jawaban yang Gue kasih ke Lo waktu itu berbeda sama jawaban punya Gue. Jawaban yang itu belum tentu benar semua. Itu semua jawaban hasil karangan Gue." Ucap Adi sambil tersenyum menyeringai. Gia langsung terkejut mendengar pernyataan Adi.

"Apa maksud Lo? Jadi Lo kasih Gue jawaban yang salah begitu?"

"Bukan! Sebenarnya Gue cuman menguji Lo doang. Cuman memastikan apa Lo mengecek kembali jawaban yang Gue kasih ke Lo atau enggak? Gue kira Lo merevisi lagi jawaban dari Gue." Ucap Adi. Dengan kesal Gia langsung memukul-mukul tangan Adi

"Ikh, kenapa sih Lo ngasih Gue jawaban yang salah? Ini semua gara-gara Lo! Gue jadi dapet nilai 30! Ini semua gara-gara Lo!" Pekik Gia.

"Heh kok Lo jadi nyalahin Gue? Itu kan salah Lo sendiri, suruh siapa menyontek? Lo itu ya dari dulu cuman bisa menyoonteeekkkk doang! Gak pernah mikir! Lo gak mikir jawaban punya orang lain itu benar atau salahnya. Lo malah percaya gitu saja dan ngikutin jawaban yang Gue kasih yang belum tentu pasti hasilnya. Tapi Gue gak nyangka, kirain Lo bakal merevisi lagi jawaban itu tapi Lo malah tulis semuanya. Sungguh kasihan!" Ledek Adi.

"Memang benar ya. Anak pemalas kayak Lo itu memang gak mau berpikir. Hanya mau enaknya saja! Jawaban yang Gue kasih, Lo percaya gitu saja. Tapi Gue lihat Lo kayaknya senang banget pas Gue kasih jawaban yang belum tentu benar hasilnya." Lanjutnya sembari tetap meledek.

"Diam Lo yaa! Dasar penipu! Awas Lo ya!Gara-gara Lo! Gue jadi dapat nilai jelek gini! Sebelumnya Gue belum pernah dapat nilai sejelek ini!" Bentak Gia mulai menangis.

"Itulah sebabnya jadikan hari ini pembelajaran. Lain kali berusahalah berpikir dan belajar tanpa melihat ke orang lain. Jangan hanya mengandalkan jawaban punya orang lain saja yang belum tentu benar hasilnya! Lo pikir dengan menyontek orang lain Lo bakal dapat nilai yang bagus? Sekarang lihat hasil dari Lo menyontek, sekarang Lo malah menyalahkan orang lain atas perbuatan Lo sendiri!" Cibir Adi. Gia langsung emosi sambil mengepalkan tangannya.

"Lo harus bisa seperti yang lainnya. Belajar!! Berpikir!! Berusaha!! Jangan menyontek!! Gunakan logika, Gunakan otak, dan kerjakan dengan hasil sendiri dan semampunya tanpa berbuat curang dengan menyalin jawaban dari hasil kerja keras orang lain. Gue tau. Lo pintar! Lo pasti bisa kalau Lo belajar tanpa mengandalkan Jawaban milik orang lain. Lo gak tahu betapa susah payahnya orang lain dalam berpikir. Tapi Lo malah seenaknya dengan santai menyontek dan menyalin jawaban mereka dan sekarang Lo menyalahkan orang lain atas tindakan Lo sendiri. Bisa-bisanya menyontek dan bermalas-malasan. Kalau Lo begini terus? Kapan Lo akan bisa? Kapan Lo akan pintar? Harusnya pelajari lagi pelajaran yang sudah di kasih pak guru! Bukan hanya disimpan dan di bawa-bawa ke sekolah saja!"

Lalu Adi pergi setelah memberi nasihat panjang lebar pada Gia.

Gia semakin emosi, ia tak terima dengan perkataan Adi yang berani menceramahinya. Hingga pada akhirnya Gia menyesal karena sudah menyontek jawaban Adi yang ujungnya mendapat nilai yang lebih jelek.

Flashback off.

...----------------...

...Salam dari Adi....

Episodes
1 GIA.
2 Kecewa.
3 Cowok Ganteng.
4 Adi.
5 Tak tahu diri.
6 Murid baru.
7 Kagum.
8 Tertipu.
9 Aku bukan pelakor.
10 Perhatian Egi.
11 Baper.
12 Kenyataan yang tak di ketahui.
13 Ayah Gia dan Rencana.
14 Sisi baik Adi.
15 Kencan Kedua membawa fakta.
16 Kejadian tak terduga.
17 Pulpen ajaib.
18 Asmara Hanna dan Adi.
19 Curang.
20 Sial.
21 Egi yang malang.
22 IQ minus.
23 Mencurigakan.
24 Ketahuan.
25 Tertipu 2.
26 Kencan yang Menyebalkan.
27 Kencan yang Menyebalkan part II.
28 Nasib yang berbeda.
29 Duka Adi dan Egi.
30 Kecurigaan Adi.
31 Gia si pembohong handal.
32 Pertanyaan jebakan.
33 Kebenaran.
34 Pertikaian.
35 Keberuntungan masih berpihak.
36 Pengawasan ketat.
37 Nekat.
38 Menari di atas penderitaan orang.
39 Kabar mengejutkan.
40 Kebusukan Gia.
41 Emosi Egi.
42 Takut.
43 Hari pertama bekerja.
44 Bekerja lagi.
45 Senyuman palsu.
46 Benalu.
47 Kerja seharian.
48 Berulah.
49 Berulang kali.
50 Petaka.
51 Merawat Egi.
52 Perhatian Gia.
53 Kepergok.
54 Hanya Gia.
55 Baper 2.
56 Belajar bersama.
57 Oh, ternyata?
58 Reaksi obat.
59 Reaksi obat 2.
60 Saling menyalahkan.
61 Ketahuan
62 Sebagian bukti
63 Bukti baru
64 Ketinggalan
65 Flashdisk
66 Cemas dek?
67 Permainan
68 21+ Gombalan panas
69 Cara terbaik
70 Terbongkar
Episodes

Updated 70 Episodes

1
GIA.
2
Kecewa.
3
Cowok Ganteng.
4
Adi.
5
Tak tahu diri.
6
Murid baru.
7
Kagum.
8
Tertipu.
9
Aku bukan pelakor.
10
Perhatian Egi.
11
Baper.
12
Kenyataan yang tak di ketahui.
13
Ayah Gia dan Rencana.
14
Sisi baik Adi.
15
Kencan Kedua membawa fakta.
16
Kejadian tak terduga.
17
Pulpen ajaib.
18
Asmara Hanna dan Adi.
19
Curang.
20
Sial.
21
Egi yang malang.
22
IQ minus.
23
Mencurigakan.
24
Ketahuan.
25
Tertipu 2.
26
Kencan yang Menyebalkan.
27
Kencan yang Menyebalkan part II.
28
Nasib yang berbeda.
29
Duka Adi dan Egi.
30
Kecurigaan Adi.
31
Gia si pembohong handal.
32
Pertanyaan jebakan.
33
Kebenaran.
34
Pertikaian.
35
Keberuntungan masih berpihak.
36
Pengawasan ketat.
37
Nekat.
38
Menari di atas penderitaan orang.
39
Kabar mengejutkan.
40
Kebusukan Gia.
41
Emosi Egi.
42
Takut.
43
Hari pertama bekerja.
44
Bekerja lagi.
45
Senyuman palsu.
46
Benalu.
47
Kerja seharian.
48
Berulah.
49
Berulang kali.
50
Petaka.
51
Merawat Egi.
52
Perhatian Gia.
53
Kepergok.
54
Hanya Gia.
55
Baper 2.
56
Belajar bersama.
57
Oh, ternyata?
58
Reaksi obat.
59
Reaksi obat 2.
60
Saling menyalahkan.
61
Ketahuan
62
Sebagian bukti
63
Bukti baru
64
Ketinggalan
65
Flashdisk
66
Cemas dek?
67
Permainan
68
21+ Gombalan panas
69
Cara terbaik
70
Terbongkar

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!