...•...
...•...
...•...
...•...
...•...
"Gak usah! Terima kasih." Tolak pemuda itu tanpa menoleh sedikitpun ke arah Gia.
"Kalau muka kamu gak segera di lap, kotoran bekas genangan air tadi akan menimbulkan bakteri. Karna air hujan itu sudah terkontaminasi sama tanah dan bebatuan dijalan. Kamu tau gak?"
Pemuda itu langsung berdenyit heran.
"Jentik-jentik suka diam di genangan air. Kita gak tau genangan air di muka kamu itu ada jentik-jentiknya atau enggak? Bisa jadi jentik-jentiknya masih bayi jadi gak kelihatan. Kalau muka kamu gak segera di bersihin, maka jentik-jentik yang ada di muka kamu akan berkembang biak kemudian bersarang di muka kamu, sehingga muka kamu yang ganteng ini akan tertutupi dan menjadi sarang jentik-jentik." Ucapnya lagi sembari bergidik ngeri.
Mendengar ucapan Gia yang terdengar menakutkan. Pemuda itu langsung mengambil sapu tangannya dan mengelap wajahnya. Gia langsung tersenyum sembari memperhatikannya.
Sambil mengelap wajahnya pemuda itu menghirup aroma sapu tangan Gia yang super wangi.
"Kamu pulang naik bus?" Tanya Gia.
"Iya!" Jawabnya sembari mengelap wajahnya.
"Rumah kamu di mana?" Tanya Gia lagi.
"Di 'Jln Selalu Rindu 02'. Aku baru pindah dari luar kota." Jawab pemuda itu.
"Oh, jadi kamu orang baru di sini?" Tanya Gia lagi sambil mangap.
"Iya!" Jawab pemuda itu yang mulai sedikit tersenyum padanya.
"Ini sapu tangannya! Terima kasih." Ucap pemuda itu sambil memberikan sapu tangannya.
"Lap lagi telinga sama rambut kamu masih kotor." Ucap Gia sambil menunjuk telinga dan rambutnya yang masih kotor.
"Oh, iya." Ucapnya sambil melanjutkan mengelap telinga dan rambutnya.
Tak lama kemudian...
Bus datang.
Semua orang langsung berdesakan naik ke dalam bus, termasuk pemuda itu.
"Gila ganteng banget." Batin Gia
Gia mulai mengikuti pemuda itu setelah pemuda itu masuk, Gia pun ikutan masuk ke dalam bus.
Pemuda itu duduk di posisi ketiga dekat jendela sebelah kanan.
Gia berniat akan duduk di samping pemuda itu, namun seorang ibu-ibu gemuk berhasil mendahuluinya.
Gia langsung kesal lalu memilih duduk di barisan ketiga sebelah kiri di samping bapak-bapak.
"Neng?" Sapa bapak-bapak yang duduk di sampingnya.
Gia mengangguk sopan lalu kembali menatap pemuda itu yang kini sedang memandangi pemandangan dari jendela. Gia mulai memikirkan cara agar ibu ini pindah ke tempat yang ia duduki.
"Permisi Bu, saya lihat sepertinya ada uang 100 ribu yang ibu duduki di kursi itu." Ucap Gia penuh kebohongan agar ibu itu berdiri.
"Mana?"
"Coba ibu berdiri!" Ucap Gia memberi aba-aba. Ibu itu langsung berdiri.
"Mana? Gak ada!" Gumam ibu itu sambil mencari-cari.
"Ada kok Bu. Tadi saya lihat!"
Gia langsung berjalan menghampiri, lalu dengan sengaja ia pura-pura terjatuh hingga kepalanya menimpa paha pemuda itu.
Seketika pemuda itu langsung kaget, Gia membalas tatapannya yang kaget dengan senyuman anehnya lagi.
"Mana uangnya ada?" Tanya ibu itu.
"Gak ada Bu! Sepertinya saya salah lihat." Jawab Gia cengar-cengir sambil duduk tegak di kursi itu.
"Ya sudah sana! Saya mau duduk lagi."
"Aduh bu kaki saya sedang sakit Bu gara-gara tersandung tadi, sebaiknya ibu duduk di situ saja ya sama bapak itu." Ucap Gia sambil cengengesan. Ibu itu langsung duduk di tempat bekas Gia tadi dengan raut wajah yang agak sedikit kesal.
Bus mulai berjalan.
Tak lama supir Gia datang untuk menjemputnya. Tapi sayangnya, pak supir tak menemukan anak majikannya di halte karna sudah pergi naik bus.
*****
Di dalam bus.
Gia sangat senang akhirnya bisa duduk bersebelahan dengan pemuda itu.
Sepanjang perjalanan pemuda itu terus menatap ke arah jendela memandangi pemandangan sekitar.
Sementara Gia terus menatap ke arah pemuda itu. Saat melewati polisi jalan, busnya berlonjakan sehingga tanpa sengaja kepala Gia membentur bahu pemuda itu.
Pemuda itu langsung menatap Gia dengan tatapan kaget. Begitupun juga Gia.
"Ma-maaf!" Ucap Gia malu-malu padahal dalam hatinya ia senang.
"Gak apa-apa!" Ucap pemuda itu lalu kembali memandangi pemandangan.
Sementara Gia kembali dengan posisi cengar-cengir sendiri sembari menatap pemuda itu.
Kemudian bus berhenti di halte kedua menurunkan sebagian penumpang setelah itu halte berikutnya dan berikutnya hingga semua penumpang turun semua dan hanya menyisakan Gia dan pemuda itu berdua di dalam bus.
Kemudian bus kembali berjalan.
Gia senang kini di dalam bus hanya ada dirinya dan pemuda itu berduaan saja di sana.
Di dalam bus begitu hening, suasana terasa seperti canggung.
"Rumah kamu masih jauh?" Tanya Gia mencairkan keheningan yang ada.
"Sebentar lagi sampai." Jawab pemuda itu.
Tak lama kemudian bus berhenti.
Pemuda itu langsung beranjak dari kursi.
"Aku duluan ya!" Pamit pemuda itu pada Gia.
"Hati-hati ya!"
Pemuda itu pun turun. Gia melihatnya dari jendela. Kebetulan hujan sudah reda.
Setelah turun, pemuda itu melihat ke arahnya. Dengan cepat Gia langsung melambaikan tangannya dari balik jendela.
Pemuda itu langsung tersenyum dan membalas lambaian tangannya hingga membuat Gia kegirangan.
Kemudian bus kembali berjalan.
Pemuda itu berbalik badan dan berjalan pulang. Kemudian ia berhenti melangkahkan kakinya setelah melihat sapu tangan milik Gia masih ia genggam di tangannya.
Pemuda itu langsung berbalik melihat bus yang sudah pergi jauh.
"Aku lupa! Sapu tangannya masih di tanganku, belum aku balikin. Kenapa aku gak balikin ya? Padahal tadi dia duduk di samping aku?" Gumam pemuda itu.
"Tidak apa-apa! Sebaiknya aku simpan saja dulu. Siapa tau nanti aku ketemu dia lagi." Lanjutnya sambil kembali berjalan pulang.
*****
Malam hari tiba...
Tak terasa hari sudah malam.
Di dalam bus.
Gia terus saja cengar-cengir sendiri sambil terus mengingat kejadian saat ia jatuh menimpa kaki pemuda itu dan bersandar di bahu pemuda itu saat bus melewati polisi tidur. Tanpa sadar, Ia sama sekali tak menyadari jika hari sudah malam. Kemudian bus berhenti.
"Berhenti di sini neng? Ini sudah di halte terakhir." Tanya supir.
"Di 'Jln menuju bahagia 28' pak." Ucap Gia. Supir langsung terkejut.
"Waduh! Sepertinya Eneng salah naik bus."
"Maksud bapak apa?" Sewot Gia.
"Jalan itu kan berada di jalur kanan sebelum melewati halte pertama. Setau saya, gak ada bus yang menuju ke jalan itu. Kalau mau ke sana dari halte awal tinggal naik taksi atau angkot ke jalur kanan yang mau ke jalan itu. Kenapa Eneng malah naik bus yang jurusan ke 'Jln Selalu Rindu 02'?"
"Ah iya, kayaknya saya salah jalan pak!" Ucapnya beralasan.
"Bisa balik lagi gak pak?" Pinta Gia sambil cengengesan.
"Gak bisa neng! Kalau begitu eneng turun di sini saja dan tunggu bus satu lagi di terminal sebelah kanan yang akan mengarah ke jurusan halte awal."
"Oh baiklah... Berarti saya gak perlu membayar ya pak?"
"Harus bayar neng! Kan Eneng sudah naik bus dan eneng sudah melewati beberapa jalan yang sudah jauh banget."
"Ah, tapi pak... Saya kan salah naik bus! Apa bapak bisa memutar balikan kembali busnya antar saya ke Halte yang semula? Nanti saya bayar dua kali lipat deh." Pinta Gia kekeh.
"Gak bisa neng! Jam kerja saya sudah habis. Saya harus pulang!"
Gia hanya bisa diam dan pasrah. Lalu ia turun dan membayar supir itu.
Setelah itu Gia naik bus yang menuju ke arah jalan yang mau ke halte semula. Setelah sampai di halte Gia melihat supirnya sudah menunggunya lama di halte.
"Non, syukurlah non di sini. Non dari mana saja? Saya kira non hilang atau di culik." Tanya supir khawatir.
"Ih apaan sih pak? Jangan ngomong kayak gitu gak sopan banget ke anak majikan! Mau nyumpahin ya??" Tegur Gia.
"Bukan, soalnya saya khawatir banget, dari tadi saya menghubungi non tapi teleponnya gak aktif. Saya pikir non kenapa-napa. Itu sebabnya saya menunggu non di sini. Tadinya kalau non gak ada lebih dari 24 jam, mau saya lapor ke polisi."
"Pakai lapor polisi segala, emangnya saya ini buronan hah? Sudah cepat anterin saya pulang!" Ketus Gia dengan nada galak.
"Baik non."
*****
Sesampainya di rumah.
Gia langsung di wawancarai ibunya.
"Gia, kok kamu pulangnya jam segini? Gak di anterin Ben? Biasanya kalau kamu ketemu Ben suka di anterin pulang sampai rumah."
"Gia sudah putus sama Ben mah." Jawab Gia kalem.
"Apa? Putus dari Ben? Secepat itu? Tapi kenapa? Kok bisa? Kamu ngomong apa saja sama Ben sampai kalian bisa putus?" Tanya ibunya yang mulai syok.
"Gia gak ngomong apa-apa mah! Ben sengaja pengen ketemu Gia cuman mau bilang putus, karna Ben sudah balikan sama mantannya, itu sebabnya Ben gak kasih kabar ke Gia selama 3 bulan, karna Ben sedang asik pacaran sama mantannya itu mah. Dan dia juga bilang ke Gia kalau dia bakal nikah sama mantannya itu. Dia kasih undangan ke Gia padahal nikahannya 10 bulan lagi." Jelas Gia dengan nada kesal.
"Apa? Setega itukah Ben sama kamu? Mama gak percaya! Setau mama Ben itu anak yang baik, ganteng...." Ibunya mulai nyerocos. Gia hanya terdiam mendengarkan.
"Mah, jangan di lihat dari baik, kalem, dan gantengnya mah. Sifat orang kan beda-beda, kita kan gak ada yang tau. Kalau mama gak percaya, mama tanyakan saja langsung ke Ben! Sudah ah, Gia mau ganti baju dulu, baju Gia basah. Tadi Gia kehujanan." Ucap Gia sambil berjalan pergi menuju kamarnya.
"Mama masih gak percaya Undangannya mana? Coba mama lihat!" Pinta ibunya.
"Undangannya sudah Gia sobek-sobek." Ucap Gia sembari berjalan menaiki anak tangga.
"Apa! Kamu ini main sobek-sobek saja! Kenapa sih kamu....." Ibunya langsung ngomel-ngomel di bawah.
*****
Di Kamar.
Setelah ganti baju. Gia langsung merebahkan dirinya di kasur sambil senyum-senyum sendiri dan membayangkan betapa gantengnya pemuda itu yang tadi duduk bersamanya di dalam bus.
"Wahh... Gilaa!! Gantenggg bangeettt!! Belum pernah Gue lihat cowok secakep itu." Gumamnya sembari masih merebahkan tubuhnya.
Kemudian Gia mengambil buku gambar dan mulai melukis wajah pemuda itu menggunakan pensil. Gia melukis dengan teliti sesuai dengan apa yang ia lihat dan apa yang ia bayangkan.
Gia adalah seorang gadis yang jago melukis dan senang menggambar sedari kecil. Biasanya ia lebih sering melukis dan menggambar pemandangan. Tapi baru kali ini ia menggambar wajah seseorang dengan sempurna mirip seperti wajah aslinya.
Setelah selesai. Gia langsung memandangi wajah tampan pemuda itu yang baru selesai ia lukis.
"Ganteng bangett! Andai Gue bisa ketemu lagi cowok seganteng ini." Gumam Gia berharap sambil senyum-senyum sendiri.
*****
Keesokan paginya.
Gia masih tertidur cantik. Jam sudah menunjukkan pukul 7 pagi. Seharusnya jam segitu, Gia harus sudah berangkat ke sekolah.
Tak lama kemudian Gio sang adik yang sudah mengenakan seragam SMP masuk ke dalam kamar Gia dan berniat untuk membangunkannya dengan cara jahilnya, ia mendekatkan bulu ayam ke lubang hidung kakaknya yang mancung sambil menggelitiknya membuat Gia merasa geli dan terganggu.
Gia langsung terbangun dari tidurnya dan melihat adiknya yang sudah berada di depannya yang telah menggelitik hidungnya.
"Gioooooo..." Teriak Gia. Gio langsung tertawa sambil menjulurkan lidahnya.
"Hahaha... Bleeee..."
"Kurang ajar anak gatau diri. Awas ya!!"
Gia langsung mengejar Gio yang kabur ke bawah, ia berusaha menangkap adiknya yang berlari mengelilingi sofa.
"Sini kamu anak nakal!!"
"Bleeee..."
Gia terus mengejar dan berusaha menangkap adiknya. Dan akhirnya dengan segala cara ia berhasil menangkapnya dan mengambil bulu ayam dari tangannya dan mencoba menggelitik wajah sang adik.
"Kakak lihat jam!" Celetuk Gio sambil menunjuk jam yang sudah menunjukkan pukul 7 pagi.
"Ya Tuhan... Kesiangan lagi!"
Gia langsung bergegas pergi ke kamar mandi. Setelah selesai mandi dengan satu gayung air, dengan cepat ia memakai seragam dan jas sekolahnya.
Setelah sudah beres siap-siap. Gia langsung mengenakan sepatu hitamnya dengan terburu-buru. Tapi tiba-tiba ibunya berteriak memanggilnya.
"Giaa!!! Giaaa!! Giaaaaaaa..."
...----------------...
...Bersambung....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 70 Episodes
Comments