Baper.

...•...

...•...

...•...

"Egi, kamu disini?" Tanya Gia mendongak kaget.

"Iya, aku baru saja datang!" Jawab Egi.

"Kamu mau melukis juga?" Tanya Gia.

"Iya!"

"Kalau begitu ayo duduk di samping aku. Kita melukis sama-sama." Ajak Gia sembari menggeser kursinya agar Egi duduk di sampingnya. Egi menyetujuinya dan duduk di dekat Gia.

"Kamu mau melukis apa?" Tanya Gia.

"Aku mau melukis air terjun yang ada di sebelah sana, sepertinya bagus." Jawab Egi sembari memperhatikan air terjun yang jaraknya tak jauh dari bukit.

"Baiklah!"

Sambil melukis, Gia terus saja melirik lukisan Egi.

"Wah bagus banget! Kamu hebat banget melukis." Puji Gia.

"Hahaha... Aku baru belajar melukis sejak kelas 9." Ucapnya.

"Wahh... Kelas 9? Berarti masih senior aku dong yang sudah bisa melukis sejak TK." Ungkap Gia bangga.

"Wah. Benarkah?" Tanya Egi berdecak kagum.

"Iyaa!!" Jawab Gia meyakinkan. Dan kali ini tanpa kebohongan.

"Berarti kamu jauh lebih hebat dari aku yaa!!" Puji Egi. Gia hanya tersenyum bangga.

"Oh iya. Ngomong-ngomong, kamu sering melukis di sini?" Lanjutnya bertanya.

"Iya, kebetulan bukit ini dekat rumah aku. Jadi setiap Minggu aku sering kesini buat melukis." Jawab Gia sembari lanjut melukis.

"Kalau kamu?" Tanya Gia balik.

"Sebenarnya aku baru datang kesini. Aku baru tau tempat ini dari media sosial. Kata orang-orang pemandangan di tempat ini sangat bagus dan cocok untuk para pelukis yang ingin melukis. Jadi aku coba datang kemari dan ternyata benar tempat ini memiliki bukit yang pemandangan sangat bagus. Aku bisa lihat sekitaran bukit banyak sekali pemandangan yang asli." Jawab Egi panjang lebar.

"Benar! Aku kira kamu tidak suka melukis. Kebanyakan dari kelas kita tidak ada yang bisa melukis selain aku. Aku pikir aku saja yang bisa melukis ternyata kamu juga. Sering-seringlah datang kesini setiap Minggu biar kita bisa melukis bersama." Goda Gia sembari menatap Egi.

"Iya aku pasti akan sering berkunjung kesini untuk melukis." Ucap Egi terkekeh.

Mereka mulai melukis kembali. Sembari melukis, tak lupa mereka berbincang-bincang baik tentang pelajaran ataupun sekolah.

"Ternyata kamu pintar juga ya dalam melukis bukan hanya pintar matematika saja. Ternyata kamu jago juga ya dalam melukis." Puji Gia lagi.

"Hahaha... Sebenarnya ada satu keahlian yang belum bisa kupelajari dalam melukis." Ungkap Egi.

"Apa itu?" Tanya Gia penasaran.

"Melukis wajah orang!" Jawabnya.

"Serius kamu gak bisa?" Tanya Gia kaget.

"Iya, seandainya ada seseorang yang bisa dan mau mengajari aku melukis wajah." Harap Egi.

"Aku bisa kok Gi!" Ucap Gia sembari menunjuk diri sendiri.

"Benarkah?"

"Iyaa!! Kalau kamu mau belajar, aku bisa mengajari kamu dari sekarang." Tawar Gia.

"Ah syukurlah! Akhirnya aku menemukan orang yang sukarelawan mau mengajariku." Ucap Egi senang.

"Tapi maaf tidak gratis! Kamu harus bayar!" Ucap Gia. Membuat Egi langsung mengangkat satu alisnya

"Maksud kamu, aku harus membayar kamu gitu?"

"Iya, bayar!"

Egi langsung terkekeh mendengar pernyataan Gia.

"Bayar berapa?"

"Gak mahal. Kamu harus bayar dengan ilmu juga. Kamu harus mengajari aku matematika sampai pintar dan aku akan mengajari kamu melukis dengan baik dan benar sampai hasilnya jadi bagus. Bagaimana?" Jelas Gia.

"Baiklah. Setuju!" Egi dan Gia saling berjabat tangan dan tertawa bersama.

*****

Keesokan harinya.

Di perjalanan ke sekolahnya.

Gia melihat ada seorang pedagang yang berjualan permen lollipop di pinggir jalan. Gia langsung teringat Egi. Kemudian Gia memutuskan untuk membeli permen lollipop tersebut untuk diberikan kepada Egi.

.....

Sesampainya di sekolah.

Seperti biasa Gia bertegur sapa dengan Egi, saat akan mengobrol tiba-tiba bell masuk kelas berbunyi. Dan mereka tak jadi mengobrol dan kembali ke tempat duduknya masing-masing untuk belajar

.....

Pulang sekolah.

Gia menghampiri Egi di halte yang seperti biasa ia sedang menunggu bus.

"Egi!"

"Eh Gia!"

"Tadi aku sama kamu belum sempat ngobrol gara-gara pak Hendrik ngajar fisika lama banget. Masa tadi dikasih waktu istirahat bentar banget cuman 10 menit. Kesel deh!" Keluh Gia. Egi langsung tertawa kecil.

"Ada apa?" Tanya Egi setelah berhenti menertawakan keluhannya.

"Egi, kapan kamu akan mulai mengajari aku matematika?" Tanya Gia menagih sesuai perjanjiannya kemarin saat di bukit. Egi berpikir sejenak.

"Sepertinya gak bisa hari ini. Aku lagi sibuk. Lainkali saja ya!" Ucap Egi dengan halus.

"Hmm.. Baiklah, btw kamu sibuk apa gitu?" Tanya Gia penasaran.

"Ada saja!" Ucap Egi singkat.

"Hmm... Ya sudah! Kapan-kapan saja kalau kamu ada waktu." Ujar Gia sembari mempertahankan senyumannya

"Iya!" Ucap Egi sembari mengangguk.

"Luka di pipi kamu sepertinya sudah sembuh dan lebam pun sudah gak kelihatan lagi." Ucap Egi sambil memperhatikan wajah Gia.

"Ah iya! Berkat salep dan obat merah yang kamu kasih ke aku, sekarang pipi aku sudah gak lebam lagi."

"Syukurlah!"

Tak lama kemudian bus datang.

"Aku pulang dulu ya!" Pamit Egi.

"Tunggu dulu!" Cegah Gia. Egi langsung menoleh ke arahnya.

"Ada apa?"

Gia langsung mengeluarkan satu permen lollipop dari kantungnya yang tadi pagi ia beli.

"Ini buat kamu!"

"Buat aku?"

"Iya sebagai tanda terima kasih dari aku karena kamu sudah banyak membantu aku." Ucap Gia sembari tersenyum sumringah.

Egi langsung tersenyum tipis dan menerima permen lollipop dari Gia.

"Terima kasih... Aku pulang duluan yaa!!"

"Hati-hati yaa!!" ucap Gia sambil menadahkan tangannya.

Bus pun kembali melaju meninggalkan halte, Gia terus menadahkan tangannya walaupun bus sudah melaju jauh hingga tak terlihat lagi.

Di dalam Bus.

Egi langsung tersenyum sembari memperhatikan permen lolipop pemberian Gia yang ia genggam di tangannya.

...----------------...

...Bersambung....

Episodes
1 GIA.
2 Kecewa.
3 Cowok Ganteng.
4 Adi.
5 Tak tahu diri.
6 Murid baru.
7 Kagum.
8 Tertipu.
9 Aku bukan pelakor.
10 Perhatian Egi.
11 Baper.
12 Kenyataan yang tak di ketahui.
13 Ayah Gia dan Rencana.
14 Sisi baik Adi.
15 Kencan Kedua membawa fakta.
16 Kejadian tak terduga.
17 Pulpen ajaib.
18 Asmara Hanna dan Adi.
19 Curang.
20 Sial.
21 Egi yang malang.
22 IQ minus.
23 Mencurigakan.
24 Ketahuan.
25 Tertipu 2.
26 Kencan yang Menyebalkan.
27 Kencan yang Menyebalkan part II.
28 Nasib yang berbeda.
29 Duka Adi dan Egi.
30 Kecurigaan Adi.
31 Gia si pembohong handal.
32 Pertanyaan jebakan.
33 Kebenaran.
34 Pertikaian.
35 Keberuntungan masih berpihak.
36 Pengawasan ketat.
37 Nekat.
38 Menari di atas penderitaan orang.
39 Kabar mengejutkan.
40 Kebusukan Gia.
41 Emosi Egi.
42 Takut.
43 Hari pertama bekerja.
44 Bekerja lagi.
45 Senyuman palsu.
46 Benalu.
47 Kerja seharian.
48 Berulah.
49 Berulang kali.
50 Petaka.
51 Merawat Egi.
52 Perhatian Gia.
53 Kepergok.
54 Hanya Gia.
55 Baper 2.
56 Belajar bersama.
57 Oh, ternyata?
58 Reaksi obat.
59 Reaksi obat 2.
60 Saling menyalahkan.
61 Ketahuan
62 Sebagian bukti
63 Bukti baru
64 Ketinggalan
65 Flashdisk
66 Cemas dek?
67 Permainan
68 21+ Gombalan panas
69 Cara terbaik
70 Terbongkar
Episodes

Updated 70 Episodes

1
GIA.
2
Kecewa.
3
Cowok Ganteng.
4
Adi.
5
Tak tahu diri.
6
Murid baru.
7
Kagum.
8
Tertipu.
9
Aku bukan pelakor.
10
Perhatian Egi.
11
Baper.
12
Kenyataan yang tak di ketahui.
13
Ayah Gia dan Rencana.
14
Sisi baik Adi.
15
Kencan Kedua membawa fakta.
16
Kejadian tak terduga.
17
Pulpen ajaib.
18
Asmara Hanna dan Adi.
19
Curang.
20
Sial.
21
Egi yang malang.
22
IQ minus.
23
Mencurigakan.
24
Ketahuan.
25
Tertipu 2.
26
Kencan yang Menyebalkan.
27
Kencan yang Menyebalkan part II.
28
Nasib yang berbeda.
29
Duka Adi dan Egi.
30
Kecurigaan Adi.
31
Gia si pembohong handal.
32
Pertanyaan jebakan.
33
Kebenaran.
34
Pertikaian.
35
Keberuntungan masih berpihak.
36
Pengawasan ketat.
37
Nekat.
38
Menari di atas penderitaan orang.
39
Kabar mengejutkan.
40
Kebusukan Gia.
41
Emosi Egi.
42
Takut.
43
Hari pertama bekerja.
44
Bekerja lagi.
45
Senyuman palsu.
46
Benalu.
47
Kerja seharian.
48
Berulah.
49
Berulang kali.
50
Petaka.
51
Merawat Egi.
52
Perhatian Gia.
53
Kepergok.
54
Hanya Gia.
55
Baper 2.
56
Belajar bersama.
57
Oh, ternyata?
58
Reaksi obat.
59
Reaksi obat 2.
60
Saling menyalahkan.
61
Ketahuan
62
Sebagian bukti
63
Bukti baru
64
Ketinggalan
65
Flashdisk
66
Cemas dek?
67
Permainan
68
21+ Gombalan panas
69
Cara terbaik
70
Terbongkar

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!