Kencan Kedua membawa fakta.

Hari-hari berlalu.

Waktu hampir mendekati ujian.

Seperti biasa Gia selalu bertengkar dengan Adi, baik setiap istirahat maupun sepulang sekolah. Kadang ia juga selalu menyempatkan diri untuk menjahili Adi dengan berbagai ide konyol dan tingkah gila yang ia lakukan. Biasanya Hanna sering turut membantunya adu mulut dengan Adi atau ikut-ikutan menjahilinya. Tapi kini Hanna lebih memilih menjadi seorang pendiam dari pada menjahili orang atau mencari masalah.

Setiap kali Gia melihat Egi, ia selalu berhenti bertengkar dengan Adi dan pura-pura menjadi baik dan pendiam di depannya. Kadang ia selalu kabur disaat dirinya hampir ketahuan.

*****

Hari Minggu.

Setelah pulang dari kegiatannya melukis di bukit, Gia menelepon Hanna.

"Halo Han!"

^^^"Iya Gi?"^^^

"Han, nanti malam anterin Gue yuk!"

^^^"Mau kemana malam-malam? Gue lagi sibuk ngapalin."^^^

"Lahh, kok tumben Lo ngapalin? Biasanya juga Lo gak pernah ngapalin." Ketus Gia.

^^^"Lahh... Lo gak inget? Besok kan ujian, jadi Gue harus ngapalin. Btw emangnya Lo mau ajak Gue kemana?"^^^

"Gue mau kencan lagi sama pacar Gue yang baru. Lo temenin yaa!!"

^^^"Hmm.. Jiwa buruknya mulai meronta-ronta lagi." Celetuk Hanna.^^^

"Apa Lo bilang?"

^^^"Eh enggak! Hehe... Btw Lo pacaran sama siapa lagi? Jangan-jangan Lo pacaran lagi sama kakek-kakek." Ledek Hanna sembari tertawa.^^^

"Ih bukan! Ini masih muda kok, dia kerja di bank."

^^^"Lo ini aneh! Besok ujian! Lo malah sibuk pacaran, bukannya ngapalin." Cibir Hanna.^^^

"Ya terserah Gue dong! Suka-suka Gue! Kalau Lo gak sanggup anter Gue, bilang saja gak sanggup! Jangan sambil menyinggung Gue kayak gitu juga! Emangnya Gue senang di ledek kayak gitu sama Lo hahh?!" Sewot Gia tak terima dengan perkataan Hanna.

^^^"Ya sudah kalau gitu terserah! Suka-suka Lo saja! Gue tutup teleponnya! Gue mau lanjut ngapalin! Bye..." Hanna langsung menutup teleponnya.^^^

"Ih dihh! Sombong banget! Main tutup telepon saja. Padahal Gue yang telepon, dasar gak sopan banget!" Gia mendengus kesal.

Kemudian ia turun ke bawah untuk meminta izin pada sang ibu agar mau mengizinkannya berkencan lagi dengan kekasih barunya nanti malam.

"Mah, nanti malam, Gia boleh gak keluar?"

"Mau ngapain?" Tanya ibunya berdenyit heran.

"Ada yang ngajak Gia ketemuan, tapi dia pengen ketemu Gia malam ini." Jawab Gia.

"Gak boleh!" Tegas sang ibu.

"Lohh,,, kenapa mah?" Tanya Gia dengan nada merengek.

"Gak baik kalau malam-malam pacaran!" Jelas sang ibu.

"Tapi mah, dia pengen ketemunya malam ini di restoran. Kali ini saja, tolong izinkan Gia keluar malam ini." Gia terus merengek.

"Mama bilang gak boleh ya gak boleh! Cewek gak boleh keluar malam-malam apalagi pacaran. Kecuali keluar siang gapapa." Jelas lagi sang ibu. Gia langsung menunjukkan ekspresi wajah cemberut di depan ibunya.

"Lagian pacar kamu yang mana lagi? Awas loh kalau sama yang sudah beristri lagi!"

"Enggak mah! Ini yang baru kok masih muda, kerjanya di bank, dan belum beristri!" Ucap Gia mencoba meyakinkan ibunya sambil menunjukan foto kekasih barunya.

"Owalahhh... Iya benar masih muda! Kelihatannya dia berumur 23 tahun." Sang ibu mulai berdecak kagum setelah melihat foto kekasih baru putrinya sembari menebak umurnya.

"32 mah!" Tukas Gia.

"Hah 32? Mama kira dia berumur 23 atau 25. Soalnya baby face banget mukanya." Ucap ibunya berdecak kaget.

"Iya mah!"

"Ngomong-ngomong, kamu sudah ngapalin belum? Besok kan ujian! Kamu malah ribut mau kencan."

"Nanti saja pulangnya mah."

"Ya sudah kalau begitu, bentar yaa! Jangan lama-lama! Kamu harus ngapalin karna besok kamu harus ujian!"

"Siap mah!"

Setelah selesai berbincang-bincang dengan ibunya tentang kekasih barunya. Gia kembali ke kamarnya lalu mengirim pesan pada kekasih barunya untuk bertemu dengannya di siang hari saja sesuai perintah ibunya. Dan kekasih barunya menyetujuinya.

*****

Di suatu Restoran.

Gia sedang duduk berdua dengan pria yang di kencaninya. Kekasih barunya berpenampilan berkelas mengenakan blazer berwarna putih. Sementara Gia mengenakan dress berwarna putih senada dengan kekasihnya.

Kali ini ia jujur mengenai statusnya yang masih seorang pelajar.

"Hmm.. Jadi masih SMA yaa??" Tanya kekasihnya yang bernama Andrean.

"Iyaa!!" Jawab Gia dengan malu-malu.

"Oh, masih kecil berarti." Celetuk Andrean.

"Aku sudah dewasa kok. Sebentar lagi umurku 18 tahun." Ucap Gia.

"Oh!" Ucap singkat Andrean.

Lalu mereka kembali melanjutkan makan hidangan yang disajikan di meja.

Selama makan bersama, suasana berubah menjadi canggung. Bahkan Gia gemetaran saat memegang pisau dan garpu karna ia belum terbiasa makan pakai itu.

"Kenapa?" Tanya Andrean tiba-tiba.

"Hah! Apa?" Gia langsung berdenyit kaget.

"Kenapa gemetaran? Apa kamu gak bisa memotong dagingnya?" Tebak Andrean. Gia langsung cengengesan malu-malu.

Kemudian Andrean mengambil alih piringnya dan mulai memotongi makanan yang seharusnya di potong dulu sebelum di makan. Gia langsung berdecak kagum melihat betapa perhatiannya pria itu yang mulai memahami dirinya.

"Ini makan!" Ucap Andrean setelah memotong steak miliknya.

"Terima kasih!"

Kemudian Gia langsung melahap makanannya menggunakan garpu.

"Sepertinya kamu belum terbiasa makan pakai pisau dan garpu." Celetuk lagi Andrean membuat Gia langsung tiba-tiba tersedak batuk-batuk setelah mendengar ucapan yang di lontarkan dari mulut kekasih barunya itu.

Dengan cepat ia langsung meneguk segelas air hingga habis. Andrean hanya diam biasa saja menatap Gia yang menunjukkan reaksinya yang panik.

Setelah di rasa tenggorokannya sudah membaik, Gia Kembali mengalihkan pandangannya ke Andrean sembari tersenyum lebar sambil menggelengkan pelan kepalanya mewakili jawaban dari pertanyaan yang di lontarkan Andrean tadi.

"Ayo dimakan lagi!" Ucap Andrean sembari menyendokan makanan ke dalam mulutnya. Gia mengangguk pelan lalu kembali makan.

Setelah selesai makan. Mereka kembali berbincang-bincang.

"Ngomong-ngomong, kamu ini anak pak Heri dan istrinya kan?" Tanya Andrean. Gia langsung kaget dan kembali tersedak lagi air liur.

Bagaimana Andrean bisa mengetahui nama orangtuanya? Padahal dirinya sendiri baru saja berkenalan dengannya dan belum mengenalkan nama kedua orangtuanya.

"Ah iya. Kok tau?" Tanya balik Gia cengar-cengir sembari menggeser poninya.

"Aku lihat di profil kamu ada foto kamu bersama kedua orangtuamu. Dan aku sangat mengenal mereka."

"Benarkah?" Gia langsung terkejut.

"Iya karna 12 tahun yang lalu, orang tua kamu punya hutang pada keluargaku." Ungkap Andrean.

"Apa hutang?" Gia langsung mendongak kaget.

"Iya hutang. Hutang yang sampai saat ini belum terbayarkan."

Jleeebbb!!

Gia di buat kaget dengan kenyataan yang baru saja di ungkapkan kekasihnya itu. Ia tak yakin apakah yang diucapkannya barusan benar atau tidak?

"Sudah sangat lama aku mencari orangtuamu untuk menagih hutang mereka. Dan pada akhirnya takdir membantuku dengan mempertemukanku dengan kamu, ini jadi semakin mudah bagiku agar orang tua kamu segera melunasi hutang mereka pada orangtuaku." Andrean mulai memperjelas.

"Hutang apa ya? Kok kamu bicara begitu? Sepertinya kamu salah orang! Orangtuaku belum pernah pinjem uang ke siapa-siapa!" Tegas Gia.

"Biarku jelaskan!" Kemudian Andrean mulai menceritakan.

"12 tahun yang lalu, ibu kamu pernah bekerja sebagai ART (Asisten Rumah Tangga) di rumahku dan ayah kamu pak Heri bekerja sebagai supir pribadi keluargaku. Saat itu mereka bekerja selama hampir 2 tahun lamanya. Selama bekerja, ibu dan ayah kamu selalu pinjam uang ke orang tuaku hingga saat ini masih belum terbayarkan. Bahkan pinjamannya tak main-main. Kamu mau tau berapa total uang yang berhasil orang tua kamu pinjam dari orang tuaku selama 2 tahun bekerja?"

Gia menggelengkan kepala tidak tahu.

"250 juta!!"

Gia langsung mendongak kaget, matanya membulat, dan mulutnya ternganga. Rasanya sulit sekali di percaya orang tuanya bisa berani pinjam uang sebanyak itu pada orang lain.

Tadinya ia pikir, ia akan berkencan romantis hari ini. Namun ia tak menyangka malah akan sebaliknya, ia malah mengetahui fakta kelam mengenai kedua orang tuanya dari pernyataan yang di lontarkan kekasih barunya yang merupakan seorang penagih hutang orang tuanya.

...----------------...

...Bersambung....

Episodes
1 GIA.
2 Kecewa.
3 Cowok Ganteng.
4 Adi.
5 Tak tahu diri.
6 Murid baru.
7 Kagum.
8 Tertipu.
9 Aku bukan pelakor.
10 Perhatian Egi.
11 Baper.
12 Kenyataan yang tak di ketahui.
13 Ayah Gia dan Rencana.
14 Sisi baik Adi.
15 Kencan Kedua membawa fakta.
16 Kejadian tak terduga.
17 Pulpen ajaib.
18 Asmara Hanna dan Adi.
19 Curang.
20 Sial.
21 Egi yang malang.
22 IQ minus.
23 Mencurigakan.
24 Ketahuan.
25 Tertipu 2.
26 Kencan yang Menyebalkan.
27 Kencan yang Menyebalkan part II.
28 Nasib yang berbeda.
29 Duka Adi dan Egi.
30 Kecurigaan Adi.
31 Gia si pembohong handal.
32 Pertanyaan jebakan.
33 Kebenaran.
34 Pertikaian.
35 Keberuntungan masih berpihak.
36 Pengawasan ketat.
37 Nekat.
38 Menari di atas penderitaan orang.
39 Kabar mengejutkan.
40 Kebusukan Gia.
41 Emosi Egi.
42 Takut.
43 Hari pertama bekerja.
44 Bekerja lagi.
45 Senyuman palsu.
46 Benalu.
47 Kerja seharian.
48 Berulah.
49 Berulang kali.
50 Petaka.
51 Merawat Egi.
52 Perhatian Gia.
53 Kepergok.
54 Hanya Gia.
55 Baper 2.
56 Belajar bersama.
57 Oh, ternyata?
58 Reaksi obat.
59 Reaksi obat 2.
60 Saling menyalahkan.
61 Ketahuan
62 Sebagian bukti
63 Bukti baru
64 Ketinggalan
65 Flashdisk
66 Cemas dek?
67 Permainan
68 21+ Gombalan panas
69 Cara terbaik
70 Terbongkar
Episodes

Updated 70 Episodes

1
GIA.
2
Kecewa.
3
Cowok Ganteng.
4
Adi.
5
Tak tahu diri.
6
Murid baru.
7
Kagum.
8
Tertipu.
9
Aku bukan pelakor.
10
Perhatian Egi.
11
Baper.
12
Kenyataan yang tak di ketahui.
13
Ayah Gia dan Rencana.
14
Sisi baik Adi.
15
Kencan Kedua membawa fakta.
16
Kejadian tak terduga.
17
Pulpen ajaib.
18
Asmara Hanna dan Adi.
19
Curang.
20
Sial.
21
Egi yang malang.
22
IQ minus.
23
Mencurigakan.
24
Ketahuan.
25
Tertipu 2.
26
Kencan yang Menyebalkan.
27
Kencan yang Menyebalkan part II.
28
Nasib yang berbeda.
29
Duka Adi dan Egi.
30
Kecurigaan Adi.
31
Gia si pembohong handal.
32
Pertanyaan jebakan.
33
Kebenaran.
34
Pertikaian.
35
Keberuntungan masih berpihak.
36
Pengawasan ketat.
37
Nekat.
38
Menari di atas penderitaan orang.
39
Kabar mengejutkan.
40
Kebusukan Gia.
41
Emosi Egi.
42
Takut.
43
Hari pertama bekerja.
44
Bekerja lagi.
45
Senyuman palsu.
46
Benalu.
47
Kerja seharian.
48
Berulah.
49
Berulang kali.
50
Petaka.
51
Merawat Egi.
52
Perhatian Gia.
53
Kepergok.
54
Hanya Gia.
55
Baper 2.
56
Belajar bersama.
57
Oh, ternyata?
58
Reaksi obat.
59
Reaksi obat 2.
60
Saling menyalahkan.
61
Ketahuan
62
Sebagian bukti
63
Bukti baru
64
Ketinggalan
65
Flashdisk
66
Cemas dek?
67
Permainan
68
21+ Gombalan panas
69
Cara terbaik
70
Terbongkar

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!