Kagum.

Sesampainya di Rumah.

Gia berjalan menuju kamarnya dengan rasa senang yang terpancarkan dari wajahnya.

Sesampainya di kamar, ia langsung merebahkan diri di kasur sambil ngos-ngosan akibat kecapekan.

Kemudian ia mengambil lukisan wajah Egi yang waktu itu ia lukis.

"Wahh... Gak nyangka! Ternyata cowok ganteng yang waktu itu Gue temui namanya Egi. Wah ganteng banget dia. Seneng banget bisa sekelas sama dia." Gia berbicara sendiri sambil senyum-senyum sendiri.

"Ya Tuhan.. Seneng bangetttt!!!" Lanjutnya sambil berguling-guling di kasurnya sampai terjatuh.

*****

Keesokan paginya.

Gia sedang berias diri, ia mengisir rambutnya yang kusut akibat tak disisir selama empat hari karna sifat pemalasnya yang tak mau menyisir rambut.

"Duh, kusut banget! Susah banget nih disisir!" Gerutu Gia berkutat dengan rambut.

Tak ada pilihan, kemudian ia pergi ke bawah mencari-cari ibunya sambil memanggil-manggilnya.

"Ma! mama! mama!"

"Ada apa sayang?" Tanya ibunya sehabis dari dapur.

"Ma, sisirin rambut Gia!" Pinta Gia sambil merengek memegangi sisir yang masih menyangkut di rambutnya.

"Kamu ini manja banget, sisirin saja sendiri!" Tolak ibunya.

"Ahhh.. Mama, Rambut Gia gak bisa disisir, susah banget. Sisirin maa!" rengek Gia lagi.

"Haduuhh... Pinta sisirin ke adek kamu sana! Mama lagi sibuk masak!" Ucap ibunya lalu kembali pergi ke dapur.

"Mama!" Rengek Gia lagi yang masih berdiam diri di tengah rumah.

*****

Beberapa hari kemudian...

Di Sekolah.

Di jam pelajaran. Di saat Ibu Biologi bernama Bu Ranti sedang menerangkan pelajaran. Gia Sedang sibuk menatap Egi sambil senyum-senyum sendiri.

"Giaa!" panggil Bu Ranti.

Namun Gia tak menyahutnya dan terus menatap Egi.

"Giaaa!!!" Panggil lagi Bu Ranti dengan nada tinggi. Seketika Gia langsung kaget dan panik.

"Iya bu!" Gia langsung menegakkan badannya.

"Ngapain senyum-senyum sendiri?" Tegur Bu guru.

"Tidak Bu!" Ucap Gia dengan wajah cengok.

"Fokus ke depan!"

"Baik Bu!"

Bu guru langsung kembali mengajar setelah menegur Gia, sambil menulis beberapa materi di papan tulis. Sementara Gia kembali memandangi Egi dari belakang tanpa mempedulikan teguran Bu guru.

*****

Pukul 2 siang

Semua siswa pulang. Terkecuali sebagian siswa yang mengikuti ekskul, mereka wajib mengikuti kegiatan ekskul yang mereka ikuti.

Di lapangan basket.

Egi sedang bermain basket dengan sangat lihai bersama teman-teman yang lainnya yang masih satu kelas dan yang beda kelas tapi satu ekskul dengannya.

Egi mengikuti ekskul basket bersama Adi yang sudah terlebih dahulu mendaftar ekskul.

Dengan lihainya, beberapa kali Egi terus berhasil memasukan bola ke dalam ring. Sementara Adi yang menjadi lawannya selalu kalah menangkap bola dan selalu gagal memasukannya. Para pelatih beserta tim cheerleader bersorak riang untuk Egi sampai tim cheerleader langsung mengeluarkan lagu yel-yel buatan mereka untuk Egi versi lagu balonku.

..."Egi kita paling ganteng......

...Egi kita selalu jago......

...Egi kita pasti menang......

...Walaupun dia kalah......

...kita tetap anggap dia menang..."...

Tim cheerleader bernyanyi hingga 3x untuk merayakan kemenangan Egi di hari pertama ia bermain basket di sekolah ini.

"Permainan yang bagus Egi! Baru pertama kali bermain. Kamu sudah membuktikan kemampuan kamu dan kehebatan dalam bermain basket." Puji sang pelatih sambil memberi tos.

"Terima kasih pak!" Ucap Egi tersenyum senang.

Para pemain lainnya menghampiri Egi sambil berjabat tangan mengucapkan selamat untuknya.

Adi langsung menatap geram melihat Egi yang berhasil mengalahkan timnya dan menerima banyak pujian dari orang-orang.

Adi menatap Egi dengan sorot mata yang penuh dendam sambil memegang bola basket di tangannya, lalu ia pergi meninggalkan lapangan dengan penuh keemosian.

Setelah selesai bermain basket, Egi langsung duduk istirahat sembari mengelap keringatnya. Setelah itu ia meneguk sebotol air yang ia bawa dari rumah hingga menyisakan setengahnya. Tiba-tiba tanpa di ketahui, Hanna datang dan berdiri di belakang Egi.

"Hai Egi!" Sapa Hanna sembari tersenyum riang.

"Hanna, kamu di sini?" Tanya Egi sedikit kaget.

"Iya!" Jawab Hanna cengengesan.

"Kamu ikut ekskul basket juga?" Tanya Egi penasaran.

"Aahh, enggaakk!! Sebenarnya aku ikutan ekskul bahasa Inggris, kebetulan tutor yang mengajarnya enggak datang jadi di liburkan. Jadi aku sengaja ke sini buat lihat kamu main basket." Jawab Hanna sembari masih menahan senyumnya.

"Kamu tau dari mana aku ikutan ekskul basket?" Tanya Egi lagi.

"Tadi pas jam istirahat, aku lihat kamu sedang mendaftar ke ketua tim basket."

"Oohh!!" Ucap Egi singkat.

"Kamu belum pulang?" Tanya lagi Egi.

"Enggak, nanti saja hehe!" Jawab Hanna sambil cengengesan. Egi langsung mengangguk mengiyakan perkataan Hanna.

"Egi, tadi kamu jago banget main basket. Kamu hebat!" Lanjutnya memuji.

"Terima kasih!"

"Ini buat kamu!" Ucap Hanna seraya memberikan sebotol air mineral.

"Gak usah terima kasih! Ini aku ada kok." Tolak Egi halus sembari menunjukkan minuman yang ia bawa.

"Ah iya, Gi?" Hanna langsung menurunkan botol minumannya yang tadinya akan ia berikan pada Egi. Tapi, sayangnya Egi menolak pemberiannya. Hanna langsung menunjukkan raut wajah yang sedikit kecewa.

"Kamu mau makan apa? Nanti aku belikan." Tawar Hanna sembari kembali tersenyum.

"Gak usah makasih! Aku bawa makanan kok." Tolak lagi Egi. Hanna langsung kembali menunjukkan ekspresi kecewanya.

Setelah istirahat, Egi pamit pada Hanna untuk pergi. Setelah itu ia langsung pergi keluar dari area lapangan.

"Egi tunggu!" Hanna mengikutinya sambil mengejar Egi.

*****

Di Taman.

Egi sedang duduk di bangku taman sembari makan nasi goreng yang ia bawa dari rumah. Tiba-tiba Hanna datang lalu menyapanya lagi.

"Hai Egi!"

"Hai Han, kamu ke sini sendiri?" Tanya Egi karna tadi ia lupa menanyakan Gia.

"Iya Gi!" Jawab Hanna.

"Kemana Gia? Biasanya kalian setiap kemana-mana selalu berbarengan."

"Giaa?? Dia sudah pulang duluan." Jawab Hanna bohong.

Padahal beberapa saat yang lalu, Gia sempat mencari-cari keberadaan Egi. Namun Hanna berhasil mengelabuinya dengan mengatakan kalau Egi sudah pulang duluan naik motor bersama saudaranya, agar Gia berhenti mencarinya dan segera pulang ke rumahnya.

Gia tak tahu kalau Egi mengikuti ekskul basket, yang tahu hanya Hanna saja seorang yang tadi secara kebetulan melihat Egi saat ia hendak ke kantin. Ia melihat Egi sedang mendaftar ekskul ke ketua tim basket.

"Aku boleh gak ikut duduk di situ." Lanjutnya meminta izin.

"Boleh, silahkan!" Ucap Egi sembari menggeser tubuhnya. Hanna langsung senang lalu duduk di samping Egi.

"Terima kasih!"

Setelah Hanna duduk, Egi langsung beranjak pindah tempat duduk ke bangku panjang yang sama yang berada di depannya. Hanna langsung kaget dan bingung, ia langsung bangkit menghampiri Egi.

"Egi, kenapa kamu pindah?" Tanya Hanna.

"Sebenarnya aku gak terlalu suka kalau lagi makan ada orang yang duduk di sebelah aku." Jawab Egi membuat Hanna terkejut.

"Lahh,, memang kenapa? Takut di pintain makanan? Ya gak akan lah! Santai saja!" Ucap Hanna mencoba meyakinkan.

"Bukan! Hanya saja aku risih kalau ada orang yang duduk di samping aku saat aku lagi makan." Ungkap Egi. Seketika Hanna langsung kesal tapi ia mencoba bersabar.

"Risih? Emangnya aku ini apa? Padahal gapapa harusnya kamu biasakan makan dekat orang gapapa kok." Ucap Hanna lalu kembali duduk di samping Egi.

Tapi dengan cepat Egi langsung menghindar dan kembali pindah ke tempat duduknya yang semula. Hanna semakin emosi dan menghampiri Egi sambil memarahinya.

"Egi, kamu itu kenapa sih jadi orang aneh banget? Makan gak mau sama orang, duduk gak mau deket sama orang, kamu itu kenapa sih aneh banget? Gak suka gaul ya?"

"Ah bukan gitu.." Belum selesai Egi menjawab, Hanna langsung menyelanya sambil terus marah-marah.

"Kamu itu aneh, sombong, dan gak mau berbaur! Emangnya kamu ini siapa hah? Mau jadi apa kamu nanti tanpa bantuan orang-orang kalo kamu sendiri gak mau deket sama orang! Jangan mentang-mentang kamu itu punya muka ganteng dan otak pinter tapi asal sekolah kamu dari sekolah kecil saja sudah sombong! Berbaur sama orang saja gak mau. Dasar sombong!!" Pekik Hanna sambil merendahkannya lalu pergi dengan penuh keemosian.

Egi langsung terdiam sejenak mencoba tak mempedulikan perkataan Hanna, lalu ia kembali melanjutkan makan siangnya.

*****

Keesokan paginya.

Pukul 06.45 Pagi.

Di kelas, sebelum jam pelajaran dimulai.

Gia sedang sarapan mie goreng di kelas. Tiba-tiba Hanna datang dengan emosi sambil membanting tasnya ke meja, membuat Gia dan seisi kelas kaget.

"Lo kenapa Han? Datang-datang malah ngamuk." Tanya Gia kesal, karna sedang asiknya sarapan tiba-tiba di ganggu Hanna yang lagi emosi

Hanna langsung menjawab dengan emosi yang masih menggebu-gebu.

"Gi, mulai sekarang Gue mau duduk lagi sama Lo! Gue males duduk sama orang kayak gitu."

"Lah, emangnya Egi kenapa?" Tanya Gia penasaran.

"Si Egi itu anak yang sombong, angkuh, dan sok cakep! Dia itu sombong banget! Saking sombongnya bahkan Gue duduk di dekat dia saja dia malah menjauh. Nyebelin bangetkan!" Ucap Hanna masih tersulut emosi sambil melipat tangannya.

"Wah yang bener?" Tanya Gia tak yakin.

"Kalau Lo gak percaya. Coba saja Lo deketin si Egi. Dia pasti bakal menjauh! Dia itu susah di deketin! Gue jadi males naksir lagi sama dia!"

"Ya sudah kalau gitu! Gue saja yang duduk sama Egi." Ucap Gia sembari cengar-cengir.

"Silahkaann!! Coba saja kalau Lo bisa! Lagian si Egi pasti gak bakal mau duduk sama siapapun. Duduk sama Gue saja gak mau apalagi sama Lo. Dia itu lebih suka menyendiri." Ketus Hanna.

"Lahh Gue ini wangi lohh!! Mungkin Lo lagi bau badan kali, makanya sekarang dia gak mau duduk sama Lo!" Cibir Gia.

Walaupun ia tak tahu kejadian yang sebenarnya. Tapi Gia menduga, kalau hari ini Egi tak mau sebangku dengan Hanna.

"Berani banget ya Lo ngatain Gue kayak gitu! Gue ini gak bau! Kemaren saja sebelum duduk deket si Egi, Gue pakai parfum dulu." Ketus Hanna.

"Kemarin?" Gia langsung tanda tanya, lalu ia hanya bisa diam tak menjawab. Tanpa pikir panjang, kemudian ia kembali melanjutkan ritual makan mienya tanpa memedulikan Hanna yang sedang emosi.

"Dari sekolah kecil saja dia sudah sombong gitu, mentang-mentang pinter. Kayaknya dia juga berasal dari keluarga miskin makanya asal sekolahnya dari sekolah kecil yang gak punya nama sama sekali..." Hanna terus menyerocos sambil duduk.

Drririringriring... (Bel masuk kelas berbunyi)

Para siswa masuk dan kembali melanjutkan pelajaran yaitu pelajaran matematika. Guru matematika yang berkumis nyentrik bernama pak Wiryo masuk ke dalam kelas.

"Anak-anak hari ini kita akan melanjutkan materi dari Fungsi Kuadrat. Ada yang masih ingat apa itu barisan Fungsi Kuadrat?"

Para siswa hanya terdiam sembari mengangguk.

"Adi, apa kamu masih ingat apa itu fungsi kuadrat?" Tanya pak Wiryo pada Adi.

"Saya ingat pak, fungsi kuadrat adalah relasi kuadrat yang digunakan untuk menghubungkan antara daerah asal dan daerah hasil." Jawab Adi dengan lantang.

"Bagus, kalau bentuk umum fungsi kuadratnya bagaimana Di?" Tanya pak Wiryo lagi.

Adi mulai berpikir dan mencoba mengingat-ingat. Kemudian Adi tak ingat rumusnya lalu mencoba membuka buku.

"Eittt!! Jangan lihat buku!" Tegur pak Wiryo.

"Ini pelajaran SMP loh. Masa kamu gak ingat." Lanjutnya. Membuat Adi sedikit menunduk malu.

"Maaf, saya tak ingat pak." Ucap Adi.

"Adi, kenapa wajah kamu jadi pucat begitu dan badan kamu kurus begitu, kenapa?" Tanya pak Wiryo setelah memperhatikan Adi yang wajahnya sangat pucat disertai badannya yang kurus kerempeng.

"Saya tidak apa-apa pak!" Jawab Adi.

Pak guru langsung menggelengkan kepalanya.

Hanna langsung berbisik ke telinga Gia.

"Kayaknya si Adi jadi kurus gara-gara kalah olimpiade."

Gia langsung tertawa kecil dan berbalas bisik.

"Masih mending cuman kurus doang! Untungnya gak sampai gila!"

Hanna dan Gia langsung tertawa cekikikan yang langsung terdengar oleh pak guru.

"Hei yang di belakang! Ngapain ketawa? Ada yang lucu?" Tegur pak Wiryo.

"Enggak kok pak!" Jawab Hanna dan Gia bersamaan

"Fokus ke depan!"

"Baik pak!"

"Sepertinya tidak ada yang tau bentuk umum fungsi kuadrat bagaimana? Baiklah biar saya jelaskan. Bentuk umum dari fungsi kuadrat adalah..."

Pak guru langsung berhenti menjelaskan setelah di sela oleh Egi yang sudah mengangkat tangan kanannya.

"Izinkan saya untuk menjawab!"

"Silahkan!" Pak guru mengizinkan.

"Bentuk umum dari fungsi kuadrat adalah y sama dengan ax pangkat dua di tambah bx di tambah c dengan a ≠ 0. Nilai a adalah koefisien dari x pangkat 2, nilai b adalah koefisien dari x, dan nilai c adalah konstanta." Jawab Egi lantang tanpa melihat buku.

"Wah, hebat sekali! Tepuk tangan untuk Egi!" Seru pak guru.

Para murid langsung bertepuk tangan untuk Egi. Termasuk Gia yang tepuk tangan sembari bersorak riang.

Semua orang tepuk tangan, kecuali Hanna yang masih punya dendam karna kejadian kemarin.

Kemudian pak guru menulis soal di papan tulis.

...----------------...

F(x) \= 3x² - 2x + 5. Hitunglah nilai 2a + 3b + 4c

...----------------...

"Ada yang bisa jawab soal ini?"

Tidak ada satupun yang mau menjawab maupun ke depan.

"Saya pak!" Adi langsung mengacungkan tangan, lalu ia berjalan ke depan dengan angkuh dan percaya diri.

Kemudian ia mengisi soal di papan tulis. Adi mengisi sambil berdiam sejenak dan sedikit berpikir panjang sehingga hampir memakan waktu 5 menit.

"Sudah pak!"

Pak guru langsung melihat hasil jawaban Adi

...----------------...

F(x) \= 3x² - 2x + 5

2a + 3b + 4c

3(2)² + 2(3) + 5(4)

36 + 6 +20

62

...----------------...

"Apa benar jawabannya kayak gini?" Tanya pak guru tak yakin.

"Sudah pasti benar pak! Gak mungkin saya salah." Ucap Adi percaya diri.

"36 hasil dari mana?" Tanya lagi pak guru.

"36 hasil dari 3 di kalikan (2) kemudian di pangkatkan 2." Jawab Adi percaya diri.

"Izin koreksi pak! Sepertinya ada kesalahan dalam mengoperasikan bilangannya pak. Harusnya yang di hitung itu nilai dari 2a + 3b + 4c bukan F(x) \= 3x² - 2x + 5 karna itu adalah bentuk dari fungsi." Ucap Egi tiba-tiba.

"Benarkah? Coba kamu ke depan! Saya merasa jawaban dia juga salah."

Egi langsung ke depan dan menghapus jawaban Adi yang menurutnya salah. Lalu memperbaikinya.

"Begini pak."

Pak guru langsung memperhatikan jawaban milik Egi.

...----------------...

Diketahui nilai a \= 3 b \= -2 c \= 5

2a + 3b + 4c

2(3) + 3(-2) + (4 x 5)

6 - 6 +20

20

...----------------...

"Wahhh,, Jawaban yang benar! Bagus sekali. Sekali lagi beri tepuk tangan untuk Egi!" Semua orang bertepuk tangan sembari bersorak memuji Egi.

Sementara Adi langsung geram sambil mengepalkan tangannya.

"Adi, kenapa cara menghitung kamu jadi salah? yang harus di hitung itu 2a + 3b + 4c bukan bentuk fungsinya yang di hitung."

"Maafkan saya pak!" Adi menunduk malu.

"Saya heran biasanya kamu selalu benar setiap maju ke depan." Tanya pak guru dengan raut wajah mempertanyakan.

"Maaf pak, saya sedang tidak enak badan jadi saya tidak fokus dalam berpikir." Jawab Adi beralasan.

"Ya sudah kalian berdua duduk kembali. Saya mau menulis soal yang baru lagi." Pak guru kembali menulis soal di papan tulis.

Sementara Adi dan Egi kembali duduk di bangkunya masing-masing.

Sambil berjalan menuju ke bangkunya, Adi melirik tajam Egi sehingga Egi terkejut dengan tatapan Adi yang menatapnya seperti seorang musuh.

>>

Sementara Gia langsung tercengang kagum dengan kepintaran Egi yang menjawabnya dengan lancar tanpa sekalipun melihat buku atau main hitung-hitungan mengotret di papan tulis tak seperti Adi yang selalu mengotret di papan tulis setiap kali ia menjawab soal.

*****

Pulang Sekolah.

Di koridor, Gia sedang mencari-cari Egi di sekitar sekolah.

"Eh, kalian lihat Egi gak?" Tanya Gia pada teman-teman sekelasnya yang baru saja keluar dari kelas. Tapi teman-temannya tak ada yang tau.

"Egi kemana ya?" Gumam Gia. Tiba-tiba Hanna menepuk bahunya hingga membuat Gia mendongak kaget.

"Heii!!"

"Hanna! Ikhh, buat kaget saja!!"

"Ngapain mondar-mandir? Gue nyariin Lo dari tadi, kirain Lo sudah pulang ninggalin Gue."

"Gue lagi nyari Egi."

"Apa Egi? Cowok sombong itu? Ngapain nyari-nyari dia? Sedangkan dia sendiri gak nyari-nyari Lo." Ketus Hanna dengan nada mengejek.

"Ih Lo jangan teriak-teriak! Malu-maluin saja sih Lo!" Bentak Gia.

"Tapi ngapain Lo nyari si Egi? Mau ngapain?" Tanya Hanna menyelidik.

"Gue mau belajar matematika sama dia. Habisnya dia itu pinter banget. Gue pengen pinter juga kayak dia." Jawab Gia sambil senyum-senyum. Hanna langsung tertawa ngakak.

"Kenapa Lo ketawa?" Tanya Gia kesal.

"Cowok sombong kayak dia gak akan mungkin mau ngajarin Lo Gi. Percaya deh sama gue!" Ucap Hanna.

"Kok Lo bisa berpikir kesitu?" Sewot Gia.

"Iya karna dia itu tipe orang yang gak suka deket sama orang. Dia itu lebih suka menyendiri. Mana bisa, cowok kayak dia mau ngajarin Lo! Coba Lo ingat lagi, baru pertama masuk kelas saja gak ada yang mau berteman sama dia."

Gia langsung tertawa lebih ngakak.

"Kata siapa? Buktinya para cewek-cewek di sini sering deketin dia haha. Cuman dianya saja yang gak peka, bukan gak ada yang mau berteman sama dia." Ucap Gia membela Egi.

"Kalau dia beneran mau ngajarin Gue gimana?" Lanjutnya.

"Hah? Gimana bisa?" Tanya Hanna kaget. Gia langsung mendekatkan wajahnya.

"Cuan... cuan... cuaann..." Ucap Gia sambil menjentikkan jarinya.

"Hah! Ya mungkin, tapi menurut Gue itu gak bakal ngaruh deh. Gue yakin si Egi gak bakal mau ngajarin Lo!"

"Masa? Kita lihat saja! Egi bakal ngajarin Gue atau enggak? Tapi menurut hati kecil Gue. Gue yakin Egi itu orang yang baik, dia pasti bakal ngajarin Gue sampai pintar!"

"Oke kalau gitu kita taruhan. Kalau si Egi gak ngajarin Lo! Lo harus traktir Gue belanja 500 ribu." Tantang Hanna.

"Ckk..."

"HAHAHAHA..."

Gia langsung tertawa kecil.

"500 ribu? Haha... Tanggung! Sejuta saja gimana? Kalau perkataan Gue yang bener Lo yang harus traktir Gue!" Tantang Gia lebih.

"Okee, deal!"

"Deal!"

Hanna dan Gia saling berjabat tangan.

...----------------...

...Bersambung....

Episodes
1 GIA.
2 Kecewa.
3 Cowok Ganteng.
4 Adi.
5 Tak tahu diri.
6 Murid baru.
7 Kagum.
8 Tertipu.
9 Aku bukan pelakor.
10 Perhatian Egi.
11 Baper.
12 Kenyataan yang tak di ketahui.
13 Ayah Gia dan Rencana.
14 Sisi baik Adi.
15 Kencan Kedua membawa fakta.
16 Kejadian tak terduga.
17 Pulpen ajaib.
18 Asmara Hanna dan Adi.
19 Curang.
20 Sial.
21 Egi yang malang.
22 IQ minus.
23 Mencurigakan.
24 Ketahuan.
25 Tertipu 2.
26 Kencan yang Menyebalkan.
27 Kencan yang Menyebalkan part II.
28 Nasib yang berbeda.
29 Duka Adi dan Egi.
30 Kecurigaan Adi.
31 Gia si pembohong handal.
32 Pertanyaan jebakan.
33 Kebenaran.
34 Pertikaian.
35 Keberuntungan masih berpihak.
36 Pengawasan ketat.
37 Nekat.
38 Menari di atas penderitaan orang.
39 Kabar mengejutkan.
40 Kebusukan Gia.
41 Emosi Egi.
42 Takut.
43 Hari pertama bekerja.
44 Bekerja lagi.
45 Senyuman palsu.
46 Benalu.
47 Kerja seharian.
48 Berulah.
49 Berulang kali.
50 Petaka.
51 Merawat Egi.
52 Perhatian Gia.
53 Kepergok.
54 Hanya Gia.
55 Baper 2.
56 Belajar bersama.
57 Oh, ternyata?
58 Reaksi obat.
59 Reaksi obat 2.
60 Saling menyalahkan.
61 Ketahuan
62 Sebagian bukti
63 Bukti baru
64 Ketinggalan
65 Flashdisk
66 Cemas dek?
67 Permainan
68 21+ Gombalan panas
69 Cara terbaik
70 Terbongkar
Episodes

Updated 70 Episodes

1
GIA.
2
Kecewa.
3
Cowok Ganteng.
4
Adi.
5
Tak tahu diri.
6
Murid baru.
7
Kagum.
8
Tertipu.
9
Aku bukan pelakor.
10
Perhatian Egi.
11
Baper.
12
Kenyataan yang tak di ketahui.
13
Ayah Gia dan Rencana.
14
Sisi baik Adi.
15
Kencan Kedua membawa fakta.
16
Kejadian tak terduga.
17
Pulpen ajaib.
18
Asmara Hanna dan Adi.
19
Curang.
20
Sial.
21
Egi yang malang.
22
IQ minus.
23
Mencurigakan.
24
Ketahuan.
25
Tertipu 2.
26
Kencan yang Menyebalkan.
27
Kencan yang Menyebalkan part II.
28
Nasib yang berbeda.
29
Duka Adi dan Egi.
30
Kecurigaan Adi.
31
Gia si pembohong handal.
32
Pertanyaan jebakan.
33
Kebenaran.
34
Pertikaian.
35
Keberuntungan masih berpihak.
36
Pengawasan ketat.
37
Nekat.
38
Menari di atas penderitaan orang.
39
Kabar mengejutkan.
40
Kebusukan Gia.
41
Emosi Egi.
42
Takut.
43
Hari pertama bekerja.
44
Bekerja lagi.
45
Senyuman palsu.
46
Benalu.
47
Kerja seharian.
48
Berulah.
49
Berulang kali.
50
Petaka.
51
Merawat Egi.
52
Perhatian Gia.
53
Kepergok.
54
Hanya Gia.
55
Baper 2.
56
Belajar bersama.
57
Oh, ternyata?
58
Reaksi obat.
59
Reaksi obat 2.
60
Saling menyalahkan.
61
Ketahuan
62
Sebagian bukti
63
Bukti baru
64
Ketinggalan
65
Flashdisk
66
Cemas dek?
67
Permainan
68
21+ Gombalan panas
69
Cara terbaik
70
Terbongkar

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!