...•...
...•...
...•...
Sesampainya di Sekolah.
Gia berjalan menuju kelasnya dengan penuh kekesalan. Sebelum ke kelas, ia mampir dulu ke kantin untuk membeli permen karet kemudian ia mengunyahnya sambil kembali berjalan menuju kelasnya.
.....
Sesampainya di kelas.
Hanna teman sebangkunya sekaligus sahabatnya menyambutnya.
"Gia! Gia! Giaaa..."
"Ada apa?"
"Ada kabar gembira! Lo pasti bakal senang dengarnya!"
"Kabar gembira apa?" Gia berdenyit heran.
"Si Adi, ternyata 3 bulan yang lalu dia kalah olimpiade!" Ungkap Hanna.
"Apa? Beneran?" Tanya Gia senang sambil menutup mulutnya.
"Iyaaaa!!! Gue juga gak nyangka akhirnya ada yang bisa ngalahin si Adi." Ucap Hanna kegirangan
"Pantesan saja akhir-akhir ini Gue sering lihat si Adi itu murung terus. Tapi itu kan kejadian sudah lama? Kenapa Lo baru kasih tau Gue sekarang?"
"Gue juga baru tau sekarang! Sebenarnya kejadian itu di rahasiakan dari pihak sekolah, gak tau kenapa? Tapi hari ini bocor karna anak yang ngalahin si Adi bakal pindah ke sekolah kita besok!"
"Seriuss?? Lo kata siapa?" Tanya Gia penasaran.
"Gue dengar kata anak-anak disini. Tapi Lo jangan bilang ke siapa-siapa lagi! Lo harus tutup mulut!" Jawab Hanna sambil memperingatkannya.
"Lo mau tau gak? Ada kabar yang paling membahagiakan lagi." Lanjut Hanna membuat Gia semakin penasaran.
"Apaaa??"
"Katanya anak yang ngalahin si Adi itu ganteng banget. Kegantengannya ngalahin si Adi dan ketua OSIS kita disini. Anak-anak yang sudah pernah lihat muka dia langsung pada klepek-klepek!"
"Waaahhh... Serius Lo??"
"Iyaaaaaa!!!" Jawab Hanna penuh semangat.
"Wahhhh... Jadi makin penasaran! Tapi kenapa ya dia pindah ke sekolah kita?" Tanya Gia yang masih diselimuti rasa penasaran.
"Dengar-dengar ya ini gak tau benar atau enggak? Ini juga dari gosip orang-orang, katanya kalau pihak dari sekolah kita minta ke anak itu supaya pindah ke sekolah ini. Katanya dia itu berasal dari sekolah kecil dan sekolah kita yang punya nama besar ini pasti minder lah, masa siswa terbaik mereka di kalahkan sama siswa yang berasal dari sekolah menengah. Makanya mereka ingin punya siswa yang lebih pintar lagi. Itu sebabnya anak itu di suruh pindah ke sekolah ini untuk mengikuti olimpiade berikutnya sama Adi nanti. Tapi Lo jangan kasih tau siapa-siapa ya! Gue juga gak yakin omongan anak-anak itu benar atau enggaknya? Yang pasti kita di sini jangan ribut! Nanti bisa-bisa kita dikeluarkan dari sekolah ini." Tutur Hanna.
"Owalahhh... Btw namanya siapa??" Tanya Gia lagi.
"Egi!!" Jawab Hanna lagi-lagi dengan penuh semangat.
"Egi?" Gia langsung mengerutkan keningnya.
Tak lama kemudian...
Bel masuk kelas berbunyi.
Semua siswa bergegas masuk kelas dan duduk di bangkunya masing-masing. Gia berjalan menuju bangkunya. Sambil berjalan, dengan sengaja ia menaruh permen karet hasil kunyahannya di bangkunya Adi.
Guru IPA masuk, dan mulai mengajarkan pelajaran sampai jam istirahat.
.....
Pukul 10.00.
Bel istirahat berbunyi. Para siswa keluar dari kelas untuk istirahat dan sebagiannya lagi pergi ke kantin.
Di kelas, Gia sedang berbisik pada Hanna sambil menunjuk Adi kalau tadi pagi ia menaruh permen karet hasil kunyahannya ke bangkunya. Hanna langsung tertawa kecil lalu memberi jempol pada Gia.
Dan mereka pun melakukan adu tos, setelah itu mereka memperhatikan Adi yang sedang memasukan buku-bukunya ke dalam tas.
Setelah itu Adi berniat akan pergi ke kantin. Setelah berdiri, permen karet itu berhasil menempel di celananya tepatnya di bagian bokongnya.
Gia dan Hanna langsung menertawakannya disertai dengan pekikan. Mereka mulai tertawa terbahak-bahak.
Adi yang melihat Hanna dan Gia menertawakannya merasa aneh karna mereka menertawakannya sambil menunjuk-nunjuk ke arah bokongnya. Adi langsung meraba-raba dan melihat permen karet yang sudah menempel di celananya.
Seketika Adi langsung emosi, ia tau kalau ini semua pasti ulah Gia. Karna setiap hari Gia lah yang selalu makan permen karet dan selalu menaruhnya di mejanya dan di tasnya. Tapi kali ini Gia menaruhnya di bangkunya hingga membuat celana Adi tertempel permen karet. Adi langsung emosi.
"GIAAAAA..." Teriak Adi kesal.
"Bleee..." Ledek Gia dan Hanna.
Adi langsung berlari mengejar mereka. Gia dan Hanna pun langsung kabur sambil terus tertawa terbahak-bahak.
*****
Malam hari.
Di rumah Gia sedang di adakan pesta untuk merayakan ulang tahun Gio yang ke 14 tahun. Ibunya dengan antusias menghampiri para tamu yang merupakan kerabat dan teman arisannya dan sekaligus ibu dari teman-temannya Gio dan Gia.
"Jeng, pestanya bagus banget! Makanannya enak-enak lagi." Puji salah satu teman ibunya Gia.
"Hmm... Sama-sama Jeng! Aku pilih dari decoration termahal di kota ini loh. Pasti lah kualitasnya bagus gak di ragukan lagi." Ucap ibunya Gia memuji dirinya sendiri.
Tak lama sebagian teman-teman arisan ibunya sekaligus ibu dari teman-temannya Gio dan Gia yang baru saja datang menghampirinya.
"Eh jeng selamat ulang tahun ya buat anak kamu Gio!" Ucap mereka sambil saling cipika-cipiki ala-ala ibu-ibu sosialita.
"Hmm... Terima kasih ya! Ini kalian bawa kado bagus-bagus banget! Gede-gede lagi!" Ucap ibunya Gia senang.
Tiba-tiba Gio datang menghampiri ibunya dan teman-temannya lalu menyalami mereka semua. Mereka langsung memuji sifat Gio yang sopan.
"Anak pintar."
"Gio ini pintar loh! Di kelasnya saja sering dapat ranking 1."
"Iya Gio ini pintar banget, anak aku saja sering banget di ajarin matematika sama dia."
"Jeng kamu ini punya anak cowok, sudah ganteng, pintar lagi!"
Mendengar pujian dari teman-temannya, ibunya Gia langsung bangga dan mulai menjawab.
"Ah kalian ini bisa saja. Siapa dulu dong?? Anak aku gitu loh. Sama-sama pintar kayak ibunya." Ucapnya sambil mengelus kondenya.
Tak lama.
Gia datang menghampiri ibunya dan teman-teman ibunya sambil mengenakan gaun berwarna hitam yang elegan.
Gia datang tanpa menyalami teman-teman ibunya tak seperti Gio adiknya yang punya etika sopan santun. Kemudian teman-teman ibunya mulai memuji penampilan Gia.
"Eh ada Gia, cantik banget kamu."
"Iya, sudah cantik, tinggi lagi." Ucap lagi yang satunya memuji Gia yang memiliki tinggi badan 171 cm.
"Iya kelihatan sekali dewasanya! Seperti sudah bukan anak SMA lagi." Ucap yang lainnya melihat penampilan wajahnya Gia yang riasannya hampir sama dengan ibunya.
"Terima kasih banyak!" Ucap Gia sambil tersenyum
"Oh iya, ngomong-ngomong ujian kamu yang Minggu kemarin dapat nilai 30 yaa??"
Jleeebbb!!
Celetuk salah satu yang merupakan ibu dari teman Gia yang bernama Nurul. Hingga membuat yang lainnya kaget. Gia dan ibunya hanya terdiam mematung.
"Apa? Nilainya 30?"
"Gak salah???"
"Apa bener jeng?"
Yang lainnya mulai bertanya-tanya sambil menatap ke arah ibunya dan Gia.
"Ahahaha... Ahh..." Ibunya Gia hanya bisa cengengesan dan bingung mau berkata apa sambil melirik anak perempuannya.
"Duh kamu ini ada-ada saja jeng! Jangan mengada-ngada deh!"
"Enggak aku serius jeng! Aku taunya pas rapat sekolah Minggu lalu, aku mengobrol sama guru matematika, katanya nilai ujian matematika yang paling kecil itu Gia dan dia sudah di cap sebagai murid dengan ranking paling terakhir di kelas." Ungkap ibunya Nurul sedikit berbisik tapi tetap saja masih terdengar oleh Gia dan ibunya.
Satu persatu dari mereka mulai berbisik-bisik tentang Gia dengan sedikit menertawakannya.
Gia dan ibunya hanya bisa terdiam malu.
Kemudian sambil tertawa mereka mulai menyindir.
"Memang benar ya. Cantik gak berarti menjamin segalanya."
"Rajinlah banyak-banyak belajar biar pintar. Sayang punya wajah cantik tapi otak masih dengkul."
"Berarti masih pinteran Gio dong adiknya. Hahaha."
Gia hanya terdiam mendengar ocehan orang-orang yang membicarakannya dengan sindiran-sindiran yang menyelekit.
"Yang sabar ya jeng! Anakku juga Hanna sama, dia juga ujian matematikanya dapet nilai 45." Celetuk Teman ibunya Gia yang merupakan ibu dari Hanna dengan nada berbisik.
"Aku permisi dulu sebentar ya!" Izin ibunya Gia sambil menarik tangan anak perempuannya untuk pergi menjauh dari mereka.
*****
Di Teras.
Gia dan ibunya mulai berdebat.
"Kamu ini apa-apaan sih! Gak malu apa dapat nilai segitu? Mereka tadi mulai menyindir kamu sama mama!" Ibunya mulai emosi.
"Malu-maluin mama kamu ya!!"
"Ih apaan sih mah! Jangan mudah terpengaruh sama omongan mereka deh! Di bawa santai saja! Mulut-mulut mereka ini yang berbicara." Ketus Gia.
"Kamu ini bukannya mikir! Harusnya waktu itu kamu belajar! Mungkin kamu gak akan dapat nilai sejelek itu! Orang lain pasti akan memuji kamu bukan menjelek-jelekkan kamu!" Ucap sang ibu sambil mendengus kesal.
"Mama ini kenapa sih? Harusnya Gia yang sedih bukannya mama!" Ucap Gia dengan nada pelan sambil menundukkan kepalanya.
"Jadi kamu sedih juga karena perkataan teman-teman mama tadi?" Tanya sang ibu.
"Bukan mah! Gia sedih karna ulang tahun Gio dirayakan. Gia juga pengen dong ulang tahun Gia dirayakan juga!" Ucap Gia dengan wajah memelas.
Seketika ibunya mulai emosi dan langsung menjitak kepala putrinya.
"Ikhhhh... Kamu ini malah mikirin ulang tahun, bukannya mikirin kata-kata orang-orang tadi yang merendahkan kamu! Kamu ini seharusnya merasa malu!"
"Buat apa Gia malu mah? Gak ada gunanya!" Ketus Gia.
"Ya kamu harusnya pikirin kata-kata orang-orang tadi dan mulai sekarang kamu harus mencoba merubah sifat pemalas kamu dari sekarang! Biar gak di hina orang!"
"Apa yang harus Gia ubah mah? Gia merasa baik-baik saja kok!"
"Baik-baik dari mana? Sifat pemalas kamu masih tetap sama! Selalu dapat nilai jeblok di setiap mata pelajaran. Malu-maluin mama saja!" Ketus ibunya.
"Ngapain malu mah? Nih Gia kasih tau ya. Mama ini jangan gampang terpengaruh sama perkataan orang, jangan dimasukkan ke hati! Gia saja yang di jelekin sama mereka, baik-baik saja kok gak gampang terpengaruh. Gak dimasukkan ke hati dan gak sakit hati juga." Ucapnya.
"Lagian itu bukan salah Gia sendiri kalau nilai ujian Gia jelek. Ya itu salah gurunya yang ngasih soal ujian susah banget, sampai Gia susah ngerjainnya dan jadi dapat nilai jelek." Ucap Gia dengan entengnya lalu pergi meninggalkan ibunya di teras.
"GIAAAAA... Jangan pergi dulu! Mama belum selesai bicara! Ikhhh... Anak ini menyebalkan sekali!!" Pekik ibunya kesal.
...----------------...
...Bersambung....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 70 Episodes
Comments