Sial.

...•...

...•...

...•...

...•...

...•...

"Mau apa kamu?"

"Mmm... Ma-maaf kak, sa-saya lupa be-belum menulis nama saya. Saya mau memberi nama saya dulu." Ucap Gia beralasan dengan gelagapan sembari menarik cepat kertas jawaban milik Adi.

Kemudian pengawas memberi izin, tanpa mencurigainya. Gia kembali duduk di bangkunya, ia menghela nafas panjang kemudian menghapus nama Adi, lalu mengganti namanya menggunakan namanya.

Dan dengan lihainya, aksi curangnya itu terus ia lakukan hingga berlanjut pelajaran berikutnya dan berikutnya dan berikutnya.

*****

Beralih ke cerita kemarin saat pak Sudarni dan selingkuhannya yang baru saja selesai makan di Cafe. Saat akan kembali melanjutkan perjalanan pulang, tiba-tiba mobil pak Sudarni tak bisa di jalankan.

"Ada apa sayang?" Tanya selingkuhannya.

"Aku gak tau sayang!"

Kemudian pak Sudarni keluar mengecek ban mobilnya. Dan ternyata ban mobilnya kempes sebelah akibat ulah Gia tadi pagi.

"Ini siapa yang melepas pentilnya?" Gumam pak Sudarni kaget. Selingkuhannya langsung keluar.

"Ada apa sayang?"

"Ban mobilnya kempes."

"Apa? Kempes?"

"Iya!" Pak Sudarni mengangguk.

"Pasang saja ban cadangan." Saran selingkuhannya.

"Kebetulan aku gak bawa ban cadangannya sayang."

"Apa! Terus gimana aku pulang? " Rengek selingkuhannya.

"Gini saja, kita ke bengkel dulu."

"Ke bengkel? Tapi bengkel di sini jauhhh!! Aku juga gak tau bengkel di daerah sini itu di mana?" Wanita itu mulai terus merengek.

"Mau bagaimana lagi? Kamu bantu aku ya dorong mobilnya sampai ketemu bengkel." Pak Sudarni mulai kebingungan sembari meminta bantuan mendorong mobil pada selingkuhannya.

"Enggak! Aku gak mau! Aku mau pulang." Tolak wanita itu sembari menatap sebal.

"Tapi sayang, aku sudah gak kuat lagi dorong mobil sendirian. Aku sudah tua." Pak Sudarni mulai minta di kasihani.

"Aku gak peduli! Pokoknya aku mau pulang sekarang! Aku gak kuat di sini terus. Panas! Nanti makeup aku luntur gimana?"

"Ya sudah kalau begitu kamu pulang naik taksi saja."

"Ih dasar! Ya sudah mana uangnya!" Ketus wanita itu sembari meminta ongkos.

Pak Sudarni langsung memberikannya uang.

"Dasar tua-tua bangka!" Gumam wanita itu sambil mencegat taksi. Entah suaranya terdengar oleh pak Sudarni atau tidak ketika wanita itu berucap.

Lalu selingkuhannya pergi begitu saja meninggalkannya menggunakan taksi.

*****

Kembali ke cerita Gia.

Pulang sekolah.

Dengan hati yang senang, Gia menyapa Egi yang seperti biasa sedang menunggu bus di halte.

"Hai Egi!"

"Hai Gia!" Balas Egi.

Gia langsung mendekati Egi dan mengajaknya mengobrol.

"Soal yang tadi gampang ya!" Ucap Gia percaya diri.

"Lumayan!" Jawab Egi.

"Kamu bisa?" Lanjut Egi bertanya.

"Bisa! Bisa! Bisa!" Jawab Gia percaya diri.

"Baguslah!" Ucap Egi.

"Hari ini mendung ya?" Ucap Gia mencari topik pembicaraan. Egi mengangguk tanpa menoleh ke arahnya.

Tak lama kemudian, bus datang.

"Aku pulang duluan ya!" Pamit Egi.

"Hati-hati ya!"

Bus pun pergi. Setelah berlalu, Gia pun kembali berjalan pulang. Baru beberapa langkah berjalan, tiba-tiba hujan turun dengan deras. Gia langsung panik dan buru-buru kembali ke halte untuk berteduh.

"Duh kenapa harus hujan sekarang sih? Pengen pulang, mana gak ada Egi lagi di sini." Gumam Gia kesal.

Satu persatu orang mulai berlarian menuju halte. Gia berjalan ke samping untuk memberi ruang pada beberapa orang yang ingin berteduh. Tiba-tiba ia menyenggol seorang ibu-ibu.

"Maaf Bu!" Ucap Gia sambil melirik wajahnya.

Lalu betapa kagetnya Gia melihat wajah ibu-ibu yang baru saja ia senggol, ternyata Bu Melly istri pak Sudarni.

"Kamu!" Ucap bu Melly sambil menatap tajam Gia.

Gia langsung panik, ia menutup wajahnya dengan tangannya. Lalu ia memilih kabur dengan lari terbirit-birit menerobos hujan.

*****

Sesampainya di rumah.

"Duh Gue kehujanan. Mana seragam, tas, sama sepatu Gue basah semua gara-gara ibu-ibu itu. Besok Gue pakai apa ya?" Gumam Gia bingung.

Hujan pun semakin deras, Gia langsung masuk ke dalam rumahnya.

*****

2 hari kemudian.

Masih ujian.

Gia berangkat sekolah seperti biasa.

"Untung punya seragam dua. Jadi gak usah deh nyari seragam lagi." Gumam Gia senang.

Sambil menunggu taksi, ia mengeluarkan ponselnya dan mengirimkan pesan pada Hanna.

["Han, si Egi sudah datang belum?"]

Tak butuh waktu lama, Hanna langsung membalas pesannya. Saat ia akan membuka pesan dari Hanna, tiba-tiba ada seorang pria berlari sambil menjambret ponsel dan dompetnya.

"Ma! Maling! Maling" Gia langsung berteriak histeris.

Kemudian ia berlari mengejar maling tersebut sambil teriak-teriak. Orang-orang sekitar yang mendengar teriakannya langsung ikut membantu mengejar maling tersebut.

Tak lama, Gia kewalahan mengejar maling itu karna larinya sangat cepat, tidak dengan beberapa orang yang masih bersemangat mengejar maling tersebut. Setelah itu, maling itu naik motor temannya yang sepertinya sudah lama menunggunya di pinggir jalan.

Sepertinya mereka sudah berencana bekerja sama untuk mencopet. Kedua maling pun berhasil kabur dengan motornya sementara orang-orang tak berhasil mengejarnya.

Gia langsung menangis histeris sambil duduk bersimpuh di jalan, karna ponsel yang di curi adalah ponsel satu-satunya beserta dompet yang berisi uang bekalnya berjumlah 1 juta dari ibunya. Orang-orang berusaha menenangkannya yang terus menangis. Semua orang merasa iba dan memberi beberapa persen uang mereka untuk bekal Gia ke Sekolah.

Setelah berlama-lama menangis dan menerima bantuan berupa uang dari beberapa orang yang jumlahnya tak sama besar dengan bekalnya, Gia memutuskan untuk pergi ke sekolah menggunakan angkot agar biaya ongkosnya lebih murah. Jika ia tak di copet, mungkin ia tak akan sudi naik angkot.

Gia mulai menunggu angkot di tepi jalan yang di depannya terdapat banyak genangan air akibat hujan kemarin. Sambil menunggu angkot, Gia terus menggerutu sendiri sembari sumpah serapah.

"SIALAN!!! Kalau Gue ketemu maling itu lagi, Gue sunat k***** nya."

Tiba-tiba ada motor yang melesat dari arah kanan melaju cepat melewati genangan air hingga hampir menyembur ke arahnya. Untungnya Gia berhasil menghindarinya.

"Heh! Gila Lo ya! Sudah kayak jalanan sendiri main ngebut saja! Untung gak kena." Gia ngamuk setelah motor yang melintas pergi jauh. Ia terus menggerutu hingga ia tak menyadari kalau ada beberapa motor yang akan melewatinya lagi.

Hingga saatnya tiba, motor-motor tersebut melaju dengan kecepatan tinggi melewati genangan air hingga berhasil menyembur ke arahnya dan membasahi seragamnya.

"AAAKKKHHH..."

"Sial banget! Sudah di copet, sekarang seragam sama rok kena kotoran lagi. Jijikkk..."

Gia langsung pindah posisi tidak di depan genangan air tadi. Tapi betapa bodohnya Gia malah berdiri di depan genangan air yang lebih besar hingga ada satu mobil yang melesat melewati genangan air tersebut hingga lagi-lagi berhasil membuat semburan yang dahsyat ke arah Gia, hingga lagi-lagi seragam dan wajahnya kotor semua terkena semburan genangan air.

"AAAKKKHHH! Sialan! Kurang ajar! Awas Lo ya." Teriak Gia marah-marah sambil terus menangis.

Bukannya menjauh, tapi ia justru masih berdiam diri di sana sambil marah-marah tak jelas dengan kata-kata kasar yang mulai keluar dari mulutnya. Hingga ia lagi-lagi tak menyadari kalau ada beberapa mobil yang akan melewatinya lagi dan menyemburnya. Dan lagi-lagi berhasil membuat Gia terkena beberapa kali semburan dahsyat dari genangan air yang kini sudah membasahi badannya.

Dengan raut wajah yang emosi, kesal, amarah yang menggebu-gebu di campur kesedihan. Gia berlari kembali lagi ke rumahnya untuk mengganti seragamnya. Karna mana mungkin ia pergi ke sekolah dengan pakaian basah kuyup dan kotor begitu apalagi di saat hari sedang ujian semuanya harus serba rapi dan bersih. Sekaligus ia akan mengadu pada ibunya tentang kesialannya hari ini.

*****

Pukul 09.00.

Sesampainya di Sekolah.

Gia terlambat 2 jam masuk kelas, karna saat di rumah, ia harus kembali mandi lagi dan ganti seragam dengan bekas kemarin yang kehujanan yang belum sempat ia jemur. Setelah tiba di kelas, ia langsung menerima teguran dari seorang pengawas yang sepertinya baru mengawas di kelas Gia, bukan pengawas yang kemarin lagi yang baik hati dan penuh kelalaian.

"Kenapa kamu terlambat? Waktu sudah mulai habis. Kamu baru datang!"

"Maafkan saya kak, tadi di jalan macet dan saya tadi di copet juga." Kali ini Gia berkata jujur.

"Banyak alasan! Sudah telat, bohong lagi. Sana duduk! Kerjakan soalnya secepatnya!" Ketus pengawas sambil memberikan lembar soal ujian beserta lembar jawaban yang masih kosong.

"Baik kak!"

Gia langsung berjalan menuju bangkunya dengan raut wajah yang kesal bercampur emosi, karna pengawas tak mempercayai perkataannya.

Kemudian ia duduk dan akan mengerjakan soal secara asal-asalan. Saat akan mengerjakan, Gia kaget melihat soal tersebut tak ada pilihan ganda. Semuanya berisi 35 soal essay. Gia bingung bagaimana mengerjakannya, apalagi ini adalah pelajaran Matematika.

Gia langsung menelan salivanya lalu celingak-celinguk ke arah kanan dan kiri lalu melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 09.15.

"Duh gimana nih? Kok gak ada pilihan ganda nya sih? Gimana Gue bisa ngerjainnya? Kalau Gue tulis jawabannya pakai tangan, bakal ketahuan nih tulisannya kalau ini di tuker. Siapa yang bikin soal? Benar-benar ngajak emosi!" Batin Gia.

"Han, Lo sudah?" Tanya Gia.

"Suttt... Jangan banyak omong! Lo ga lihat pengawas lagi mengawasi kita dari depan. Pengawas yang sekarang itu galak banget." Ucap Hanna memberitahu sambil tetap fokus mengerjakan soal tanpa menoleh ke arah Gia.

Lalu ia melihat pengawas yang sedang berdiri tegap mengawasi para siswa layaknya seorang polisi yang menjaga tahanan.

"Han, kalau Lo sudah, Gue lihat ya! Gue gak ngerti sama sekali, apalagi Gue belum ngapalin." Ucap Gia dengan wajah memelas.

"Ya itu sih resiko Lo!" Ucap Hanna dengan gamblangnya sembari tetap fokus mengerjakan soal.

Gia langsung di buat kesal sambil menatap Hanna yang sudah mengerjakan 30 soal, kemudian Gia baru teringat sesuatu kalau tulisannya dengan tulisan Adi hampir sama. Untuk mendapatkan nilai yang bagus, ia harus nekat menukar jawaban miliknya lagi dengan jawaban milik Adi. Meskipun soalnya essay tak ada pilihan ganda, ia harus tetap menukarnya demi mendapat nilai bagus. Dengan semangat, ia langsung mengerjakan soal dengan asal.

Beberapa menit kemudian. Egi datang dengan dengan nafas terengah-engah. Gia langsung kaget setelah melihat Egi yang baru saja tiba.

"Kamu kenapa terlambat?" Tanya pengawas dengan nada lembut tanpa menegurnya.

"Maafkan saya kak, saya bangun terlambat." Jawabnya.

"Ya sudah kamu kerjakan dulu, sebentar lagi waktunya sudah mulai habis." Jelas pengawas dengan suara yang masih bernada lembut tanpa menegur sedikitpun.

"Baik kak!"

Egi langsung berjalan ke bangkunya dengan jalan terpincang-pincang. Gia kaget sekaligus penasaran, kenapa Egi tumben datang terlambat? Biasanya Egi selalu rajin masuk kelas tepat waktu. Tapi hari ini kenapa Egi datang terlambat sembari jalan terpincang-pincang begitu? Apa yang terjadi padanya? Apa tadi di jalan dia jatuh? Apa ada yang menabraknya?

Semua pertanyaan itu terkumpul di benak Gia, ia terus memperhatikan Egi yang raut wajahnya tak biasa, sangat dingin, kaku, dan datar. Gia terus memperhatikan Egi yang tangannya gemetar saat mengerjakan soal, membuat Gia tambah kaget dan terus memperhatikan gerak-gerik Egi sampai ia lupa mengerjakan soal.

"5 menit lagi." Ucap pengawas dengan nada tinggi.

Gia langsung panik lalu mengerjakan soal, tak lama Adi mengumpulkan soal beserta jawabannya ke meja guru di susul siswa yang lainnya yang mengumpulkan juga. Hanna juga sudah selesai kemudian ia mengumpulkan jawabannya ke depan. Semua siswa yang sudah mengerjakan ujian langsung keluar kelas sesuai peraturan yang ada.

Kini di dalam kelas hanya menyisakan Gia, Egi, dan seorang pengawas yang masih berjaga.

Gia langsung panik dan bingung karna lembar jawaban milik Adi sudah bertumpuk-tumpuk dengan yang lain. Sekarang Gia bingung rencana untuk menukar jawaban miliknya dengan milik Adi gagal. Sekarang Gia harus menukar jawabannya dengan siapa? Ia hanya bisa menggigit kuku jarinya sembari menatap semua lembar jawaban milik Adi yang sudah bertumpuk dengan yang lain.

Kemudian Gia berencana untuk menukar jawabannya dengan Hanna. Karna lembar jawaban milik Hanna berada di paling atas.

"Okey. Waktu sudah habis!"

...----------------...

...Bersambung....

Episodes
1 GIA.
2 Kecewa.
3 Cowok Ganteng.
4 Adi.
5 Tak tahu diri.
6 Murid baru.
7 Kagum.
8 Tertipu.
9 Aku bukan pelakor.
10 Perhatian Egi.
11 Baper.
12 Kenyataan yang tak di ketahui.
13 Ayah Gia dan Rencana.
14 Sisi baik Adi.
15 Kencan Kedua membawa fakta.
16 Kejadian tak terduga.
17 Pulpen ajaib.
18 Asmara Hanna dan Adi.
19 Curang.
20 Sial.
21 Egi yang malang.
22 IQ minus.
23 Mencurigakan.
24 Ketahuan.
25 Tertipu 2.
26 Kencan yang Menyebalkan.
27 Kencan yang Menyebalkan part II.
28 Nasib yang berbeda.
29 Duka Adi dan Egi.
30 Kecurigaan Adi.
31 Gia si pembohong handal.
32 Pertanyaan jebakan.
33 Kebenaran.
34 Pertikaian.
35 Keberuntungan masih berpihak.
36 Pengawasan ketat.
37 Nekat.
38 Menari di atas penderitaan orang.
39 Kabar mengejutkan.
40 Kebusukan Gia.
41 Emosi Egi.
42 Takut.
43 Hari pertama bekerja.
44 Bekerja lagi.
45 Senyuman palsu.
46 Benalu.
47 Kerja seharian.
48 Berulah.
49 Berulang kali.
50 Petaka.
51 Merawat Egi.
52 Perhatian Gia.
53 Kepergok.
54 Hanya Gia.
55 Baper 2.
56 Belajar bersama.
57 Oh, ternyata?
58 Reaksi obat.
59 Reaksi obat 2.
60 Saling menyalahkan.
61 Ketahuan
62 Sebagian bukti
63 Bukti baru
64 Ketinggalan
65 Flashdisk
66 Cemas dek?
67 Permainan
68 21+ Gombalan panas
69 Cara terbaik
70 Terbongkar
Episodes

Updated 70 Episodes

1
GIA.
2
Kecewa.
3
Cowok Ganteng.
4
Adi.
5
Tak tahu diri.
6
Murid baru.
7
Kagum.
8
Tertipu.
9
Aku bukan pelakor.
10
Perhatian Egi.
11
Baper.
12
Kenyataan yang tak di ketahui.
13
Ayah Gia dan Rencana.
14
Sisi baik Adi.
15
Kencan Kedua membawa fakta.
16
Kejadian tak terduga.
17
Pulpen ajaib.
18
Asmara Hanna dan Adi.
19
Curang.
20
Sial.
21
Egi yang malang.
22
IQ minus.
23
Mencurigakan.
24
Ketahuan.
25
Tertipu 2.
26
Kencan yang Menyebalkan.
27
Kencan yang Menyebalkan part II.
28
Nasib yang berbeda.
29
Duka Adi dan Egi.
30
Kecurigaan Adi.
31
Gia si pembohong handal.
32
Pertanyaan jebakan.
33
Kebenaran.
34
Pertikaian.
35
Keberuntungan masih berpihak.
36
Pengawasan ketat.
37
Nekat.
38
Menari di atas penderitaan orang.
39
Kabar mengejutkan.
40
Kebusukan Gia.
41
Emosi Egi.
42
Takut.
43
Hari pertama bekerja.
44
Bekerja lagi.
45
Senyuman palsu.
46
Benalu.
47
Kerja seharian.
48
Berulah.
49
Berulang kali.
50
Petaka.
51
Merawat Egi.
52
Perhatian Gia.
53
Kepergok.
54
Hanya Gia.
55
Baper 2.
56
Belajar bersama.
57
Oh, ternyata?
58
Reaksi obat.
59
Reaksi obat 2.
60
Saling menyalahkan.
61
Ketahuan
62
Sebagian bukti
63
Bukti baru
64
Ketinggalan
65
Flashdisk
66
Cemas dek?
67
Permainan
68
21+ Gombalan panas
69
Cara terbaik
70
Terbongkar

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!