Keesokan harinya.
Pukul 2 siang di sekolah.
Hanna dan Gia sedang mengintip Adi yang tengah asik makan sendiri dikantin.
"Liat tuh makannya lahap banget kayak kambing!" Celetuk Gia.
"Iya, jijik banget ya!" Sahut Hanna.
Namun, saat Adi tengah pergi ke toilet.
"Si Adi sudah pergi. Ayo cepat!" Seru Gia.
Gia dan Hanna berlari kecil menghampiri meja makan Adi yang terdapat satu mangkok yang berisi sup iga dan lalapan yang tadi di makan Adi belum habis dan satu gelas jus tomat.
"Cepat masukin!" Celetuk Hanna.
Gia langsung mengeluarkan sesuatu dari saku roknya, lalu Ia mengeluarkan plastik kecil berisi cicak dan kecoak. Lalu Ia memasukan tiga kecoak ke dalam mangkuk dan dua cicak ke dalam minumannya. Gia dan Hanna langsung tertawa cekikikan merasa puas sambil melakukan TOS ala mereka. Kebetulan kantin sedang sepi jadi tak ada yang melihat aksi keterlaluan mereka.
"Ayo sembunyi lagi!"
Gia dan Hanna bergegas pergi lalu mereka kembali bersembunyi dibalik tembok.
Tak lama, Adi datang dan kembali duduk di mejanya sambil melanjutkan kembali ritual makan siangnya. Saat tengah asik makan, Gia dan Hanna terus tertawa cekikikan sambil terus memperhatikan Adi. Tiba-tiba saat Adi menyendokan sup, betapa terkejutnya ia melihat ada kecoak di dalam supnya. Saking terkejutnya, ia tak percaya dengan penglihatannya. Lalu ia mengucek matanya kemudian mengaduk-aduk supnya dan tiga kecoak pun muncul saat sudah di aduk-aduk.
Seketika Adi langsung memuntahkan isi perutnya ke dalam tong sampah yang berada tepat disampingnya. Gia dan Hanna terus menertawakannya. Kemudian Adi meneguk jus tomat tanpa menggunakan sedotan hingga habis. Dan betapa terkejutnya Adi melihat dua cicak sudah berada di dalam gelasnya setelah di habiskan. Lagi-lagi ia kembali memuntahkan minuman yang sudah ia telan.
Gia dan Hanna semakin tertawa belalakan, mereka tertawa seperti melihat acara komedi yang telah mereka saksikan secara live. Hingga tanpa mereka sadari, ada pengangkut sampah sedang berjalan mendorong roda yang berisi sampah.
Entah hanya kebetulan atau karma. Pak pengangkut sampah tak melihat ada dua orang berada di depannya. Tanpa di sadari langsung saja menubruk Hanna dari belakang yang tengah asik berdiri di belakang Gia.
Blukkk...
Hanna terjatuh dengan kedua tangan yang memegang punggung Gia sehingga Gia pun ikut terjatuh. Mereka pun sama-sama terjatuh sehingga menimbulkan kegaduhan. Adi langsung terkejut melihat Gia dan Hanna ada di sini. Ia mulai meyakini kalau semua ini perbuatan Gia dan Hanna. Tapi Adi lebih menuduh pada Gia sebagai pelakunya, karna ia sudah mengetahui sifat Gia yang jahil sejak SMP.
"Giaaaa..." Teriak Adi dengan emosi yang menggebu-gebu sambil berkacak pinggang.
"Hah! GAWAATTT!!! Dia sudah lihat kita." Hanna langsung panik.
"Ayo cepat lari!" Gia dan Hanna langsung bangkit lalu kabur.
"Heh Lo! Jangan kabuurrr..." Adi mulai mengejar mereka.
"Dasar cewek gak waras!!" Adi terus bergumam sambil tak berhenti Berteriak mengejarnya hingga ke lorong-lorong kelas.
"Gi, tungguin gue!" Hanna mulai lelah berlari.
Hanna sudah tertinggal jauh oleh Gia yang berlari sangat cepat layaknya tupai yang sedang mengejar mangsa. Walaupun lelah Hanna tetap berusaha berlari sekuat tenaga agar tak tertangkap Adi yang masih mengejar mereka.
Sambil berlari Gia terus melirik-lirik Hanna yang tertinggal jauh di belakangnya, tanpa ia sadari akhirnya ia menabrak seorang karyawan kantin yang tengah membawa sebaskom tepung hingga tepung pun terlempar kebelakang tepat saat Hanna akan melintas. Seketika ia langsung terpeleset dan akan jatuh kebelakang.
Adi dengan sigap berlari cepat kemudian berhasil menahan tubuh Hanna yang akan terjatuh. Adi dan Hanna langsung saling bertatapan.
Hanna menunjukkan ekspresi wajah takut karna ia akan terjatuh termasuk Adi yang panik melihat Hanna yang akan terpeleset tadi. Adi terus menahan tubuh Hanna.
Gia langsung berbalik ke belakang untuk memastikan keadaan Hanna, tapi ia malah di kejutkan ketika melihat Hanna yang tubuhnya sedang ditahan Adi dengan gaya memeluk. Seketika Gia langsung menunjukkan raut wajah tak suka seperti orang yang sedang cemburu.
Tak lama kemudian sekelompok anak lelaki yang merupakan teman-teman sekelas Gia, Hanna, dan Adi sedang berjalan melewati lorong-lorong kelas. Tanpa sengaja salah satu dari mereka melihat Adi dan Hanna yang sedang bertatapan dan saling memeluk.
"Hei! Lihat itu si Adi lagi mesra-mesraan sama si Hanna."
Dengan cepat mereka langsung menghampirinya dan mengambil pose Adi dan Hanna menggunakan ponsel mereka. Suara jepretan kamera terdengar beberapa kali oleh Adi dan Hanna. Adi langsung panik dan melepaskan pelukannya hingga membuat Hanna berhasil terjatuh ke lantai.
"Cieeeee... Hahahaha..." Sorak mereka sambil menertawakannya. Adi langsung menghampiri mereka.
"Kalian kurang ajar ya! Hapus fotonya!" Adi langsung marah-marah.
"Lo jadian sama Hanna?" Tanya salah satu dari mereka dengan nada meledek.
Hanna langsung malu dan kabur sambil menarik tangan Gia.
*****
Keesokan harinya.
Mereka langsung menjiplak foto Adi bersama Hanna di papan tulis dengan foto ukuran besar. Kemudian salah satu dari mereka mulai bicara seperti sedang memberi pengumuman.
"Teman-teman sekalian! Yang di cintai dan di hormati! Perkenalkan ini adalah pasangan baru di kelas kita. Adi dan Hanna!! Tepuk tangan semuanya."
Seisi kelas langsung menyoraki Hanna dan Adi sembari bertepuk tangan dengan keras.
Adi dan Hanna hanya duduk terdiam di bangkunya masing-masing tanpa berkutik melihat kelakuan teman-temannya. Tak lama. Egi datang lalu melihat foto Adi dan Hanna yang di pajang di papan tulis.
Setelah itu, Egi langsung melihat Hanna dan Adi yang sama-sama murung di bangkunya masing-masing. Tak berapa lama, pak guru datang. Semua murid langsung duduk di bangku mereka termasuk temannya yang tadi menjiplak foto langsung mencabut cepat foto Hanna dan Adi yang terpampang di papan tulis.
"Anak-anak! Beberapa hari lagi kita akan mulai ujian ya. Kalian jangan lupa untuk terus menghafal!" Ucap pak guru.
"Baik pak!"
"Sekarang bapak akan mengumumkan nilai tugas terakhir kalian kemarin, bapak sudah menilainya. Bapak lihat nilai kalian semua di bawah rata-rata. Hanya 2 orang saja disini yang bernilai bagus." Tukas pak guru.
"Siapa pak? Siapa pak? Siapa pak?" Para siswa mulai bertanya-tanya.
"Bapak akan membagikannya di mulai dari nilai terbesar. Egi!" Pak guru memanggil nama Egi.
Egi menghampirinya dan menerima nilai tugasnya dan duduk kembali.
"Adi!" Panggil pak guru. Adi menghampirinya dan menerima nilai tugas yang dibagikan.
Dari kejauhan Gia melihat nilai tugas milik Egi nilainya 100. Gia langsung syok dan menepuk-nepuk bahu Hanna.
"Lihat si Egi, nilainya 100." Ucapnya sembari menunjuk Egi yang duduk di bangku paling depan.
Hanna langsung terkejut kemudian ia melihat nilai Adi dari kejauhan yang nilainya yaitu 95. Tak jauh dari Egi. Jika diperhatikan nilainya masih lebih besar Egi.
Setelah memanggil beberapa nama siswa. Kini giliran pak guru memanggil nama Hanna.
"Hanna!" Hanna langsung ke depan.
"Ada sedikit peningkatan. Banyaklah belajar lagi!" Ucap pak guru.
"Siap pak!"
Hanna langsung melihat nilainya yang mendapatkan nilai 70.
"Dan yang terakhir, Gia!" Panggil pak guru dengan nada malas. Gia langsung ke depan.
"Gia, nilai kamu buruk sekali tidak ada perubahan." Ucap pak guru sambil mengelus dada. Gia langsung kaget kemudian melihat nilainya yang 40.
Gia langsung kembali duduk di bangkunya dengan ekspresi wajah yang sedih.
"Sudah jangan sedih Gi. Bukannya Lo udah terbiasa ya dapet nilai segitu?" ujar Hanna dengan sedikit meledek.
*****
Pulang sekolah.
Seperti biasa Gia dan Hanna selalu pulang bareng dengan berjalan kaki.
"Han, kejadian yang tadi pagi jangan dipikirin lagi." Ucap Gia mencoba menenangkan Hanna yang terus cemberut.
"Mereka itu orang-orang bodoh yang bisanya ngegosip mulu. Gak ada kerjaan lain apa!" Lanjutnya sambil mendengus kesal.
"Gi, semuanya bukan salah Adi tapi salah gue." Celetuk Hanna.
"Lah! Kok Lo jadi nyalahin diri Lo sendiri?"
"Iya kalau Gue gak ngikutin rencana Lo, mungkin itu semua gak akan terjadi." Ucap Hanna sedikit merengek.
"Gi! Gue jadi kepikiran sama kejadian kemarin. Gue nyesel sudah ngikutin kegiatan Lo buat ngejahilin orang. Lainkali Gue gak akan bantuin Lo lagi buat jahilin si Adi."
"Lahh... Kok Lo jadi ngomong gitu sih?" Ucap Gia dengan nada kesal.
"Sedih ya?" Lanjut Gia bertanya tiba-tiba.
"Enggak!" Jawab Hanna dengan nada membentak.
"Marah?" Lanjut Gia terus bertanya.
"Enggak!"
"Terus? Senang?"
Hanna langsung menatap sinis Gia.
"Apa? Senang? Lo gila ya?" Hanna mulai membentaknya lagi.
"Ya sudah deh, gak akan nanya-nanya lagi." Gia langsung cemberut.
"Ya asal Lo tau saja Gi. Adi sebenarnya baik orangnya, kemarin dia nolongin gue waktu pas Gue mau jatuh. Dia itu bener-bener baik dan penolong." Ucap Hanna mulai memuji Adi.
"Lo jangan berpikiran gitu deh! Siapa tau itu cuman kebetulan si Adi nangkap Lo saja." Ketus Gia.
"Enggaakkk! Ini bukan kebetulan. Pas gue jatuh, dia langsung lari dan nolongin gue." Ucap Hanna.
"Ih, Lo jangan terbawa perasaan deh! Adi tetap Adi! Bagi Gue dia gak ada baiknya. Mungkin dia punya niat yang lain pura-pura nolongin Lo, supaya nanti Lo patuh ke dia." Kecam Gia.
"Maksud Lo?" Hanna tak mengerti maksud perkataan Gia.
"Ih, bodoh banget sih Lo! Maksud Gue, orang jahat itu banyak banget akalnya. Lo jangan gampang terpengaruh!"
"Maksud Lo si Adi itu jahat?" Tanya lagi Hanna dengan nada tinggi.
"Iyaaaa!!! Dia jahaattt! Lo jangan mau terpengaruh sama kebaikannya! Dan Lo jangan mau deket-deket sama dia. Dia itu burik dan jahat!" Ucap Gia terus berusaha menjelek-jelekkan Adi.
"Lo jangan pernah memihak si Adi. Gua gak suka! Gue bakal terus bales perbuatan dia!" Ucap Gia kesal.
"Lo ini punya masalah apasi sama si Adi? Sampai dendam segitunya. Kalau cuman masalah yang nilai ujian waktu itu, mending dimaafin saja lah. Ngapain harus dendam? Kasian si Adi di jahilin terus." Ucap Hanna sembari berdenyit heran.
Gia mulai terdiam membisu tak menjawab perkataan Hanna yang penuh pertanyaan.
"Pokoknya mulai sekarang! Gue gak mau ikut-ikutan lagi sama Lo buat ngejahilin si Adi. Mulai sekarang gue mau bersikap baik saja sama dia layaknya teman. Lagian sebenarnya di sini yang punya masalah itu Lo sama Adi doang. Bukan Gue! Jadi jangan bawa-bawa Gue lagi ke masalah Lo." Tegas Hanna. Gia langsung cemberut tanpa kembali berkutik.
...----------------...
...Bersambung....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 70 Episodes
Comments