Sesampainya di kelas. Gia dan Hanna langsung menyapa Egi yang sedang membaca buku.
"Hai Egii!!"
Egi langsung mendongak kaget sambil menatap keduanya.
"Hai Gia, Hanna!" Sapa balik Egi.
"Gia, kamu sudah baik-baik saja kan? Muka kamu sudah gak sakit lagi kan?" Tanya Egi perhatian.
"Tuh kan Gi, si Egi perhatian banget sama Lo!" Bisik Hanna pada Gia.
"Sudah lumayan baik kok. Tinggal sedikit lagi. Berkat salep yang kamu olesin di pipi aku kemarin, sekarang pipi aku lumayan gak bengkak lagi." Jawab Gia dengan senyuman khasnya.
"Oh baguslah. Nanti aku kasih salep yang kemarin aku olesin ke kamu. Biar kamu bisa pakai, biar kamu cepat sembuh. Mungkin tinggal lebam-lebam nya yang perlu di hilangkan. Nanti aku cari obat untuk menghilangkan lebam di apotek."
"Gak usah repot-repot Gi! Makasih yaa.. kamu perhatian banget!" Ucap Gia malu-malu.
"Sama-sama Gia! Gapapa sesama teman memang harus saling membantu." Tutur Egi.
"Benar!" Seru Hanna.
Tak lama kemudian Adi datang.
Adi langsung melihat ke arah Gia kemudian ia menghampiri Gia dan memperhatikan wajahnya.
"Itu muka Lo kenapa kayak labu gitu?" Tanya Adi sembari meledeknya
"Diem Lo B*ngsat! Jangan ganggu teman Gue! Seneng ya Lo lihat orang lain menderita!" Sewot Hanna.
"Heh Gi, suruh teman Lo ini bicaranya lebih sopan ke Gue! Ingetin dia, kalau Gue itu KM (ketua murid) di sini! Kalau dia ngomong macem-macem lagi. Gue bakal pecat dia sebagai sesi kemanan di sini!" Tegas Adi sambil menunjuk Hanna.
Biasanya Gia selalu membela Hanna dengan mengajak berantem Adi. Tapi Gia tak ingin terlihat galak di depan Egi. Nanti Egi bisa tau kalau Gia ini gadis bar-bar yang suka ngajak ribut. Gia terpaksa diam saja selama ada Egi.
"Gi, tumben Lo diem sih? Biasanya Lo belain Gue." Tanya Hanna berdenyit heran.
"Sudah Han! Sabar, nurut saja!" Ujar Gia sambil menepuk-nepuk bahu Hanna dan melirik Egi sambil tersenyum.
*****
Siang hari.
Pulang sekolah.
Egi seperti biasa menunggu bus di halte setelah pulang sekolah. Gia yang melihat Egi langsung menghampirinya.
"Hai Egi!"
"Hai Gia!"
"Egi, kamu naik bus lagi? Padahal kamu kan punya mobil, kenapa gak minta supir saja buat jemput kamu?" Tanya Gia penasaran. Egi langsung tersenyum.
"Enggak! Lagian di sini gak susah pulang. Rumahku lumayan deket kok, kalau ada bus tinggal naik saja tanpa repot-repot menelpon supir. Lagian aku lebih nyaman naik bus ketimbang naik mobil." Jawab Egi.
"Ohh gituu, iya juga ya. Aku juga suka sama! Lebih nyaman naik bus dari pada mobil sendiri." Ucap Gia ingin sama dengan pernyataan Egi
"Memangnya ada bus yang mengarah ke rumah kamu?" Tanya Egi heran.
Jleeebbb!!
Gia langsung terjebak oleh ucapannya sendiri.
Karna setau Egi tidak ada bus yang mengarah ke jalan yang menuju komplek perumahan Gia. Karna bus di sini batasnya hanya sampai halte sekolah saja tak mengarah ke jalan yang lainnya selain jalan yang menuju ke jalan rumah Egi.
"Aahh... Maksud aku, naik angkot bukan naik bus." Ujar Gia sembari cengengesan.
"Tapi kalau rumahku dekat kayak
rumah kamu yang dekat sekolah, lebih baik aku pilih jalan kaki saja dari pada naik bus atau angkot." Ucap Egi lagi. Gia langsung nyengir.
"Benar jalan kaki lebih menyehatkan! Iya kan?" Ucap Gia sembari mengangkat -angkat kakinya.
"Tepat sekali!"
Tak lama kemudian...
Ada seorang ibu-ibu yang tiba-tiba datang dan berdiri di samping kanan dekat Gia. Gia langsung melihat ibu-ibu itu yang berada disampingnya. Betapa kagetnya Gia melihat, ternyata ibu-ibu itu adalah Bu Melly istri pak Sudarni yang menyebutnya pelakor dan menghajarnya kemarin.
Gia langsung memalingkan wajahnya ke arah Egi sambil menutup wajahnya yang masih penuh lebam. Egi langsung melihat Gia aneh.
Gia mengarahkan bola matanya ke samping. Egi langsung terkejut melihat Bu Melly, ia mulai teringat kalau ibu-ibu yang berada di samping Gia ini yang mengejar Gia kemarin.
Gia langsung ketakutan dan gemetaran.
Dengan cepat, Egi menarik Gia dan memindahkannya ke samping kiri dekatnya. Kemudian Egi mendekapnya dan berusaha menutupi wajah Gia supaya tak kelihatan oleh Bu Melly.
Gia yang di dekap oleh Egi, tiba-tiba jantungnya mulai berdegup kencang. Kepala Gia bersandar di dada bidang Egi. Ia bisa mendengar detak jantung Egi yang berjalan dengan normal. Tak lama ada suara telepon dari ponsel Bu Melly. Bu Melly langsung mengangkat teleponnya sambil menyalakan speaker hingga siapapun yang ada di halte bisa mendengar percakapan Bu Melly dan temannya termasuk Gia dan Egi yang berada di sebelahnya.
^^^"Halo jeng Mel, kamu dimana?" ^^^
"Aku lagi di halte Win, lagi nunggu bus."
^^^"Tumben kamu gak naik mobil jeng?"^^^
"Mobil aku dibawa kabur sama suami aku. Kemarin suami aku kabur entah kemana? Kayaknya suami aku lagi kabur sama selingkuhannya yang genit itu." Kata Bu Melly, membuat Gia sedikit kesal dengan perkataan Bu Melly yang menyebut dirinya genit pada temannya.
^^^"Wahh... Jeng tuh perempuan gak tau diri ya, masih saja belum kapok di hajar sama kita kemarin. Itu perempuan harus di hajar lagi kayaknya" ^^^
"Iya jeng emang perempuan gak tau diri tuh. Namanya juga pelakor! Pelakor emang gak punya malu karna urat malunya sudah putus!"
^^^"Hajar saja jeng kalau ketemu lagi. Hajar sekali dua kali gak akan cukup kayaknya sampai perempuan itu minta ampun." ^^^
"Pasti jeng, bakal aku hajar lagi dia yang sudah rebut suami aku. Berani sekali dia! Bakal aku hajar dia sampai cacat dan kakinya patah. Gak akan aku biarin dia kabur lagi! Kalau bisa, aku bakal bawa dia ke kantor polisi biar di penjara." Ucap Bu Melly dengan emosinya.
Gia langsung gemetaran mendengar ancaman dari ucapan Bu Melly yang dilontarkan tentang dirinya, Gia langsung memeluk Egi dengan erat dan menyembunyikan wajahnya dibalik jaket yang dikenakan Egi.
Kemudian bus datang Bu Melly dan orang-orang disekitar langsung naik bus kecuali Egi yang masih mendekap dan melindungi Gia.
Setelah bus pergi berlalu. Egi langsung melepaskan dekapannya.
"Bus nya sudah pergi, kamu aman sekarang!" Ucap Egi menenangkan Gia yang ketakutan. Gia langsung menghela nafas.
"Egi, aku takut di hajar lagi. Gimana kalo aku ketemu lagi terus di hajar lagi gimana? Aku gak mau cacat Gi! Aku takut!" Gia mulai menangis ketakutan. Egi menyeka air mata Gia dan Gia menatap melas Egi yang penuh perhatian.
Kemudian Egi melepas dasinya.
"Aku tau caranya bagaimana. Kemarilah!"
Egi membalikan tubuh Gia ke belakang. Kemudian Egi mengikat rambut Gia menggunakan dasinya. Gia hanya terdiam kaku saat Egi mengikat rambutnya.
Setelah itu Egi membalikan lagi tubuh Gia ke hadapannya.
Kemudian Egi melepas jaket hitamnya lalu memasangkan jaketnya di tubuh Gia setelah itu Egi melepas topi miliknya dan memasangkannya di kepalanya.
"Sudah beres! Sekarang tidak akan ada yang bisa mengenali kamu. Oh iya satu lagi!"
Egi mengeluarkan Masker dari tasnya yang masih terbungkus plastik.
"Pakailah, ini masih baru. Belum aku pakai sama sekali. Aku baru beli tadi pagi, buat jaga-jaga hari ini cuaca lagi gak bagus. Tapi ini buat kamu saja. Pakai ini!" Egi menyuruh Gia memakainya.
Kemudian Gia menerimanya dan memakainya.
"Makasih ya Gi!" Ucap Gia.
Kemudian bus tiba. Egi langsung naik bus tak lupa dia mengucapkan salam perpisahan yang biasa di pakai untuk umum yaitu 'hati-hati' pada Gia.
Lalu bus pun pergi, sementara Gia memutuskan untuk pulang. Namun Gia mengurungkan niatnya untuk pulang berjalan kaki walaupun sudah memakai jaket dan topi Egi sebagai penyamaran tetap saja Gia merasa takut.
Kemudian ia memutuskan untuk menelpon supir untuk menjemputnya.
*****
Hari Minggu.
Pukul 13.00 Siang.
Di Bukit.
Di hari liburnya Gia melakukan aktivitasnya dengan pergi ke bukit yang berada tak jauh dari rumahnya untuk melukis.
"Haahhh!! Capek juga ya naik bukit! Hmm.. setiap tahun semakin banyak juga ya pengunjung yang berdatangan kesini." Gumam Gia sambil melihat-lihat orang-orang sekitar yang sedang melukis.
Bukit ini memang terkenal dengan pemandangannya yang indah dan asri. Ada banyak pemandangan seperti pegunungan, air mancur dan perkotaan. Sehingga bukit ini sering dijadikan destinasi wisata untuk semua orang yang ingin berkunjung dan melukis.
Setiap Minggu Gia sering ke bukit ini untuk mengasah bakatnya dalam melukis. Kebetulan bukit ini berada di belakang sekolahnya dan tak jauh dari rumahnya.
Gia bersiap untuk melukis pemandangan yang ada. Ia langsung menyiapkan alat lukisnya, seperti kuas, kanvas, dan cat warna. Lalu mulai melukis, sambil melukis ia masih melirik-lirik orang-orang disekitarnya yang sedang melukis.
"Semoga saja ada cowok ganteng disini!" Harap Gia sambil senyum-senyum sendiri.
kemudian ia kembali melukis saat melukis ia melihat ada satu pria yang baru saja datang dan duduk di seberangnya sambil mengeluarkan alat lukisnya.
Gia memperhatikan pria itu karna pria itu sangat tampan, dan ketampanannya setara dengan Egi.
Kemudian Gia merobek lukisan gunung yang baru saja ia lukis tadi. Lalu ia menggantinya dengan melukis wajah pria tersebut yang sedang duduk sambil melukis.
Setelah selesai melukis pria itu, Gia memperhatikan lagi pria itu yang masih belum selesai melukis. Tanpa malu Gia menghampirinya dan mencoba mengajaknya bicara sembari melihat lukisannya.
"Lukisan kamu bagus sekali!" Puji Gia. Pria itu langsung kaget karna tiba-tiba saja ada wanita yang tak ia kenal berdiri di sampingnya sembari mengajaknya bicara.
"Bagus dari mana? Aku sebenarnya baru belajar melukis." Ungkap pria itu
Gia memperhatikan lukisannya, memang lukisannya tak sebagus punya Gia. Sepertinya pria itu baru belajar melukis bahkan melukis orang saja masih berbentuk manusia lidi.
"Ah gapapa! Yang penting kamu sudah berusaha!" Puji Gia lagi.
"Ah iya!" Ucapnya masih fokus melukis.
"Kalau mau aku bisa mengajari kamu melukis. Aku ini sudah ahli loh dalam melukis? Kalau kamu mau, aku bisa ajarkan kamu sekarang." Tawar Gia.
"Ah enggak, makasih!" Tolak pria itu. Gia langsung cemberut
Tak lama kemudian...
" Ehm... Ehm... Ehm.."
Seorang wanita berdiri di belakang Gia dengan tatapan dingin.
Gia langsung berbalik menatap wanita itu.
"Siapa kamu? Sedang apa kamu di situ sama pacar aku?" Tanya wanita itu dengan nada Ketus dan muka datar.
Gia langsung kaget ternyata pria ini sudah memiliki kekasih.
"Oh pacarnya ya? Aku disini cuman lihat lukisannya. Lukisan pacar kamu bagus banget. Pasti kamu yang sudah mengajarinya iya kan?" Ucap Gia cengengesan sembari memuji pacar wanita itu.
Wanita itu tak menjawab dan masih menunjukkan ekspresi dinginnya. Wanita itu berjalan mendekati pacarnya. Gia langsung menjauh.
"Siapa dia?" tanya wanita itu pada pacarnya dengan nada berbisik.
"Aku juga gak tau sayang! Tiba-tiba saja dia sudah berdiri di samping aku." Jawab pria itu sambil berbisik juga.
Walaupun mereka bicara sembari berbisik-bisik tetap saja Gia masih mendengar pembicaraan mereka dengan jelas. Gia langsung kesal dan kembali duduk di tempatnya.
Dengan kesalnya, Gia langsung mencoret-coret lukisan pria itu yang tadi ia lukis dengan warna merah dan hitam lalu mengubahnya dan menjadikan lukisan pria tadi seperti monyet.
Bahkan saking kesalnya, ia merobek-robeknya dan menginjak-injaknya lalu menggantinya dengan melukis pemandangan lagi.
.....
1 jam kemudian...
Masih di Bukit.
Satu persatu orang yang merupakan para pengunjung dan para pelukis berdatangan ke bukit.
"Aku gak mau lihat orang lagi! Entar aku salah orang lagi!" Gumam Gia dengan kesal sembari melukis dengan emosi.
Tak lama kemudian... Tiba-tiba seorang laki-laki memanggilnya.
"Giaa!!"
Gia langsung menoleh kebelakang, dan betapa terkejutnya Gia ternyata orang yang memanggilnya adalah Egi yang sedang berdiri disampingnya.
"Egii!!"
...----------------...
...Bersambung....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 70 Episodes
Comments