Keesokan harinya.
Di jam terakhir pelajaran matematika.
"Anak-anak hari ini adalah hari pembelajaran kita yang terakhir, karna Minggu depan, kita sudah mulai UTS. Jadi kalian banyaklah belajar dan menghafal. Terutama kamu Gia, banyaklah belajar dan menghafal agar nilai ujian kamu tidak jelek lagi!" Ucap pak guru sembari tak lupa menasehati Gia agar terus belajar.
Gia langsung mendengus kesal sekaligus malu karna pak guru menasehatinya di depan semua orang termasuk Egi. Sekarang Egi jadi tahu kalau sebenarnya Gia tidak pintar dalam Matematika.
Semua siswa mulai bersiap-siap untuk pulang, masing-masing dari mereka memasukan buku mereka ke dalam tasnya. Saat Gia tengah sibuk memasukan bukunya ke dalam tas. Tiba-tiba Adi datang dan mengolok-oloknya.
"Hei bodoh! Dengar gak tadi pak guru bilang apa? Belajar yang benar ya! Jangan menyontek! Tingkatkan lagi nilai Lo yang 30 itu." Ledek Adi dengan keras sembari menertawakannya sampai terdengar semua orang dikelas termasuk Egi.
Gia langsung malu dengan Egi yang terus menatapnya. Kemudian Hanna mengajak Gia keluar kelas tanpa melawan Adi yang sedang mengolok-oloknya.
.....
Beberapa menit kemudian.
Di luar kelas.
Gia dan Hanna sedang menunggu Adi di luar dengan menahan kesal dan geram, mereka menunggunya untuk memberinya pelajaran.
Setelah Adi keluar. Gia langsung menarik kerahnya dan mendorongnya ke tembok.
"Ngapain Lo ledek Gue kayak gitu di depan semua orang? Emangnya itu lucu hah!" Pekik Gia.
"Iya! Jangan mentang-mentang Lo pinter, Lo jadi bisa seenaknya menghina orang lain yang belum pinter." Timpal Hanna.
"Tenang dulu bro! Santai! Gak baik bertengkar disini. Nanti dilihat guru sama siswa yang lainnya gimana? Mendingan kita ngobrol baik-baik saja di kelas." Ucap Adi ketakutan. Gia menarik lagi kerah Adi ke depan wajahnya.
"Gak ada gunanya ngomong baik-baik sama bajingan kayak Lo!"
"Hajar saja Gi! Orang sombong kayak dia gak pantas di diemin terus. Harus dikasih pelajaran!" Hanna terus mengomporinya. Gia semakin tambah semangat untuk menghajar Adi.
"Lo kurang ajar Lo ya...." Saat sedang memarahi Adi dan akan memukulnya. Tanpa sengaja ia melihat Egi dari balik jendela yang sedang berjalan akan keluar kelas. Gia langsung melepas kerah Adi.
"Kenapa Lo diem Gi?? Hajar dia sampe babak bel..." Belum selesai Hanna bicara. Gia langsung membungkam mulutnya dengan tangannya lalu menariknya pergi dan membawanya bersembunyi di bawah tangga.
Egi langsung keluar kelas dan menuruni anak tangga.
"Jangan sekarang Han! Ada Egi. Kita kasih pelajaran ke anak tengil itu nanti saja." Ucap Gia berbisik.
"Lah emang kenapa Gi?"
"Kalau Gue hajar si Adi di depan Egi, entar image Gue sebagai cewek manis dan baik di depan mata Egi bakal hilang Han! Nanti Egi jadi ilfeel sama Gue dan bakal jauhin Gue." Terang Gia.
"Ahh... Gak asik Lo! Tapi Lo bener juga yaa. Ya sudah gini saja, urusan si Adi biar kita urus saja besok. Sekarang Lo fokusin dulu deketin si Egi ya semangaatt!"
"Oke Han! Sekarang Gue bakal lebih fokus lagi deketin si Egi. Kalau gitu Gue mau ngejar dia dulu yaa!"
"Fighting Giaaa!!!" Seru Hanna.
"Fighting!" Seru Gia.
*****
Di jalan.
Gia berusaha mencari Egi, tak lama ia melihat Egi yang seperti biasanya sedang menunggu bus di halte. Saat akan menyusulnya tiba-tiba bus datang dan Egi langsung menaikinya dan bus pun pergi. Gia sangat sedih sekaligus kesal tidak bisa mengobrol dengan Egi hari ini.
*****
Sesampainya di rumah.
Gia melihat ibunya sedang asik bermain ponsel
"Mama lagi ngapain?"
"Ini mama lagi ikutan arisan online 5 miliar." Jawab ibunya sambil fokus menatap ponselnya.
"Emang beneran mah itu arisannya? Hati-hati loh mah! Takutnya itu penipuan." Gia memberi peringatan.
"Penipuan dari mana? Ini beneran loh! Sudah kebukti banyak yang ikutan. Semua temen-temen mama juga pada ikutan." Jelas ibunya. Gia langsung diam dan memutuskan pergi ke kamarnya.
"Giaa?"
"Iya mah?"
"Tadi mama denger dari mamanya Hanna katanya seminggu lagi kelas kamu bakal di adakan UTS."
"Hmm.. Iya mah!" Jawab Gia cuek.
"Ya sudah. Mulai sekarang kamu harus banyak belajar dan menghafal, bentar lagi ujian. Kamu harus dapat nilai bagus tahun ini!"
"Kalau gak dapet?" Tanya Gia mulai menantang emosi ibunya.
"Kalau kamu gak dapet nilai yang bagus lagi! Mama bakal copot nama kamu dari ahli waris." Ancam ibunya dengan nada emosi.
"Ah jangan mah!" Rengek Gia.
Tiba-tiba pak Heri selaku ayahnya Gia yang baru pulang dari luar kota datang dan mendengar pembicaraan mereka.
"Benar yang di bilang mama kamu!"
"Papa? Sejak kapan papa pulang?" Tanya Gia kaget sekaligus senang.
Ia langsung menghampiri ayahnya lalu memeluknya. Ayahnya sudah 3 bulan lamanya tak pulang karna bekerja di luar kota.
"Baru saja tadi siang." Jawab pak Heri.
"Papa, bawa oleh-oleh gak?" Tanya Gia mulai meminta oleh-oleh.
"Kamu ini oleh-oleh terus yang di pikirin! Belajar yang benar!" Sewot ibunya.
"Pa, lihat tuh! Mama marahin Gia terus dari tadi." Rengek Gia pada ayahnya. Pak Heri langsung terkekeh.
"Benar yang di bilang mama kamu, belajar yang benar! Jangan mikirin oleh-oleh mulu, karna papa gak bawa oleh-oleh." Ucapnya ayahnya sembari tertawa.
"Yah. Papa!" Gia langsung memanyunkan bibirnya.
"Hmm... Kenapa sih mama sama papa maksa terus Gia buat belajar? Memangnya mau dikasih apa kalau Gia dapat nilai bagus?" Keluhnya.
"Kalau kamu dapat nilai yang bagus lebih dari 90, papa bakal beliin kamu mobil sport keluaran terbaru dari Eropa." Ucap pak Heri. Gia langsung kaget sambil membulatkan matanya.
"Serius pah?"
"Iyaaa!!" Ucap pak Heri meyakinkan.
"Tuh dengerin kata papa kamu!" Timpal ibunya.
"Janji?" Ucap Gia senang sambil mengacungkan jari kelingkingnya.
"Tapi kamu harus janji dulu, kalau kamu harus dapat nilai yang bagus tahun ini." Ucap pak Heri.
"Baik pah, mah. Gia akan berusaha belajar dan dapat nilai yang bagus." Ucapnya penuh semangat.
"Tapi kalau lagi-lagi kamu gak dapat nilai yang bagus. Seperti perkataan ibu kamu tadi, masih ingatkan?" Ucap ayahnya mulai mengingatkan ancaman ibunya barusan. Gia langsung cemberut.
"Tapi asalkan kalian harus tepati janji kalian buat beliin Gia mobil!" Ucap Gia mengisyaratkan.
"Okee!" Keduanya mengangguk setuju.
Gia langsung kegirangan sambil loncat-loncat senang, lalu ia pergi ke kamarnya.
.....
Di kamar.
Gia sedang berusaha belajar menghafal rumus matematika.
"Duh gimana ya? Susah banget! Ini 2x² kok bisa jadi 2x saja gak pakai kuadratnya? Itu gimana caranya ya?" Gumam Gia kebingungan.
Saat berkutat dengan buku. Tiba-tiba ponselnya berbunyi menandakan ada telepon dari seseorang, siapa lagi kalau bukan sahabatnya sendiri yaitu Hanna.
"Halo Han?"
[ "Gia, gimana tadi? Lo sudah ngobrol sama Egi?" ]
"Gak jadi Han! Egi sudah keburu pulang duluan." Jawab Gia sedih.
[ "Ohh... Yang sabar ya Gi! Besok juga ketemu lagi. Besok saja Lo deketinnya." ]
"Iya Han! Cuman Gue bingung mau ngobrol apa sama Egi? Masa Gue ngobrolnya cuman itu-itu doang kayak 'apa kabar', 'hai Egi... Selamat pagi', 'Selamat siang'. Gue bosen Han terus nyapa dia kayak gitu. Gue terus yang nyapa, tapi dia gak pernah nyapa Gue duluan. Gue pengennya punya obrolan lain gitu sama dia yang unik yang bisa bikin Gue tambah deket lagi sama Egi."
[ "Ya sudah gini saja. Besok Lo bilang ke si Egi, Lo minta di ajarin matematika saja sama dia apalagi bentar lagi ujian kan. Siapa tau si Egi mau ngajarin Lo." ]
"Lo tau sendiri kan, Gue sudah pernah bilang gitu. Masa Lo gak inget? Sudah mulai pikun Lo? Segitu Gue traktir Lo waktu itu karna tebakan Lo bener si Egi gak akan mau ngajarin Gue."
[ "Oiya gue lupa. Tapi Lo coba sekali lagi bilang baik-baik, kalau bisa Lo bilang ke dia pakai ekspresi wajah sedih, supaya dia kasihan sama Lo dan mau ngajarin Lo matematika. Atau kalau perlu sampai nangis-nangis berlutut di kakinya supaya dia mau." ] Hanna mulai memberi saran yang konyol.
"Lo bener juga ya! Nanti gue coba." Jawab Gia dengan polosnya mengiyakan ide Hanna.
"Oiya Han, tangan Gue gatel nih pengen nonjok si Adi."
[ "Iya Gi, sama gue juga. Sebel banget deh sama mukanya, pengen banget Gue pukul dia sampai babak belur." ]
"Iya Han, coba tadi kalau si Egi keluar kelas duluan. Bakal gampang kita ngehajar si Adi."
[ "Besok saja yuk kita kasih pelajaran sama siluman musang itu!"] Ajak Hanna.
"Iya kalau gitu semangat! Kalo bisa tonjok mukanya sampai bonyok banyak lebam-lebam kayak labu."
[ "Iya benar Gi! Gue gak sabar nih, geram banget lihat tingkah bocah tengil itu. Gue masih dendam sama dia gara-gara tadi pagi dia naruh permen karet di bangku Gue. Diam-diam dia sudah mulai jahil sama kayak Lo!"]
"Iya Han! Anak itu sudah mulai gak ada akhlak, harus di kasih pelajaran! Sudah dulu ya Han, Gue mau belajar dulu."
[ "Btw... Tumben Lo belajar?"]
"Kalo gue gak belajar dan milih teleponan sama Lo. Nanti mama gue bakal ngomel lagi."
["Ya sudah Gi! Semangat ya buat deketin si Egi."]
"Oke makasih banyak Han."
*****
**Keesokan harinya.
Siang Hari.
Setelah pulang sekolah**.
Hanna dan Gia sedang berdiam menunggu kedatangan Adi di kantin.
Mereka bersiap menghajar Adi sesuai rencananya kemarin malam di telepon.
...******...
...Bersambung....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 70 Episodes
Comments