...•...
...•...
...•...
...•...
...•...
Gia langsung terkejut dengan pernyataan Ben yang memintanya putus. Senyuman yang sejak pagi terukir kini mulai berkerut.
"Putus? Tapi kenapa?"
"Sebenarnya selama ini... Aku gak cinta sama kamu!"
Gia tak percaya dengan perkataannya, kemudian ia mulai menertawakannya.
“Ckk.”
“Hahaha...”
"Kamu ini bisa saja bercandanya. Selama 3 bulan loh kamu gak ada kabar ke aku. Aku nunggu kamu lama banget, tapi sekarang kamu malah ajak aku ketemu cuman buat bercanda doang? Hahahaha!!" Gia terus tertawa meledek.
“Haha.. lucu banget! Tapi sebenarnya itu gak lucu. Lelucon kamu itu garing malah bikin orang sedih bukan ketawa.” Ucapnya lagi sembari menyeka air matanya yang sedikit keluar akibat tertawa.
“Enggak Gia, aku gak bercanda! Aku serius!”
Gia yang tadinya tertawa seketika langsung berhenti mendengar pernyataan dari Ben.
“Aku serius Gia! Aku gak cinta sama kamu! Dari awal jadian sampai sekarang. Aku gak ada perasaan sama kamu! Aku ingin kita putus!” Tegas Ben.
Perlahan air mata mulai keluar dari pelipis matanya.
“Maafkan aku Gia! Aku merasa bersalah. Selama ini aku cuman manfaatin kamu doang buat jadi teman kesepian aku. Dulu waktu pas aku nerima kamu, karna saat itu aku baru saja putus sama pacarku dan aku sangat kesepian. Jadi aku terpaksa menerima kamu dan pura-pura cinta sama kamu, supaya aku gak kesepian lagi dan bisa bikin mantan aku cemburu lihat kita berdua.” Lanjut Ben sambil tertunduk.
“Tapi ada yang harus kamu tau. Alasan aku gak kasih kabar ke kamu selama 3 bulan, karna sebenarnya mantan aku ngajak aku balikan. Aku senang sekali, akhirnya dari bikin dia cemburu, sekarang dia jadi sadar betapa pentingnya dan berharganya aku dalam hidup dia.” Lanjutnya lagi sambil tersenyum senang. Gia langsung di buat emosi.
“Waktu itu aku langsung menerima dia dan kita balikan, dalam seminggu kami bertunangan. Itu sebabnya aku gak ngabarin kamu. Karna aku sengaja menyibukkan diri agar aku punya lebih banyak waktu sama dia.” Sambungnya sembari tersenyum menatap ke arah Gia.
Bagai di tusuk ribuan jarum, Gia yang sudah kelewat geram dan emosi, langsung tak segan-segan menampar Ben di hadapan semua orang.
PLAAAKKKK...
Tamparan keras Gia pada Ben langsung menjadi pusat perhatian semua orang yang ada di cafe.
“Jadi selama ini kamu bohong sama aku? Kamu gak cinta sama aku? Terus selama ini kamu anggap aku apa hah?” Pekik Gia. Ben hanya bisa diam sembari mengusap pipinya yang memerah akibat di tampar.
“Jadi kamu cuman manfaatin aku kan supaya kamu bisa balikan lagi sama mantan kamu, gitu?” Ucap Gia lagi dengan nada sedikit pelan sambil menangis tersedu-sedu. Ben hanya bisa menundukkan kepala.
“Gak nyangka! Tadinya aku senang banget, saat kamu meneleponku dan ngajak aku ketemu. Aku ke sini sampai bela-belain gak makan demi bisa secepatnya ketemu sama kamu. Tapi sekarang? Aku pikir kamu ajak aku ketemu, kamu mau bikin kejutan buat aku. Aku pikir kamu mau melamar aku. Ternyata kamu mengajakku ke sini cuman buat kasih kabar buruk. Sia-sia aku menunggu kamu lama selama berjam-jam di sini! Tau begini, lebih baik aku pulang saja.” Lanjutnya dengan emosi yang menggebu-gebu.
“Enggak Gia! Aku tau aku salah. Tapi, aku membawa kabar baik juga buat kamu.” Ucap Ben sembari mengeluarkan sesuatu yang ada di dalam saku jasnya.
“Ini undangan pernikahanku bersama kekasihku. Sebenarnya pernikahanku 10 bulan lagi. Tapi aku sengaja merancang khusus undangan ini buat kamu, agar kamu jadi orang pertama yang menerima undangan ini.” Ucap Ben tanpa rasa bersalah sambil memberikan undangannya. Gia menerimanya dengan berat hati.
“Aku sangat berterima kasih sama kamu. Berkat kamu, akhirnya aku jadi bisa balikan lagi sama mantan aku yang aku cintai. Aku harap kamu datang ke pernikahanku. Ada banyak sekali teman kuliahku yang akan datang, siapa tau teman kuliahku ada yang berjodoh sama kamu.” Lanjutnya.
“Apa kamu bilang? Kamu pengen aku datang? Enggak! Aku gak akan datang ke pernikahan pembohong keji dan penipu kayak kamu! Kamu itu cowok gak benar! Brengseekkk!!!” Bentak Gia sambil menunjuk-nunjuknya.
“Meskipun kamu mengirimiku undangan hingga berkali-kali, aku gak akan pernah datang ke pernikahan kamu!” Lanjutnya membentak dengan nada yang lebih tinggi.
Lalu ia merobek-robek undangan tersebut dengan tangan dan giginya, lalu melempar potongan-potongan undangan tersebut ke wajah kekasihnya yang kini sudah menjadi mantan.
Tingkah Gia membuat semua orang yang ada di cafe terus memperhatikan mereka berdua.
“Tega ya kamu sama aku! Aku benci sama kamu! Aku jijik sama kamu! Dasar penipu! Kurang ajar! Brengsek!” Lanjutnya sambil memukul-mukul dadanya Ben.
Kemudian ia mengusap air matanya yang dari tadi terus mengalir dari pelipis matanya.
"Aku tau! Aku salah... Maafkan aku!" Ucap Ben sambil memegang pipi Gia dengan cepat Gia langsung menepisnya.
"Aku tau kesalahanku gak bisa kamu maafkan. Meskipun aku sudah minta maaf hingga berulang kali. Tapi aku berdoa semoga kamu segera menemukan jodoh yang terbaik. Jodoh yang bisa mencintai kamu, membahagiakan kamu, dan menerima kamu apa adanya. Gia, kamu ini gadis yang paling baik yang pernah aku kenal. Kamu masih muda, kamu masih SMA, umur kamu masih terbilang masih kecil. Kamu itu ibarat batang pohon yang baru saja tumbuh. Kamu masih punya banyak waktu untuk memilih. Aku harap yang terbaik buat kamu."
Perkataan Ben menjadi yang terakhir yang ia ucapkan pada Gia, lalu ia pergi meninggalkan Gia begitu saja.
Gia hanya bisa menangis tersedu-sedu sembari memandangi kepergian Ben.
Setelah berlama-lama menangis. Gia memutuskan untuk pulang. Tapi, pelayan mencegatnya.
"Mba, jangan pergi! Bayar dulu makanannya!"
Gia langsung melototi pelayan itu hingga membuat pelayan itu gemetar sembari menelan salivanya.
Tapi apalah daya, Gia yang sudah memesan makanan yang tadinya untuk seseorang yang ia cintai, walaupun orang yang ia cintai tak memakannya dan memilih pergi meninggalkannya. Tetap saja ia harus membayarnya.
Setelah membayar, Gia pergi dengan penuh kecewa.
*****
Di Taman.
Gia sedang duduk termenung sendiri di tepi air mancur sambil melamun dan mengingat kejadian saat Ben memutuskannya dan pergi meninggalkannya.
"Dasar laki-laki bodoh! Gatau diri!" Gia emosi sambil menghapus air matanya.
"Tunggu dulu! Kenapa Gue harus menangis ya mikirin cowok kayak gitu? Lagi pula Gue kan bisa memilih lagi cowok yang lain. Cowok di dunia ini kan banyak! Kenapa Gue harus berharap sama dia? Lagian Gue ini kan cantik dan tajir. Akan ada banyak cowok ganteng yang bakal naksir sama Gue!" Gumamnya.
"Gue harus buka lagi dating apps (Aplikasi Kencan). Gue bakal pilih cowok yang paling ganteng dan yang paling kaya yang pantas buat Gue pacari!" Gumamnya lagi sambil membuka ponselnya.
"Oiya! Di sini kan ada WiFi. Kenapa Gue harus nyalain data Gue yaa? Mending pakai WiFi saja biar irit kuota." Gumamnya lagi sembari terkekeh.
Saat sedang asik mencari teman kencan di ponselnya. Tiba-tiba hujan turun. Semua orang berlarian.
"Hujan! Gimana nih?"
Gia langsung lari terbirit-birit menuju halte bus.
Sesampainya di sana.
Ia berteduh sembari ngos-ngosan karna kecapekan habis berlari tadi, ia langsung melihat ponselnya.
"Hp Gue? Yah hp Gue? Hp Gue kehujanan, jadi mati begini! Dasar Hp jelek! Lain kali Gue bakal beli hp yang kedap air! Biar gak mudah rusak." Gia berbicara sendiri sambil menepuk-nepuk ponselnya.
Beberapa menit kemudian...
Hujan semakin deras. Langit semakin gelap padahal ini masih siang. Gia menggigil kedinginan. Sebagian orang yang berteduh bersamanya sudah pulang dengan bus dan supir mereka yang menjemput mereka masing-masing.
Gia terus menggigil kedinginan. Tiba-tiba ada seorang ibu yang merasa iba melihat Gia yang kedinginan.
"Neng, dingin ya? Ini pakai dulu jaket punya ibu." Ucap ibu itu sambil menawarkan jaketnya.
"Tidak usah Bu! Nanti ibu kedinginan."
"Tidak apa-apa! Tidak usah sungkan! Ibu bisa nahan dingin kok gak separah kayak Eneng. Ayo pakailah!" Ucap ibu itu. Gia langsung menerimanya.
"Terima kasih bu."
"Sama-sama."
"Eneng rumahnya di mana?" Lanjut ibu itu bertanya.
"Rumah saya di 'Jln menuju bahagia 28'." Jawab Gia yang masih menggigil.
"Wah berarti gak terlalu jauh ya dari sini?" Tanya ibu itu lagi.
"Bagi saya jauh banget bu. Apalagi jalannya gak ada bus yang jurusan ke situ." Jawab Gia.
"Iya setau ibu, karna jalannya berkelok jadi gak ada bus yang ke sana." Tebak ibu itu. Gia hanya mengangguk sembari terus menggigil.
"Kenapa gak minta saudara atau supir buat jemput Eneng? Kalo ibu lagi nunggu suami ibu jemput."
"Ponsel saya mati bu! saya mau nunggu taksi saja." Jawab Gia sambil memperlihatkan ponselnya yang mati.
"Bakal lama neng kalau nunggu taksi, apalagi di saat hujan begini. Lebih baik Eneng minta di jemput saja sama saudara atau supir." Ujar ibu itu.
"Kalau begitu hubungi keluarga Eneng pakai hp ibu saja." Lanjut Ibu itu meminjamkan ponselnya.
Gia langsung menerimanya dan menghubungi ibunya, untungnya Gia masih ingat nomor ponsel ibunya.
"Halo mah! Ini Gia."
^^^"Gia sayang, kamu kok belum pulang? Mama telpon kamu dari tadi kok gak di angkat? Ini kamu telpon mama pakai hp siapa nak?"^^^
"Ini ada orang baik yang pinjemin Gia hp mah. hp Gia lagi mati!"
^^^"Mama khawatir banget loh sama kamu! Dari pagi sampai sekarang kamu belum pulang-pulang. Mama takut kamu kehujanan."^^^
"Gia sudah kehujanan mah, sekarang Gia lagi berteduh dulu di halte."
^^^"Sama Ben?"^^^
"Sendiri mah!"
^^^"Loh kok sendiri? Ben gak sama kamu?"^^^
"Ceritanya panjang mah. Nanti Gia ceritain kalau sudah pulang. Sekarang kasih tau supir buat jemput Gia di halte bus yang jurusannya mau ke 'Jln Selalu Rindu 02'. Sekarang ya mah! Gia sudah kedinginan."
^^^"Iya iya! Nanti mama minta supir buat jemput kamu."^^^
Setelah menelpon ibunya, Gia mengembalikan ponselnya pada ibu itu, dan tak lupa ia mengucapkan terima kasih.
Tak lama suami dari ibu itu menjemputnya lalu ibu itu pulang duluan bersama suaminya naik motor. Kini di halte Gia di temani beberapa ibu-ibu. Karna sebagian orang sudah pulang berurutan menggunakan supir mereka dan ada yang naik bus juga.
Tak lama kemudian...
Seorang pemuda berseragam SMA berlari kehujanan menuju halte dan berteduh di sampingnya. Gia di buat kaget karna Pemuda itu tiba-tiba sudah berdiri di sisinya sembari ngos-ngosan saking lelahnya, pemuda itu pun mengibaskan rambutnya yang basah.
Gia langsung menatap pemuda tinggi itu dari samping. Pemuda itu sangat tampan meskipun di lihat dari samping.
Pemuda itu kini menatap langit yang masih mengeluarkan air hujan, ia tidak menyadari kalau ada seseorang yang kini sedang menatapnya.
Gia terus menatapnya sampai ia lupa mengedipkan mata karna saking terpesonanya dengan ketampanan pemuda tinggi itu yang memiliki wajah yang tampan, berkulit putih, hidung mancung, bulu mata yang lentik, dan badan yang kekar dan juga sangat tinggi.
"Wah, ganteng banget." Batin Gia sambil mengelus dada lalu kembali melirik pemuda itu.
Tak lama, pemuda itu mulai menyadari kalau ada seseorang yang sedang menatapnya. Kemudian ia berbalik menatap Gia.
Gia langsung terpukau setelah di tatap balik pemuda itu yang menunjukkan pancaran aura full ketampanannya.
Perlahan siang hari yang tadinya terlihat gelap oleh awan hitam, kini berubah seketika menjadi cerah setelah pemuda itu berbalik menatapnya.
Sepertinya seolah-olah langit juga ikut terpukau dan bersorak menyinari ketampanan wajah pemuda itu.
Perlahan jantung Gia mulai berdebar. Tanpa ia sadari, tiba-tiba ia tersenyum merekah memperlihatkan gigi kelincinya pada pemuda itu.
Kini mereka saling bertatapan.
Pemuda itu mulai risih dengan senyuman Gia yang aneh.
Ia hanya menatap Gia dingin tanpa membalas senyuman anehnya.
Pemuda itu langsung memalingkan wajahnya lalu bergegas pindah posisi ke depan dekat jalan yang di penuhi genangan air.
Gia langsung kesal karna pemuda itu tak membalas senyumannya dan malah memilih pindah ke depan.
Pemuda itu berdiri di depan jalan, tiba-tiba ada sebuah mobil melaju kencang dari sebelah kiri, melintas dengan kecepatan tinggi melewati genangan air, sehingga genangan air tersebut merambas dahsyat ke wajah beserta seragam pemuda itu. Semua orang di sana langsung menertawakannya termasuk Gia.
Serentak pemuda itu kaget sekaligus malu. Ia langsung menatap orang-orang yang kini sedang menertawakannya. Para ibu-ibu mulai mengatainya.
"Heh dek! Kenapa diam disitu?"
"Bukannya mundur pas ada mobil lewat! Malah diam di situ. Sudah tau jalan lagi banjir. Tuh kan jadi kecipratan."
"Sebaiknya kamu pindah ke belakang! Biar air di jalan gak merambas lagi ke baju kamu."
Pemuda itu berusaha menahan malu dengan pindah ke belakang dan kembali berdiri di dekat Gia.
"Ini lap muka kamu yang kotor!" Ucap Gia sembari memberikan sapu tangannya.
Pemuda itu langsung berbalik menatapnya.
...----------------...
...Bersambung....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 70 Episodes
Comments