"Lalu kita akan tidur di mana pak?" tanya Inka.
Robi langsung menatap Inka dengan tatapan yang sangat terkejut.
"Apa? Kita? Apanya sih?" tanya Robi.
Inka menghela napasnya panjang, " maksud saya, apa malam ini kita tidur di kursi yang keras ini?" tanyanya kepada Robi, membuat Robi pun mencerna ucapan Inka.
"Kau tidur lah di ruang keluarga yang sudah di sediakan di sini," sahut Robi.
"Wah, di mana pak, badan ku sakit semua pak. Tidur di kursi," kata Inka.
"Nanti akan saya tunjukan, biar nanti saya yang tidur di ruangan tuan Naren. Aku ingin menjaganya," ucap Robi.
Inka pun merasa dirinya tidak berguna, karena telah menyebabkan Naren jatuh pingsan dan harus di rawat. Dengan ke gigihannya Inka menawarkan diri untuk menjaga Naren sebagai ganti rugi atas kecerobohannya.
"Kalo begitu saya aja pak yang jagain bos, kan gara-gara saya tuan Naren harus di rawat," ucap Inka.
"Sudah tidak apa-apa aku juga salah tidak memberi tahu mu jika dia alergi, biarkan saya saja yang menjaganya," kata Robi.
"Saya aja pak, bapak fokus ngurusin file saja," sahut Inka.
"Enak aja, saya tidak mau. Tuan Naren itu adalah belahan jiwa saya," ucap Robi keceplosan langsung menutup mulutnya.
Inka yang mendengar kata belahan jiwa langsung terpaku menatap Robi yang langsung menutup mulutnya karena salah berbicara.
Mereka saling bertatapan seperti orang yang sama-sama terkejut.
'Mati lah aku, kenapa mulut ini bisa salah sebut. Pasti dia mengira aku menyukai Naren,' batin Robi.
"Apa aku tidak salah dengar pak?" tanya Inka.
"Memangnya kau mendengar apa? Ayo katakan," ucap Robi.
"Aku mendengar kalo bapak adalah belaha ... n," ucap Inka belom sempat melanjutkan ucapannya membuat Robi langsung menutup mulut Inka dengan ke dua tangan.
Dengan Reflek Inka memukul tangan Robi, pukulan yang sangat keras membuat Robi meringis kesakitan.
"Tenaga mu seperti badak ya," gerutu Robi.
Robi meringis ke sakitan saat memegang tangannya yang merah akibat pukulan Inka, ia menatap Inka dengan rasa heran dan langsung menghelakan napasnya.
"Susah, jika harus di jelaskan semua ya, intinya ini tidak seperti yang kau bayangkan," ucap Robi.
"Terserah bapak, itu hanya pak Robi dan tuan Naren yang tahu," ucap Inka.
Akhirnya Inka dan Robi menjaga Naren di dalam ruangan, Inka yang tidur di sofa sedangkan Robi menggelar kasur lantai untuk nya tidur.
Tengah malam Inka terbangun karena Ia merasa ingin buang air kecil, dengan mata yang masih ngantuk Inka berjalan kekamar mandi melewati Naren yang belom juga sadarkan diri.
Saat dirinya masuk ke kamar mandi, tangan Naren mulai bergerak dan tak sengaja Naren menjatuhkan alat oxymeter sehingga alat yang menghubung ke monitor itu berbunyi.
Sayup-sayup Inka mendengar suara monitor berbunyi membuatnya panik dan segera keluar dari kamar mandi, Ia melihat salah satu alat yang terpasang di jari Naren terjatuh. Dengan cepat Inka langsung menganbil alat itu dan memasangkan ke tangan Naren.
Saat menyentuh tangan Naren, seketika tangannya bergerak langsung menggenggam tangan Inka, kejadian itu membuat Inkat terkejut bukan main. Ia berusaha melepaskan genggaman itu tetapi tenaga Naren sangatlah kuat.
Inka berusaha membangunkan Robi yang tertidur sangat pulas, kaki Inka menendang badan Robi sampai Robi tergelincir cukup jauh. Inka pun terkejut karena tendangannya mampu menggeserkan Robi menjauh darinya.
"Aduh bagai mana ini? Aku tidak sengaja nendang pak Robi," gerutu Inka dengan wajah yang panik.
Inka berusaha tenang dan mencoba membuang napasnya dengan kasar, agar dirinya lebih tenang.
"Tuan Naren, apa anda sudah sadarkan diri? Kenapa tuan memegang tangan ku begitu erat, ini rasanya sanhat sakit," ucap Inka berusaha melepaskan genggaman itu.
Matanya pun terbuka lebar, melihat sekeliling nya terasa tidak asing untuk Naren. Ia langsung menatap wanita yang tangannya sedang di genggam erat oleh nya.
"Kau ... kenapa di sini?" tanya Naren.
"Ceritanya sangat panjang tuan, kau harus beristirahat. Tapi tuan, apa kau baik-baik saja?" sahut Inka.
Naren berfikir sejenak dan menganggukan kepalanya, " di mana Robi?" tanyanya membuat Inka langsung mengalihkan pandanganya ke arah Robi yang sedang tertidur nyenyak.
'ternyata dia tidurnya melebihi seperti badak,' batin Inka.
"Pak Robi sedang tertidur tuan, apa tuan merindukannya?" ucap Inka.
Naren pun hanya bisa menganggukan kepalanya, Inka sudah mengira jika tuannya memiliki hubungan khusus dengan pak Robi.
'Jadi rasa curiga ku terbalaskan, ternyata mereka memiliki hubungan khusus. Aduh ... sayang sekali, padahal tuan Naren sangat lah tampan, tapi seleranya lelaki. Pupus lah harapam wanita di dunia ini, aku turut bersedih,' batin Inka.
Genggaman itu pun terlepas saat Robi terbangun karena kedinginan, melihat Inka berdiri di dekat ranjang Naren membuatnya langsunh berdiri.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Robi.
Inka menoleh ke arah sumber suara dan menatap Robi.
"Tuan Naren sudah sadarkan diri, kamari lah. Bukan kah pak Robi merindukannya," jawab Inka.
Robi pun mendekati Inka melihat Naren yang sudah sadarkan diri langsung memanggil dokter Luis, akhirnya dokter pun datang dan memeriksa keadaan Naren.
Inka san Robi berdiri di dekat dokter Luis, Inka terus menatap gerak-gerik doktee Luis yang menurutnya sangat keren, Ia memandangi terus dokter Luis sampai tak mendengar diajak ngobrol oleh Robi.
"Apa kau menyukai Luis?' bisik Robi.
Inka kaget saat bisikan itu bergema di telinganya, "tidak pak, aku hanya senang melihat pria menggunakan jas putih seperti dokter itu" ucap Inka.
"Dia bernama Luis Jhonson, dia orang bule. Apa kau tidak mau memilik pacar orang bule?" ucap Robi.
Inka menatap Robi dengan tatapan yang sangat heran karena tingkah laku Robi.
"Bapak ini bicara apa sih? Kenapa bahas tentang pacar? Aneh sekali?" celetuk Inka.
Luis selesai memeriksa kondisi Naren yang beebeda dari biasanya, respon otaknya pun sangat bagus dan cepat tanggap. Karena obat yang di suntikan oleh Luis sangat mempengarihi kerja otaknya, membuat nya sangat khawatir.
Tetapi ketakutannya itu malah justru membuat Naren memiliki potensi untuk terlepas dari penyakit yang di derita selama ini.
Luis mengajak Robi untuk berbicara kondisi Naren di ruangannya, Inka yang menjaga Naren seorang diri.
"Bagai mana dengan Naren?" tanya Robi.
"Ini seperti keajaiban Bi, Naren akan sembuh dari syndrom yang di deritanya. Ini kabar yang sangat menggembirakan," jawab Luis.
"Tadi aku melihat Naren memegang erat tangan Inka, tetapi aku melihatnya sayup-sayup. Apa itu juga berpengaruh untuk kesembuhan Naren?" tanya Robi.
"Kemungkinan besar Bi, karena semakin dia meendapat sentuhan dari wanita akan menaikan hormonnya dan memgaktifkan saraf di otak yang tidak berfungsi," jelas Luis.
Entah ini menjadi kebetulan atau memang sudah waktunya Naren harus mencari pendamping hidup. Saksikan terus ya teman-teman jangan lupa tinggalkan jejak, Like dan coment di bawah ini.
Love you borahe💜💜💜
BERSAMBUNG....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 87 Episodes
Comments