Rosida yang melihat dari kejuahan mobil Nina menepi langsung bersiap-siap mendekat.
"Yah, sepertinya Nina datang kemari," ucap Rosida.
Nina keluar dari mobil dan berjalan menuju kedainya, mereka saling sapa dan tertawa seolah sudah memberi kode akan datang.
"Wah kalian sangat akur," celetuk Inka langsung mengambil air mineral untuk di minum.
"Kita kan besti, iya kan tante," sahut Nina.
"Tunggu, apa itu besti?" tanya Rosida.
"Ibu terlalu katrok alias ndusun, masa besti aja gak tau," celetuk Jimin.
"Beraninya kau berkata seperti itu! Ibu akan kurangi uang jajan mu," seru Rosida.
Kelakuan jimin selalu membuat ibunya marah dan kesal tetapi hanya sesaat, semua amarahnya tak pernah menjadi dendam. Mereka terus berbincang sambil Rosida menyiapkan ayam goreng dan minuman soda, makanan dan minuman itu sudah menjadi ciri khas dari kedai nya.
"Wah ... aroma ayam gorengnya membuat ku lapar," ucap Nina.
"Tante buatkan khusus untuk mu, ayo makan lah ini masih hangat," kata Rosida.
"Bagaimana dengan hasil interview mu?" tanya Solihin.
"Aku belom di terima, tetapi besok mulai training. Sebagai masa percobaan," jawab Inka.
"Sudah tidak apa-apa, semoga nasib mu bagus. Ngomong-ngomong apa kau sakit?" tanya Rosida yang baru menyadari jika Inka tanpa make up.
"Tidak, memang nya kenapa? O ... apa karena aku tidak make up? Aku hanya menghindari hari sial ku, siapa tau aku beruntung dan nyatanya aku masuk training," jelas Inka.
"Kau harus ke dukun untuk menanyakan pastinya," sahut Rosida.
"Jangan lakukan itu! Musrik jika pergi ke dukun," ucap Solihin.
Mereka berdua selalu berantem perihal kacil, membuat telinga Inka terasa akan meledak. Tanpa kesabaran lagi Inka langsung memisahkan kedua orang tuanya yang sedang beradu tentang perdukunan.
"Sudah, hentikan! Siapa yang akan ke dukun! Aku tidak akan ke sana!" teriak Inka.
Teriakan itu membuat kedua orang tuanya terdiam. Mereka akhirnya kembali ke dapur untuk menggoreng ayam, sedangkan solihin merapihkan piring.
"Mereka berdua sangat menggemaskan," ucap Nina.
Inka langsung menatap Nina yang sedang mengunyah ayam goreng.
"Apa kau tahu, mereka selalu rasa ribut hanya masalah aku belom mendapat pacar dan pekerjaan ku yang selalu sial," jelas Inka.
"Sudah kau tenang saja, aku menemukan dukun yang sakti mandra guna," bisik Nina.
Mata Inka seketika melebar dengan sempurna, mendengar kata dukun sakti.
"Hei ... aku juga mendapat info tentang dukun sakti," bisi Inka sambil melirik ke arah kedua orang tuanya yang sibuk masing-masing.
Mereka berdua saling menunjukan poster dukun sakti yang ada di internet, betapa terkejutnya mereka berdua jika dukun yang di bicarakan ternyata orang yang sama. Membuat mereka tertawa sampai terpingkal-pingkal.
Rosida yang melihat mereka tertawa bersama seperti tak ada beban membuatnya penasaran dan ikut menyautinya.
"Hei ... kalian sedang menertawakan apa?" teriak Rosida membuat Inka langsung terdiam dan menoleh ke arahnya.
"Ini hanya obrolan anak muda," sahut Inka.
Inka memberi kode kepada Nina agar berhenti tertawa, tetapi Nina tidak bisa menahan kelucuan yang di buat sendiri. Saat Ia minum air mineral, air itu menyembur ke wajah Inka.
Inka yang mendapat semburan air langsung merapatkan giginya, menatap tajam Nina yang terkejut melihat tingkah nya sendiri.
"Nina! Apa-apaan ini," teriak Inka.
Dengan cepat Nina menghindari serangan dari Inka, mereka berdua kejar-kejaran seperti anak kecil yang sedang rebutan makanan.
"Berhenti di tempat, awas kau ya!" teriakan Inka membuag Nina semakin cepat berlari sampai keluar kedai.
"Maaf Inka, aku tidak sengaja," sahut Nina.
....
Pagi hari, Inka bersiap untuk pergi ke kantor, saat dirinya akan merias wajahnya yang cantik. Seketika dia teringat jika kemarin dia tidak merias diri tetapi nasibnya cukup bagus. membuatnya langsung mengurunhkan niatnya untuk merias.
'Apa aku harus tampil seperti ini, pucat tanpa male up. Tapi ... demi masa depan ku baikalah, lanjutkan Inka, kau bisa merias diri setelah pulang kerja,' batin Inka.
Terlihat hanya menggunakan lipsgloss membuat Inka seperti anak SMA yang akan berangkat ke sekolah, wajahnya yang babyface membuatnya terlihat sangat polos.
"Makan lah dulu, ini hari pertamamu bekerja," ucap Rosida.
"Aku hanua training bu," sahut Inka.
"Iya itu yang ibu maksud, ayo makan yang banyak," kata Rosida.
Selesai sarapan, Inka keluar rumah dan berangkat ke kantor Adewe Group. Saat berjalan melewati trotoar area kantor, Inka melihat karyawan yang bekerja di kantor itu terlihat sangat cantik dan modis, membuatnya langsung berkhayal.
'Andai aku bisa seperti mereka, hidup ku akan penuh dengan pujian,' batin Inka.
Hampir saja dirinya menabrak pos satpam yang ada di pintu masuk, lamunanya terhenti saat ponselnya berbunyi.
Inka : "Iya hallo."
Tidak ada jawaban entah siapa yang menelponnya membuat Inka tak memperdulikannya lagi meski berkali-kali ponsel berbunyi, saat di angkat terputus.
Inka menonaktifkan ponselnya, dan masuk ke dalam kantor, Ia menunggu di lobi. cukup lama sekitar 15 menit, ada banyak karyawan terutawa wanita yang mengerumunin mobil mewah yang ada di depan pintu masuk kantor itu.
Inka pun penasaran, tetapi dia bingung harus berbuat apa. Suara langkah kaki yang sangat cepat masuk ke dalam kantor, melewati lobi. Terlihat Narendra berjalan di ikuti Robi di belakangnya, Ia melihat Inka da berhenti sejenak.
"Ikuti aku," bisi Robi membuat Inka langsung mengikuti mereka berjalan menuju lantai atas.
Keheningan sangat terasa di dalam lift itu, Naren tanpa melirik Inka, membuatnya bertanya dengan Robi.
"Apa dia sekretaris baru ku?" tanya Naren.
"Benar Tuan," jawab Robi.
"Aku mau kau ajari semua yang harus dia lakukan," ucap Naren.
Saat pintu lift terbuka, Ia berjalan terlebih dahulu. Melangkah dengam cepat membuat Inka hampir tak bisa mengikuti langkahnya.
Robi membawa Inka masuk ke dalam ruanganya, sebelum masuk ke dalam ruangan Narendra.
"Kau tunggu sini dulu ya, aku harus keruangan bos," ucap Robi.
Dengan wajah yang bingung, Inka hanya menganggukan kepalanya.
'Itu CEO nya, yang bernama Narendra? Benar sih dia sangat tampan dan mendekati kata sempurna, di lihat dari wajah nya dia pria yang baik, eh belom tentu. Pria yang kasar, eh belom tentu. Entah lah,' batin Inka.
BEREAMBUNG.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 87 Episodes
Comments