Inka berjalan menuju kedai milik orang tuanya, terlihat badannya yang lemah dam wajahnya yang kusam membuatnya langsung duduk di meja pengunjung.
"Hadeh, rasanya kaki ku mau patah," gerutu Inka memijat kakinnya.
Solihin yang melihat putrinya sudah berada di kedai, sedang duduk membuat nya langsung mendekati.
"Wajah mu sangat pucat, apa kau belom makan?" tanya Solihin.
"Iya, aku sangat lapar," jawab Inka.
"Bagai mana pekerjaan mu? Apa semuanya lancar?" tanya Solihin.
"Aku tak mampu bercerita jika perut ku kosong, berikan aku makanan," keluh Inka membuat Solihin langsung membuat kan ramen bersamaan dengan es jeruk kesukaannya.
Rosida yang melihat Solihin memasak ramen, merasa penasaran, dan mendekatinya.
"Kau membuat ramen untuk siapa?" tanya Rosida.
"Untuk putri kita, dia terlihat sangat lemas dan kelaparan," jawab Solihin.
Merasa penasaran Rosida langsung menghentikan aktivitasnya mendekati Inka yang sedang duduk menjatuhkan kepalanya di atas meja. Rosida yang melihat hal itu langsung mencolek punggung Inka.
"Hei ... apa kau sehat? Kenapa kau seperti bekerja tanpa istirahat?" tanya Rosida.
Tak mendapat jawaban dari Inka, karena Ia tak sanggup untuk berbicara, perutnya yang sedari berbunyi karena lapar, membuatnya hanya terdiam lemah tak berdaya.
Solihin yang melihat Rosida terus mengomeli Inka, dengan sigap sebagai seorang ayah, Ia pun langsung menyauti ucapan istrinya.
"Sudah, biarkan dia makan dulu. Lihatnya wajahnya sangat pucat karena kelaparan," sahut Solihin.
Solihin meletakan ramen dan es jeruk di atas meja, membuat Inka langsung bangun dan menyantap ramen, Rosida yang melihat tingkah putrinya sendiri merasa sangat heran karena mencium bau makanan Ia langsung bangkit.
"Kau ini, saat Ibu memanggil mu. Kau tidak menjawab apapun, saat makanan datang di hadapan mu. Kau langsung bangkit dan memakan ramen itu penuh dengan semangat, jangan sampai kau menjadi anak yang durhaka ya Inka!" ocehan Rosida tak di perdulikan oleh Inka.
Inka terus memakan ramen itu, sampai rasa laparnya berubah menjadi kekenyangan, di padu dengan es jeruk kesukaan nya membuat rasa kenyang itu samakin sempurna.
Suara sendawa menggelegar, membuat Rosida langsung memukul kepala Inka dengan keras membuatnya langsung menoleh ke arah belakang.
"Ak ..."
Suara Inka membuat Rosida semakin kesal.
"Sopan sekali sendawa mu ya, apa tidak ada yang mengajarkan mu sopan santun, inka!" seru Rosida.
"Jangan marah-marah lah bu, apa aku salah jika bersendawa?" tanya Inka.
"Jelas kau salah," ucap Rosida.
"Sudah lah, aku pulang saja kerumah. Ayah! Terimakasih ramennya enak sekali," sahut Inka.
Rosida yang melihat Inka kabur, tidak membereskan bekas makananya, membuatnya semakin marah.
"Inka! Ya ampun ..." panggil Rosida.
Kemarahan Rosida kepada Inka sudah lah menjadi hal yang sangat biasa, mereka selalu bertengkar hal yang sepele. Membuat Solihin berusaha menjadi penengah antara mereka.
Belom selesai kemarahan Rosida kepasa Inka, tiba-tiba datanglah Jimin dari kejauhan, menyapa ayahnya yang sedang membawa ramen bekas Inka makan.
"Hallo ayah," sapa Jimin.
"Kenapa pulang terlambat? Apa ada pelajaran tambahan?" tanya Solihin.
Jimin langsung duduk dan memakan cemilan yang ada di atas meja tanpa mengetahui jika Rosida sedang marah kepada kakaknya.
"Ayah," bisik Jimin membuat Solihin mendekatinya.
"Ada apa?" bisik Solihin.
"Ibu kenapa, aku melihat ada kedua tanduk di kepalanya? Apa kakak mencari gara-gara lagi?" tanyanya terlihat sangat penasaran.
Solihin tak berani menjawab pertanyaan putranya, Ia hanya mengganggukan kepalanya karena Ia pun takut ketika Istrinya sedang sensi.
"Sudah sana masuk rumah, dan segera mandi. Jangan sampai Ibu mu marah untuk kedua kalinya" bisik Solihin.
Jimin seolah mengerti kondisi yang sebenarnya, Ia dengan cepat langsung kabur meninggalkan kedai itu dan berjalan ke rumahnya yang tidak jauh dari kedai.
'Pasti ini ulah kak Inka,' batin Jimin.
Jimin masuk ke dalam rumah, melihat Inka sedang minum air mineral. Membuatnya langsung mengagetkan Inka sehingga air yang Ia minum menyembur tepat di wajah Jimin.
"Kakak!" teriak Jimin.
Inka yang kaget langsung berusaha menutup mulut Jimin yang teriak sangat keras.
"Kau ini diam, mengagetkan ku saja," ucap Inka.
"Kenapa kakak menyemburku, memangnya aku iki demit alas apa?" tanya Jimin dengan wajah kesal.
"Kau yang mengagetkan ku, jadi bukan salah ku lah," elak Inka.
Inka masuk ke dalam kamarnya, meninggalkan Jimin yang masih berdiri di dekat dapur.
Inka meletakan 2 buku besar di atas meja belajarnya. Ia langsung membersihkan tubuhnya yang terasa sangat letih.
Melihat buku itu membuat Inka malas untuk membukanya.
"Ya ampun banyak sekali peraturan menjadin sekretaris bos gila itu, wajar jika tidak ada yang betah bertahan dengannya. Belom bekerja daya tugasnya sudah segunung," gerutu Inka.
Inka terlihat mempelajari setiap lembar buku itu hingga larut malam, membuatnya tidur di kursi karena sangat lelah dan mengantuk.
Malam yang panjang itu membawa semua mimpi yang sudah di rangkai oleh Inka pergi jauh, berganti suara alarm yang setia membangunkannya. Sayup-sayup matanya terbuka melihat jam bekernya terus berbunyi.
Merasa badannya sakit semua karena Ia tertidur dengan posisi duduk di kursi. Inka langsung mandi dan memakai pakaian yang cukup menaril dan rapih, seperti biasa Ia kini berpenampilan tanpa riasan hanya menggunakan lipglos agar tidak terlalu natural.
"Bismilahirohmanirohim," kata Inka menatap cermin.
Dengan senyuman nya yang begitu manis, Inka keluar kamar, melihag Rosida sedang memarahi Jimin, membuatnya segera berpamitan dan pergi meninggalkan rumahnya.
Sampai di kantor Adewe Group, Inka langsung masuk ke dalam ruangan Narendra, merapihkan ruangan kerjanya, mengganti pewangi yang beraroma greentea.
Merasa semua pekerjaanya selesai Ia langsung duduk di mejanya, sambil menunggu Narendra datang bersama asisten Robi.
Tepat pukul 07:00 Suara langkah dari ujung lift dengan cepat masuk ke dalam ruanganya, saat melewati Inka yang sedang menundukan kepalanya, langkahnya pun terhenti menatap Inka dengan tatapan yang tajam.
"Siapa namamu?" tanya Naren.
"Saya Inka Pioni tuan," jawab Inka.
Narendra langsung masuk ke dalam ruangannya melihat ruangannya yang rapih dan aroma greentea membuatnya langsung memanggil Inka.
"Inka! ..." panggil Naren.
Inka yang merasa namanya di panggil langsung masuk ke dalam ruangan.
"Maaf, tuan memanggil saya?" tanya Inka.
"Siapa yang menyuruh mu memasang pewangi ini," ucap Naren.
"Maaf tuan, saya pikir anda menyukai nya. Kalo gitu saya akan ganti aroma yang lain, bagaimana tuan?" ucap Inka dengan begitu polosnya.
Melihat tatapan tajam Naren, membuatnya sangat gugup. Ia berusaha menenangkan dirinya.
Dengan cepat Inka mengambil semua pewangi yang memiliki aneka aroma.
"Ada ingin aroma yang mana tuan?" tanya Inka.
Naren melirik Inka memegang beberapa pengharum ruangan yang cukup banyak, menunjukan kepadanya. Membuat Naren semakin kesal dan marah.
BERSAMBUNG....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 87 Episodes
Comments