Saat Naren menerima telpon dari ayahnyaz Ia pun berjalan masuk ke dalam ruangannya, tiba-tiba tercium aroma bunga lili yang membuatnya sesak, seketika Naren langsung mematikan telpon itu.
Terdengar suara telpon di meja Inka berbunyi, saling menatap dengan Robi, Inka pun mengangkat telpon itu. Mendengar teriakan dari dalam telepon, membauat Inka langsung berlari masuk ke dalam ruangan Naren.
Robi yang merasa ada rapat yang mendesar langsung menggantikan Naren, masuk ke dalam ruang rapat.
Inka yang melihat Naren dengan wajah yang sangat pucat membuatnya panik.
"Apa tuan baik-baik saja?" tanya Inka.
"Siapa yang meletakan aroma bunga lili di ruangan ku!" seru Naren menatap tajam Inka.
"Maafkan saya tuan, saya yang meletakan pewangi itu," jawab Inka.
"Buang sekarang juga, cepat!" perintah Naren membuat Inka semakin panik, sehingga Ia membuang pewangi itu di dalam kotak sampah yang ada di ruangan Naren.
"Jangan buang di situ! Buang keluar!" teriak Naren berusaha untuk menahan sesak di dadanya.
Akhirnya Inka langsung membawa se kotak sampahnya keluar dari ruangan Naren.
Naren akhirnya menjatuhkan tubuhnya tepat di hadapan Inka, Inka pun sangat terkejut saat Naren jatuh pingsang di dalam pelukannya. Seketika Inka menompang badan Naren yang sangat besar dan kekar.
Inka berusaha meletakan tubuh Naren di atas sofa, Ia melihat dari luar ruangan. Tidak ada yang membantunya sama sekali, mereka terlihat sangat sibuk dengan pelerjaanya.
Inka pun keluar mengambil handuk kecil dan air dingin untuk mengompres kening Naren. Ia berinisiatis untuk memberikan kompres dingin yang instan.
Kepanikan Inka membuatnya hampir lupa jika dia hanyalah seorang sekertaris bukan seorang pacar atau istrinya, tetapi perhatiannya melebihi itu semua.
Cukup lama Naren pingsan, Ia merasakan dinging di atas kening nya, membuatnya terbangun dan membuka matanya.
Inka yang melihat Naren membuka matanya berlahan langsung bangung dari duduknya.
"Tuan, apa kau baik-baik saja?" tanya Inka.
"Di mana Robi, hari ini aku ada rapat dengannya," jawab Naren dengan nada yang lemah.
"Pak Robi sedang menghadiri rapat yang mendesak tuan, saya harap tuan beristirahat lah. Semua rapat hari ini akan di handle olah pak Robi tuan," jelas Inka.
"Apa kita perlubke dokter tuan?" tanya Inka
Naren menatap Inka, membuatnya langsung menundukan kepalanya karena merasa bersalah.
"Maafkan saya tuan, saya tidak tahu," ucap Inka.
"Keluar lah dari ruangan ku, aku ingin sendiri," pinta Naren.
"Nanti kalo terjadi sesuatu dengan tuhan bagai mana?" tanya Inka.
"Hei, aku bukan anak kecil yang jika terjatuh menangis kencang!" seru Naren.
"Tapi tuan tidak memecat ku kan?" tanya Inka.
Naren merasa kesal dengan pertanyaan yang keluar dari mulut Inka, membuatnya menatap tajam mata Inka.
"Keluar sekarang atau nanti akan aku pecat."
Ucapan Naren membuat Inka ketakukan dan langsung keluar dari ruangan Naren, Ia berjalan menuju mejanya.
'Kejam sekali ucapannya, tingkahnya pun terlihat sangat aneh,' batin Inka.
Inka duduk di kursinya dan terus menatap ruangan Naren yang terbuat dari kaca, sehingu menembus bayangan dari dalam.
'Apa dia sedang sakit? Atau dia alergi bunga lili. Kejadian tadi sangat mengerikan membuat ku hampir ketakutan jika sampai terjadi sesuatu dengannya, nasib baik masih menemani ku,' batin Inka.
Inka sibuk dengan komputernya, sambil melirik ke ruangan Naren yang masih duduk di sofa sambil memejamkan matanya.
Ponselnya terus berbunyi tetapi tidak di hirauan olehnya. Rasa khawatir kepada Naren datang begitu saja membuat terus melirik ruangannya.
'Apa dia masih hidup? Kalo sampek dia meninggal dunia, tamatlah riwayatku,' batin Inka.
Inka membayangkan jika Naren mengalami kejang dan seketika dirinya langsung berlari menuju ruangan Naren, saat Ia masuk ke dalam dan melihat bosnya menatap tajam dan menujuk ke arah Inka. Ia meminta tolong dan sampai akhirnya menghembuskan napas terakhirnya.
Hari itu juga 2 orang polisi menangkap Inka dan membawanya ke kantor polisi, Inka menggunakan pakaian berwarna oren yang bertuliskan "tahanan."
Tidak sanggup untuk meronta-ronta, Ia seperti pasrah dengan keadaannya.
Lamunan itu di buyarkan oleh panggilan Robi yang berulang kali membuatnya sangat kesal dengan Inka.
"Inka...."
"Inka...."
"Inka!...."
Panggilan itu sangat keras sampai Robi mengetuk meja. Inka langsung tersadarkan oleh lamunannya.
"Untung cuman khayalan," gerutu Inka.
"Woi ... apa kau tidak mendengar ku!" suara lantang itu membuat Inka langsung menoleh ke arah sumber suara.
Melihat Robi dengan tatapan melotot kepadanya, membuat Inka langsung tersenyum untuk mencairkan suasana.
"Hehe, pak sehat?" tanya Inka.
"Sepertinya kau yang tidak sehat, bagai mana kondisi tuan Naren?" ucap Robi.
"Coba pak Robi tengok tuan Naren, saya takut mau masuk ke dalam," ucap Inka.
"Memang dia kenapa?" tanya Robi dengan wajah bingung.
Inka pun menjelaskan semua yang terjadi selama Robi menghadiri rapat bersama klien, Ia teringat jika Naren memang mempunyai riwayat alergi dengan aroma bunga.
Tanpa mendengarkan penjelasan Inka yang sangat panjang, Robi berlari menuju ruangan Naren. Inka yang sedang bercerita tentang kejadian yang dia alami, tetapi tidak di dengar oleh Robi.
"Bukannya mendengar terlebih dahulu ceritaku, main lari aja, gak bos gak asistennya memang aneh," gerutu Inka.
"Apa yang kau katakan?" tanya Geri.
Inka merasa kaget, ketika menoleh ke arah kanan ternyata Geri yang sedang menelpon pacarnya terlihat sangat marah, jantung Inka hampir copot.
"Aku pikir dia menegur ku, ternyata dia sedang menelpon dengan kekasih kan. Astaga ... jantung ku hampir mau copot,' batin Inka memegang dadanya.
Robi yang melihat Naren tak berdaya langsung membawa Naren keluar dari ruangannya, Inka yang melihat Naren di angkat oleh Robi, membuat nya yang terduduk langsung berdiri.
"Kau ikut dengan ku," ajak Robi.
"Baik pak," ucap Inka langsung membantu Robi membawa Naren.
Mereka melewati jalanan rahasia agar semua orang tidak banyak yang tahu, dengan cepat Robi langsung memasukan Naren ke dalam mobil di ikuti Inka.
Mobil itu melaju dengan kecepatan yang sangat tinggi, terdengar Robi menelpon seseorang dari kejauhan.
'Apa yang sebenernya terjadi? Sepertinya penyaki tuan Naren sangat berbahaya, apa yang mereka sembunyikan? Kenapa harus melewati pintu rahasia, aku semakin penarasan dengannya,' batin Inka.
Inka menjaga Naren yang masih memejamkan matanya, terlihat sangat tampan membuat Inka hampir gagal fokus.
Perjalanan menuju klinik pribadi tempat Naren akan di rawat cukup jauh, hampir melewati 2 rumah sakit besar. Inka yang melihat Robi terus melajukan mobilnya terus, merasa heran. Ia pikir Naren akan di bawa ke rumah sakit.
'Mau di bawa kemana dia? 2 rumah sakit besar sudah terlewat sangat jauh,' batin Inka.
Ingin sekali bertanya dengan Robi, tetapi niatnya terhalang karena melihat Robi yang terlihat sangat panik.
Sampai lah mereka di salah satu klinik yang cukup jauh dari manapun, Robi langsung menghentikan mobilnya tepat di depan pintu masuk mobil itu.
BERSAMBUNG...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 87 Episodes
Comments