Merasa sangat bingung, akhirnya Inka mengambil beberapa jenis pengharum ruangan ke hadapan Narendra yang sedang kesal.
"Maaf tuan, anda ingin wangi yang mana?" tanya Inka dengan polosnya menunjukan beberapa jenis pengharum kepada Naren.
Narendra yang menoleh ke arah Inka hanya bisa merapatkan giginya, tak mau memarahi Inka. Ia pun menyuruh Inka keluar dari ruangannya.
"Keluar sekarang!" teriak Naren.
Inka yang merasa bingung dengan teriakan itu, malah justru menyautinya.
"Tuan memecat saya?" tanya Inka dengan rasa terkejutnya.
Naren langsung menarik napasnya dengan kasar, Robi yang melihat kejadian diruangan bosnya. Langsung menarik Inka keluar dari ruangannya.
Belom sempat Inka mengatakan apapun lagi, Robi sudah menariknya keluar.
"Yang dimaksud tuan Naren adalah, kau keluar ruanganya bukan keluar di pecat. Apa kau mengerti!" jelas Robi.
"O ... begitu, baiklah. Aku akan kembali ke meja ku," jawab Inka.
Melihat beberapa jenis pewangi di tangannya, Ia langsung membalikan ketempat nya.
Sambil di bimbing Robi, setiap ada suara telpon berbunyi sapaan dan penolakan telah di ajarkan satu persatu dengan sangat teliti, membuat Inka mengerti dengan cepat.
Ia mampu mempelajari setiap kata yang di berikan kepada Robi, membuatnya sangat senang.
Perlahan Inka mulai mengatur jadwal rapat yang akan di hadiri oleh Narendra. Inka mengetuk pintu ruangan Naren, membuatnya langsung masuk ke dalam.
"Maaf tuan, nanti pukul 14.00 anda akan ada rapat denga dewan direksi. Dan pukul 17.00 anda akan bertemu dengan pengusaha minyak dari India, dan malam pukul 20.00 anda akan ada makan malam bersama putri dari MC group," jelas Inka dengan sangat detail.
Tanpa di lirik Naren.
"Baiklah," ucap Naren.
Inka menyiapkan beberapa berkas yang akan di gunakan Naren saat rapat, di bimbing oleh Robi yang memang sudah paham akan kegiatan sehari-hari di kantor.
Saat masuk ke dalan rapat, Inka tidak di izin kan masuk ke dalam, karena saat di kantor sebagian pekerjaan akan di handle oleh Robi. Tetapi saat di luar jam kantor, semua kegiatan Naren di handle Inka.
Hari yang sangat memelahkan bagi Inka, di saat karyawan yang lainnya pulang kerja, dirinya harus stay mengikuti Narendra pulang dan menyiapkan pakaian yang akan di kenakan saat pertemuan makan malam bersama putri presdir.
Di dalam perjalan, Inka duduk di depan bersama supir Naren. Sedangkan Naren duduk di kursi belakang. Sampai di mansion milik nya yang terlihat sangat Indah dengan gaya Italia menbuat desain rumah itu sangat unik dan elegan.
Inka yang pertama kali menginjakan kaki nya di rumah bosnya, merasa kagum dan sedikit canggung.
"Cepat! Akan saya tunjukan di mana letak pakaian saya," ucap Naren.
Dengan penuh semangat, Inka mengikuti langkah bosnya, sampai berada didalam ruang ganti beliau.
Inka sangat kagum melihat pakaian yang begitu rapih dan harum, setiap jenis pakaian, tas, jam tangan, dan sepatu tersusun rapi sesuai tempatnya.
"Aku akan mandi, kita nanti berangkat pukul 19.00," ucap Naren.
"Apa aku menyiapkan pakaian santai anda tuan," sahut Inka.
Naren menatap tajam Inka, sehingga membuatnya langsung menundukan matanya.
'Apa ucapan ku salah? Ya Tuhan ... ini sangat melelahkan,' batin Inka.
Inka menyiapkan kaos dan celana pendek untuk Naren, dan di sebelahnya Ia menyiapkan stelan jas yang tidak terlalu formal untuk di pakai Naren saat perjamuan makan malam dengan seorang wanita.
Inka menyiapkan jam tangan, dan parfum yang akan di gunakan. Semua kebutuhan Naren sudah di siapkan oleh Inka.
Inka pun keluar ruangan ganti, berjalan menuju ruang tengah yang terhubung dengan minibar. terliat susunan minuma beralkohol yang sangat langka dan mahal.
"Wah ... pasti minuman semua itu sangat mahal," ucap Inka.
Baru ingin duduk di sofa, Inka mendengar teriakan Naren memanggil namanya.
"Inka! ..." panggil Naren.
Dengan cepat Inka langsung berlari kecil menuju ruang ganti, tanpa di sengaja. Ia melihat Naren menggunakan kimono dengan rambut yang basah dan bibir berwarna merah alami membuatnya tak sanggup menatap Naren.
"Iya tuan, ada apa tuan?" tanya Inka.
"Kau tidak menyiapkan ****** ***** ku?" tanya Naren.
Inka pun sangat bingung menjawab pertanyaan itu, perihal ****** ***** membuat matanya melirik ke sekitar ruangan itu, tetapi Ia tidak melihat adanya lemari khusus ****** *****.
"Saya tidak tahu, anda meletakannya di mana," sahut Inka merasa bingung.
"Dasar malas mencari! Cari sampai dapat!" perintah Naren.
Inka yang mendapat perintah dari Naren langsung memeriksa satu persatu lemari itu, belom juga menemukan lemari ****** ***** membuatnya hampir menyerah.
'Dasar, pria yang aneh! Dia yang meletakan ****** *****, kenapa harus aku yang mencari celana itu? Mana aku baru di ruangan ini, manalah ku tahu?' batin Inka.
Saat Inka putus asa, Inka melihat di ujung cermin ada lemari kecil yang belom di periksa olehnya. Dengan rasa penasaran, Ia mendekati lemari itu dan membukanya. Berata bersyukurnya Ia menemukan di dalam ****** ***** itu berada.
'Heh! Gara-gara kau ... Aku hampir di marahi oleh bos ku,' batin Inka.
Inka menyiapkan celana itu, dan meletakan di dekat pakaian Naren.
"Tuan, semuanya sudah siap!" panggil Inka.
Inka langsung keluar ruangan ganti, saat Naren masuk ke dalam. Ia menunggu di luar sambil meminjat kening nya karena terasa pusing, melihat langkah Naren keluar dari ruang ganti membuat Inka langsung berdiri.
"Ayo berangkat," ajak Naren.
"Siap pak," ucap Inka.
Mereka berjalan menuju restauran mewah, yang sudah di hadiri oleh seorang putri presdir di sana. Dengan gayanya yang anggun dan elegan membuatnya terlihat seperti wanita yang beribawa.
Naren pun sampai di restauran mewah dan masuk ke dalam di ikuti dengan Inka yang berjalan di belakang tuannya.
Melihat putri presdir itu duduk manis di salah satu meja yang sudah di sediakan, Inka pun mengarah kan Naren untuk mendekati nya.
"Malam," sapa Naren.
Mereka yang sudah menunggu Naren langsung berdiri dan menundukan kepalanya.
"Apa kabar mu?" tanya presdir Hasan.
"Kabar saya baik pak," jawab singkat Naren.
"Perkenalkan dia putri ku satu-satunya, dia akan mewarisi seluruh kekayaan ku. Saya harap semoga kalian bisa berteman," jelas presdir Hasan.
Suasana makan malam sangat canggung, pesdir Hasan yang melihat Naren membawa seorang perempuan langsung menyapanya.
"Kau selalu datang bersama tuan mu?" tanya Presdir Hasan.
"Lihatlah, wanita ini terlihat manis," celetuk Istri Hasan bernama Seli.
"Terimakasih Nyonya," jawab Inka.
"Bagaimana dengan bisnis mu?" tanya Olin putri presdir.
"Lancar saja," jawab Naren.
"Aku harap kau bisa mengajarkan ku juga, bukan begitu ayah," ucap Olin.
"Kau benar sekali, semakin kalian akrab itu akan semakin bagus, ha ... ha ... ha," kata Hasan.
"Jika tidak ada hal penting lagi, saya akhiri perjamuan ini, saya pamit undur diri. Termakasih atas jamuannya," ucap Naren.
BERSAMBUNG....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 87 Episodes
Comments