Mendengar ocehan dari mamanya, Naren pun langsung menjauhkan ponselnya karena tidak mau mendengar suara mamanya yang terus-terusan memarahinya.
Segala ancaman yang di berikan Erlin, akhirnya Naren pun langsung mengiyakan untuk pulang ke rumah orang tuanya.
Naren langsung membereskan semua barangnya dan keluar dari ruanganya, Robi yang melihat Naren sangat terburu-buru keluar ruangan langsung merasa lega.
"Akhirnya si bos pulang juga, tunggu dulu. Aku periksa dulu siapa tau dia hanya ingin menghirup udara segar," ucap Robi memperhatikan Naren yang berjalan menuju parkiran dan langsung melajukan mobilnya.
"Akhinya si bos beneran pulang, aku pun ikut pulang lah. Biasa jadi penghuni tetap kantor ini aku, jika tidak pulang," gerutu Robi langsung membereskan semua barangnya dan bergegas untuk pulang meninggalkan kantor itu.
Mobil Naren sudah masuki mansio**n dan langsung masuk ketempat parkiran mobil, Ia keluar dengan raut jauh yang kusam, masih menggunakan stelan jas yang sudah berantakan.
"Assalamualaikum," salam Naren.
Mendengar ucapan salam yang tak asing baginya, Erlin langsung membuka pintu utama. Melihat Naren dengan penampilan yang berantakan membuat Erlin terkejut.
"Ya ampun Naren! Liatlah penampilan mu, apa kau sedang putus cinta?" tanya Erlin.
Naren yang tak menghiraukan ucapan mamanya langsung masuk ke dalam dan menyapa papanya yang sedang bersiap untuk makan malam.
"Bersihkan dulu diri mu, lepas itu kita makan bersama," ucap Bimo sang ayah.
"Baiklah," sahut Naren langsung masuk ke dalam kamarnya dan segera membersihkan diri.
"Anak itu dari dulu gk pernah berubah ya pah, selalu saja dingin," kata Erlin.
"Dia itu seperti dirimu sebelum kau ku nikahi," sahut Bimo.
Erlin langsung memukul suaminya karena merasa kesal dengannya, "papa ini malah nyalahin mama," sambungnya dengan rasa kesal.
Mereka pun makan bersama, Naren yang terlihat sangat menikmati makanan itu, "bagai mana pekerjaan mu Ren?" tanya sang ayah membuat Naren menghentikan kunyahannya, "baik-baik saja pah, semuanya berjalan dengan lancar," ucap Naren.
"Papa dengar kau kesulitan mencari sekretaris pribadi?" tanya Bimo.
"Benar," sahut Naren.
"Apa mereka memiliki kriteria khusus, seperti harus dengan lulusan terbaik, atau keunggulan lainnya?" tanya Bimo.
"Aku membuka lowongan untuk semua wanita single, minimal pendidikan SMA pah, karena jika kinerjanya bagus akan ada jenjang karir untuknya," jelas Naren.
"Kalo itu papa setuju Ren, kau memang bijaksana sekali, lanjutkan," ucap Bimo.
Makan malam pun terasa hikmat saat suasa mulai hening, hanya terdengar suara sendok yang terus bersentuhan dengan piring.
Berbeda dengan Inka Pioni yang setiap malam harus membantu ke dua orang tuanya menjual makanan dan minuman seperti keday.
Inka terlihat sangat bersemangat memasak ayam goreng yang menjadi favorit kedaynya dan menjadi menu andalan saat malam hari di temani minuman soda sangatlah nikmat.
Jika Inka yang menjaga keday itu, keday itu terlihat sangat ramai pengunjung karena Inka terkenal dengan kecantikannya yang di atas rata-rata wanita pada umumnya.
"Tante apakah itu anak mu? Dia sangat cantik," tanya pengunjung.
"Aku dengar namanya Inka, dia memang sangat cantik. Aku yang perempuan pun iri dengannya," suara penjunjung itu terdengar menggema di telinga sang ibunda.
"Inka! Cepat lah mengoreong ayam nya, nnti pelanggan kita akan pergi," kata Rosida.
"Sabar lah, sebentar lagi matan!" seru Inka dengan penuh semangat.
Terlalu rampai pengunjung karena ingin melihat kecantikan Inka, akhirnya Rosida memiliki ide untuk membeli ayamnya jika ingin melihat putrinya yang sangat cantik itu. Dalam waktu cepat ayam itu pun ludes terjual, membuat mereka semua yang berjualan kualahan.
"Haduh, punggung ku terasa mau patah," kata Solihin.
"Sama yah, tangan ku terasa akan patah," sahut Inka.
"Hari ini memang luar biasa, semua makanan kita ludes terjual. Tidak tersisa satu pun," kata Rosida.
"Permisi, apa ayamnya masih?" tanya salah satu pengunjung.
Melihat ada yang datang mereka langsung berdiri, "maafkan kami tuan, semua ayam kita sudah habis. Maafkan kami, besok kami akan menyediakan lebih banyak lagi," kata Rosida membungkukan tubuhnya.
"Jangan mengatak itu, jika kita menambah pesediaan akan lebih melelahkan," celetuk Inka.
Tiba-tiba Rosida memukul kepala Inka, "hei ... kau ini bicara apa, semakin kita menyediakan persediaan yang banyak semakin banyak penghasilan kita, benar gak sayang?" Rosida menepuk punggung suaminya, "kau benar, dan memang benar, selalu benar," sahut Solihin.
"Kalian sama saja, sudah lah aku lelah. Aku ingin segera beristirahat, besok aku akan interview," ucap Inka.
"Apa kua di pecat lagi?" tanya Solihin.
Dengan berat hati Inka menatap sedih sang ayah dan menganggukan kepalanya, membuatnya langsung terkapar lemas.
"Apa ini kutukan, tetap semangat nak! Jangan menyerah, semanga!" teriak Solihin menganggkat kedua tangannya.
Inka yang melihat ayahnya yang begitu semangat, "semangat ayah, semangat ayah, semangat," suara itu terdengar sangat terpakasa.
Inka langsung pergi meninggalkan kedua orang tuanya, berjalan ke kamar mandi membersihakan butuhnya dari percikan minyak goreng yang membuat tubuhnya terasa lengket.
"Aku rasa kecantikannya tidak membawa keberuntungan untuk pekerjaanya," celetuk Rosida.
"Kau ini bicara apa? Dia anak kita yang sangat cantik, percayalah dia akan mendapat pekerjaan yang lebih baik dari sebelumnya," ucap Solihin.
"Aku harap begitu," sahut Rosida.
Selesai membereskan semua dagangan yang masih berantakan, Rosida langsung kembali ke kamarnya untuk beristirahat di ikuti dengan Solihin.
Malam itu terasa sangat pendek, Inka yang merasa baru memejamkan matanya semenit tetiba alarm pun berbunyi membuatnya harus bangun meskipun matanya sulit untuk terbuka.
Tangannya berusaha meraih jam beker yang terus berbunyi membuat gendang telinganya akan meledak saat itu juga. Dengan rasa malasnya, Inka menatap jam itu dengan samar-samar, terlihat jarum jam menunjukan pukul 07:00. Membuatnya langsung menatap tajam jam itu.
"Astaga aku bisa telat, bagai mana ini. Apa dulu yang harus aku lakukan," ucap Inka merasa kebingungan.
Dirinya terlihat sangat panik, sampai lupa jika harus mandi, mondar-mandi seperti orang yang tidak mempunyai tujuan. Inka memutuskam untuk duduk dan menenangkan dirinya.
Ketika ingat, Ia pun langsung mandi dan membersihkan tubunya, dengan pakaian yang sangat rapih Inka tersenyum melihat penampilannya di depan cermin. Saat dirinya keluar, Ia melihat Rosida sudah sibuk menyiapkam sarapan untuk anak-anaknya.
"Wah kakak sangat cantik, mau kemana?" tanya Ronal sang adik.
"Kau ini memang anak nakal, semalam kau kemana tidak membantu kami," sahut Inka membuku Ronal.
"Kenapa kakak sewot, aku pergi mengerjakan tugas sekolah. Benar kan bu," kata Ronal.
"Sudah jangan bertengkar, nanti kalian terlambat! Cepat makan sarapan nya!" teriak Rosida dari arah dapur.
"Dasar bocah tengil, awas kau ya," acan inka kepada Ronal.
Membuka pintu rumah, di sambut mentari pagi, Inka berjalan menuju halte untuk pergi ketempat kerja yang baru, hari ini Ia akan di interview oleh salah satu pemilik toko busana yang cukup terkenal di kota.
BERSAMBUNG.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 87 Episodes
Comments