Sepotong Roti.

Inka merapihkan ruangan Naren, terlintas di benaknya untuk mengganti pewangi di dalam ruangan itu, Inka memganti dengan aroma bunga lili. Ia berharap Naren menyukai oramnya.

'Semoga aroma ini mampu merelaksasi pikiran tuan muda Narendra Prawira,' batin Inka.

Narendra membuka matanya, Ia langsung bangun memeriksa semua ruangan. Terlihat di ruang ganti, semua keperluannya telah di siapkan oleh Inka. Sampai sarapan pun sudah siap.

Naren langsung mandi dan memakai baju yang sudah di siapkan, Ia sarapan dan segera berangkat ke kantor. Saat berjalan keliar mansion, Ia melihat Robi sudah menunggunya di depan.

"Apa kau yang memberi tahu semua pekerjaan yang harus dia kerjakan?" tanya Naren.

"Benar tuan, Tapi ... sepertinya dia sangat menikmatinya," jawab Robi.

"Bagus kalo begitu," ucap Naren.

Mobil itu melaju dengan cepat, sampai di kantor. Naren langsung keluar dari mobil di ikuti oleh Robi yang berjalan di belakang bosnya.

Inka yang tidak menyadari jika Naren datang, Ia sedang memakan roti yang Ia buat tadi di rumah Naren, dengan penuh penghayatan Ia memakan roti yang sangat lembut itu, setiap gigitannya menciptakan cita rasa yang sangat memanjakan lidahnya.

Sampai akhirnya Ia tidak menyadari jika Naren sudah berdiri tepat di hadapannya, Robi yang melihat Inka sedang mengunyah makannya tanpa mengetahui ada Naren, Ia berusaha memberi kode kepada Inka.

Dengan santai nya Inka menoleh ke arah ruangan Naren, terlihat pria berdiri tepat di hadapannya, Ia menelusuri tubuh pria itu sampai ujung kepalanya.

Melihat pria yang ada di hadapannya adalah Naren, tanpa menghirauan gigitan roti di mulutnya, membuatnya langsung berdiri.

"Maafkan saya tuan," ucap Inka menundukan kepalanya.

Narena masih menatapnya dengan tatapan tajam, membuat Inka tidak berani mendengakan wajahnya. Ia terus menunduk. Di dalam hatinya merasa takut kepada Naren, buka takut di marah tetapi takut di pecat olehnya.

'Mati lah aku, apa ini hari terkahir ku bekerja di sini? Tamatlah riwayat ku. Wahai keberuntungan datanglah kemari, selamatkan aku ... ku mohon,' batin Inka.

Naren masih menatap Inka, Robi yang melihat pemandangan di depannya merasa bingung. Ingin rasanya Ia menyeret bos nya masuk ke dalam, tetapi apalah dayanya melihat sang bos sudah berdiam membuatnya tak berani untuk berkata apapun.

Ponsel Naren pun berdering, membuatanya langsung meraih ponsel itu dan melihat siapa yang menelponnya. Ternyata ayah Naren yang menelponya.

Naren pun mengangkat telpon itu dan masuk ke dalam ruangannya, Inka dan Robi yang kesulitan bernapas akhirnya bisa merasa lega.

Wajahnya yang pucat karena aliran darahnya pun ikut berhenti, kini kembali segar karena aliran darahnya mengalir dengan normal.

"Aku pikir, aku akan di pecat hari ini juga," ucap Inka.

"Kau ini, kenapa bisa seceroboh ini? Untuk saja dia tidak menendang meja," kata Robi.

"Dia sangat menyemkan jika marah, aku rasa dia harus di rukiyah pak," sahut Inka.

Robi yang mendengar ucapan Inka cukup keras membuatnya langsung memberi syarat untuk diam.

Naren pun masuk ke dalam ruangannya, terhirup aroma bunga lili yang memyengat di hidungnya, seketika Naren menghakhiri telponnya, dam berusaha memperhatikan aroma ruangannya.

Dengan rasa kesal, Naren langsung menelpon Inka. Telpon di atas meja kerjanya berbunyi membuat Inka langsung mengangkat telpon itu, saat Ia akan mengangkat telpon, tiba-tiba suara teriakan terdengar dar ujung telpon.

"Cepat kemari!" teriak Naren.

Inka langsung menjauhkan telpon itu, dan meletakan kesembarang tempat, Ia berlari menuju ruangan Naren.

Robi yang melihat Inka berlari dengam terburu-buru masuk ke dalam ruanganya bosnya mengira jika Inka melakukan kesalahan lagi.

"Dia sedang dalam masalah besar," celetuk Robi menatap pintu ruangan Naren.

"Maaf, ada apa tuan memanggil saya?" tanya Inka.

"Siapa yang meletakan orama bunga ini di ruangan saya?" tanya Naren.

"Saya tuan, apa anda tidak menyukainya. Akan saya ganti sekarang tuan," jawab Inka dengan begitu polos membuat Naren semakin kesal.

"Kau membuat ku sakit kepala," ucap Naren.

"Apa tuan sakit? Saya ambil obat ya tuan," ucap Inka.

Naren menatap tajam Inka, membuat Inka langsung mendundukan kepalanya.

"Kenapa kau meletakan aroma bunga lili di ruangan ku!" seru Naren membuat Inka sangat kaget melihat Naren begitu marah denga keringat yang membasahi keningnya.

"Tuan, maafkan saya. Saya tidak mengetahuinya, saya akan perbaiki semua kesalahan saya," jawab Inka.

"Cepat buang pewangi itu! Aku tidak mau aroma itu ada di dalam ruangan saya!" perintah Naren dengan penuh amarah.

Inka yang ketakutan dengan Naren langsung membuang pewangi itu ke dalam sampah.

"Buang keluar! Jangan di dalam!" teriak Naren membuat Inka kebingungan.

Inka pun membuang pewangi itu keluar ruangan Naren dan kembali dalam ruangan Naren, melihat kondisi Naren yang sangat pucat membuanya merasa panik.

"Apa tuan baik-baik saja?" tanya Inka.

"Mari duduk tuan, saya bantu duduk ke sofa," sambungnya.

Naren pun kekeh untuk berjalan sendiri, terlihat jalannya yang tergulai, membuat Inka terus membuju bosnya untuk mau di bantu olehnya, di dalam hati Inka, Ia terus mengumpat.

'Sudah tahu tidak sehat, malah dia tetap memaksakan diri. Dasar pria yang aneh, ngeyel,' bati Inka.

Naren yang sudah tidak sanggup berjalan lagi, langsung menjatuhkan tubuhnya ke arah Inka. Inka yang melihat Naren jatuh menimpahnya langsung terkejut dan berusaha untuk meminta tolong tetapi semua orang sibuk dengan aktivitasnya, membuat Inka harus mengangkat Naren.

Inka mengangkat Naren ke sofa dengan sekuat tenaga, "ya ampun badan mu begitu besar, membuat ku kesulitan mengangkatnya," Inka berusah mengangkat Naren sampai terbaeing di sofa.

Melihat Naren dengan wajah nya yang pucat, membuatnya langsung menghubung Robi. Tetapi Robi tidak mengangkat telponnya, dan terpaksa Inak mendatangi ruangannya, tetapi ruangan kosong.

"Apa kau melihat lak Robi?" tanya Inka kepada Geri teman satu mejanya.

"Dia sedang menghadiri rapat, memangnya ada apa?" jawab Geri.

Inka kebingungan harus berbuat apa, Ia kembali masuk ke dalam ruangan Naren, dengan keberaniannya. Ia memeriksa keningnya dan suhu tubuhnya sangat tinggi membuatnya semakin panik.

'Aku harus bagai mana ini,' gerutu Inka.

Inka mengambil kain dan mangkok kecil untuk mengompres Naren, panasnya tak kunjung turun membuatnya semakin panik.

Dan akhirnya Inka menggunakan ....

BERSMBUNG....

Episodes
1 Prolog.
2 Mencari pekerjaan.
3 Hari interview
4 Hari pertama kerja
5 Salah paham.
6 Gagal lagi
7 Lowongan pekerjaan baru
8 Tanpa Riasan
9 Training kerja
10 Bertemu sang CEO
11 Sekretaris atau Art
12 Pewangi ruangan
13 Lemari Celana dalam
14 Makan sup 2 Mangkuk
15 Sepotong Roti.
16 Kepanikan Inka
17 Asisten atau Sekretaris
18 Belahan Jiwa
19 Bapak Koki
20 Libur kerja
21 Sup untuk Bos
22 Mansion Naren
23 Pingsan di Halte
24 Karaoke di rumah
25 Kepantai
26 Dunia sempit
27 Kedatangan teman lama
28 Kesibukan yang hakiki
29 Hot News
30 Persiapan Ke Dubai
31 Ketakukan Naren.
32 Ayam goreng.
33 Silahturahmi bibir
34 Perasaan yang tak biasa
35 Aku Lapar
36 Terhempas ke lantai
37 Minta Izin
38 Jet Pribadi
39 Penuh Percaya diri.
40 Kedinginan
41 Tanda Kepemilikan Naren
42 Kepanasan
43 The Dubai Fountain
44 Makan malam.
45 Kepulangan Naren
46 Gosip baru
47 Desakan Nina.
48 Kedatangan Ludin
49 Kapan Nikah
50 Terpukau
51 Ledakan Bus
52 Ungkapan yang salah
53 Tiba-tiba di jodohkan
54 Ancaman sang ayah
55 Salah tingkah
56 Jenjang Karir
57 Bau-bau jatuh cinta
58 Gugup
59 Di perhatikan banyak orang
60 Salah Paham
61 Salah Paham 2
62 tiba-tiba anmesia
63 Aku mencintaimu
64 Patah hati Ludin
65 Kekasih Naren.
66 Kegigihan Alexa
67 Panggilan Sayang
68 Keegoisan seseorang
69 Perubahan sikap
70 Dunia Sempit
71 Siap bertarung
72 Kecewa
73 Malam yang penuh amarah
74 Kecelakaan kecil
75 Patah hati Luis
76 Gara-gara Magic Garden
77 Pesta dadakan
78 Imajinasi Naren
79 Kegelian Robi
80 Prepare
81 kelas platinum
82 Pencitraan
83 Tawa Naren.
84 Maha siswa baru
85 Pertahanan dan Kekuatan
86 Penyerangan
87 The End
Episodes

Updated 87 Episodes

1
Prolog.
2
Mencari pekerjaan.
3
Hari interview
4
Hari pertama kerja
5
Salah paham.
6
Gagal lagi
7
Lowongan pekerjaan baru
8
Tanpa Riasan
9
Training kerja
10
Bertemu sang CEO
11
Sekretaris atau Art
12
Pewangi ruangan
13
Lemari Celana dalam
14
Makan sup 2 Mangkuk
15
Sepotong Roti.
16
Kepanikan Inka
17
Asisten atau Sekretaris
18
Belahan Jiwa
19
Bapak Koki
20
Libur kerja
21
Sup untuk Bos
22
Mansion Naren
23
Pingsan di Halte
24
Karaoke di rumah
25
Kepantai
26
Dunia sempit
27
Kedatangan teman lama
28
Kesibukan yang hakiki
29
Hot News
30
Persiapan Ke Dubai
31
Ketakukan Naren.
32
Ayam goreng.
33
Silahturahmi bibir
34
Perasaan yang tak biasa
35
Aku Lapar
36
Terhempas ke lantai
37
Minta Izin
38
Jet Pribadi
39
Penuh Percaya diri.
40
Kedinginan
41
Tanda Kepemilikan Naren
42
Kepanasan
43
The Dubai Fountain
44
Makan malam.
45
Kepulangan Naren
46
Gosip baru
47
Desakan Nina.
48
Kedatangan Ludin
49
Kapan Nikah
50
Terpukau
51
Ledakan Bus
52
Ungkapan yang salah
53
Tiba-tiba di jodohkan
54
Ancaman sang ayah
55
Salah tingkah
56
Jenjang Karir
57
Bau-bau jatuh cinta
58
Gugup
59
Di perhatikan banyak orang
60
Salah Paham
61
Salah Paham 2
62
tiba-tiba anmesia
63
Aku mencintaimu
64
Patah hati Ludin
65
Kekasih Naren.
66
Kegigihan Alexa
67
Panggilan Sayang
68
Keegoisan seseorang
69
Perubahan sikap
70
Dunia Sempit
71
Siap bertarung
72
Kecewa
73
Malam yang penuh amarah
74
Kecelakaan kecil
75
Patah hati Luis
76
Gara-gara Magic Garden
77
Pesta dadakan
78
Imajinasi Naren
79
Kegelian Robi
80
Prepare
81
kelas platinum
82
Pencitraan
83
Tawa Naren.
84
Maha siswa baru
85
Pertahanan dan Kekuatan
86
Penyerangan
87
The End

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!