Robi menghentikan mobilnya tepat di depan pintu masuk, Naren langsung di bawa masuk ke dalam. Inka pun menunggu di depan ruang tunggu, melihat dokter memeriksa Naren.
Pemeriksaan itu cukup lama sehingga membuat Inka tertidur di ruang tunggu dengan mulut terbuka. Perawat yang melihat Inka tertidur hanya tersenyum tipis, ingin membangunkan Inka yang hampir terjatuh di kursi tetapi perawat itu tidak berani.
Di dalam ruangan.
Naren sedang di periksa oleh dokter pribadinya yang bernama Luis Jhonson, dia seorang dokter yang memang berasal dari luar negri. Hanya dokter Luis yang mengetahui semua penyakit yang di derita Naren, Ia berusaha menutupi semua dari awak media karena orang tua Naren terutama ibu tirinya sangat ingin menjatuhkan Naren.
Dengan berbagai cara, Naren pun memilih pisah rumah untuk menutupi semua penyakitnya.
"Bagaimana dengan tuan Naren?" tanya Robi.
"Apa dia mencium aroma bunga? Aku rasa dia kambuh karena itu," jawab Dokter Luis.
"Entah lah, saat aku masuk ke dalam ruangannya memang ada sedikit aroma bunga lili. Apa karena aroma itu dia tidak sadarkan diri?" tanya Robi.
"Kita harus menunggu sampai besok pagi, semoga obat yang saya berikan segera bekerja," ucap Dokter Luis.
Mereka keluar dari ruangan, meninggalkan Narendra seorang diri di dalam ruangan. Saat Robi membuka pintu ruangan itu, Ia melihat Inka yang tertidur dengan mulut terbuka sampai hampir terjatuh dengan sigap Robi menompang wajah Inka.
"Apa dia pacar mu?" tanya Luis.
"Dia sekretaris tuan Naren," jawab Robi.
"Pintar juga Naren memilih sekretaris, dia sangat cantik dan menarik. Tanyakan padanya apa dia sudah mempunyai kekasih?" bisik Luis di telinga Robi.
"Hei bangun!" seru Robi.
Robi terus menggoyang-goyangkan badan Inka sampai membuat Inka terkejut dan langsung duduk. Tatalannya yang kosong seperti orang kesurupan membuat Robi bingung.
"Inka. Apa kau baik-baik saja?" tanya Robi.
"Apa kita sudah sampai pak? Ayo buruan pak kita sudah terlambat," jawab Inka langsung menarik tangan Robi.
Robi semakin bingung dengan tingkah Inka yang seperti orang bingung.
"Hei, cuci muka mu! Kau ini mengigau, apa nya yang terlambat? Kau sedang berada di tempat yang jauh, sedang mengobati tuan Naren," jelas Robi.
Inka masih terdiam sampai akhirnya nyawanya kumpul, baru Ia tersadarkan.
"Pak Robi, bagai mana kabar tuan Naren?" tanya Inka dengan wajah yang masi kebingungan.
"Dia sedang di rawat di dalam ruangan, kondisinya cukuo kritia. Jadi dokter mengatakan jika Naren harus di rawat intensif," jelas Robi.
Inka yang merasa bersalah karena ulahnya membuat Naren sampai harus di rawat seperti ini.
"Pak Robi, ku mohon maafkan saya. Saya tidak sengaja meletekan pewangi ruangan lagi, saya pikir tuan Naren akan senang tetapi saya salah. Ku mohon maafkan saya pak, jangan pecat saya ... saya akan berusaha lebih baik lagi," rengeh Inka membuat Robi menahan tawanya karena Inka sangat menggemaskan dengan kepolosannya.
"Apa kau menaruh aroma bunga lili di dalam ruangan tuan Naren?" tanya Robi.
Inka dengan jujur menganggukan kepalanya, Robi langsung menepuk jidadnya membuat Inka semakin bingung.
"Ada apa tuan, apa tuan Naren alergi dengan aroma bunga?" tanya Inka.
"Kau benar, dia alergi dengan aroma bunga dan sefood, jadi saya harap kau harus menjauhkan semua itu," jawab Robi.
"Maaf tuan, apa tuan Naren mengindap penyakit bronkitis alergu NOS?" tanya Inka.
"Bagaimana kau tau? Apa kau ini seorang peneliti?" tanya Robi.
"Aku hanya pernah membaca di artikel tentang penyakit langka itu pak," sahut Inka.
"Belom saatnya kau tahu semua kesehatan taun Naren, kau hanya bertugas menyiapkan semua keperluan yang di butuhkan tuan Naren.
Inka pun hanya terdiam, tak berani berkata apa-apa lagi. Membuat Robi pun terdiam juga.
"Hari sudah sore, kau boleh pulang," ucap Robi.
Inka langsung keluar memastika keadaan luar, Ia menunggu kurang lebih 5 menit tetapi tidak ada kendaraan umum yang lewat. Membuatnya kembali lagi duduk di dekat Robi.
"Ada apa? Sana kalau kau mau pulang," ucap Robi.
"Bapak jangan bercanda, mana mungkin saya pulang berjalan kaki. Saya tidak tahu ini di mana, dan tidak ada kendaraan umum yang melewati tempat ini," oceh Inka.
"Oh gitu ya, okay ... kau tetap di sini," ucap Robi dengan wajah datar.
Inka yang melihat tingkah Robi berubah seketika menjadi datar, membuatnya merasa bingung.
'Mulai lagi, dia sangat aneh,' batin Inka.
"Apa aku harus mengurus tuan Naren, pak? Lalu ... orang tuanya apa mengetahui kondisi anaknya saat ini?" tanya Inka.
"Penyakitnya di rahasiakan oleh keluarga besar, makanya dia pisah rumah dengan orang tuanya. Kau cukup fokus menjadi sekertaris pribadinya saja, jangan sebarkan berita apapun kepada awak media karena itu bisa menghancurkan karirnya," jelas Robi.
Inka terbengong mendengar cerita Robi membuatnya menatap dengan tatapan kosong.
"Apa kau paham?" tanya Robi.
"Apanya pak? Eh aku paham pak," jawab Inka.
Inka memperhatikan ruangan yang seperti klinik kecil, tidak ada satu pun pasien yang datang ke klinik. Membuat Inka mengira jika klinik ini di khususkan untuk merawat bosnya.
"Pak Robi, lalu kita akan tidur di mana?" tanya Inka.
Robi yang mendengar kata kita langsung meghentikan aktivitasnya yang sedang sibuk memeriksa file pekerjaan dari leptopnya.
"Apa katamu? Kita? Apanya?" tanya Robi.
"Maksudnya, apa kita akan tidur di kursi yang keras ini?" jelas Inka.
"Kau saja yanh tidur di ruang keluarga, aku akan menjaga tuan Naren," sahut Robi.
"Kalo begitu aku juga akan tidur di dalam ruangan tuan Naren, karena aku sekretarisnya. Jadi itu akan menjadi tanggung jawab ku juga pak," ucap Inka.
Mereka pun berdebat tentang siapa yang akan tidur di ruangan Naren, dan menemaninya, antara asisten pribadi dengan sekretaris pribadi.
BERSAMBUNG...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 87 Episodes
Comments
Shopia Asmodeus
aku mampir kak
2023-05-13
0