Setelah menerima telpon dari seseorang, Inka langsung pergi menuju salah satu cafe yang menyediakan makanan ala Korea yang menjadi trand .
Inka mendekat ke salah satu kursi nomor 108. Terlihat wanita cantik dengan rambut terurai sedang menunggu Inka.
"Maafkan telat," ucap Inka langsung duduk di kursi itu.
"Aku dengar kau di pecat lagi? Apa itu benar?" tanya Nina.
"Entah lah, aku rasa ini kutukan yang melekat di dalam diri ku," jawab Inka.
"Aku hampir putus asa mencarikan mu lowongan pekerjaan tetapi hasilnya kau selalu di pecat, apa ini benar-benar kutukan?" sahut Nina.
"Aku rasa kita perlu ke dukun untuk menanyakan siapa sebenarnya yang menjaga tubuh ku ini," celetuk Inka membuat Nina langsung memukulnya dengan keras.
"Jaga bicara mu, jaman sekarang jangan percaya yang begituan, mungkin kau kurang beruntung saja," kata Nina.
"Coba kau pikir, berapa kali aku di pecat!, berapa kali juga aku di terima di tempat kerja yang baru. Dan hasilnya sama saja, apa kau tahu! Aku hampir akan membunuh wanita itu, sialan!" marah nya Inka membuat Nina malah tertawa.
Inka yang melihat Nina malah tertawa merasa terheran-heran.
"Kenapa kau ketawa?" tanya Inka.
"Kau sangat lucu," jawab Nina mencubit pipi Inka.
Makanan yang mereka pesan pun sudah datang dan siap untuk di santap, mereka pun menyantap makanan itu sambil bercerita sesuatu yang mengundang tawa.
Selesai menyantap makanan di cafe itu, Inka dan Nina pergi mengelilingi pusat kota sebari mencari lowongan pekerjaan untum dirinya, di sepanjang perjalanan Ia terus melihat setiap toko yang menjual beragam pakaian membuatnya ingin sekali masuk ke dalam nya.
"Nina, kau liat toko baju itu. Aku ingin masuk ke dalam nya," ucap Inka menarik tangan Nina.
"Di situ sangat ... "kata Nina belom sempat melanjutkan ucapannya sudah di tarik masuk ke dalam oleh Inka.
"Permisi Mba, apa di sini membutuhkan karyawati?" tanya Inka.
"Benar Nona, apa anda ingin mendaftarkan diri?" jawab karyawati.
Inka menganggukan kepalanya.
"Besok datang kemari pukul 08:00 pagi untuk bertemu dengan manager kami," ucap karyawati.
"Baiklah, terima kasih Mba," sahut Inka berlalu pergi meninggalkan toko.
"Astaga, aku pikir kau akan membeli pakaian di situ," kata Nina.
"Lihat lah, poster yang dia pasang di jendela kaca itu, mereka sedang mencari karyawati," ucap Inka.
"Mata mu memang setajam elang, aku bahkan tidak melihat apapun," sahut Nina.
"Karena kau hanya melihat pria tampan dan berbadan kekar, itu saja yang ada di otak mu," ucap Inka melangkah mendahulu Nina.
Nina langsung berlari mengikuti langkah Inka.
"Inka! Pelankan langkah kaki mu, aku sangat kualahan," gerutu Nina.
Langkah Inka pun terhenti saat melihat iklan seorang model kelas dunia sedang mempromosikan pakaian dengan merk international. Inka memandangi iklan yang terpampang di pinggiran kota dengan layar yang begitu lebar, membuat nya membayangkan jika dia berada di posisi model itu.
Inka membayangkan sedang melakukan pemotretan dengan riasan yang sangat elegan telihat bibir seksinya di poles lipstik berwarna merah, semakin cantik dan menawan dirinya berpose dengan tas cantik yang menjadi incaran semua wanita kalangan atas.
Saat dirinya berjalan mendekati kamera itu, tiba-tiba gaunnya terinjak hells nya sendiri membuatnya terjatuh ke lantai sehingga menabrak gelas yang berisi air, air minum itu mengguyur wajahnya yang cantik, lamunan itu pun tersaat saat turun hujan di tempat itu.
Membuat Inka panik dan berlari mencari tempat untuk berteduh. Mereka pun berteduh di salah satu kedai terdekat dari tempat itu.
"Kau ini sedang melamunkan apa? Dari tadi ku panggil tidak ada jawaban apapun," tanya Nina.
Melihat Nina dan menatap layar TV yang sedang mempromosikan barang-barang brand internation, Inka pun langsung menghembuskan napasnya dengan kasar.
"Nyatanya aku hanya bermimpi menjadi model terkenal," gumam Inka.
Ujan pun mulai reda, mereka langsung berjalan dan memutuskan untuk pulang kerumah masing-masing. Inka yang tidak mau di antar Nina memilih untuk naik bis dan saat ini sedang menunggu di halte.
Sepanjang perjalanan Inka terus membayangkan menjadi model yang sangat terkenal, " bagaimana aku bisa menjadi model yang terkenal, setiap melamar pekerjaan selalu saja di pecat. Ntah kenapa dengan diri ku ini?" gumam Inka di dalam hati.
Di dalam perusahaan Adewe Group. Terlihat seorang pria tampan baru saja keluar dari ruang rapat dan berjalan dengan penuh pesona menuju ruangannya di ikuti dengan asistennya.
"Bagaimana dengan pemilihan sekretaris untuk ku? Apa kau sudah mendapat kandidat sesuai persyaratan?" tanya nya sambil berjalan ke ruanganya.
"Ada 5 wanita cantik dan seksi yang menjadi kandidat minggu ini tuan, file nya akan saya kirimkan kepada anda," jawab Robi.
Naren menganggukan kepalanya, dan masuk ke dalam ruangannya. Segera Ia memeriksa semua wanita yang menjadi kandidat minggu ini, Naren memilih wanita urutan nomer 3 dengan biodata yang cukup menarik menurutnya.
"Aku pilih wanita yang bernama Linda, melihat dari biodatanya cukup menarik. Katakan padanya besok temui saya pukul 09:00 pagi, saya tidak menerima alasan apapun jika telat," kata Narendra.
"Baik tuan," ucap Robi.
Robi pun meninggal Naren yang sedang duduk di kursi kebesarannya, Naren kembali membuka laptonya. Terlihat pria yang pekerja keras tak kenal waktu untuk beristirahat membuat menghabiskan waktunya di tempat kerja.
Berulang kali ponselnya berdering tak di hiraukan karena Naren terlihat sangat fokus menatap layar leptop. Tertulis nama My Mother yang membuat layar ponsel Naren terus berdering.
Merasa ponselnya terus berdering membuat Naren mengangkat telpon itu.
Naren : "Hallo, ada apa mam?"
Erlin : "Apa kau sedang bekerja? Kenapa lama sekali mengangkat telpon dari mama!"
Mendengar Erlin berteriak dan marah-marah, Naren pun langsung menjauhkan ponselnya dari telinganya, tidak mau mendengarkan celotehan Erlin, merasa tidak di tanggapin oleh putra nya Erlin pun terus mengatakan.
Erlin : " Hallo ... hallo ... apa kau mendengar mama, hallo Naren?"
Naren : "Iya, aku mendengarnya. Ada apa sih mama menelpon ku? Aku sedang sibuk bekerja."
Erlin : "Dasar anak kurang ajar! Kau ini tidak merindukan mama? Hah! Apa aku tahu, sudah satu minggu kau tidak pulang ke rumah."
Naren : "Iya ma, sudah jangan memarahi ku. Aku akan pulang malam ini."
Erlin merasa sangat senang karena anaknya akan pulang ke rumah, dan makan malam bersamanya. Naren langsung membereskan pekerjaanya dan segera pulang untuk menemui mamanya.
Robi yang melihat Naren pulang lenih awal merasa terheran dengan bosnya karena sudah lama dirinya pun tidak pulang ke rumah karena mengikuti bosnya bekerja tanpa kenal waktu.
"Akhirnya aku pun bisa pulang juga," ucap Robi ikut mengemasi barang dan segera pulang mengikuti langkah Naren.
BERSAMBUNG.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 87 Episodes
Comments