Perjamuan makan malam antara putri presdir dengan Narendra telah berlangsung, mereka menikmati makanan yang sudah di sediakan, untuk menghilangkan rasa hening. Olin membuka percakapan.
"Bagai mana dengan bisnis mu? Aku dengan kau memangkan peminat tertinggi di kalangan atas," tanya Olin.
"Wah dia memang hebat, aku harap kau mau mengajarkan putri ku juga," sahut presdir Hasan.
Narendra tersenyum, dan meletakan garpu dan pisaunya di atas meja.
"Tidak ada yang perlu di ajarkan pak, saya hanya mengukuti kemauan konsumen," jawab Naren.
"Apa kau selalu membawa wanita itu?" tanya Olin.
"Dia asisten pribadi ku, jadi kemana aku pergi dia selalu ikut," jawab Naren.
"Hem ... begitu rupanya," gerutu Olin.
"Dia terlihat sangat cantik, aku hampir iri dengannya yang memiliki hidup mancung," sahut Istri presdir.
Inka yang berdiri di dekat Naren, melihat mereka berbincang hanya terdiam. Rasa lelahnya membuatnya hampir tak memperdulikan mereka yang entah sedang berbincang apa.
Naren yang merasa Inka kelelahan, langsung memutuskan untuk pamit undur diri dan meninggalkan perjamuan itu. Melihat Hasan yang kesal dengan keputusan sepihak Naren membuatnya langsung berdiri.
"Kenapa terburu-buru? Bahkan kita belom membicarakan apapun," tanya Hasan.
"Saya rasa tidak ada yang di bicarakan, anda hanya ingin bertemu dengan saya untuk memuaskan hati putri anda bukan," sahut Naren.
Hasan pun terkejut mendengar semua yang di ucapkan Naren adalah benar, niatnya mengundang Naren hanya ingin menjodohkan nya dengan Olin.
Melihat Naren dan Inka menjauh dari hadapan mereka, Haran pun langsung mengepalkan tangannya. Rasa kesalnya membuat dirinya hampir terkena serangan jantung.
"Dasar anak tidak tahu sopan santun!" seru Hasan.
"Ayah, sudah lah. Tenang kan diri ayah, kesehatan ayah lebih penting," kata Olin.
Naren yang berjalan menuju mobilnya, yang di ikuti Inka dari belakang membuatnya merasa bingung. Ia langsung membukakan pintu belakang untuk Naren.
Mereka pun masuk ke dalam mobil dan melajukan mobil itu dengan kecepatan tinggi, terasa hening di dalam mobil, Inka yang mempunyai segudang pertanyaan tak berani bertanya kepada Naren, Ia hanya terdiam membisu.
"Besok kau harus datang ke rumah ku, lebih pagi," ucap Naren.
"Untuk apa tuan?" tanya Inka.
"Apa kau lupa tugas mu! Beraninya kau bertanya untuk apa?" ucap Naren.
"Maafkan saya, baik tuan besok saya akan datang lebih awal," jawab Inka.
Sampai di Mansion, mobil pun terparkir sempurna. Seperti biasa Inka langsung membukakan pintu mobil, Naren yang melihat wajah Inka sangat pucat san kusam membuatnya merasa Iba.
"Pulang lah, jam kerja mu sudah selesai" ucap Naren.
Mendengar perkataan itu, membuat Inka langsung tersenyum.
"Baik tuan terimakasih," sahut Inka.
Inka pun meninggalkan mansion itu dan berjalan menuju halte, sepanjang jalan Ia memegang perutnya yang terasa sangat lapar sejak dari siang hari. Bos barunya tidak mengijinkannya untuk istirahat.
'Apa ini yang di manakan kerja rodi? Tanpa henti aku melayaninya, tidak sedikit pun aku di izinkan untuk berhenti, astaga ini sangat melelahkan,' batin Inka.
Inka mampir ke salah satu kedai yang masih buka, Ia masuk dan memesan semangkuk sup sapi. Terlalu lapar, Inka menghabiskan 2 mangkuk sup dan 3 piring nasi, membuatnya sangat kekenyangan. Ia pun mengeluarkan ajiannya, sendawa yang sangat keras sehingga orang makan makan di dalam kedai itu menoleh ke arah Inka.
Inka tidak memperdulikan orang di sekitarnya, dengan rasa cuek. Ia membayar pesanannya dan keluar dari kedai itu dengan perut kenyang.
Langkah kakinya kini penuh dengan semangat, "sepertinya aku harus membawa bekel, karena jika tidak. Aku akan mati kelaparan seperti ini," gumam Inka.
Sampai di rumah Inka melihat orang tuanya sudah tertidur, Ia mengenap-enap agar mereka tidak terbangub karena langkah kakinya. Ia langsung masuk ke dalam kamar mandi dan langsung membersihkan dirinya.
Malam itu, Inka menatap cermin yang ada di kamarnya, Ia sedang menyisir rambutnya.
"Kenapa aku bisa menemukan bos sejahat dia? Apa hatinya terbuat daru batu? Sulit di tebak, aku rasa memang dia pria gila yang nasibnya sangat bagus menjadi orang kaya," gerutu Inka.
Melihat kasurnya yang empuk, Inka langsung membaringkan tubuhnya dan tak lama matanya terpejam.
Naren yang sedang sibuk dengan leptopnya, memikirkan Inka yang memilihkan pakaian untuk dirinya saat Ia akan pergi ke perjamuan.
"Seleranya cukup bagus," ucap Naren.
Tidak mau hanyuk dalam pemikirannya, Ia langsung menutup laptopnya dan membaringkan tubuhnya di atas ranjang king size, matanya terpejam dengan ketampanan yang membuat bantal itu sangat beruntunf menyentuh kulit Naren.
Malam itu berlalu, beganti suara Alarm yang sangat menggema di telinga Inka. Ia hampir lupa jika hari ini harus datang lebih awal, tanpa rasa malas, Ia langsung terbangun dan berlari ke kamar mandi.
Saat sudah rapih, Ia tetap tidak merias wajahnya. Karena jika dia merias diri kesialan akan datang menghampirinya, Ia tak mau hal itu terjadi, akhirnya Ia memutuskan untuk berpenampilan yang natural dengan polesan lipglos.
Melihat sekitaran rumah, terasa sepi. Inka pun merasa sangat heran, saat Ia melihat jam masih terlalu pagi untuk ibunya memarahi Jimin.
"Apa kau akan pergi sepagi ini?" tanya Rosida.
Pertanyaan itu membuatnya sangat kaget, dan langsung menoleh ke arah sumber suara.
"Astaga ibu, aku pikir siapa? Iya hari ini aku harus pergi keluar kantor, maaf belom sempat cerita apapun. Aku berangkat dulu ya bu," jelas Inka.
"Baiklah, hati-hati ya ..." ucap Rosida.
Inka berjalan ke mansion Naren, saat Ia akan masuk. Petugas satpam langsung membukakan pintu gerbang itu, dengan langkahnya yang penuh dengan semangat, Inka masuk ke dalam rumah itu, dan langsung masuk ke ruang ganti. Melihat jadwal di tabnya, Inka memilih pakaian yang akan di kenakan Naren.
Melihat dari layar CCTV, bosnya belom bangun. Membuat Inka membuatkan sarapan untuknya, semua pekerjaan nya yang seperti seorang istri, di pandu oleh Robi dari telpon.
'Apa bedanya aku dengan istri atau asisten rumah tangganya, kenapa dia tidak menikah saja? Pria yang aneh ... atau jangan-jangan dia tidak menyukai ... wanita?' batin Inka.
Inka merasa sangat geli dengan pemikirannya sendiri, merasa semuanya sudah siap dan seleaai. Inka kembali ke kantor tanpa menunggu Naren bangun, Ia berjalan menuju halte dan menunggu bus datang.
Di perjalanan, Ia melihat wanita asing akan di copet oleh preman, mengetahui hal itu. Inka berpura-pura menegur wanita itu dan menanyakan kemana tuannya.
Wanita itu merasa bingung dengan tingkah Inka, Inka terus memperhatikan preman itu yang sudah tidak lagi mengikutinya, Inka langsung memberi tahu wanita itu jika dia harus lebih hati-hati membawa barang berharga.
Masuk ke dalam ruangan Naren, Ia seperti biasa merapihkan ruangannya dan mengganti pewangi dengan aroma bunga lili, menurut Inka wangi ini cukup enak untuk menenagkan pikiran bosnya.
"Wanginya enak, aku harap dengan wangi ini si bos tidak marah-marah lagi," gumam Inka.
"Apa kau bilang?" tanya Naren.
BERSAMBUNG....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 87 Episodes
Comments