Mereka keluar dari lift, dan berjalan menuju ruangan Naren.
"Kau tunggu di ruangan ku saja," ucap Robi mengarahkan Inka masuk ke dalam ruangannya.
"Tunggu di sini, hari ini aku ada rapat dengan bos. Nanti ku tunjukan di mana meja mu, aku tinggal dulu ya," ucap Robi.
"Baik pak," sahut Inka.
Melihat Robi yang sudah meninggalkan Inka di dalam ruangannya, dan masuk ke dalam ruangan Naren. Membuat Inka langsung duduk di sofa yang suda di sediakan.
'Jadi yang tadi berada di lift dengan ku, itu sang CEO Narendra. Hem ... dia sangat tampan, hampir mendekati kata sempurna, tapi aku tidak melihat ada tampang kekerasan di wajahnya tapi sekarang susah juga di nilai dari fisik. Kita lihat saja nanti,' batin Inka.
Cukup lama Inka menunggu Robi rapat dengan Narendra, membuatnya malah menonton drama tentang dunia perkantoran, membuatnya terlihat sangat serius menyimaknya.
Waktu menunjukan pukul 09:00 WIB. Robi pun keluar dari ruang rapat bersama Naren.
"Apa perempuan tadi, sekretaris baru ku?" tanya Naren.
"Benar tuan, semua riwayat hidupnya sudah saya letakan di meja tuan," jawab Robi.
"Hari ini aku ingin dia melihat ruangan yang ada di kantor ini, dan dia harua tahu pukul berapa saja aku rapat dan pulang ke rumah. Hari kesempatan dia untuk mengetahui semuanya, dan dia bisa bekerja mulai besok," jelas Naren.
"Baik lah tuan," ucap Robi.
Robi masuk ke dalam ruangannya, Inka yang mendengar suara pintu itu terbuka langsung menoleh dan meletakan ponselnya.
Robi membawa selembar kertas yang berisikan semua aturan yang harus di jalankan sebagai asisten pribadi.
"Hari ini kita kan berjalan mengelilingi seluruh kantor ini," ucap Robi.
"Baik pak, ini kertas apa ya pak?" tanya Inka.
"Itu semua kegiatan tuan Naren selama di rumah dan di kantor," kata Robi.
Inka langsung melebarkan matanya, Ia sangat terkejut jika pekerjaannya harus terlihat dengan urusan pribadi bos barunya.
"Jadi kalo saya udah mulau kerja, saya jarang pulang dong pak?" tanya Inka.
"Kemungkinan besar, tapi kurang tahu juga. Tergantung keputusan tuan Naren," jawab Robi.
Inka terus memandangi selembar kertas itu, 'buset dah, lah aku sekretaris apa asisten rumah tangganya? Semua nya harus terlibat. Aku hampir menyesal, tapi akan aku coba, Semangat!' batin Inka.
Saat Inka membaca peraturan itu, matanya melotot melihat tulisan itu full satu lembar. Membuat kepalanya langsung pusing, di dalam surat itu tertera peraturan selama menjadi sekretaris pribadinya.
PERATURAN SELAMA MENJADI SEKRETARIS PRIBADI TUAN NARENDRA PRAWIRA.
Pukul 06.30 anda harus merapihkan ruangan tuan Naren. Memeriksa jadwal rapat yang sempat tertunda dan yang akan berlangsung.
Pukul 09.30 waktunya membuat cemilan ringan untuk tuan Naren, seperti :
a. Teh beraroma melati dengan biskuit.
b. Capucino dengan cake.
c. Kopi Americano dengan biskuit.
d. Kopi Arabica dengan cake.
e. Kopi Espreso dengan susu full cream.
f. Matha hangat.
Semua menu favorit tuan Naren harus menggunakan takaran yang pas, semua petunjuk sudah ada di dapur kantor.
Pukul 14.00 waktunya rapat di kantor akan di tutup, kecuali memang yang sudah konfirmasi tentang pengunduran jam rapat.
Pukul 16.45 pulang bersama tuan Naren, dan menyiapkan pakaian yang akan di kenakan ketika akan rapat atau menghadiri urusan pribadinya.
Pukul 19.00 waktunya makan malam bersama tuan Naren dan harus berpenampilan menarik. Biasanya akan makan diluar bersama kliennya.
pandai berbicara, terutama bahasa Inggris, semua jadwal mengenai kantor dan pribadi tuan Naren akan di handle satu orang dan akan di berikan ponsel terbaik untuk mengatur semuanya.
Siap mental jika melakukan kesalahan akan mendapat teguran dari tuan Naren.
Harus cepat kilat, tidak boleh lemot dalam melakukan apapun.
'Ya ampun, 8 poin ini membuat ku sangat mual. Jadi aku mirip seperti asisten rumah tangganya, ingin mundur ... tapi aku butuh uang,' batin Inka.
"Nanti akan terbiasa Nona, mungkin awalnya akan kaget. Training ini tetap mendapatkan uang saku, anda jangan khawatir," kata Robi.
"Baiklah pak, akan saya coba," ucap Inka.
Mereka berdua keluar ruangan Robi dan berjalan menuju setiap ruangan yang ada di kantor itu. Tak di sengaja Inka melirik ruanga Naren yang memang terbuat dari kaca sehingga dia pun terlihat sedang sibuk di kursi kebesarannya.
'Pria yang pekerja keras bagai kuda,' batin Inka.
Robi menjelaskan setiap ruangan, membuat Inka merasa bingung dan akhirnya mencatat semuanya agar dirinya tidak lupa saat di suruh-suruh.
Robi memberi tahu secara detail perihal apa saja yang boleh di lakukan oleh seorang sekretaris pribadi. Tidak seperti seorang sekretaris pada umumnya.
"Luas sekali, gedung ini ..." ucap Inka.
"Kau harus menghafal semua ruangan di perusahaan ini," sahut Robi.
Inka menatap Robi dengan wajah yang begitu lugu, "sepertinya kaki ku harus lebih kuat melewati gedung seluas ini," gerutu Inka sambil berjalan mengikuti Robi.
Mereka pun kembali ke ruangan Robi, dan Robi langsung menunjukam meja tempat Inka bekerja.
"Ini meja mu, sengaja di letakan dekat dengan ruangan bos agar kau tidak macam-macam," ucap Robi.
"Dan ini, agenda semua jadwal yang ada di kantor. Semua harus kamu catet saat tuan Narendra ada rapat atau membatalkan rapat, lalu buku yang berwarna merah ini, catatan untuk urusan pribadi tuan Naren, harus kamu bawa. Karena nanti akan ada pertemuan di luar jam kantor," jelas Robi.
"Harus detail dan terinci ya, okay ... saya akan berusaha sebaik mungkin," ucap Inka penuh dengan semangat.
'Ternyata tidak semudah yang ku bayangkan, melihat tumpukan semua buku ini saja, rasanya aku ingin muntah,' batin Inka.
Hari sudah sore membuat Robi menghakhiri training hari ini, dan Ia mengizinkan Inka untuk pulang. Inka pun bersiap membawa 2 buku besar yang harus di pelajari sebelum besok masuk bekerja.
Inka melangkah keluar dari gedung itu, terlihat sangat letih di wajahnya. Ia langsumg mengunggu bus di halte dekat dengan kantornya, terdengar suara bunyi yang tidak asing membuat semua orang yang berada di sekitarnya langsung menoleh ke arah Inka.
'Astaga cacing kelaparan di dalam perut, sabar ya. Kita makan di rumah saja, aku sangat lelah jika harus berjalan membeli makanan,' batin Inka.
Sampai lah Ia di halte dekat rumahnya, Inka langsung turun dan berjalan menuju kedai, melihat orang tuanya sedang sibuk mempersiapkan dagangannya, Inka langsung duduk di kursi pengunjung.
"Haduh ... aku lelah sekali," ucap Inka.
"Bagaimana pekerjaan mu, apa kau bisa melalui nya?" tanya Solihin melihat Inka yang langsung menjatuhkan kepalanya di atas meja.
"Aku lapar, tak sanggup bercerita jika perut ku kosong," sahut Inka.
Membuat Solihin sang ayah langsung membawakan ramen kesukaanya, dan segelas es jeruk.
BERSAMBUNG....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 87 Episodes
Comments
Rini Musrini
ya ampun thor bikir peraturan ribet amat ya
2023-06-10
0