”Ayo” ajak Jenny kepada Akbar.
Akbar beranjak, berdiri. Sementara Indah terlihat masih duduk dengan sikap yang sempurna.
“Lo pulang bareng gue” ujar Anton menghentikan dan meminta agar Jenny pulang bersamanya.
Anton berjalan menghampiri Jenny, dengan mengambil langkah besar ia berdiri di hadapan Jenny, menghadangnya.
Anton mencondongkan tubuhnya mengambil alih barang belanjaan milik Jenny.
Tak lama setelahnya, terlihat ia menggeser tubuhnya agar bisa berhadapan dengan Indah.
“Kak Indah, maaf...” ucap Anton, meminta maaf.
“Lo tenang aja, gue ngerti” ujar Indah menghentikan ucapan Anton sebelum ia bisa menyelesaikan ucapannya.
Lengan jenny bergerak menggeser tubuh Anton dari hdapannya.
“Bisa bicara sebentar?" tanya Jenny, kepada Indah.
Indah mengangguk, mengiyakan.
"Kalan berdua, pergi sana” ujar Jenny memberi perintah agar Anton dan Akbar hilang dari penglihatannya.
Akbar menuruti ucapan Jenny, ia mengambil langkah memberi jarak sekitar lima meter.
Jenny, menurunkan tubuhnya duduk di samping Indah.
“Gue minta maaf. Pasti lo bingung banget sama situasi ini” Uar Jenny mengungkpkan permintaannya.
"Tapi, lo tenang aja. Gue sama Anton cuma sepupuan” lanjutnya.
Indah mengangguk, mengiyakan. Ia sudah tahu hal itu sebelumnya dari Akbar.
“Soal sikap dia yang tadi itu dia lakuin karena dia kurang bisa ngendaliin emosi aja” timpalnya terus menjelaskan keadaan Anton.
Indah kembali menganggukkan kepalanya, Mengiyakan ucapan Jenny.
“Bar sini” ujar Jenny memanggil Akbar.
Akbar membalikkan tubuhnya. Langkahnya berjalan mendekat ke arah kedua perempuan itu.
Anton, memperhatikannya.
“Kamu anterin dia pulang ya” ujar Jenny, meminta tolong.
“Wah” ucap Akbar berdecak kagum dalam hatinya. Tentusaja, itu hal yang di inginkannya. Tapi, apa Indah akan baik -baik saja?
Dahi Indah mengernyit.
“Beneran Cuma teman? Kok aku kamu? Bukannya tadi sama Anton terus ke gue juga lo gue ya? Tapi kenapa ke akbar pake aku kamu?” tanya Indah dalam hatinya.
Indah membalas tatapan yang Akbar berikan.
Lalu, kepalanya menoleh ke arah Jenny.
“Ngga usah" tolak Indah dengan halus.
“Bisa sendiri kok. Lagian bisa pake taxi, mrt, atau bus juga. Gampang” lanjut Indah, meyakinkan.
“Lo tenang aja dia ngga bakal ngapa-ngapain lo” ujar Jenny, lalu menatap Akbar.
Akbar mengangguk setuju.
Jenny meraih ponsel yang berada di lengan Indah. Lalu, memasukkan nomor ponselnya.
“Kalau ada apa-apa hubungin gue aja” ujar Jenny.
“Terus kalau udah sampe lo kabarin gue juga. Pake pap sekalian, biar gue tahu dia nganterin apa ngga” lanjut Jenny mengakhiri ucapannya.
Indah ingin terus menolaknya. Namun, dari belakang terlihat Anton yang menatapnya dengan tulus. Membuat ia tidak bisa menolak permintaannya.
***
“Gila, lo tega banget ninggalin tu cewek” ujar Jenny, memprotes kepada Anton.
Anton tak menganggapi ucapan Jenny. Ia terlihat fokus menyetir, mengendalikan setir mobil dengan lengan kanannya sementara lengan kirinya terlihat memindahkan porsnelling mobil.
“Di lihat dari sikap lo. Kayanya, lo ngga benar-benar tulus sama dia” lanjut Jenny mengutarakan ksimpulannya.
Anton menatap ke arah Jenny, sebentar.
“Ah, bener kan omongan gue” ucap Jenny, setelah melihat salah satu sudut bibir Anton terangkat.
“Dia siapa?” tanya Jenny penasaran.
“Anak residen” jelas Anton, menceritakan job desk Indah.
“Ah” Jenny mengerti. ama seperti sebelumnya, laki-laki ini hanya akan mengambil apa yang bisa menguntungkannya. Ia naif karena menuduh Akbar yang tidak-tidak. Tapi, pada kenyataannya dia lah yang memiliki sifat seperti itu.
##
Bug
Akbar menutup pintu mobil miliknya, dengan kuat.
“Aish” ia berdecak kesal. Setelah melihat Indah yang duduk di kursi penumpang bagian belakang.
"Gapapakan, duduk disini?” tanya Indah.
“Santai aja” balas Akbar.
Lengannya bergerak memasangkan Seatbelt agar melingkar di tubuhnya.
Tak lama kemudian, terlihat Akbar yang menginjak pedal gas. Membuat mobil melaju dan meninggalkan bagian outdoor seja mall.
“Sudah makan?” tanya Akbar.
Indah mengabaikan pertanyaan yang Akbar berikan.
Akbar menatap perempuan itu dari balik kaca pion mobil.
Namun, telihat Indah yang tengah asik membaca dengan sebuah headset yang terpasang di kedua telinganya. Indah sengaja melakukan itu agar interaksnya dengan Akbar menjadi terbatas.
Akbar membiarkannya, memberikan privasi penuh atas apa yang akan di lakukan Indah.
Ia merasa bersyukur, karena jenny memintanya agar bisa mengantr Indah. Ada dalam satu mobil yang sama dengan Indah saja sudah cukup membuat Akbar senang. Terlepas, dar semua sikap dingin yang Indah berikan. Akbar akan menerimanya.
Tak bisa Akbar bohongi. Setiap pertemuannya dengan Indah selalu membuat hatinya berdebar dengan kencang. Untuk beberapa saat ia memejamkan matanya, berharap ia bisa mengontrol tubuhnya agar tidak melewati batas yang akan membuat Indah merasa terganggu.
“Kamu lihat, bagaimana semesta mendukung ku?’ ujar Akbar bertanya sendiri.
Akbar mengalihkan pndangannya, sebelum Indah mengetahui dan merasa semakin risih atas semua sikapnya.
Buk
Indah menutup bukunya dengan cepat. Lengannya melepas headset yang terpasang di telinga bagian kanannya.
“Lo ngga ngelakuin ini dengan sengaja kan?” tanya Indah penasaran.
“Maksudnya?” tanya Akbar dengan dahi yang megernyit.
“Iya, bisa aja kan ini udah lo rencanain sebelumnya, biar bisa nganterin gue” ujar Indah mengatakan apa yang ada di pikirannya.
Akbar menggelengken kepalanya.
“Kenapa Indah bisa berfikir seperti itu?” ia tidak tahu jika Indah akan memiliki imajinasi sejauh ini.
“Lakuin hal se receh ini?” tanya Akbar.
Indah mengangguk dengan yakin.
“Denger ya ndah” ucap Akbar.
“Kalau aku mau, aku bisa lakuin hal yang lebih aneh dari ini. Diem seharian di kafe atau terus ikutin kamu selama di rumah sakit” ujar Akbar.
“Apa pernah aku lakuin hal itu?” tnya Akbar
Indah menggeleng, membalas pertanyaan yang Akbar berikan.
“Ngga pernah kan?” ujar Akbar.
"Atau mau aku lakuin hal itu?" tanya Akbar.
Indah menggeleng, menolak.
“Kalaupun aku mau, aku tetap ngga bisa lakuin hal itu” ujar Akbar terus mengatakan apa yang ada di pikirannya.
"Kenapa?" tanya Indah dengan suara yang pelan.
"Karena aku tahu, itu bakal bikin kamu risih" jawab Akbar.
“Kan malam itu udah aku bilang apapun keputusan kamu. Aku akan menghargai dan ngga akan memaksa kan apapun dari kamu"
“ Terlepas dari pekerjaan kita yang berada di bidang yang sama. Aku harap kamu bisa tetap profesional" jelas Akbar.
Hening, Indah tak menanggapi ucapan yang Akbar berikan.
Tak bisa ia bohongi, jawaban yang Akbar berikan membuatnya merasa malu karena sudah berfikir yang tidak-tidak.
Indah mengalihkan pandangannya, menatap ke arah pemandangan ibukota yang menunjukkan tampilan gelap malam yang di terangi oleh cahaya terng dari lampu lalu lintas, mobil, dan gedung gedung yang menjulang tinggi.
Ini kali keduanya, ia bisa bicara serius dengan Akbar. Dan malam ini, ia juga mendengar pernyataan tulus Akbar berikan kepdanya.
Apakah hati Indah berubah? Tentu saja tidak. Kali ini, ia tidak mungkin akan jatuh hanya karena kata-kata yang Akbar berikan. Mau di rayu pakai apapun hatinya akan tetap berdiri dengan apa yang ia pegang sebagai prinsipnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 118 Episodes
Comments