Qest

Langkah Tama berjalan mundur satu langkah, memberi ruang. Selanjutnya terlihat lengannya mempersilahkan Akbar menuju podium untuk menyampaikan sepatah kata sambutannya.

Akbar mengangguk mengerti, ia menyimpan map di antara lengan dan pinggangnya.

Langkahnya, berjalan ringan. Berlainan engan hatinya yang terasa akan meedak karena gugup.

Ia mengatur nafasnya. Bola matanya bergerak dari sudut kanan aula hingga sudut kiri, memeriksanya.

Akbar kembali mengucakan salam, untuk mengawali pembicaraannya.

“Iya,benar. Hari ini hari pertama saya bekerja di rumah sakit ini.”

“Sepertinya apa yang di ucapkan pak tama tentang saya terlalu berlebihan” lanjut Akbar merendahkan dirinya.

“Jauh sebelum saya, di rumah sakit ini sudah banyak sekali pimpinan yang jauh berpengalaman dari saya”

“Pengalaman saya di bidang ini masih belum seerapa dan tentu saja masih sangat membutuhkan bimbingan dari senior-senior” ujar Akbar meminta bantuan Akepada para senior-senior yang ada di hadapannya.

“Begitupun dengan para staff, adik-adik koas maupun residen. Jika saya melakukan kesalahan. Maka, kalian jangan sungkan untuk meneger saya” lanjut Akbar meminta bantuan kepada para staff.

Anton berdecak kesal, mendengar kata-kata lembut yang di berikan Akbar. Rasanya, ia benar-benar ingin menghajar laki-laki itu.

Akbar melangkah mundur, menjauh dari podium.

Ia mengernyitkan dahinya. Menyadarinya, sebuah lengan terangkat ke atas.

Ia kembali melangkah maju, mendekat ke arah podium.

“Apa ada pertanyaan?” ujar Akbar menanyakan, ke arah seserang yang duduk di bangku paling belakang.

Anton melambai-lambaikan lengannya. Mendengar pertanyaan yang di ajakan Akbar. Ia langsung beranjak.

“Iya, Boleh saya menanyakan ini?” tanya Anton dengan mengeraskan suaranya.

Apa yang Anton ucapkan membuatnya mendapat perhatian dari seluruh peserta.

Berbeda dengan Tama ia mengerutkan keningnya.

“Iya, Silahkan” ujar Akbar mempersilahkan.

Selanjutnya, terlihat Akbar meminta bantuan Pak Mardi agar memberikan pengeras suara.

Akbar kembali merapihkan kacamatanya, tubuhnya terlihat tegap menghadap ke arah eseorang yang akan mengajukan pertanyaan kepadanya.

Anton menerima sebuah mic yang di berikan staff untuknya. Ia menggenggamnya dengan kuat, kemudian meletakkannya di bawah dagunya.

“Bukankah keluarga bapak juga memiliki rumah sakit?” tanya Anton.

Akbar menganggukkan kepalanya, mengiyakan. Tak berlangsung lama suara riuhan terdengar di isi aula saling menggunjing.

“Dan setahu saya rumah sakit itu jauh lebih besar dari ini.” ujar Anton kemudian menghentikan ucapannya.

“Ahhh” Tama berdecak kesal mendengar pertanyaan konyol yang di ajukan cucunya.

Indah mengalihkan pandangannya menatap ke arah Anton yang berbicara dengan berani. Seolah-olah ia sudah mengenal Akbarsebelumnya.

“Lantas, kenapa bapak bekerja disini. Apakah keluarga bapak sudah tidak membutuhkan lagi atau mereka sengaja mengirim bapak kesini?” tanya Anton.

Tama membelalakkan matanya, ia mencoba memerintah staff untuk menghentikan tingkah anak itu. Namun, Akbar menahannya.

“Saya akan menjawabnya” balas Akbar memecah keheningan yang sempat terjadi.

Pandangan Indah beralih ke pria itu. Jelas ia tahu alasan Akbar kenapa bekerja di sini. Bagaimana bisa dia pergi ke tempat itu setelah hal yang di lakukan ayahnya?

“Iya,benar. Keluarga saya memang mengelola sebuah rumah sakit, tidak hanya itu perusahaan itu juga bergerak di bidang makanan,minuman juga fashion” ujar Akbar menjelaskan.

“Terlepas dari itu semua”

“Sepertinya usia saya sudah cukup matang untuk menentukan arah hidup saya”

“Termasuk dengan datang ke tempat ini”

“Saya tidak perlu meminta ijin siapapun atas pilihan yang saya buat!”

“Tapi, tentunya saya perlu persetujuan pak Tama agar bisa dapat kerja di tempat ini” lanjut Akbar kemudian ia menghadap ke arah Tama.

Tama mengangguk, mengiyakan ucapa Akbar.

Tama melangkahkan kakinya, berjalan menuju podium. Dengan cepat Akbar menggeser tubuhnya.

Dengan cepat ia mulai mengakhiri acara hari ini. Dan meminta kepada staf agar kembali ke tepatnya masing-masing.

“Panggil Anton ke ruangan” ujar tama memberi perintah kepada Mardi.

Mardi segera mengiyakan perintah atasnnya.

“Maaf Akbar, sepertinya acara berjalan kurang lancar” ujar Tama.

“Tidak, pak. Ini tidak apa-apa” balas Akbar.

“Justru saya berterima kasih atas sambutan hangat bapak atas kedatangan saya” ujar Akbar.

“Aish kamu ngga perlu sungkan” jawab Tama dengan lengan yang mengusap-usap punggung bapak.

“Bapak ngga usah khawatir, saya pastikan semua informasi di sini aman” ujar Akbar kembali meyakinkan Tama.

Tanpa Akbar berbicara seperti itu, tama sudah mengetahui apa yang terjdi di antara keduanya. Tama merupakan teman Shakti, kakek Akbar. Keduanya menjalin pertemanan sudah cukup lama jadi ia mengetahui segala seluk beluk keluarga Akbar.

Namun, kepergian Shakti di tiga tahun lalu masih meninggalkan rasa sakit di hatinya. Bagaimana bisa dalam waktu singkat itu ia melupakannya. Padahal, kenangan yang mereka miliki lebih dari tiga puluh tahun.

####

Siska dan Indah berjalan beriringan di lorong rumah sakit.

Hati Indah terasa kosong, setelah apa yang terjadi di aula tadi.

Kehadiran Akbar, sulit di terimanya. Bersamaan dengan itu reaksi Anton mengatakan ia mengenal Akbar dan sepertinya ada yang terjadi di antara keduanya. Semua hal itu, memenuhi kepala Indah.

“Wah gilasihh, keren banget ya Ndah” ujar Siska memuji, dengan nada suaranya yang terdengar sangat bahagia.

“Siapa?” tanya Indah.

“Pak Akbar” balas Siska.

Ucapan Siska membuat Indah menghentkan langkahnya. Lalu, menoleh ke arah Siska dengan dahinya yang mengerut.

“Iya, lo dengerkan”

“Usianya di bawah kita. Tapi udah punya gelar PhD, kerja di rumah sakit d swiss,terusss...” Siska menghentikan ucapannya, menyadari Indah yang tak memberi reaksi terhadapnya.

“Lo kenapa, dari tadi ko ngga fokus gitu” uajr Sisk memprotes.

***

Anton berjalan melewati pintu memasuki ruangan Tama, kakeknya sekaligus pendiri dan direktur ruamh sakit.

Tama membalikkan tubuhnya, ia menatap muak ke arah Anton yang terlihat tidak menyadari kesalahannya.

Bug

Ia melayangkan sebuah pukulan ke arah perut Anton.

Membuat pria itu membungkuk, dengan lengan yang menyentuh perutnya. Diiringi, suara erangan kesakitan.

“Jaga ucapan kamu” ujar Tama.

“Kamu tahu, apa yang kamu lakukan tadi hampir saja membuat kita kehilangan orang penting” lanjutnya, membela Akbar.

Anton berdecak kesal, matanya yang mengkilat terlihat memancarkn kemarahannya.

“Kakek percaya, dengan omongan orang br*ngsek itu?” tanya Anton menekankan nada suaranya.

Tama mengangguk, pasti.

“Anton ngga ngerti. Kenapa, bisa kakek nerima p*mbunuh itu disini?” lanjutnya, dengan nada suara yang ter engah-engah.

“Apapun yang terjadi di antara kalian, Kakek tidak peduli” balas Tama, tegas.

“Selesaikan itu di luar jam kerja.”

“Selama dia di tempat ini. Jangan, mengganggunya!” lanjut Tama menyelesaikan ucapannya dengan kembli memberi perintah kepada Anton.

Apa yang di ucapkan Tama, tak terasa melukai harga diri anton. Bagaimana, bisa? Ia lebih mementingkan orang lain dari pada cucunya sendiri.

“Apakah dia sepenting itu?” tanya Anton, di dalam hatinya.

Episodes
1 On and On
2 F. On
3 F. On 2
4 F. On and Off
5 Off
6 Oye
7 Ayah?
8 H-ello
9 Qest
10 First
11 J
12 Night
13 JIS
14 Co'vnant
15 Tricky
16 Vorst'n
17 DeepT'k
18 Seja
19 R
20 Obvi*s
21 Meet
22 Lunch
23 Dalih
24 Fallin
25 Fall
26 Way
27 BreakFree
28 IFeel
29 Broth
30 ChaFa
31 Side
32 Props
33 Heal
34 AnDjieFa
35 Shoume
36 Cha
37 Root
38 Elevator
39 Lunx
40 Den
41 For What?
42 Home
43 are u, Ok?
44 Happier
45 Rainy days
46 Gum
47 Quest
48 Answr
49 Wedding Days
50 Hide
51 Bern
52 Accord
53 ciao
54 Mooni
55 autograph
56 Waiting
57 Wrong
58 Memor
59 Heartbeat
60 Bye
61 Bring
62 Hai?
63 Check Out
64 Arah
65 Take a Breathe
66 slut
67 Raor
68 Marv
69 U & Me
70 tiaW
71 L
72 Wakeup
73 Reality
74 Props
75 Back
76 Liv
77 Cinno's
78 LoveHate
79 Crown
80 Reeb
81 Fath
82 Risk
83 Why, you?
84 Painful
85 Randm
86 SACK
87 Fired
88 Trap
89 Ava
90 Hurts
91 Fall again
92 Neverland
93 Butter
94 Sunders
95 Without You
96 Great
97 Treshold
98 Apr Shower
99 FML
100 ItsYou
101 RLY
102 Chetoyou
103 TrustGd
104 Crash
105 Poor
106 Namacna
107 Heavy
108 Regret
109 LostIn
110 Gbye
111 Can I?
112 LetGo
113 Flow
114 Let God
115 Let2God
116 PersBar
117 Fri(Ends)
118 PersNdah
Episodes

Updated 118 Episodes

1
On and On
2
F. On
3
F. On 2
4
F. On and Off
5
Off
6
Oye
7
Ayah?
8
H-ello
9
Qest
10
First
11
J
12
Night
13
JIS
14
Co'vnant
15
Tricky
16
Vorst'n
17
DeepT'k
18
Seja
19
R
20
Obvi*s
21
Meet
22
Lunch
23
Dalih
24
Fallin
25
Fall
26
Way
27
BreakFree
28
IFeel
29
Broth
30
ChaFa
31
Side
32
Props
33
Heal
34
AnDjieFa
35
Shoume
36
Cha
37
Root
38
Elevator
39
Lunx
40
Den
41
For What?
42
Home
43
are u, Ok?
44
Happier
45
Rainy days
46
Gum
47
Quest
48
Answr
49
Wedding Days
50
Hide
51
Bern
52
Accord
53
ciao
54
Mooni
55
autograph
56
Waiting
57
Wrong
58
Memor
59
Heartbeat
60
Bye
61
Bring
62
Hai?
63
Check Out
64
Arah
65
Take a Breathe
66
slut
67
Raor
68
Marv
69
U & Me
70
tiaW
71
L
72
Wakeup
73
Reality
74
Props
75
Back
76
Liv
77
Cinno's
78
LoveHate
79
Crown
80
Reeb
81
Fath
82
Risk
83
Why, you?
84
Painful
85
Randm
86
SACK
87
Fired
88
Trap
89
Ava
90
Hurts
91
Fall again
92
Neverland
93
Butter
94
Sunders
95
Without You
96
Great
97
Treshold
98
Apr Shower
99
FML
100
ItsYou
101
RLY
102
Chetoyou
103
TrustGd
104
Crash
105
Poor
106
Namacna
107
Heavy
108
Regret
109
LostIn
110
Gbye
111
Can I?
112
LetGo
113
Flow
114
Let God
115
Let2God
116
PersBar
117
Fri(Ends)
118
PersNdah

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!