Lengan Akbar bergerak meraih pergelagan lenganbIndah. Membawanya agar duduk di sebuah bangku di dekat taman yang memiliki air mancur.
Tap
Akbar meletakkan tas belanjaannya di tanah.
“Duduk" ujar Akbar memberi perintahnya.
Indah menatap, heran.
“Kita tunggu disini” ucap Akbar.
Indah semakin tak mengerti.
“Kamu ngga lihat mereka masih bicara?” tanya Akbar.
Indah menolehkan kepalanya menatap kearah Anton yang terlihat berbicara dengan serius. Ia tak tahu apa yang di bicarakannya? Yang bisa ia lihat hanya lengan Anton yang menunjuk-nunjuk ke arah perempuan itu.
“Mereka akan terus seperti itu. Mungkin akan lebih dari satu jam” jelas Akbar.
Dahi Indah mengernyit, ia tak tahu apakah bisa mempercayai perkataan Akbar.
**
******* nafas kasar keluar dari mulut Jenny
“Berhenti berhubungan sama b*jingan itu” ucap Anton, tegas.
Jenny mentapnya, degan penuh amarah.
“Gue pinta ini karena gue ngga mau ada hal yang buruk terjadi sama lo” lanjut Anton.
“Tahu apa lo tentang gue, hah?” tanya Jenny.
Anton terdiam.
“Denger ya, lo ngga punya hak atas apapun dari hidup gue” timpalnya.
Lengan Anton bergerak kembali merangkul Jenny dengan erat.
Jenny meringis kesakitan, namun anton mengabaikannya.
Sorot matanya mengkilat menatap tajam ke arah Jenny.
Jenny menundukkan kepalanya, menatap permukaan tanah.
“Lo bisa dengerin gue sekarang” tanya anton terdengar lembut bagi orang lain, tapi menakutkan untuk Jenny.
Jenny mengangguk, pelan.
Anton melepas cengkeramannya dari tubuh jenny.
“Dia pembunuh, dan lo tahu itu” ujar Anton.
Jenny menggelengkan kepalanya, ia kembali tak setuju dengan perkataan Anton. Ia takut, tapi terus ingin melawannya.
“Berhenti. Lo tuh ngga tahu apa-apa.” Jelas Jenny nda suaranya terdengar sangat lemah.
“Ini tuh ngga kaya yang lo pikirin” lanjut Jenny terus membantah.
“Lo yang gavtahu apa-apa. Malam itu, gue lihat semuanya” timpal Anton membalas.
“Dia cuman manfaatin lo. Sama kaya yang dia lakuin ke Ravi dulu”
“Setelah Ravi ngga dia butuhin, dia lempar gitu aja” lanjut Anton terus megatakan apa yang ada di pikirannya.
##
Akbar memperhatikan Indah dengan sudut matanya. Terlihat jelas bahwa perempuan itu sangat penasaran dengan kondisi yang tengah terjadi saat ini.
“Masih ingat? Perempuan yang muncul bersamaku tujuh tahun lalu di berita?” tanya Akbar.
Indah menolehkan kepalanya, sambil berusaha mengingat hari itu.
“Itu Jenny, temanku. Dan Anton sepupunya” lanjut Akbar menjelaskan.
Dari sorot mata Indah, terlihat ia yang sangat penasaran. Tentu saja Idnah ingin mengetahui semuanya. Tapi, untuk menanyakan hal itu kepada Akbar rasanya tidak mungkin.
“Mereka berdua cucu pak Tama, Direktur rumah sakit kita” lanjutnya.
Indah menoleh, kaget. Meskipun begitu, satu persatu rasa penasarannya terjawab.
Akbar mengeluarkn ponselnya.jemarinya mengusap bagian layar membuka kunci.
Tap
Ia mengarahkan ponsel ke aplikasi gambar, jemarinya bergerak menggeser ke atas dan bawah dengan cepat.
Tak lama setelahnya, Akbar memperlihatkan sebuah gambar yang berisi tiga orang remaja, dua anak laki-laki dan satu prempuan. Di bagian sudut terlihat seorang bocah anak laki-laki berdiri ikut berada di dalam gambar.
“Kami berteman sejak kecil” ucap Akbar menjelaskan gambar yang ada di ponselnya.
Dahi Indah mengernyit, mencoba mencerna apa yang Akbar ucapkan.
“Lantas kenapa sikap Anton berubah?” tanya Indah lewat soot matanya.
“Anak yang paling kecil itu Anton. Dia, sangat dekat Ravi” ujar Akbar menjelaskan sambil menunjuk kearah dua anak laki-laki secara bergantian.
Indah menyimak.
“Tiga belas tahun yang lalu. Sebuah kecelakaan menimpa Ravi menyebabkan ia kehilangan nyawanya” ujar Akbar nada suaranya bergetar.
Entah kenapa, tiba-tiba ia membicarakan Ravi kepada Indah.
“Kita belum bisa mnerimanya, termasuk anton. Dia sangat marah dan masih berfikir aku penyebabnya” lanjut Akbar yang semakin kehilangan suaranya.
Ia menundukkan kepalanya. Mengingat hal itu membuat dadanya kembali merasa sesak.
Kejadian itu merubah Akbar sepenuhnya. Kepergian Ravi meninggalkan luka yang sangat besar untuknya membuat ia harus melalui masa traumatic yang luar biasa.
Malam itu, Akbar tidak bisa menghadiri pemakaman Ravi. Shakti, kakek Akbar langsung mengirim Akbar ke Australia untuk menjalani pemulihan. Namun, itu hanya salahsatu alasannya saja. Shakti sengaja menjauhkan Akbar agar ia tak tercium oleh media.
Indah terdiam, ia tak tahu harus membalas ucapan Akba dengan apa.
**
“Berhenti, bicarain tentang Ravi” ujar Jenny, memohon ke arah Anton.
Anton menatap tak percaya dengan apa yang di ucapkan Jenny.
“Apa ia sudah melupakannya?” tanya Anton dalam hatiya.
“Apa menurut lo Ravi suka lihat kita kayak gini. Terus berantem?” ujar Jenny mengajukan sebuah pertanyaan.
Anton menggelengkan kepalanya.
“Gue ngga percaya lo bisa katain hal gitu?” ujar Anton.
“Ini hasil dari lo kebanyakan main sama dia?” timpalnya lagi.
“Ahhh” Jenny semakin kesal karena Anton tidak memahami semua ucapannya. Rasa amarah dan benci benar-benar telah menutup hati Anton hingga ia tidak bisa mendengar penjelasannya.
“Lo tahu yang harusnya terjadi sekarang apa?” Anton mengajukan pertanyaan.
“Sekarang yang harusnya jadi WaDir itu Ravi, bukan Akbar.” Ujar Anton.
“Dan yang harusnya m*ti itu Akbar, bukan ravi” timpalnya.
Plak.
Jenny melayangkan tamparan ke arah Anton. Ia tak tahan mendengar perkataan anton yang semakin ngaco.
“Lo pikir dengan semua apa yang di pikiran lo. Kata-kata yang udah keluar dari mulut lomalam ini.”
“Bisa bikin kita balik ke tiga belas tahun lalu?”
“Atau bisa, bikin Ravi balik lagi?” tanya Jenny. Lengannya terlihat mencengkeram kerah baju Anton dengan sangat kuat.
“Dan menurut lo dia akan berterima kasih karena lo udah belain dia?” timpal Jenny, kali ini air matanya menetes. Tak mampu, membendung rasa sedihnya melihat semua keadaan yang sangat berantakan.
Anton terdiam, ia tak bisa menjawab perkataan yang Jenny berikan.
“Satu-satunya yang tahu apa yang terjadi malam itu cuma tuhan, Ravi sama pelakunya” ucap Jenny menyelesaikan kalimatnya.
Ia juga tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi malam itu. Kejadian itu terjadi sangat ceat.
Jenny membiarkan Ravi hilang dari pandangannya hanya dalam lima menit. Namun, dalam waktu se singkat itu Ravi meninggalkannya untuk selama-lamanya.
Terlepas dari kecelakaan itu. Kali ini, Jenny hanya akan mempercayai Akbar. Ia tidak ingin hidup dengan terus membeci Akbar. Ditinggalkan oleh seseorang yang sangat mencintainya merupakan hal yang sangat menyakitan untuk Jenny dan membuat seluruh dunianya berantakan.
Kini, yang tersisa hanya Akbar. Oleh karena itu, ia akan terus berusaha membuat Akbar agar selalu ada dalam jangkauannya.
Saat ini, ia hanya ingin bisa menjaga apa yang bisa di genggamnya.
“Gue tahu ini sulit buat lo. Tapi, bukan Cuma lo, gue sama Akbar juga kesulitan atas kondisi ini” lanjut Jenny mengakhiri ucapannya.
Lalu, berjalan meninggalkan Anton di tempatnya. Dan kembali menghampiri Akbar.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 118 Episodes
Comments