J

“Maaf, saya angkat telpon dulu pak?” ujar Akbar meminta sedikit waktunya kepada Mardi.

“Iya, silahkan” balas Mardi mempersilahkan.

Akbar beranjak dari tempatnya, dengan lengan yang terlihat menempelkan ponsel di telinganya.

“Kenapa?” tanya Akbar, bertanya kepada seseorang yang berada di seberang.

“Dimana?” ujar penelpon yang memiliki suara ciri khas perempuan. Ia membalas perkataan Akbar dengan sebuah pertanyaan.

“Masih, di rumah sakit. Kenapa?” tanya Akbar kembali mengajukan pertanyaannya.

“Pekerjaan kamu udah selesai?” tanya perempuan itu lagi dan kembali mengabaikan pertanyaan Akbar.

Akbar mengernyitkan dahinya. Ini tidak seperti biasanya, kali ini nada suara Jenny terdengar penuh keraguan dan ketakutan.

“Kamu dimana?” tanya Akbar,

Hening tak ada jawaban.

“Kirim live location nya sekarang. Sebentar lagi aku datang” lanjut Akbar terdengar lembut.

“Kerjaan kamu gimana?” tanya jenny dengan nada suaranya yang bergetar seperti menahan tangisan nya agar tidak pecah.

“Aku bisa menyelesaikannya nanti”

“Cepat kirim lokasinya.”

“Carilah tempat ramai, jangan diam di tempat yang sepi” lanjut Akbar memberi nasihat kepada jenny sebelum menutup telponnya.

Dengan cepat, ia segera kembali ke ruangannya. Untuk mengambil barang-barangnya.

###

Indah menyandarkan tubuhnya di meja lobi IGD. Bola matanya bergerak menatap ke arah sekitar hari ini, suasana IGD terlihat sepi dan tidak ramai seperti biasanya.

Helaan nafas kembali, terdengar dari Indah. Lengannya bergerak mengusap-usap bagian perutnya yang terasa sakit dan melilit akibat ia yang buru-buru menghabiskan makanannya tadi.

Kring kring

Deringan telpon berbunyi, memecah keheningan.

Vio, teman Indah segera mengangkatnya.

“Dengan Rumah Sakit Motekar. Ada yang bisa kami bantu?'’ ujar Vio memberi salam pembuka kepada seseorang yang menghubunginya.

“Segera bersiap-siap. Sebentar lagi, beberapa korban kecelakaan akan segera di larikan kesana” ucap seorang pria dari balik sambungan telpon.

“Baik” ujar vio, kali ini suaranya terdengar bergetar.

Membuat Indah memperhatikannya.

“Untuk jumlah korban, kami belum bisa memberitahunya”

“Tapi, tolong siapkan anggota medis sebanyak mungkin” lanjut pria itu menambahkan ucapannya.

Vio membalasnya, dengan sebuah anggukan.

Tiga detik kemudian sambungan telpon terputus.

“Hey,lo kenapa?’” tanya Indah.

Vio, memejamkan matanya sambil berusaha mengatur nafasnya.

***

Pintu lift terbuka

Langkah kaki Akbar berjalan keluar dari pintu lift.

Kepalanya menunduk memperhatikan layar ponsel yang menunjukkan alamat yang di kirimkan jenny kepadaya. Sementara, di lengan kirinya terlihat ia menenteng tas kerja.

(Suara mobil ambulance yang mendekat)

Akbar menengadahkan kepalanya, matanya membesar melihat beberapa mobil ambulance yang sudah terparkir di depan IGD. Perawat, Dokter, dan staff terlihat berlalu lalang mengeluarkan pasien dari Ambulance dan segera memindahkannya agar langsung di tangani.

Tubuh Akbar mematung setelah melihat kondisi rumah sakit yang sangat ramai dengan suara erangan kesakitan. Di saat seperti ini apa mungkin ia bisa meninggalkan rumah sakit?

Lengannya segera merogoh saku dalam jas miliknya.

Panggilan telpon dengan jenny.

“Kamu masih disana?” tanya Akbar memastika keberadaan Jenny.

“Iya, kenapa? Lagi, ngga bisa yah?” tanya Jenny, memastikan Akbar akan menjemputnya atau tidak.

“Tunggulah disana, sebentar.” ujar Akbar, meminta Jenny untuk menunggunya.

“Kalau lagi ngga bisa. Juga gapapa, kan bisa panggil taksi online” ujarJenny mengusulkan.

“Ngga, tunggu aja disana. Sebentar lagi nyampe!” tegas Akbar.

###

Jenny, 30 th. Seorang mahasiswa magister bidang design. Lengannya terlihat menopang bagian dagu miliknya, pandangan wanita itu terlihat menatap ke arah jendela dengan rambut yang ia biarkan terurai.

Sudah lebih dari dua jam ia duduk disana. Sebuah kafe yang berada di pusat kota Bandung. Di bagian meja laptop miliknya masih menyala, begitupun dengn beberapa buka yang ia biarkan terbuka begitu saja.

Semua energi yang di milikinya, habis hari ini. Ia tidak bisa berfikir lebih banyak lagi. Bahkan, untuk meneruskan desainnya saja sudah sulit.

(Suara dering telpon berbunyi memberitahu sebuah pesan masuk)

Akbar

Nama itu tertera di layar ponselnya.

“Lima menit lagi aku sampe” isi pesan dari Akbar.

Setelah membaca pesan yang masuk ke dalam ponselnya. Jenny segera memasukkan satu prsatu barang ke dalal tas miliknya. Lalu, ia berjalan keluar dari kafe.

**

Sebuah mobil Rubicon berhenti tepat di hadapannya. Perlahan kaca mobil mnurun menunjukan wajah sang pemilik.

Jenny tersenyum, setelah melihat ke datanagan Akbar.

“Ayo” ajak Akbar. Dari tempatnya terlihat Jenny yang berjalan ke arahnya dengan menenteng tas yang berukuran cukup besar di bahunya sementara di lengannya ia membawa dua kap kopi dalam satu wadah.

“Nih” ujar Jenny menyodorkan wadah kopi ke arah Akbar. Meminta laki-laki itu memegangnya.

Selanjutnya, ia mulai membenahkan tubuhnya agar bisa duduk dengn nyaman. Sebelumnya, ia sudah lebh dulu menyimpan tas besar miliknya di bangku belakang mobil.

“Kamu ngga kediginan?” tanaya akbar, melihat jenny yang mengenakan rok pendek.

Jenny menoleh ke sumbr suara.

“Lumayan. Tapi, yaudah mau gimana lagi. Kan sekarang mau langsung pulang juga” balas Jenny.

“Ya, makanya jangan di pake” timpal Akbar, menasehati.

“Ya, suka-suka aku lah” Jenny membalas ucapan Akbar sembari mengambil stu kap kopi miliknya.

“Ayo cepat, jalan” Jenny membr perintah.

Akbar mengangguk. Lengan kirinya terlihat melepas rem tangan yang diikuti lengan kanannya yang mengemudikn setir mobil.

Tak ada balasan lain yang di tambahkan akbar atas ucapan tadi.

Iya, terserah. Dia memang bisa berpakaian dengan bagimana seleranya. Tapi, apa sulit untuk memakai pakaian yang lebih anjang dan tertutup. Bukankah, dia juga akan kesulitan jika terus memaka pakain seperti itu. Dia kedingina, terkena angin malam, terus bagaimana jika sesuatu hal yang buruk menimpanya?

Pikiran Akbar berkecamuk, kesal. Namun pandangannya tetap fokus ke jalanan.

“Aku mendengarnya” ujar Jenny mengawali pembicaraannya.

“Soal?" tanya Akbar. Kemudian ia menginjak rem, setelah melihat lampu merah menyala.

“Anton” balas Jenny.

“Siapa Dia?” tanya Akbar, tidak mengenal nama yang di sebut jenny.

Jenny mengeluarkan ponselnya. Lalu, menunjukkan sebuah poto kepada Akbar.

Di dalam foto terlihat tia anak yang mmakai seragam SMa dua anak laki-laki dan satu nak erempuan. Jenny, memperbesar layar ponse. Menunjukka, seorang pria yang masih mengenakan seragam SMPnya.

“Dia Anton, sepupuku” ujar jenny menjelaskan.

“Sekarang, dia mahasiswa koas di rumah sakit” jelas Jenny.

“Dia juga yang ngasih pertanyaan itu ke kamu”

“Aku tahu, ini ngga wajar. Tapi, kamu bisa kan jangan terlalu nanggepin dia?’ ujarnya meminta.

Akbar menaikkan alisnya.

“Harus, sampai sejauh itu?” tanya Akbar.

Jenny, menganggukkan kepalanya.

“Kita ngga bakal pernah tahu.

Apa yang bakal di lakuin orang itu.

Bukan hanya dia, tapi ayahnya juga pasti ikut-ikutan” ucap Jenny lebih jelas.

Akbar menganggukkan kepalanya, menuruti perkataan Jenny.

Sebelum jenny mengatakannya, hal itu sudah ada di dalam pikirannya.

Sejak awal kedatangannya Akbar sudah tahu kemana tujuannya. Dan selain itu, ia tidak tertarik pada hal lain lagi. Sebesar apapun rintangannya Akbar hanya akan melaluinya agar ia bisa tetap sampai di tujuannya.

Episodes
1 On and On
2 F. On
3 F. On 2
4 F. On and Off
5 Off
6 Oye
7 Ayah?
8 H-ello
9 Qest
10 First
11 J
12 Night
13 JIS
14 Co'vnant
15 Tricky
16 Vorst'n
17 DeepT'k
18 Seja
19 R
20 Obvi*s
21 Meet
22 Lunch
23 Dalih
24 Fallin
25 Fall
26 Way
27 BreakFree
28 IFeel
29 Broth
30 ChaFa
31 Side
32 Props
33 Heal
34 AnDjieFa
35 Shoume
36 Cha
37 Root
38 Elevator
39 Lunx
40 Den
41 For What?
42 Home
43 are u, Ok?
44 Happier
45 Rainy days
46 Gum
47 Quest
48 Answr
49 Wedding Days
50 Hide
51 Bern
52 Accord
53 ciao
54 Mooni
55 autograph
56 Waiting
57 Wrong
58 Memor
59 Heartbeat
60 Bye
61 Bring
62 Hai?
63 Check Out
64 Arah
65 Take a Breathe
66 slut
67 Raor
68 Marv
69 U & Me
70 tiaW
71 L
72 Wakeup
73 Reality
74 Props
75 Back
76 Liv
77 Cinno's
78 LoveHate
79 Crown
80 Reeb
81 Fath
82 Risk
83 Why, you?
84 Painful
85 Randm
86 SACK
87 Fired
88 Trap
89 Ava
90 Hurts
91 Fall again
92 Neverland
93 Butter
94 Sunders
95 Without You
96 Great
97 Treshold
98 Apr Shower
99 FML
100 ItsYou
101 RLY
102 Chetoyou
103 TrustGd
104 Crash
105 Poor
106 Namacna
107 Heavy
108 Regret
109 LostIn
110 Gbye
111 Can I?
112 LetGo
113 Flow
114 Let God
115 Let2God
116 PersBar
117 Fri(Ends)
118 PersNdah
Episodes

Updated 118 Episodes

1
On and On
2
F. On
3
F. On 2
4
F. On and Off
5
Off
6
Oye
7
Ayah?
8
H-ello
9
Qest
10
First
11
J
12
Night
13
JIS
14
Co'vnant
15
Tricky
16
Vorst'n
17
DeepT'k
18
Seja
19
R
20
Obvi*s
21
Meet
22
Lunch
23
Dalih
24
Fallin
25
Fall
26
Way
27
BreakFree
28
IFeel
29
Broth
30
ChaFa
31
Side
32
Props
33
Heal
34
AnDjieFa
35
Shoume
36
Cha
37
Root
38
Elevator
39
Lunx
40
Den
41
For What?
42
Home
43
are u, Ok?
44
Happier
45
Rainy days
46
Gum
47
Quest
48
Answr
49
Wedding Days
50
Hide
51
Bern
52
Accord
53
ciao
54
Mooni
55
autograph
56
Waiting
57
Wrong
58
Memor
59
Heartbeat
60
Bye
61
Bring
62
Hai?
63
Check Out
64
Arah
65
Take a Breathe
66
slut
67
Raor
68
Marv
69
U & Me
70
tiaW
71
L
72
Wakeup
73
Reality
74
Props
75
Back
76
Liv
77
Cinno's
78
LoveHate
79
Crown
80
Reeb
81
Fath
82
Risk
83
Why, you?
84
Painful
85
Randm
86
SACK
87
Fired
88
Trap
89
Ava
90
Hurts
91
Fall again
92
Neverland
93
Butter
94
Sunders
95
Without You
96
Great
97
Treshold
98
Apr Shower
99
FML
100
ItsYou
101
RLY
102
Chetoyou
103
TrustGd
104
Crash
105
Poor
106
Namacna
107
Heavy
108
Regret
109
LostIn
110
Gbye
111
Can I?
112
LetGo
113
Flow
114
Let God
115
Let2God
116
PersBar
117
Fri(Ends)
118
PersNdah

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!