Pintu ruangan tertutup. Untuk beberapa saat tubuh Akbar telihat mematung di ambang pintu. Sorot matanya bergerak memperhatikan sekitar.
Selanjutnya, ******* nafas keluar dari mulutnya.
Sambutan yang ia dapat meriah dan juga memberinya kejutan yang mengusik ke dalam hatinya.
Hal, ini baru terpikirkan olehnya.
Apakah, semua orang juga akan beranggapan seperti itu? Keberadaannya di tempat ini hanya lah sebagai tameng atau mata-mata untuk keluarganya. Meskipun, tidak benar. Tetap saja rasa itu mengganggunya.
Trek
Lengan Akbar bergerak melepas jas miliknya.
Lalu, meletakkannya di gantungan.
tak lam kemudian ia menyandarkan tubuhnya di kursi.
Krek
Akbar membuka tutup botol air mineral dan langsung menegaknya. Membasahi tenggorokannya yang terasa sangat kering.
Tap
Lengannya menyentuh panel komputer, menyalakannya.
Sembari menunggu Akbar kembali menelaah dan memahami tugas yang harus ia kerjakan di posisi barunya.
Akbar menulis hal-hal yang harus di kerjakannya di dalam sebuah note dan menempelnya di sebuah papan yang berada di samping komputer, menatanya secara berurutan.
Akbar memiliki tipe kepribadian yang terencana. Jadi, ia membuat rencana-rencanakecil yang harus di kerjakannya dalam sehari. Jika tidak begiu, ia hanya akan kesulitan dan membuatnya lebih stress.
Tiga jam berlalu.
Kacamata yang di kenakannya terlihat menurun.
Ia bertahan di posisinya, dengan waktu yang cukup lama. Membuat bagian leher kepalanya terasa kaku dan bagian matanya terasa kering.
Masih setengah jalan, ia baru menyelesaikan separuh dari pekerjaanny.
Akbar beranjak dari tempatnya, lalu mulai meregangkan seluruh bagian tubuhnya secara berurutan elemaskan otot-otot nya yang terasa sangat kaku.
Ruangan yang Akbar miliki sangat luas. Di ruangannya ia, memiliki satu set tempat kerja, satu set sofa dengan televisi berukuran bear, toilet, sebuah tempat yang menyediakan mesin pembuat kopi yang menghadap ke arah jendela dengan pemandangan yang langsung menunjukkan jalan raya.
Akbar melangkahkan kakinya, berjalan menuju mesin pembuat kopi.
Kurang dari lima menit Akbar sudah menegak es kopi, menikmati proses penambahan gula ke dalam tubuhnya. Membuat tubuhnya kembali segar dan matanya yang mengantuk kembali menyala lagi.
Akbar kembali ke tempatnya, ia memutar kursi kerjanya menghadap ke arah jendela besar yang di hadapannya.
Lengannya, bergerak mengeluarkan ponsel.
Lalu, meletakkannya tepat di meja yang ia sandarkan di antara buku.
Merekam gradasi langit yang brubah warna. Dari warna jingga terang berganti menjadi biru gelap.
Akbar menikmatinya, dengan secangkir kopi.
“Wah” Ia berdecak kagum merasakan suasana sempurna yang menutup harinya.
Tak lama setelahnya.Akbar terlihat kembali menatap ke arah layar komputer kembali melanjutkan pekerjaannya yang sempat terhenti.
20.45 wib
Sejak tadi, Akbar tidak beranjak di tempatnya. Penampilannya saat ini terlihat berantakkan. Dasi yang ia pakai sebelumnya kini tergeletak di sofa.
Trek
Akbar menolehkan pandangannya ke arah pintu.
Dahinya mengernyit, menyadari tak ada pergerakkan yang terjadi di tempat itu.
Ia kembali mengalihkan pandangannya menuju komputer.
Sementara dari ambang pintu, terlihat pak Mardi memasuki ruangan.
Akbar masih belum menyadarinya.
Mardi terus meneruskan langkahnya, menghampiri Akbar.
“Belum selesai bar?” tanya Mardi.
Akbar terperanjat, ia menoleh dengan matanya yang membelalak.
“Dari tadi Pak?’ ujar Akbar kemudian seger beranjak dari tempatnya.
Mardi mengangguk, mengiyakan.
“Santai aja bar. Nggak usah buru-buru” ujar mardi setelah melihat meja kerja Akbar yang sangat berantakkan. Tempelan notes bertebaran dimana-mana juga bagian tempat sampah yang sudah di penuhi oleh sampar kertas.
Akbar tersenyum, membalas ucapan yang Mardi sampaikan kepadanya.
“Ayo makan malam bersama” ajak Mardi.
Akbar mengiyakan,ajaknnya.
“Sebentar pak, biar Akbar bersih-brsih dulu” ujar Akbar, meminta ijin.
“Iya, silahkan” ujar Mardi.
Akbar segera bergegas menuju kamar mandi.
Ia membilas seluruh wajahnya dengan air kemudian menyekanya dengan handuk.
Kurang dari lima menit Akbar kembali ke dalam ruangan.
Kali ini terlihat ia yang melepas rompi kemeja miliknya.
“Mari pak” ajak Akbar kepada Mardi. Sembari sibuk memasangkan jas di tubuhnya.
# Kantin rumah Sakit#
Langkah kaki Akbar terhenti dengan dahinya yang mengernyit.
Tatapan penuh tandanya ia berikan kepada Mardi yang menoleh ke arahnya.
Akbar tidak tahu, bahwa di sini memiliki tempat seperti ini. Ia, kira Mardi akan mengajaknya makan malam di luar.
“Ayo”
“Tenang aja, makanan disini enak Baar” ujar Mardi menjelaskan, setelah melihat reaksi Akbar yang terlihat kebingungan.
“Dalam sehari tiga menu utama di hidangkan secara bergantian” ia menjelaskan lagi
“Kantin ini khusus untuk staf, perawat, dokter, pimpinan”
“Semua bebas makan disini,gratis” lanjut Mardi menjelaskan.
Akbar mengangguk, mengerti dengan penjelasan yang Mardi berikan.
Langkah Akbar bergerak maju mengikuti Mardi yang sudah lebih dulu mengambil hidangan makan malamnya.
Akbar mengambil seporsi makanannya, kemudian tubuhnya bergerak menuju ke arah sebuah meja yang kosong.
Pandangannya terhenti, ketika melihat Indah berada di ruangan yang sama dengannya. Untuk beberapa saat terjadi kontak mata di antara keduanya. Akbar duduk di sebuah kursi yang berseberangan dengan Indah. Keduanya berhadapan. Di samping kanannya terlihat Mardi duduk di sebelahnya.
Menyadari keberadaan Akbar di tempat itu membuat aktifitas yang tengah di lakukan Indah terhenti. Lengannya segera menurun dan kembali meletakkannya di atas piring. Tatapan yang Akbar berikan kepadanya membuat Indah kehilangan nafsu makannya.
“Kenapa Ndah?” ujar Vio, salah satu anak residen juga.
Ia mengajukan pertanyaan setelah mendengar ******* nafas yang keluar dari Indah.
Indah menggelengkan kepalanya. Selanjutnya, terlihat ia menundukkan kepalanya mencoba menghindari kontak mata yang di buat Akbar.
“Bagaimana, makanannya?” tanya Mardi, setelah satu suapan masuk ke dalam mulut Akbar.
“Enak pak” balasnya singkat.
“Saya baru tahu. Pak Dharma memiliki anak yang sudah besar” ujar Mardi membahas dharma.
“Sejak di bangku smka saya tidak tinggal disini pak” ujar Akbar menjelaskan.
Mardi membelalakkan matanya, tak percaya dengan apa yang di dengarnya.
“Pantesan bapak ngga pernah tahu tentang kamu” ujar Mardi
Akbar mengangguk, mengiyakan ucapan yang di simpulkan Mardi.
“Dari sma di swiss?’ tanya Mardi semakin penasaran.
Akbar menggeleng.
“Terus, dimana saja?” ia terus mengajukan pertanyannya.
“Di australi. Disana saya menempuh pendidikan sarjana dan magister. Setelah itu, saya menyelesaikan tingkat S3 saya di swiss’
“Saya beruntung pak. Disana, saya bisa langsung mendapat pekerjaan. Di tempat itu saya mendapat kesempatan untuk pergi ke berbagai negara untuk kunjungan kerja” Akbar menjelaskan sebagian perjalanan hidupnya.
“Wah” Mardi berdecak kagum. Mendengar apa yang di katakan Akbar. Seseorang seperti akbar sangat sulit di temuinya.
Indah beranjak dari tempatnya dengan membawa nampan kotor yang berada di lengan kananya.
Tak lama kemudian, ia meninggalkan tempat itu bersama dengan kedua temannya.
“Lantas, apa yang membuat kamu kembali ke sini?” ujar Mardi berterus terang menyampaikan apa yang ada di kepalanya.
Sudut mata Akbar yang tajam memperhatikan Indah yang meninggalkan kantin.
Sudut bibirnya tersenyum.
Trng tring
Suara deringan telpon.
Akbar meraba saku jas miliknya. Lalu, mengeluarkan ponsel dari dalamnya.
“Maaf, saya angkat telpon dulu pak?” ujar Akbar meminta sedikit waktunya kepada mardi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 118 Episodes
Comments