Tiga jam berikutnya.
01.02 WIB dini hari, hari berikutnya
Setelah mengantar Jenny ke rumahnya, Akbar segera bergegas kembali ke rumah sakit.
Langkah kakinya terburu-buru memasuki ruang IGD.
Selanjutnya helaan nafas lega keluar dari mulutnya.
Sorot matanya bergerak memperhatikan setiap sudut ruangan. Kali ini suasana di rumah sakit sudah jauh lebih tenang. Beberapa pasien, sudah di tangani dan sebagian bisa di pindahkan ke ruang inap.
Kali ini Akbar benar-benar merasa bersyukur atas kondisi yang membaik dengan cepat.
“Akbar” panggil Mardi muncul dari depan dengan lengan yang terlihat melambai-lambai.
Akbar melihatnya, dan segera menghampiri Mardi.
“Kenapa balik lagi?” tanya Mardi.
“Pasien kecelakaannya bagaimana pak? “ tanya Akbar menanyakan keadaan korban yang terluka, untuk memastikan.
“Iya mereka sudah di tangani”
“Korban dengan luka ringan sudah di perbolehkan pulang. Sementara, yang lukanya parah di pindahkan ke ruang inap” ujar Mardi menjelaskan.
“Syukurlah” balas Akbar, kembali menunjukkan rasa syukurnya.
Ada satu hal yang belum membuat ia merasa lega sepenuhnya. Indah, ia belum melihat perempuan itu.
Dimana dia? Bagaimana keadannya? Pasti tenaganya terkuras sekali hari ini?” ujar Akbar bergumam di dalam hatinya.
“Pulanglah, sudah terlalu larut” ujar Mardi menyarankan.
“Masih ada yang harus saya kerjakan pak” balas Akbar sembari mengibas-ibaskan tas miliknya.
“Tidak apa-apa. Kerjakan besok lagi” lanjut Mardi, mempersilahkan Akbar pulang.
Akbar menggeleng, menolak.
"Saya tidak bisa menudanya pak. Pamit ya pak” pamit Akbar.
Mardi mengiyakan, ia tidak bisa menahan atau menghentikan Akbar lagi.
Akbar berjalan meninggalkan Mardi di tempatnya.
Tring
Pintu lift terbuka.
Akbar memasukinya, Lalu menekan tombol bernomor 10.
Kosong, tentu saja. Ini tengah malam. Siapa yang masih berlalu lalang di tempat ini semalam ini.
Selanjutnya, terlihat ia yang menyandarkan tubuhnya. Tentu saja ia juga kelelahan, melewati hari yang panjang ini.
Bagian punggung belakangnya juga terasa sakit.
Tring
Pintu lift kembali terbuka, sosok Indah muncul dari belakang pintu membuat hati Akbar kembali berdebar.
Helaan nafas kasar keluar dari mulut Indah. Merasa malas, karena harus melihat wajah pria yang mengganggunya akhir-akhir ini.
Melihat wajah Akbar, kembali membuat rasa sakit di hatinya kembali muncul.
“Ngga masuk?” tanya Akbar, melihat tubuh Indah yang mematung.
Indah tak membalas ucapan Akbar. Meski berat, ia tetap masuk ke dalam lift. Jika harus menggunakan tangga darurat. Indah, sudah tidak kuat lagi. Semua energinya benar-benar terkuras. Tidak hanya karena menangani pasien korban kecelakaan. Tapi ia juga harus kembali berkeliling memeriksa pasien yang ia tangani sebelumnya.
Indah menyandarkan tubuhnya, merilekskan bagian punggungnya yang terasa sangat kaku.
Untuk beberapa saat, ia memejamkan matanya.
Akbar memperhatikan dengan sudut matanya.
Ia tersenyum kecil, merasa senang bisa melihat Indah.
Meskipun kelelahan, wajah cantiknya tetap berseri. Membuat Akbar ingin terus berada di dekatnya.
Pintu lift terbuka.
Akbar sudah sampai di tempat tujuannya. Tapi, tubuhnya enggan meninggalkan tempat itu
Sehingga, pintu lift kembali menutup dengan sendirinya.
Menyadari lift yang kembali naik, membuat Indah mengernyitkan dahinya dan secara reflek menatap ke arah pria yang di sampingnya.
“Bagaimana ini?” ujar Akbar mengawali pembicaraan keduanya.
Indah memalingkan wajahnya dari Akbar.
“Sepertinya kita akan sering bertemu” lanjut Akbar, antusias.
Meskipun, Indah tetap mengabaikannya.
“Apa perlu aku mengajukan surat pengunduran diri?” tanya Akbar, meminta pendapat Indah.
“Jangan berlebihan” balas Indah mendengar yang tiba-tiba di ucapkan Akbar.
“Aku sudah tidak tertarik lagi. Apapun yang mau kamu lakukan, aku tidak peduli” lanjut Indah mempertegas ucapannya.
Apa yang di ucapkan Indah. Tentu saja, melukai hati Akbar.
Bagaimana dia bisa menjadi seperti ini? Menganggapnya seperti orang asing. Bukankah dulu kami sangat dekat? Bahkan, ia mengetahui semua hal tentang Indah.
Berbeda dengan yang Akbar rasakan. Sama seperti sebelumnya Indah merasa tidak mengetahui apa-apa tentang pria itu. Kini, pikirannya semakin rumit setelah melihat Anton menyerangnya secara terbuka.
Bahkan setelah semua hal yang Indah berikan untuknya, perasaan Akbar masih sama dan tidak berubah. Dan tak ada rasa penyesalan yang ada di hatinya. Ia semakin yakin jika pilihannya kali ini sudah benar.
Flashback on
Pertengahan Oktober 2022
Sama seperti hari-hati lainnya. Akbar melakukan aktivitas seruapa secara rutin.
Hari ini, ia bangun pagi dan segera bergegas untuk jogging mengitari jalanan-jalanan besar dan berakhir di sebuah taman yang menghadap ke arah sungai.
Bug
Ia menjatuhkan tubuhnya di kursi taman dengan suara nafas yang terengah-engah.
Tak lama kemudian, ia mengubah posisinya menjadi terbaring. Lengan kanannya terangkat, menutup matanya yang tersengat cahaya matahari.
Sepuluh menit berlalu.
Akbar beranjak dari posisinya, kini energinya sudah terisi kembali.
Ia melangkahkan kakinya, santai berjalan mengelilingi taman.
Pohon-pohon rindang berwarna hijau membuat penglihatan dan penciuman Akbar terasa segar.
Beberapa anak terlihat berlalu lalang di hadapannya. Tengah bermain kejar-kejaran.
Suasana taman terasa sangat ramai terlebih hari ini hari minggu. Jadi, banyak sekali warga yang datang untuk menikmati suasana sejuk di tengah perkotaan ini.
Akbar menghentikan langkahnya. Kemudian kepalanya kembali menoleh setelah melihat seorang pria berjalan melewatinya dengan lengan yang mendorong stroller bayi.
“Fadly” panggil Akbar memastikan.
Fadly menoleh, setelah menyadari seseorang memanggilnya. Matanya menyipit, mencoba mengenali seseorang yang berdiri di belakangnya.
“Mas Akbar?” tanya Fadly, ragu.
Akbar mengangguk, mengiyakan. Ia memperbesar langkahnya menghampiri Fadly. Lalu, merangkulnya.
“Wah, kemana aja mas?” tanya Fadly, penasaran.
Tap
Seseorang menarik tubuh Akbar dari belakang.
Plak
Selanjutnya, sebuah tamparan keras mendarat di pipinya.
Dahi Akbar mengerut, lalu memperhatikan seseorang yang melihat ke arahnya dengan tatapan yang penuh kemarahan.
Lengan Fadly menahan Icha yang kembali melayangkan pukulan ke arah Akbar lagi.
“Tenang, Cha” ujar Fadly, menenangkannya.
Icha menurunkan lengannya yang bergetar hebat.
“Mau ngapain lagi lo kesini hah?” ucap Icha membentak.
Akbar terdiam, masih tak memahami apa yang terjadi.
Fadly menggeser tubuh Icha membuat keduanya saling berhadapan. Lengannya mengusap pipi istrinya dengan lembut.
******* nafas kasar keluar dari mulut Icha. Rasa amarah menguasai tubuhnya.
Ia benar-benar merasa kesal melihat Akbar yang merangkul suaminya.
“Untuk apa lagi dia datang kesini lagi?”
“Kedatangan Akbar hanya terus melukai perasaan Indah, sahabatnya.
“Apa ada masalah?” tanya Akbar mencoba mencari tahu sesuatu.
“Bicarakan ini pelan-pelan” ujar Fadly menasehati Icha.
Icha mengangguk.
“Ikut gue” Icha memberi perintah Akbar agar mengikutinya.
Dari sorot matanya terlihat Fadly yang meminta maaf ke arahnya.
Akbar mengangguk, mengerti. Ia berjalan mengikuti Icha yang berada di depannya.
Akbar tidak tahu apa yang terjadi.
“Apakah kedatangannya sangat melukai Indah?” tanya Akbar dalam hatinya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 118 Episodes
Comments