Akbar melangkahkan kakinya berjalan menaikk satu persatu anak tangga.
Langkahnya tertentu di bagian depan pintu.
Setelah enam tahun berlalu ini kali keduanya, ia mengunjungi kafe.
Di bagian depan terlihat sebuah plang cantik menunjukkan nam kafe tersebut. Kafe raksa, sebuah kafe milik Indah.
Beberapa tahun lalu, setelah ia mengalami kecelakaan, Indah menolong dan membawanya kesini. Tak hanya itu Indah juga menyediakan semua kebutuhan pribadi untuk Akbar, Dia merawatnya dengan sangat baik. Pada saat itu, hubungan Indah dengan ayahnya berjalan kurang baik sama seperti sekarang. Bahkan terdengar jauh lebih buruk.
Akbar mengatur nafasnya kembali mengumpulkan keberanian. Sikutnya menyentuh bagian pintu, mendorongnya.
Icha, sahabat Indah terlihat berdiri di depan meja kasir. Pandangannya, mengikuti langkah kaki Akbar yang semakin mendekat.
Selama Indah berada di rumah sakit. Icha bertugas menjaga kafe bergantian dengan Fadly suaminya.
“Buat singkat aja” ujar Akbar dengan kaki yang mendorong keluar kursi di bawah meja. Lalu, mendudukinya.
Ia melipat lengan di atas meja.
Bersamaan dengan itu terlihat Icha yang berjalan menghampiri Akbar dengan membawa sebuah map.
“Apa perlu bertindak sejauh ini?” tanya Akbar, setelah melihat surat perjanjian yang Icha siapkan untuknya.
Icha mengangguk mengiyakan. Ia, ikut duduk berhadapan dengan Akbar.
Lengan Icha bergerak kembali menyodorkan pena ke arah Akbar.
Akbar menerimanya. Selanjutnya ia mencondongkan tubuhnya ke depan, memubuhkan tanda tangannya di atas materai yang di tempel di kertas.
Dahi Icha mengernyit, merasa ada yang aneh.
“Secepat itu? Akbar menyetujuinya? Kenapa, hari ini dia tampak berbeda sekali?" ujar Icha bertanya kepada dirinya sendiri.
Icha kembali menatap ke arah Akbar.
Hari ini ia terlihat lebih santai dan tidak mengebu-gebu sperti saat keduanya bertemu di taman.
******* nafas kembali terdengar dari mulut Akbar.
Ia menyandarkan tubuhnya di kursi, dengan kepala yang menengadah ke atas menatap langit-langit.
Saat ini, banyak sekali hal yang ia pikirkan. harga dirinya kembali merasa terluka.
“Apakah harus dia di perlakukan seperti? Seperti, penjahat saja” gumam Akbar dalam hatinya.
Untuk beberapa saat, ia memejamkan matanya menahan semua perkataan yang berada di ujung lidahnya.
Tring tring
Deringan telpon terdengar, memecah keheningan yang terjadi.
Akbar beranjak, membenarkan posisinya menjadi berdiri tegap.
Selanjutnya, lengannya bergerak mengeluarkan ponsel yang ada di saku celananya.
"Jenny" nama itu muncul di layar ponselnya.
Akbar mengalihkan pandangannya, kembali menatap ke arah Icha.
“Sebentar” ujar Akbar kepada Icha.
Icha memeperhatikan Akbar dari tempatnya.
“Telpon dari siapa? Kenapa harus menjauh? Apa sepenting itu?” tanya Icha setelah Akbar yang berjalan keluar dari kafe.
Akbar menyandarkan tubuhnya di pagar dengan pandangan yang melihat ke arah jalan.
“Kenapa?” tanya Akbar dengan ponsel yang masih menempel di telinganya.
“Kamu dimana?” tanya Jenny dari balik sambungan telpon, menanyakan keberadaan pria itu.
“Di jalan” jawab Akbar, singkat.
“Mau kemana?” tanya jenny lebih penasaran.
"Aku akan mengecek persiapan buat launcihng foodtruck” balas Akbar, memelankan suara.
“Ah benar” jawab Jenny antusias.
“Launching minggu ini kan?” tanya Jenny ia kembali mengajukan pertanyaan.
“Iya” ujar alAkbar dengan menganggukkan kepalanya.
“Aku ikut” ucap Jenny.
Akbar mengernyitkan dahinya.
"Ngga bisa” ucap Akbar, menolak.
“Kenapa?” Jenny memprotes dengan cepat.
“Sebentar lagi sampai, jadi gabisa muter balik” lanjut Akbar memberikan alasan secara acak.
“Aku bisa berangkat sendiri, jadi kirim alamatnya” balas Jenny sembari memberikan saran.
Akbar mengernyitkan dahinya, ia tak tahu harus membalas apa.
“Setelah kerjaan kamu selesai. Antar aku, ke mall ada yang harus aku beli” lanjut Jenny memberitahu kebutuhannya.
“Jika sangat mendesak, belilah sekarang” ujar Akbar memberi saran lain.
“Ngga, aku harus beli ini sama kamu” ucap Jenny, menegaskan keinginannya.
“Cepat kirim, alamatnya” timpal jenny.
Akbar menganggukkan kepalanya, tepat sebelum Jenny menutup sambungan telpon.
Icha masih memperhatikan Akbar. Ia semakin penasaran degan siapa Akbar berbicara sehingga menghabiskan waktu yang cukup lama.
Seperkian detik kemudian,Akbar kembali memasuki kafe.
“Gue pesen satu americano, cepat” ucap Akbar mengatakan pesanannya.
Dahi Icha mengernyit.
“Sorry, gue ga terima pesenan dari lo” ujarnya dengan tegas.
“Ahh” Akbar berdecak kesal, mendengarnya saja terasa sangat menyebalkan.
“Oke gue bisa buat sendiri!” balas Akbar, ia berjalan ke arah dapur untuk menyiapkan pesanannya.
“Eh eh eh” Icha menghadang Akbar dengan cepat.
"Ngga usah ngaco deh” bentak Icha.
“Udahlah Cha, ngga usah berlebihan kaya gini!” balas Akbar menaikkan nada suaranya.
“Gue cuman pesan kopi aja. Itu, susah ya?” tanya Akbar dengan sorot matanya yang tajam.
Icha membalas tatapan Akbar.
“Apa yang terjadi dengan pria ini? Kenapa emosinya tiba-tiba meledak?” gumam Icha, menyadari suasana hati Akbar yang tiba-tiba berubah.
“Oke, gue bikinin. Abis itu, lo pergi!” ucap Icha.
"Gue ngga mau Indah tahu lo, kesini" tempat Icha.
Selanjutnya, tubuhnya beranjak berjalan menuju bar untuk menyiapkan pesanan Akbar.
Akbar mengangguk, mengerti dengan apa yang di ucapkan Icha. Ia hanya perlu menambahkan kadar kafein ke tubuhnya.
Srak
Icha menyodorkan satu kap es amerikao.
Akbar mengeluarkan selembar uang lima puluh ribu dari dalam dompetnya, lalu meletakan di meja.
Ia berjalan dengan menyeruput kopi, rasa dingin yang ia rasakan berhasil membangunkan seluruh saraf-saraf di tubuhnya.
“Bar” panggil Icha.
Langkah Akbar terhenti, tubuhnya berbalik menoleh ke sumber suara.
“Pastiin lo, tepatin janji lo” lanjutnya.
Akbar mengangguk, setuju.
“Lo tenang aja, cha. Tanpa permintaan dari lo gue pasti bakal lakuin itu” ucap Akbar menegaskan ucapannya.
Mendengar hal itu tentu saja membuat hati Icha terasa lebih tenang. Ia menatap ke arah punggung Akbar yang berjalan keluar dari kafe.
Selanjutnya Icha melangkahkan kakinya berjalan menuju loker. Lalu, memasukkan map perjanjian antara dirinya dengan Akbar ke dalam tas.
Tring
Pintu kafe kembali terbuka.
Icha segera bergegas, kembali ke tempatnya.
Matanya membelalak, menyadari kehadiran Indah.
“Lo kenapa? Kaya liat hantu aja” ucap Indah memprotes atas reaksi yang Icha berikan kepadanya.
Icha menggelengkan kepalanya dengan salah satubsudut bibirnya yang terangkat, mencoba memberi sapaan hangat kepada Indah.
Bola matanya bergerak, melihat ke arah luar memastikan Akbar tidak muncul lagi.
“Udah ada yang dateng?” tanya Indah, setelah melihat selembar uang di atas meja.
Icha mengangguk canggung. Ia benar-benar merasa bersalah tidak bisa menceritakan langsung kepada Indah. Tapi, menurutnya ini adalah cara yang tepat agar Akbar tidak mengganggu Indah lagi.
Keberadaan Akbar hanya akan melukai hati sahabatnya. Oleh karena itu, Icha tidak mau melihat Indah terluka lagi.
Saat ini, kondisinya yang di jalani Indah cukup memperihatinkan. Dari luar mungkin ia terlihat begitu kuat, namun berlainan dengan yang hatinya rasakan.
“Kok bisa? Bukannya tanda open nya belum di balik ya?” tanya Indah.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 118 Episodes
Comments