16.30 wib
Warna oranye terlihat memenuhi warna langit saat ini. Indah masih memejamkan matanya, dengan tubuh yang berbaring terlentang di ranjang miliknya.
“hmm” Indah mengerang.
Telapak lengannya bergerak menelusuri ranjang.
Dahinya mengerut dengan mata yang masih terpejam.
Lengan Indah berhenti bergerak setelah merasakan rasa hangat saat telapak tangannya menyentuh kulit.
Perlahan matanya terbuka.
“Aish” ucap Indah, kaget. Melihat Icha yang ikut berbaring dengannya. Di antara keduanya terlihat seorang balita yang juga tertidur.
Tempatnya terasa sempit, Indah membenahkan posisinya membuat tubuhnya bergerak miring ke sisi kanan.
Untuk waktu yang cukup lama ia memperhatikan Icha yang tertidur lelap.
Seperkian detik kemudian, sudut bibirnya tersenyum merasa bahagia melihat pemandangan yang ada di hadapannya.
Icha, dia sahabat Indah dari bangnu SMA. Hubungan yang keduanya jalin begitu erat dan bisa sampai saat ini. Mereka saling mendukung di jalan pilihannya masing-masing. Sebelumnya, Indah tidak bisa menyangka bisa berteman degan Icha sejauh ini.
Dia yang selalu datang membantunya, dia juga menghadiri setiap moment penting di dalam hidup Indah. Saat ia mendapat gelar sarjana kedokteran, ujian untuk profesinya. Ia juga selalu setia mendengar berbagai cerita hidup yang di alami Indah. Bahkan sampai saat ini. Saat Indah mengeyam pendidikan untuk spesialisnya. Icha masih berada disini, membantunya mengurus kafe. Padahal saat ini ia sudah memiliki suami dan anak.
Lengan Indah bergerak mengusap keringat yang berada di dahi Icha.
“Apa gue juga bakal alamin hal yang lagi lo lakuin sekarang?
Ketemu seseorang yang mau betanggung jawab atas gue? Dan jadiin gue prioritas di hidupnya?” tanya Indah dalam hatinya.
Garis kehidupan membawa Icha sampai lebih cepat ke masa itu. Sebuah masa yang saat ini jauh dari jangkauan ndah.
Apa yang ia alami di masa kecilnya tentu saja membuat ia takut. Perlakuan yang ayahnya berikan kepada ibu Indah masih terekam jelas di memori kecilnya. Rasa trauma itu akhirnya membuat Indah sulit untuk menerima orang-orang baru ke dalam hidupnya.
Indah beranjak dari posisinya. Ia bergerak perlahan menuruni ranjang. Berusaha agar tidak membuat Icha terbangun.
Selanjutnya, langkah Indah bergerak menuju pintu dengan lengan yang terlihatv mengikat rambutnya.
##
Suasana kafe tampak begitu ramai dan hanya ada Fadly yang bertugas sebagai pelayan sekaligus kasir.
Seolah sudah terbiasa, Fadly bisa menyelesaikan semua pekerjaannnya dengan begitu tenang.
suara bel pintu masuk.
Sepasang pelanggan terlihat berjalan memasuki pintu kafe.
Trak
Suara dari luar tedengar.
Fadly menoleh ke arahnya.
Empat orang pria dengan menggunakan seragam baju ojek online terlihat bergerak memasuki kafe.
Tidak bisa ia bohongi, jantungnya berdegup dengan cepat.
Hari ini, kafe benar-benar ramai membuat ruangan terasa begitu panas.
“Fad lo siapin aja pesenannya. Biar gue yang handle ini” ujar Indah muncul dari belakang.
Fadly menoleh ke sumber suara, tubuhnya mematung. Bola matanya bergerak menyusuri bagian tubuh Indah memperhatikannya.
“Dia baru bangun” pikir Fadly setelah melihat Indah yang tanpa mengenakan riasan di wajahnya dengan rambut yang tergulung ke atas. Sementara baju yang di pakainya masih sama seperti tadi pagi.
“Cepetan” ucap Indah kembali memberi perintahnya.
***
Bug
Indah berjalan memasuki kamar dengan lengan yang terlihat bergerak menutup pintu.
“Udah bangun?” tanya Indah ke arah Icha yang terlihat tengah memomong-momong anaknya.
Icha mengangguk mengiyakan.
Indah berjalan melewatinya. Lalu, duduk di depan meja riasnya.
Lengannya bergerak melepas handuk yang menggulung rambutnya. Kepala Indah menoleh ke arah jam yang menunjukkan pukul enam sore.
Ia kembali beranjak dari tempatnya dengan lengan yang membawa hairdryer.
“Mau kemana?” tanya Icha.
“Ini” ujar Indah sambil menunjuk ke aarh rambut dan hairdryer nya secara bergantian.
“Udah, disini aja” sara Icha.
"Ngga ah. Tar kebangun lagi” balas Indah.
“Udah kebangun dari tadi kali” protes Icha. “Udah disini aja” ucap Icha terus meminta Indah agar mengeringkan rambut di sana karena ada hal yang ingin di bicarakannya.
Indah mengangguk, mengiyakan permintaan Icha. Ia kembali duduk di depan meja rias. Bolamata Indah menatap dirinya dari pantulan cermin dengan lengan yang menggerak-gerakkan ujung hairdryer ke rambutnya.
Icha memejamkan matanya mencoba mengolah kata dengan baik agar bisa mengajukan pertanyaannya kepada Indah dengan benar.
Lima belas menit berlalu.
Lengan Indah bergerak merapihkan hairdryer kembali meletakkannya ke tempat semula. Tak lama setelahnya, terlihat ia mengaplikasikan make up di atas kulit wajahnya secara berurutan.
“Ndah” panggil Icha.
Indah menatap ke arah Icha lewat pantulan cermin.
“Soal Akbar, dia udah ngga datengin lo lagi kan?” tanya Icha. Satu kalimat itu keluar dalam waktu yang cukup lama dari mulut Icha.
Indah mengernyitkan dahinya.
“Apa gue belum cerita soal itu ya?” Tanya Indah kepada dirinya sendiri.
“Ndah, lo denger gue kan?” ujar Icha kembali bertanya memastikan apakah Indah mendengarnya.
Indah mengangguk, tentu saja ucapan yang Icha berikan masuk dengan jelas ke telinganya.
Ia tidak tahu apakah Akbar memang hanya bekerja di situ untuk serius mencari nafkah atau hanya untuk mendekatinya? Jika pilihan kedua yang Akbar ambil. Rasanya, terlalu berlebihan.
Indah membalikkan tubuhnya, menghadap ke arah Icha yang berada di belakangnya.
“Kayanya ngga ada piihan buat gue bisa jauh dari dia” ucap Indah.
Dahi icha mengernyit, tak mengerti maksud yang di uxapkan sahabatnya.
“Dia wakil direktur di rs gue sekarang” ujar Indah suaranya bergetar.
Icha membelalakkan kedua matanya.
“Hah gimana?” uap Icha, kagt.
“Sejak kapaan?” i menimpali lagi dengan pertanyaan, memastikan.
“Tiga hari yang lalu” jawab Indah.
“Hah” Icha, kaget.
Icha benar-benar tidak tahu dengan apa yang ada di pikirkan Akbar. Terus untuk apa tadi ia datang kesini dan menyetujui semua perjanjian yang di buatnya. Bukankan sekarang hanya sia-sia. Dengan keduanya bekerja di tempat yang sama sudah pasti mereka akan lebih sering bertemu dan berkomunikasi. Dan jika itu terjadi bukankah hati Indah akan kembali goyah? Pikir Icha.
“Huh” helaan nafas kasar keluar dari mulut Icha.
Rasa marah membakar seluruh tubuhnya. Lenganya reflek melepas dot yang tengah meempel di bibir anaknya.
Tak perlu menunggu lama, suara tangisan bayi kembali pecah mengisi seisi rungan.
“Lo kenapa sih Cha?’ ucap Indah mlihat tingkah sahabatnya yang seperti kebakaran jenggot.
"Duh maafin ibu ya” ujar Icha meminta maaf kepada anaknya.
Icha beranjak dari tempatnya, lengannya kembali menempelkan ujung dot ke mulut bayi kecilnya. Tubuhnya bergoyang-goyang ke kanan dan kiri menimang-nimang agar anaknya bisa kembali tenang dan berhenti menangis.
Mata Icha terpejam, ia mencoba menenangkan dirinya. Walaupun, semua rasa amarahnya sudah berada di bagian tubuhnya, membuat kepalanya terasa akan pecah.
Kali ini, yang ingin segera dilakukannya adalah menelpon Akbar dan memarahinya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 118 Episodes
Comments