Dahi Indah mengernyit, menyadari Icha yang terus menatapnya.
"Eh lo ngapain, lihatin gue sampe segitunya?” tanya Indah.
“Terpesona sama kecantikan gue?” ucap Indah melontarkan sebuah candaan.
Namun, tak ada reaksi yang Icha berikan. Ia masih tenggelam dari pikirannya.
Rasa bersalahnya terhadap Indah menimbulkan efek yang luar biasa membuatnya tak bisa bereaksi apapun.
Binaran mata Indah berhasil mengunci mulut Icha membuatnya kehilangan kata dan tak bisa merespon dengan baik.
Langkah Indah berjalan mendekat ke arah Icha. Lengannya bergerak menggoyang-goyangkan tubuh Icha.
“Sadar Cha” ujar Indah.
“Lo kenapa? Cape atau sakit?” tanya Indah.
“Mau gue anterin pulang aja?” ujar Indah terus memberikan pertanyaan kepada Icha.
Semua pertanyaan yang Indah berikan untuknya. Hanya Icha balas dengan sebuah gelengan kepala.
Lima detik kemudian.
Terlihat Icha yang duduk di salah satu kursi dengan kedua lengan yang memegang erat gelas yang Indah berikan kepadanya.
“Ndah” uca Icha, memanggil.
“Apa?” balas Indah.
“Lo bisa ngga buatin gue makan” ucap Icha meminta, mencoba mengalihkan perhatiannya.
“Ishh” indah berdecak kesal.
“Cha lo bkin panik aja, tau ngga?”
“Harusnya kalau laper tuh bilang. Jangan bengong”
"Kan gue jadi mikirnya aneh-aneh”
Icha membalas perkataan Indah dengan senyum yang terus mengembang membuat pipinya memerah.
Di sisi lain hatinya merasa tenang, karena Indah mempercayai apa yang di katakan nya.
Terlepas dari itu memikirkan hal-hal yang terus berputar di kepalanya membuat Icha harus kembali menambahkan kadar gula ke dalam tubuhnya agar ia kembali bisa memiliki tenaga lagi.
“Tungguin, bentar” lanjut Indah.
Ia berjalan menuju kamarnya, melepas tas yang ia bawa di bawah ranjang. Setelah itu, ia kembali berjalan menuju ke arah pintu.
Langkahnya terhenti, memeriksa wajahnya di cermin.
Lingkaran hitam di bawah matanya terlihat begitu jelas. Ia pulang setelah tiga puluh jam berada di rumah sakit. Tentu saja, seluruh badannya terasa ringsek dan bagian kepalanya berat.
Namun, ia harus kembali membantu Icha di kafe. Mengesampingkan rasa lelah yang berada di tubuhnya.
Indah mengeluarkan ponselnya, memesan makanan lewat aplikasi pesan antar.
Lima belas menit berlalu.
Indah kembali berjalan menghampiri Icha yang masih duduk di tempatnya. Di lengan kanannya terlihat ia membawa sekaleng minuman isotonik dengan sebuah kresek yang mengait di pergelangan tangannya. Sementara di lengan kirinya terlihat ia membawa dua mangkuk.
Trung
Ia meletakkan mangkuk di atas meja. Diikuti dengan minuman isotonik di sampingnya.
Lengann Indah terus bergerak menuangkan bubur di masing-masing mangkuk. Lalu, kembali membuang plastik ke kresek.
Tak lama setelahnya, Indah menurunkan tubuhnya untuk duduk berhadapan dengan Icha.
“Nih” ujar Indah mendorong mangkuk agar lebih dekat dengan Icha.
Icha menerimanya, ia menikmati suap demi suap sendok yang masuk ke dalma mulutnya.
“Pelan-pelan cha” ucap Indah kembali mengingatkan.
Icha menggeleng, ia terus melanjutkan menikmati makanannya dengan ritme yang cepat.
Berbeda dengan yang Icha rasakan. Rasa lelah yang menumpuk membuat indah kehilangan nafsu makannya. Saat ini yang ia inginkan hanya bisa tertidur untuk sebetar saja.
“Hai” sapa Fadly yang berdiri di ambang pintu dengan lengan yang terlihat mendorong stroller. Di dalam stroller terlihat seorang balita di dalamnya. Sama seperti ayahnya, balita itu terlihat menunggingkna senyumnya dengan begitu ceria.
Indah tersenyum, menyapa keduanya.
Fadly berjalan mendekat ke arah Indah dan Icha.
“Kamu, udah makan?” tanya Icha kepada fadly.
Fadly mengangguk mengiyakan.
Tubuhnya menurun duduk di samping Icha. Pandangannya beralih ke arah Indah dan mangkok yang ada di hadapannya.
“Lo mau? ambil aja” ujar Indah menyadari tatapan yang Fadly berikan.
“Cha gue tidur dulu, ya. Bentar aja” ujar Indah meminta ijin, ia tidak bisa menahan rasa lelahnya lebih lama lagi.
Icha menatap heran ke arah Indah. Terlalu fokus memikirkan hal yang ada di kepalanya membuat Icha lupa memperhatkan kondisi Indah.
“Iya, iya sana. Lama juga ngga papa. Kan disini, ada gue sama Fadly” ujar Icha agar Indah bisa beristirahat dengan tenang tanpa merasa sungkan.
Indah berjalan dengan langkah gusar memasuki kamarnya.
Rasanya terasa aneh untuk Indah kembali ke tempat ini. Sudah lama ia tidak tinggal disini. Namun, selain di tempat ini Indah tak tahu harus kemana.
Kembali ke rumahnya? Rasanya tidak mungkin. Bersama satu atap dengan ayahnya bukan hal yang baik bagi Indah. Itu hanya akan membuatnya semakin tertekan. Terus mendengar setiap ocehan yang di ucapkan Atma hanya akan membuat rasa sesak di dadanya semakin menumpuk.
Bug
Indah merebahkan tubuhnya di atas ranjang, terlentang. Kepalanya menatap ke arah langit-langit dengan tatapan matanya yang kosong.
Akbar, ia tidak tahu harus menghadapi pria itu bagaimana.
Bagaimanapun Akbar pernah menjadi bagian terbaik dalam hidupnya.
Berkat, kehadiran Akbar. Indah bisa terlepas dari mantan kekasihnya yang toxic, Indra.
Indra selain memiliki sifat tempramen yang buruk, ia juga sering meminta-minta kepada Indah.
Indah mengingatnya kembali.
Malam itu keduanya bertengkar dengan hebat. Akbar, seorang pria yang belum di kenalnya datang dan mencoba melerai perlakuan Indra yang mencoba mempermalukannya di depan semua orang.
Efek pertolongan yang Akbar berikan. Membuat pria itu harus mengalami kecelakaan yang tentu saja hal itu di dalangi oleh Indra mantan kekasih Indah.
Saat itu, perasaan Indah masih begitu erat dengan Indra. Membuatnya, tak bisa melaporkan pria itu ke polisi.
Karena itu pula, Indah Merasa bertanggung jawab dan memutuskan untuk merawat Akbar hingga lukanya sembuh.
Dalam proses penyembuhan itu, membuat keduanya saling dekat satu sama lain. Mungkin, itu yang Indah rasakan. Akbar menjadi salah satu orang yang mengetahui masalah pelik antara ia dengan ayahnya.
Kehadiran Akbar sangat berarti untuk Indah. Karena dengan itu Indra dan ayahnya tidak pernah mendatanginya lagi.
Namun, semua tidak berjalan sesuai dengan apa yang di pikirannya. Suatu malam, semua identitas tentang Akbar sampai di telinga Indah. Mengetahui hal itu, tentu saja membuat Indah merasa telah di tipu habis-habisan.
Namun, perasaan yang ia miliki bertambah rumit. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk kembali mempercayai Akbar dan mengerti kondisi yang tengah di alaminya.
Dan, sampai di malam dimana Akbar menghilang dari pandangannya dalam sekejap. Sejak saat itu, tidak ada celah untuk Indah mengetahui keberadaan pria itu.
Enam tahun berlalu.
Akbar datang lagi padanya, membuat semua pertanyaan yang telah ia lupakan muncul kembali.
Melihat Akbar tumbuh dengan baik dan sehat. Tentu saja, membuat Indah merasa senang dan lega. Namun, satu sisi dirinya yang lain tidak bisa menerima Akbar begitu saja.
Kepergian Akbar membuat Indah tidak bisa menerima siapapun dengan mudah dalam hidupnya. Perasaan takut akan di tinggalkan masih menghantuinya.
Indah tidak mengerti mengapa semua ini bisa terjadi kepadanya. Apa yang telah ia lakukan, sehingga bisa mendapat genre hidup seperti ini?
Setiap orang yang di temui nya hanya melukai dan meninggalkannya.
Hal itu, sempat membuat Indah berfikir. Apakah dia memang tidak pantas untuk siapapun?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 118 Episodes
Comments