Akbar masih menanamkan dagunya di bahu Indah. Perasaannya terasa kosong.
Kini ia mengerti maksud dari perkataan Shakti beberapa menit yang lalu.
Telapak lengan Indah mengusap-usap bagian punggung Akbar, mencoba menenangkannya. Meskipun ia tak bisa membohongi perasaannya. Sama seperti yang Akbar rasakan Indah juga merasa marah atas keadaan yang di buat oleh keluarga Akbar.
Semua ini terasa tidak adil dan menimbulkan rasa sesak.
Akbar beranjak. Ia mundur satu langkah, menjauh dari Indah.
Indah menaikkan alisnya menyadari pergerakan yang tiba-tiba di buat Akbar.
“Aku gapapa” ujar Akbar suaranya terdengar parau.
Selanjutnya, ia melangkhkan kakinya berjalan melewati Indah.
Tak lama kemudian, ia terlihat duduk di lantai dengan menyilangkan kedua kakinya.
Lengannya bergerak meraih remote mengganti channel televisi ke glombang lain.
Kruk
Sepotong pizza masuk ke dalam mulut Akbar, ia mengunyahnya dengan cepat.
Sementara itu, Indah terlihat masih mematung di tempatnya sembari memperhatikan Akbar yang terlihat asik menyantap makanan.
Melihat hal yang di lakukan pria itu menambah rasa sakit di hatinya.
Indah berjalan menghampiri Akbar kemudian duduk di sisinya.
Indah menghela nafasnya. Bingung, harus bicara dari mana.
Klak
Penutup kaleng soda terbuka.
Akbar segera menegaknya habis dalam sekli tegukan.
Saat ini, tentu saja ia merasa marah atas apa hal yang terjadi. Dituduh melakukan hal yang sebenarnya tidak pernah ia buat sangat melukai harga dirinya.
Tapi, mau bagaimana pun. Perasaannya saat ini bukan hal yang penting untuk ayah dan kakeknya.
Fakta itu, menambah rasa sakit yang di alaminya.
Akbar menengadahkan kepalanya menatap ke arah langit-langit. Seperkian detik kemudian matanya terpejam bagian belakang kepalanya terasa sakit.
Tap
Indah meraih lengan kiri Akbar, menggenggam di antara kedua lengannya.
Akbar mencoba melepas genggaman lengan yang di berikan Indah. Namun, indah menahannya dengan kuat.
Saat ini Akbar berharap bisa menghilang. Ia tidak ingin indah kembali melihat sisi buruknya.
Akbar takut semua perasaan yang menumpuk di kepala dan hatinya meledak dan membuat kekacauan yang lain.
“Bar...” ucap Indah memanggil.
Akbar mengabaikan panggilan yang terdengar di telinganya.
“Bar lihat aku” ujar Indah memberi perintah.
Akbar menggeleng, menolak.
Indah melepaskan genggaman lengannya. Hal itu sontak membuat Akbar membuka kedua matanya dengan cepat.
Kini, lengan Indah berada di kedua bahu Akbar. Perlahan Indah membuat tubuh Akbar memutar menghadap ke arah nya.
“Aku gapapa” ujar Akbar meyakinkan Indah. Diiringi sebuah senyuman yang ia ukir di wajahnya.
Indah mengangguk, mengiyakan. Seolah-olah ia percaya dengan apa yang di katakan Akbar.
Untuk beberapa saat keduanya saling membuat kontak mata.
Kilatan amarah terpancar dari sorot mata Akbar. Begitupun dengan suara nya terdengar sangat bergetar. Senyum yang ia buat terlihat sangat palsu.
Perasaan yang di rasakan Akbar berbeda. Sorot mata bersinar yang terlihat dari kedua mata Indah mampu meredam kan rasa amarahnya.
“Cantik” ujar Akbar tiba-tiba memuji. Seolah-olah ia terhipnotis oleh kecantikan wanita yang ada di hadapannya.
Lengan akbar kembali bergerak, merapihkan rambut depan Indah yang sedikit berantakan.
Indah terdiam, melihat suasana hati Akbar yang berubah. Kali ini suaranya juga terdengar sangat lembut dan yakin.
“Sakit?” tanya Indah sembari memeriksa suhu tubuh Akbar dengan menempelkan lengannya di dahi Akbar.
Akbar menggeleng, yakin. Lengan kanannya meraih lengan Indah yang masih berada di dahinya dan meletakkan di pangkuannya.
Akbar kembali menatap wajah Indah untuk waktu yang lama. Kali ini, ia bersyukur memiliki Indah di sisinya. Keberadaan perempuan itu berhasil membuat rasa sesak yang ada di dalamnya perlahan menghilang juga membuat hatinya tersa sangat tenang dan lega.
Indah menundukkan kepalanya, Kali ini ia sangat bingung harus menyikapi semua keadaan ini seperti ini.
Menurut indah, situasi kali ini terasa janggal dan sangat konyol.
“Aku akan menjawabnya” ucap Akbar.
Indah menatap akbar, heran.
“Semua pertanyaan yang ada di kepala kamu sekarang. Aku akan menjawabnya” jawab Akbar, menjelaskan.
Indah terdiam, mendengar apa yang di ucapkan Akbar. Memang betul banyak sekali hal yang ingin ia tanyakan pada pria itu.
“Boleh?” tanya Indah ragu.
Akbar mengangguk dengan yakin.
“Soal yang di berita tadi, kamu mengetahuinya?” tanya Indah.
Akbar menggeleng, ia tidak tahu tentang rencana penangkapannya.
“Kenapa?” tanya Indah, kaget.
Akbar kembali menggeleng, ia juga tidak tahu apa alasannya.
“Terus, apa yang bakal kamu lakuin sekarang?” Indah kembali mengajukan pertanyaan.
Akbar menaikkan alisnya, tak mengerti dengan arah ucapan yang di berikan Indah.
“Sama seperti yang udah kita rencanain sebeumnya. Malam ini kita makan sambil nonton kan?” balas Akbar.
Mendengar apa yang di ucapkan Akbar membuat hati Indah terasa kecewa.
“Serius?” ujar Indah, berharap Akbar memberikan jawaban lain.
Akbar menganggukkan kepalanya, sangat yakin. Meskipun sudah melihat itu, Akbar akan tetap melanjutkan rencananya.
“Wah” Indah berdecak kagum melihat reaksi yang di berikan Akbar.
“Kemana, rasa amarah yang di miliki Akbar tadi? Apakah sudah hilang, secepat itu?” Indah bergumam di dalam hatinya.
Akbar memperhatikan raut wajah Indah.
“Kamu mau aku ngelakuin apa?” tanya Akbar.
“Pergi kesana, samperin mereka!” ujar Indah langsung membalas.
Akbar menggelengkan kepalanya, ia tidak mungkin bisa melakukan hal seperti itu.
Indah membelalakkan matanya, rasa amarahnya kembali tersulut.
“Mereka masih di Bali kan?” tanya Indah, memastikan.
Akbar mengangguk, mengiyakan.
“Ya udah, ayo kita kesana” ajak Indah, mencoba beranjak dari tempatnya.
Akbar menahan Indah.
“Udah ya!”
“Berhenti buang-buang energi kamu, buat hal yang ngga penting” ucap Akbar.
“Ngga penting kamu bilang?”
Indah memotong ucapan Akbar.
“Bar hal ini tuh gak wajr!”
“Mereka masih keluarga kamu kan?”
“Seharusnya mereka lindungin kamu bukan nyrang kamu kaya gini” ucap Indah mengeluarkan semua yang terlintas di kepalanya.
Deruan nafas kasar terdengar keluar dari mulut Indah.
“Ndah, semua rengekan kamu atau aku. Ngga
akan pernah mereka denger”
“Mereka akan tetap ngelanjutin apa yang udah di rencanakannya. Ngga peduli udah nyakitin siapapun. Termasuk, aku” Akbar bergumam dalam hatinya dengan kepalanya yang menunduk.
Ia juga merasa malu karena Indah harus melihat hal ini. Dan hanya dia satu-satunya orang yang mengetahui kebenaran malam ini. Selain itu, Akbar juga takut.
Jika ia melawan, mereka tidak hanya akan menyerangnya. Tapi, juga akn menyerang Indah.
Akbar menengadahkan kepalanya, menatap Indah.
“Lupain semua kejadian malam Ini"
“sama seperti mereka. Kita juga akan tetap melakukan apa yang sudah kita rencanakn” ucap Akbar memita.
Indah menggeleng.
“Bar..” ucap Indah dengan suaranya yang terdengar parau.
“Ndah aku ngga peduli tentang apapun yang terjadi di luar sana”
“Selama kamu masih ada di sisi aku. Aku, rasa itu udah cukup!” Akbar mengakhiri kalimatnya, untuk meyakinkan Indah.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 118 Episodes
Comments