Akbar menundukkan kepalanya, seluruh kepercayaan dirinya terasa di renggut lagi.
Ia duduk di bangku taman dengan mengaitkan kedua lengannya.
Sementara Icha terlihat berdiri menghadap ke arah ke Akbar dengan sorot mata nya mengilat, menandakan ia benar-benar marah.
Akbar menghela nafasnya, mencoba mengumpulkan keberaniannya.
Selanjutnya, Akbar mendongakkan kepalanya. Menatap ke arah Icha.
“Cepat, jelaskan” ujar Akbar.
“Gue ngga bisa ngerti kenapa lo tiba-tiba marah kaya gini?” lanjut Akbar menyampaikan apa yang di pikirannya.
“Ngga ngerti lo bilang?” tanya Icha, kembali memastikan.
Akbar mengangguk, yakin.
“Hati lo dari batu bar?”
“Atau jangan-jangan emang lo ngga punya hati?” tanya Icha, semakin kesal.
Akbar menggelengkan kepalanya semakin tak mengerti arah pembicaraan yang Icha berikan.
“Jauhi Indah, jangan temui dia lagi” lanjutnya.
Akbar menaikkan alisnya.
“Kenapa gue harus lakuin itu?” Akbar menolak perintah yang di berikan Icha.
“Apa alasannya?” ujar Akbar kembali mengajukan pertanyaannya lagi.
“Kenapa?” Icha menekan nada suaranya.
Akbar mengangguk, pasti.
“Kasih alasan dong. Biar, gue ngerti” balas Akbar.
“Karena kehadiran lo udah ngga penting lagi buat Indah” Icha menyelesaikan kalimatnya.
“Huh” Akbar berdecak kesal.
“Siapa lo, bisa bilang gitu ke gue?” ucap Akbar. Bahkan ketika semua memintanya berhenti. Akbar tidak akan melakukannya.
Sejak awal hatinya sudah pasti dan tertuju kepada Indah.
“Gue sahabatnya. Dan gue, yang paling tahu tentang dia” balas Icha.
“Oh ya?” balas Akbar seperti meledek.
“Asal lo tahu yah!
"Sejak awal kedatangan lo buat Indah Cuma bisa bikin dia sakit."
“Dengerin ini bar. Bahkan, sebulan lalu setelah lo nemuin Indah. Hal-hal buruk terus terjadi”
“Hal itu bikin Indah semakin kesulitan” Icha mengeluarkan apa yang ada di pikirannya.
Akbar menyimak, setiap ucapan yang Icha berikan untuknya dan ini merupakan informasi yang penting.
“Lo tahu?”
“Sekarang yang Indah pikirin bukan cuma dirinya saja. Tapi, ayahnya juga” lanjut Icha.
“Ayahnya?” Akbar bertanya dengan dahinya yang mengernyit.
“Iya, ayahnya datang lagi”
“Dia sakit, parah. Jadi, Indah membawa ke rumahnya. Dan untuk pengobatan ia harus ngejual mobilnya” Icha menjelaskan secara detail.
Akbar terdiam, ia kehabisan kata.
Kenapa pak Atma menemui Indah lagi? Bukannya dia sudah memiliki perjanjian dengan Akbar? Jika ia masih merepotkan Indah. Lantas pergi kemana. Uang bulanan yang Akbar berikan untuknya.
“Lo lihat kan bar? Apa akibat kedatangan lo?” ujar Icha.
Akbar berdecak kesal.
Ia tidak bisa menyetujui perkataan Icha yang menyalahkannya. Jelas eemua itu di luar kendalinya.
“Sorry Cha”
“Gue ngga bisa nerima alasan yang lo ucapin” ujar Akbar, menolak dengan tegas.
Bug
Icha duduk di samping Akbar, menyembunyikan rasa lemas yang menyerang kakinya.
“Gue bukan orang gila yang bakal biarin orang yang gue sayang kesusahan sendiri” tegas Akbar.
Icha menoleh ke arah Akbar yang terlihat bicara serius.
“Tujuan gue dari awal udah jelas dan itu ngga akan berubah” lanjut Akbar, yakin.
“Indah penting banget buat gue. Dan gue ngga mau kehilangan dia lagi” timpal Akbar dengan tegas.
Icha menatap tak percaya pria itu.
“Gue tahu mungkin akan sulit untuk Indah nerima gue lagi”
“Tapi gue bakal tetap ngasih usaha terbaik gue buat dia”
Akbar mengatur nafasnya. Mencoba menghilangkan rasa sesak yang ada di dadanya.
“Terlepas perasaan Indah ke gue. Gue, ga peduli!” lanjut Akbar.
Icha menundukkan kepalanya, ia tak tahu harus mengatakan apa.
Ketulusan yang Akbar berikan melalui ucapannya berhasil membuat perasaan Icha luluh.
“Jangan egois bar” ucap Icha.
Sebuah kalimat yang kembali menampar hati Akbar.
“Jangan hanya mentingin perasaan lo sendiri” lanjut Icha.
Akbar menghela nafasnya, tangannya mengepal menahan seluruh amarah yang muncul dari dalam tubuhnya.
“Kepergian lo tujuh tahun lalu. Masih ninggalin bekas luka di hati Indah” tambah Icha menjelaskan.
Akbar mengangguk, mengerti. Ia tahu dengan jelas bahwa keputusan yang ia ambil dulu membuat keadaannya semakin rumit.
“Dan buat nerima lo lagi kayanya, hal yang ngga mungkin” timpal Icha.
Akbar terdiam, keberanian yang ia kumpulkan kini hilang dalam sesaat.
“Gue mohon, berhenti”
“Jangan deketin Indah lagi”
“Sama seperti yang lo lakuin dulu. Sebaiknya sekarang lo juga pergi, tinggalin dia” ujar Icha, kali ini ia meneteskan air mata.
“Untuk kali ini, tolong biarin Indah hidup bahagia” Icha mengakhiri kalimatnya.
Akbar menggelengkan kepalanya, ia tidak bisa melakukan itu.
“Apakah apa yang dia lakukan memang sangat fatal?”
“Kenapa orang-orang di sekitarnya tidak bisa menerima kedatangan Akbar dengan baik?”
Apa yang Icha pikirkan saat ini, Akbar suda memikirkannya tujuh tahun lalu.
"Jika dengan kehadirannya, Indah akan terluka. Maka, Akbar memilih pergi.
Menghilang darinya dan membiarkan Indah hidup dengan bahagia."
Karena itu, Akhirnya Akbar menerima kerjasama dengan kakeknya. Membuat keputusan bodoh untuk pergi ke tempat yang sangat jauh dan hilang dari orang-orang sekitarnya.
Dengan itu, tidak ada hal yang akan menghalangi dan mengganggu kebahagiaan Indah.
Keputusan yang Akbar ambil saat itu, tidak menguntungkan dirinya.
Ia hanya membuang tujuh tahunnya begitu saja.
Mengingat hal yang di alaminya tujuh tahun lalu membuat bulu kuduk Akbar merinding. Dan ia enggan mengalami hal yang sama lagi.
Memikirkannya saja, sudah stress.
Sama seperti hal yang di alaminya. Keadaan Indah juga tidak berjalan baik.
Banyak hal-hal sulit yang dia lewati sendirian. Memikirkan itu, membuat hati Akbar semakin sakit.
“Sorry Cha, gue ngga bisa ngelakuin itu lagi”
Icha menatap tak percaya dengan ucapan yang Akbar berikan.
“Bar, perasaan Indah itu cuma lelucon buat lo kan?” bentak Icha.
Flashback off
Hening, tak ada percakapan yang terjadi antara Akbar dan Indah.
Akbar menyandarkan tubuhnya, dengan sudut mata yang memperhatikan pergerakan Akbar.
Indah memejamkan matanya, tangannya mengepal dengan kuat menahan rasa kesal, marah dan cape yang ada di tubuhnya.
Bahkan, suara nafas Akbar saat ini terasa sangat mengganggunya.
Indah segera berjalan keluar, setelah pintu lift kembali terbuka.
Akbar menahan langkah kakinya, membiarkan perempuan itu meninggalkannya.
Sepertinya, keputusan yang ia ambil saat ini sudah benar. Bisa melihat dan menjaga Indah agar tetap dalam jangkauannya membuat hati Akbar terasa tenang dan senang.
Terlepas dari perlakuan buruk yang selalu Indah berikan kepadanya. Itu, tidak mengubah perasaan Akbar terhadapnya.
Dan, Akbar akan menerimanya sebagai balasan dari ia yang meninggalkan Indah beberapa tahun lalu.
Seandainya, saja Indah bisa hidup bahagia dan sesuai apa yang di pikirkan Akbar. Akbar tidak akan kembali kesini lagi.
Namun, mendengar hal-hal sulit dan keadaan yang terus menghimpit Indah. Membuat, Akbar ingin terus berada disisinya.
Tidak peduli, jika hal itu akan melukai dirinya dan Indah di waktu yang bersamaan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 118 Episodes
Comments