Akhirnya Clara, Ethan dan Arlan telah lulus dari pendidikan S1 mereka. Kini mereka bertiga sudah berada di bandara dan diantar keluarga masing-masing untuk melanjutkan pendidikan S2 di luar negeri. Clara memandangi Arlan dan Ethan secara bergantian. Dia begitu iri karena kedua orang tua mereka sampai menangis melepas kepergian mereka sedangkan Gavin sang Papa bersikap biasa-biasa saja. Hanya Chila yang menangis sambil memeluk dirinya itu pun Clara tau alasannya. Chila yang manja akan kesusahan bila ditinggal olehnya. Selama ini Claralah yang menjadi alarm sekaligus pengganti Mama mereka. Tak heran Chila begitu ketergantungan pada sang Kakak. Dengan menghela nafas panjang, Clara mencium punggung tangan Papanya begitu juga pada orang tua Arlan dan Ethan. Setelahnya dia masuk mendahului yang lain.
Arlan yang menyadari itu bergegas menyusul Clara, sedangkan Ethan masih memandangi wajah Chila yang nampak menangis melepas kepergian kakaknya.
“Dia baik sekali, walau Clara sering memarahinya tapi dia tetap saja menyayangi Kakaknya” ucap Ethan dalam hati.
Puas memandangi wajah Chila, Ethan pun menyusul kedua temannya yang sudah berjalan lebih dulu. Di dalam pesawat mereka duduk sesuai nomor kursi. Bisa saja mereka menggunakan jet pribadi atau pun pesawat kelas bisnis, tapi ketiga orang tua mereka ingin mengajarkan kesederhanaan pada mereka.
Ethan duduk di dekat jendela, di sebelahnya Clara dan di sisi luar ada Arlan. Ethan memilih memandangi pemandangan diluar sana daripada mendengarkan kedua orang disebelahnya yang sedang mengobrol dengan begitu akrab.
“Dari dulu mereka selalu saja mengabaikanku bila mereka sudah berbincang” ucap Ethan dalam hati. Ethan bisa melihat dengan jelas dari mata Arlan kalau dia begitu menyukai Clara.
“Apa yang Arlan suka dari Clara ya? Apa dia tidak takut nanti saat menikah hanya akan ada pertengkaran karena ego Clara begitu tinggi?” gumamnya pula.
Daripada memikirkan tentang Clara dan Arlan, Ethan memilih mendengarkan musik dan menutup matanya. Perjalanan yang memakan waktu hingga 22 jam dengan dua kali transit tentu saja membuat mereka lelah.
Ethan merasakan kepalanya tidur dengan begitu nyaman dan tenang. Saat membuka mata dia begitu terkejut karena telah tertidur di pundak Clara, untung saja Clara juga sedang tertidur sehingga tidak menyadari kalau sedari tadi Ethan telah lancang tidur di pundaknya.
Ethan membenarkan posisi tidurnya kemudian kembali melanjutkan tidurnya.
“Semoga saja dia tidak menyadari kalau aku bersandar padanya” ucap Ethan dalam hati.
Setelah menempuh perjalanan hampir satu hari mereka telah tiba di negara tujuan. Dengan mengendarai Taxi Online mereka menuju apartemen yang akan mereka tinggali bertiga. Gavin sudah menyiapkan semuanya dan tentunya yang terbaik untuk ketiganya.
Selama seminggu mereka belum memiliki kegiatan, ketiganya memutuskan untuk memanfaatkan waktu untuk berjalan-jalan.
Memang ini bukan pertama kali mereka menginjakkan kaki di negara ini tapi tetap saja mereka merasa perlu untuk berjalan-jalan mengingat beberapa tahun ke depan mereka akan merasakan bagaimana beratnya dunia pendidikan.
Ketiga sahabat itu langsung tidur di kamar masing-masing setelah sampai di apartemen mereka.
….
Ethan terbangun setelah mencium aroma masakan yang begitu menggugah selera. Dengan wajah bantalnya Ethan keluar dari kamarnya menuju dapur. Disana sudah ada Arlan dan juga Clara yang sedang masak bersama.
“Kalian sudah berbelanja ya?” tanya Ethan terheran. Dia saja baru bangun tapi kedua sahabatnya malah sudah sempat berbelanja keperluan dapur.
Arlan menganggukkan kepalanya lalu kembali membantu Clara memotong sayuran. Ethan memilih duduk dan memperhatikan keduanya yang bak sepasang kekasih itu karena dirinya sendiri tidak bisa masak sama sekali. Bahkan untuk membuat air panas saja dia tidak bisa. Karena menjadi anak tunggal dia sangat dimanja oleh Mamanya, tapi tidak dengan Brin. Brin hampir sama dengan Gavin dalam memperlakukan anaknya. Ethan memangku tangannya, entah sejak kapan Arlan begitu menyukai Clara. Padahal sikap Clara pada Arlan sama saja seperti pada Ethan. Hanya saja effort Arlan lebih besar hingga setidaknya Clara masih bisa tersenyum simpul bila berbicara dengannya.
“Sudah siap” ucap Arlan sambil menghidangkan steak di atas meja makan.
“Karena kamu tidak membantu memasak maka selesai makan kamu yang mencuci semuanya” titah Arlan tak terbantahkan.
“Iya ya” jawab Ethan seadanya. Kalau hanya mencuci piring dia masih bisa.
Mereka bertiga mulai makan bersama. Arlan terlihat membantu memotongkan daging tersebut untuk Clara.
“Dasar berlebihan” gumam Ethan dalam hati. Ethan kemudian memasukkan steak tersebut ke dalam mulutnya.
Wow.
Ethan berdecak dalam hati.
“Ternyata mak lampir pintar masak” puji Ethan dalam hati. Ethan sengaja tidak memuji masakan Clara karena tidak ingin dia besar kepala.
“Clara masakanmu enak sekali. Aku jadi tidak khawatir kelaparan selama kuliah disini” puji Arlan tulus.
Clara hanya tersenyum tipis kemudian melanjutkan makannya.
“Apa-apapun itu reaksinya. Apa susahnya bilang terima kasih karena sudah dipuji?” dumel Ethan dalam hati.
“Dia terlalu kaku. Memang menyebalkan” lanjutnya pula dalam hati.
Ethan memakan steak itu sampai habis tak bersisa dengan terus mengomel di dalam hati. Tentu saja mengomeli sikap Clara yang terlalu ketus menurutnya.
Selesai makan dengan setengah hati Ethan pun mencuci piring dan semua peralatan masak yang tadi digunakan. Ethan nampak kesusahan saat mencuci wajan dan juga teflon yang berisikan noda membandel. Karena tidak tega Clara pun membantu Ethan mencuci peralatan tersebut walau tanpa berucap sepatah katapun.
“Sebenarnya trauma sebesar apa yang dia alami hingga membuatnya sekaku ini?” batin Ethan dengan tangan masih sibuk membilas cuciannya sedangkan matanya menatap lekat pada wajah Clara yang sedang menggosok wajan. Tidak ada senyum sedikitpun pada wajah itu. Mulutnya terkunci rapat seolah enggan untuk bersuara.
….
Hari demi hari berlalu, sudah sebulan mereka tinggal bersama dan semuanya aman-aman saja. Pagi ini Clara terlihat sedang menyiapkan sarapan di meja makan. Omelet dan sandwich serta jus jeruk. Dia terlihat terburu-buru. Ethan yang baru saja bangun tidur pun menjadi terheran. Tanpa berucap kata Clara langsung masuk ke dalam kamarnya. Ethan hanya geleng-geleng kepala dan segera menyantap sarapannya.
Tak berapa lama Clara sudah keluar dari kamarnya dengan rambut yang masih setengah basah. Ini pertama kali Ethan melihat Clara menggerai rambutnya. Biasanya bila dirumah Clara akan menggelung rambutnya asal sedangkan saat ke kampus dia akan menguncir kuda rambutnya. Walau bagaimana tatapan rambutnya Clara memang selalu terlihat cantik. Tapi kini setelah rambutnya digerai Ethan menyadari kalau Clara memang benar-benar cantik. Ethan sampai terhipnotis beberapa saat, kemudian pura-pura melanjutkan sarapannya.
“Ethan, Aku pulang malam hari ini. Kalian makanlah duluan” ucap Clara lalu buru-buru keluar dari apartemen tersebut. Ethan bahkan tidak sempat menjawab ucapan Clara.
Arlan yang baru saja keluar dari kamar langsung menghampiri Ethan.
“Clara mana?” pertanyaan wajib bila dia tidak melihat Clara.
“Sudah berangkat” jawab Ethan cuek. “Katanya dia pulang malam hari ini” lanjutnya.
Arlan pun menganggukkan kepalanya mengerti.
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 86 Episodes
Comments
3sna
ktnya beda apart kok ini dlm satu ruangn apa clara sm arkan lg maen diapart ethan
2025-02-13
1
Try Lestari
p
2023-08-24
2