"T-tapi kamu sudah hamil, Rain." Raiden menggenggam tangan sang istri dan menciumnya penuh cinta.
"Tidak, Paman! Itu tidak mungkin, aku tidak mau hamil anakmu. Kamu seorang penipu ulung, aku benci, aku tidak mau hamil, aku tidak mau!" Raina menghempaskan tangan Raiden dengan sangat kasar kemudian menampar pipi pria itu sampai memerah. "Ini semua gara-gara, Paman!" teriaknya membabi buta, dia bahkan terus melampiaskan amarah dengan memaki dan mendorong serta menjambak rambut suaminya, tetapi hal itu tidak membuatnya tenang, justru malah semakin kesal dan kelelahan.
"Sa-sakit, Rain!" Raiden meringis ngilu, rambutnya terasa akan lepas dari kepala saking kuatnya jambakan Raina.
"Paman jahat!" Raina mungkin akan terus mengamuk kalau dokter tidak memberikan obat tidur padanya.
Iya, dokter datang ketika Raina masih melampiaskan amarah kepada Raiden dan terpaksa memberikan obat tidur padanya agar tenang. Mungkin jika tidak ditenangkan, Raina bisa membahayakan dirinya sendiri dan anak yang dikandungnya.
Raiden langsung merasa bersalah karena tidak menyangka reaksi istrinya akan seperti itu, padahal dia pikir Raina akan bahagia karena akan memiliki anak mengingat Raina sangat suka dengan anak kecil, terutama bayi yang lucu.
Oke, Raiden sebenarnya juga tidak menyangka kalau dirinya akan memiliki anak kurang dari dua bulan setelah menikah. Namun, sepertinya Tuhan sangat mempercayai dirinya dan Raina sehingga menitipkan amanah itu untuk mereka berdua. Raiden sekarang hanya harus membuat Raina menerima kandungannya dan bahagia tanpa tekanan lagi.
Raina dirawat selama satu hari di rumah sakit dan diperbolehkan pulang di hari setelahnya. Dia dibawa pulang ke rumah kedua orangtunya dan Raiden ikut menginap di sana dengan berbagai alasan. Awalnya keluarga Raina tidak mengizinkan, tetapi Kakek mendesak sampai mau tidak mau keluarga Raina membiarkan Raiden tinggal di sana.
Sekarang, dua R itu sudah berada di kamar dan berbaring dengan posisi miring dan Raina memunggungi Raiden. Sementara Raiden memeluknya dari belakang dan menyandarkan dagunya di puncak kepala sang istri.
"Raina, tolong maafkan paman karena telah berbohong padamu sebelumnya. Namun, paman berjanji tidak akan berbohong lagi padamu setelah ini," bisik Raiden dengan sungguh-sungguh.
"Jangan berani berjanji karena Paman tidak akan tahu ke depannya akan melanggar janji itu atau tidak. Janji itu seperti hutang dan harus dibayar, aku khawatir sebelum paman menepati janji itu malaikat maut lebih dulu mengambil nyawamu!" kata Raina ketus, bahkan ucapannya yang sederhana itu terdengar sangat kejam di telinga Raiden karena ucapan Raina seperti berharap kalau dia akan segera mati.
Raiden mengeratkan pelukannya dan terdiam, dia tidak mau bicara lagi karena takut Raina akan bicara macam-macam. Tangan Raiden perlahan menyusup ke balik piyama yang Raina kenakan kemudian mengusap perut rata wanita itu dengan lembut dan hati-hati, bibirnya mengulas senyum tipis karena Raina tidak menolak sentuhannya.
Sementara itu, Raina menikmati usapan hangat di perutnya, dia merasa sangat nyaman dan senang. Mungkin sebenarnya hal ini yang dia inginkan sejak lama, hanya saja rasa marah dan kecewa menutupi semuanya sampai-sampai dia tidak mau dekat dengan Raiden. Raina meletakkan tangan kirinya ke tangan Raiden yang masih mengusap perut kemudian menggenggam tangan besar itu dan memainkannya.
Raiden tersenyum, tangan mungil Raina terasa hangat ketika menggenggam dan memainkan jarinya. Perlahan Raiden bergerak ke bawah sehingga wajahnya sekarang berada tepat di ceruk leher sang istri. Raiden mengecupnya perlahan dan meninggalkan satu tanda merah di sana.
"Paman," panggil Raina sambil menahan napas.
"Hm?"
"Kenapa Paman bisa jatuh cinta padaku?" Raina benar-benar sangat penasaran dengan hal itu karena selama ini dia pikir perhatian Raiden untuknya seperti perhatian seorang ayah kepada putrinya dan tidak lebih dari itu.
"Entahlah, paman juga tidak tahu." Raiden menjawab jujur, "apa kamu sudah memaafkan paman dan mau menerima paman?" tanyanya kemudian setelah merasa kalau Raina bisa diajak bicara baik-baik dengannya.
Raina tidak langsung menjawab, dia perlahan bergerak memutar tubuhnya sampai mengahadap ke arah Raiden. Raina mengamati wajah suaminya itu dengan seksama kemudian mengusap rahang kokohnya dengan gerakan lembut dan hangat. "Belum, aku belum memaafkanmu, Paman. Tapi, aku akan mencoba berdamai dengan semuanya mulai sekarang." Raina kemudian memeluk tubuh Raiden yang tentu saja lebih lebar dan besar darinya, dia juga membenamkan wajahnya di dada bidang Raiden kemudian memejamkan mata setelah merasa nyaman.
"Peluk aku sampai aku tidur nyenyak!" pintanya dengan mata yang sudah benar-benar terpejam sempurna.
"Oke, Rain." Raiden menuruti istrinya, dia senang karena Raina bisa berubah pikiran secepat ini mengingat tadi mereka masih bertengkar.
...***...
"What the f**k, kamu hamil, Rain?" Yolanda menggebrak meja kantin saking kagetnya dengan berita itu.
"Tenanglah, Yolanda! Jangan heboh seperti itu, kamu membuatku sangat malu!" Raina langsung menutup wajah dengan kedua tangannya ketika mereka berdua menjadi pusat perhatian seluruh orang yang ada di kantin itu.
"Sorry, Rain. Tapi, apa kamu serius sedang hamil?" Yolanda kembali duduk dan menatap sahabatnya lekat.
"Ya." Raina mengangguk lesu. "Aku juga sulit percaya kalau di rahimku tumbuh bayi, tetapi semua itu nyata," katanya dengan raut wajah sedih.
"Lalu, kenapa kamu malah sedih?" Yolanda dibuat bingung dengan sikap sahabatnya yang satu itu.
"Ck, kamu 'kan tahu bagaimana hubunganku dengan Paman Raiden selama ini. Aku bahkan sering mendebatnya karena kecewa dan benci, tetapi orang yang aku benci menjadikan aku calon ibu dari anaknya, aku bingung, Yolanda!" Raina menjatuhkan kepala di meja kantin dan menatap sahabatnya sepeti anak kecil. "Aku sudah mengatakan padanya kalau aku akan mencoba menerima semuanya walau sulit, aku lelah berdebat, aku lelah mengelak dan protes karena semuanya sudah terlanjur menjadi seperti ini," katanya frutasi.
Yolanda mengetuk-ngetuk pipinya pelan sambil membayangkan bagaimana pasangan suami istri berbeda usia itu menjalani rumah tangga mereka. Raina yang sudah dewasa, tetapi masih seperti anak-anak bagi Raiden, sementara Raiden yang dewasa dan sudah dianggap sebagai seorang ayah oleh Raina. Lucu sih, tetapi pasti tidak mudah untuk mereka menyesuaikan diri.
"Semoga kamu bahagia, Rain!" doa Yolanda tulus karena dia juga tidak tahu harus bersikap seperti apa kepada sahabatnya itu.
"Apa aku bisa menjadi istri dan ibu yang baik di usiaku yang masih sangat muda ini?" Raina sendiri sangat ragu.
"Pasti bisa, kamu akan terbiasa dengan semuanya." Yolanda menepuk bahu sahabatnya beberapa kali memberi semangat dan keyakinan kalau Raina pasti bisa menjadi istri dan ibu yang baik. Dia yakin walau usia sahabatnya itu masih muda, tetapi sikapnya sudah cukup dewasa.
"Hm, semoga saja." Raina mengangguk lesu. "Ayo kita ke kelas sekarang karena sebentar lagi dosen kedua pasti akan segera datang!" ajaknya kemudian.
"Ok."
...~tbc~...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 30 Episodes
Comments