11- Ciuman Pertama

Tidak terasa sudah satu bulan lebih usia pernikahan Raiden dan Raina. Selama satu bulan itu, Raina tidak pernah bertemu dengan kedua orangtunya karena masih merasa takut dengan mereka. Hubungannya dengan Raiden juga tidak bisa dibilang baik-baik saja karena setiap hari ada saja yang mereka perdebatkan.

Hari ini kebetulan Raina tidak kuliah dan dia juga belum bangun dari tempat tidur karena merasakan tubuhnya sakit semua, terutama bagian perut bawahnya yang terasa mulas, tetapi bukan mulas karena ingin buang air besar, pinggangnya juga terasa sangat ngilu dan Raina tidak kalau dirinya mungkin akan datang bulan. Tidak biasanya Raina merasa sakit ketika tamu bulannya datang karena dia bukan tipe wanita yang selalu mengalami nyeri haid. Namun, kali ini entah kenapa dia merasakannya, bahkan kepalanya ikut terasa pusing karenanya.

Dugaan Raina ternyata benar karena ketika dia menguatkan diri untuk pergi ke kamar mandi, ternyata dirinya memang kedatangan tamu bulanan. Dia pun bergegas memakai pembalut yang untungnya tersedia di dalam koper. Namun, hari itu Raina tidak bisa banyak melakukan aktivitas dan menghabiskan waktunya hanya untuk rebahan di tempat tidur.

Raiden sekarang sedang pergi ke luar kota sejak tiga hari yang lalu sehingga Raina tinggal di penthouse hanya sendirian. Namun, hari ini Raiden mengabari kalau dia akan pulang dan benar saja pria itu tiba di rumah pukul lima sore. Raina melihat pintu kamar dibuka dan masuklah suaminya itu dengan gurat wajah yang lelah.

"Kamu sakit, Rain?" Raiden bergegas menghampiri istrinya tanpa melepas sepatu ataupun mengganti pakaian terlebih dahulu karena dia dibuat terkejut ketika masuk kamar dan mendapati istrinya itu meringkuk seraya memegang perut dan wajahnya juga terlihat pucat dengan dahi basah karena keringat.

"Perutku nyeri sekali, Paman." Raina menjawab dengan sedikit kesal.

"Kamu sedang datang bulan?" tebak Raiden asal, tetapi sangat benar.

"Iya." Lagi-lagi Raina menjawab dengan sedikit kesal, dia memang lebih mudah emosi ketika haid dan kali ini emosinya lebih mudah bangkit karena rasa sakit yang dia rasakan itu.

"Mau paman usap perut kamu?"

"Tidak perlu, tetapi jika tidak keberatan bisa tolong belikan obat pereda nyeri di apotek? Aku sudah tidak tahan!" Raina berguling ke kanan dan ke kiri menahan rasa nyeri yang semakin menyiksa. Dulu ketika temannya mengalami nyeri haid, Raina selalu menganggap hal itu remeh karena dia tidak pernah merasakannya, tetapi ketika nyeri itu dia rasakan untuk pertama kali ketika datang bulan, ternyata rasanya benar-benar menyiksa.

"Oke, kamu tunggu di sini." Raiden menyempatkan diri mencium dahi Raina sebentar kemudian bergegas pergi membeli obat pereda nyeri untuk istri kecilnya itu.

Beberapa saat kemudian Raiden kembali ke penthouse dan membawa obat yang Raina butuhkan. Dia mengambil segelas air kemudian memberikan obat dan air itu kepada Raina yang dengan cepat langsung diminum oleh istri kecilnya itu.

"Bagaimana perutmu sekarang? Apa masih terasa sakit?"

"Tentu saja masih sakit, obatnya 'kan baru saja aku minum!" ketus Raina dengan penuh emosi.

"Jangan marah-marah, Rain. Aku 'kan hanya bertanya karena khawatir padamu."

"Lebih baik Paman diam sekarang karena emosiku sedang tidak stabil sekarang. Jika Paman masih banyak bicara, jangan salahkan aku kalau marah-marah padamu!" sentak Raina yang kembali berguling di tempat tidur.

Raiden hanya bisa menghela napas karena dia pun paham bagaimana sikap wanita yang sedang PMS karena dia sering menjadi pelampiasan amarah Yolanda saat keponakannya itu PMS. Raiden lalu memutuskan untuk segera membersihkan diri agar lelahnya sedikit berkurang dan tubuhnya lebih segar. Raiden keluar dari kamar mandi hanya dengan memakai handuk berukuran cukup kecil yang melingkar di pinggangnya. Dia sebenarnya bisa saja memakai jubah handuk agar tubuh atasnya tertutup, tetapi dia malah sengaja hanya memakai handuk cukup kecil itu untuk menutup bagian bawah saja karena dia berniat membuat Raina terpesona.

Raiden duduk di tepi ranjang di mana Raina berbaring dengan posisi membelakangi dirinya. Dia lalu menyentuh punggung istrinya itu dan melihat kalau Raina ternyata malah tertidur dengan begitu pulas, tetapi Raiden masih bisa melihat dengan jelas raut wajah istrinya yang pucat, walau tidak sepucat sebelumnya.

"Raina, kamu datang bulan hari ini dan artinya kamu tahu kalau kamu tidak hamil. Dengan begini, aku punya kesempatan untuk berhubungan badan denganmu," gumam Raiden sambil tersenyum penuh arti.

Dia pun segera memakai pakaian santai karena niatnya menggoda Raina harus diurungkan karena wanita itu malah tidur. Setelah memakai pakaian, Raiden pergi ke dapur kemudian memasak pasta untuk dirinya makan sendiri karena lapar tetapi tidak ada makanan sedikit pun di meja makan.

...***...

Raina berjalan bolak-balik di kamar sambil menggigit kuku jarinya. Dia sangat gugup karena hari ini sudah selesai haid dan teringat dengan perkataannya dengan Raiden satu bulan yang lalu.

"Aku harus bagaimana ini? Aku sudah selesai datang bulan dan aku belum hamil. Itu artinya Paman bisa saja meminta haknya sebagai seorang suami seperti yang aku katakan beberapa waktu lalu." Raina benar-benar gugup dan bingung harus melakukan apa.

Ketika dirinya masih sibuk mondar-mandir, pintu kamar tiba-tiba dibuka dan Raiden masuk dari sana sambil menatapnya dengan penuh tanya.

"Apa yang sedang kamu lakukan?" Raiden mengerutkan dahi bingung.

"Tidak apa-apa, tumben sekali Paman pulang awal." Raina buru-buru menghampiri Raiden kemudian mengambil alih tas kerja pria itu kemudian dia letakkan di tempat yang seharusnya.

"Pekerjaanku hari ini tidak banyak," ucap Raiden menjelaskan tanpa diminta.

"Oh." Raina mengangguk pelan.

"Rain, apa tamu bulananmu sudah pergi?" Raiden menebak karena melihat rambut Raina masih setengah basah.

"Sudah!" Raina dengan cepat mengangguk, tetapi ketika menyadari sesuatu, dia buru-buru menggeleng dengan sangat gugup. "Maksudku belum, Paman," ralatnya yang malah membuat Raiden curiga.

"Aku anggap ucapan pertama yang jujur, Rain." Raiden tersenyum penuh arti seraya mendekatkan wajahnya ke wajah Raina.

Raina bergerak mundur, tetapi tidak bisa kabur karena sekarang dia duduk di sofa dan kepalanya juga sudah mentok ke tembok. "Paman mau apa!" pekiknya panik.

"Mencium kamu," seringai Raiden yang tanpa aba-aba langsung menyatukan bibir mereka, dia mengunci pergerakan istri kecilnya itu agar lebih mudah menjelajahi mulutnya. Dia juga menggigit bibir Raina agar mau membuka mulut dan ketika berhasil dia langsung berperang lidah dengan istri kecilnya itu walau terasa sekali kalau hanya dia yang agresif karena Raina diam dan tidak membalasnya.

Raina tidak menyangka kalau Raiden akan melakukan hal itu padanya. Matanya membulat, tetapi lama-lama terpejam dan pasrah ketika Raiden memperdalam ciuman mereka dan baru mengakhiri setelah keduanya kehabisan napas.

"Manis sekali, Rain. Aku sangat menyukainya," bisiknya sebentar dan kembali menyatukan bibir mereka.

Deg! Deg!

Jantung Raina berdetak sangat cepat dan dia bahkan jauh lebih gugup dari biasanya.

Kenapa aku berdebar, apa mungkin aku sudah jatuh cinta dengan Paman Raiden? batin Raina frustasi.

Terpopuler

Comments

Sulaiman Efendy

Sulaiman Efendy

GAK SESUAI JUDUL PARTNYA, ITU BKN CIUMAN PERTAMA, RAINA SDH PRNH DI CIUM KENAN, BHKN DIKAMPUS, KENAN SEMPAT CIUM RAINA,, DN INI JUGA BKN CIUMAN PRTAMA RAIDEN,, KLO CIUMAN PERTAMA SUAMI ISTRI, MNGKIN COCOK JUDULNYA

2023-06-24

0

melinda

melinda

up lg

2023-04-09

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!